Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
052. Yin Datang Menghadap Kaisar Ming


__ADS_3

“Yang Mulia! Pemimpin Yin datang untuk bertemu!” seru salah seorang pengawal istana.


Menjelang akhir musim dingin, Pemimpin Yin Ao Ran datang tuk menemui Kaisar Ming. Mungkin, ini adalah pertama kalinya ia datang ke istana.


Bahkan Kaisar sendiri terkejut mendengar bahwa Pemimpin Yin datang.


Yin kemudian bersujud. Rambut yang panjang itu jatuh dan menyentuh lantai. Topeng yang ia sering gunakan pun dilepas, menunjukkan wajah mengerikan.


Berupa guratan-guratan hitam menjalar hidup. Kedua mata yang padam tiba-tiba berubah bersinar layaknya matahari.


“Ada apa kau kemari, Pemimpin Yin?”


“Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak pernah berkunjung sebelumnya, dan ini kali pertamanya saya datang.”


“Hentikan basa-basimu. Tidak ada orang yang akan mendengarkan obrolan kita, bahkan seekor serangga saja tidak akan,” sahut Kaisar Ming.


“Baik. Harusnya Yang Mulia tahu kenapa saya datang kemari,” tutur Yin yang kemudian ia menatap wajah sang kaisar.


Kaisar tersenyum lalu menjawab, “Itu benar.” Ia berjalan menghampiri Yin dan menyentuh wajahnya secara langsung.


“Berkat Yang Mulia, saya masih selamat.” Yin tersanjung.


“Luka seperti ini bukanlah apa-apa. Seni Iblis memang seharusnya tidak ada di muka bumi ini. Tapi apa yang kau lakukan sehingga menjadi parah seperti ini?” tanya Kaisar Ming, melepas tangan dari wajahnya dan membuat guratan hidup itu menghilang.


“Sepertinya tidak cukup baik karena saya terlalu dekat dengan Wang Yongchun. Ini karena dirinya,” pikir Yin.


“Sebagai ganti karena aku telah menyelamatkan dirimu. Ceritakan semua yang kau tahu, Yin Ao Ran,” ucap Kaisar Ming bernada sombong dan duduk berhadapan dengannya.


“Anda tak seharusnya duduk di sini. Silahkan kembali,” kata Yin, ia terkejut karenanya.


“Cepat katakan!” tegas Kaisar Ming.


Menelan ludah, sedikit berkeringat dingin, Yin pun akhirnya membuka mulut. Wajah tanpa guratan-guratan hitam yang hidup itu sungguh indah tuk dipandang lebih lama.


“Saya bertemu dengannya di daerah tak terjamah. Seharusnya tak ada orang lagi, tapi Anda tahu apa yang saya temukan? Ternyata para pemberontak benar-benar bersembunyi di sana. Lalu Wang Yongchun, dia menjalin kerja sama untuk menggulingkan kekaisaran,” ungkap Yin tanpa sedikitpun celah dalam kata-katanya.

__ADS_1


“Aku punya alasan tersendiri untuk membiarkan mereka berada di sana. Lagipula, mereka pasti sudah tak punya banyak waktu lagi untuk hidup. Setidaknya, aku memiliki belas kasihan pada mereka,” tutur Kaisar Ming sembari menyunggingkan senyum.


“Yang Mulia sungguh berbelas kasih.”


“Katamu, Yonghun menjalin kerja sama pada mereka untuk menggulingkan kekaisaran. Lalu, apa rencananya?” Kaisar Ming mulai bertanya dengan wajah serius.


“Baik. Itu cukup sederhana, Wang Yongchun sendiri yang akan turun tangan ke hadapan Yang Mulia. Para pemberontak hanya bertugas untuk membuat pendekar sibuk,” ucap Yin, berkedip lalu menatap wajah Kaisar Ming dengan kening yang berkerut.


“Apakah mereka mulai melakukan rencana itu saat musim dingin berakhir?” pikir Kaisar Ming, raut wajahnya sedikit berubah.


“Ya. Festival musim semi, saya rasa mereka akan bergerak saat festival itu diadakan. Saya memang sudah mengatakan bahwa saya tidak akan ikut campur, akan tetapi jika Yang Mulia membutuhkan—”


“Tidak. Keberadaanmu cukup satu. Aku tak mau kau membuat bayanganmu sendiri untuk menjagaku. Yang ada, mereka tidak akan bergerak sesuai rencana.”


Setelah Kaisar Ming memotong kalimat Yin, ia mengatakan bahwa membiarkan rencana itu berjalan sesuai yang diinginkan mereka pasti jauh lebih menarik. Terlihat jelas, raut wajahnya kini berubah, senyum yang tersungging yang kemudian ia tertawa kecil.


Ia lantas memegang topeng Yin lalu memberikannya untuk segera ia pakai kembali. Desiran angin dingin masuk melewati celah, seseorang membuka pintu ruang singgasana.


“Yang Mulia! Putri Yu Jie ingin bertemu.”


“Baik!”


Tanpa mengembalikan raut wajah yang biasanya, Kaisar Ming Guo tetap tersenyum dan menatap sinis ke arah telapak tangannya.


Kemudian berkata pada Pemimpin Yin, “Bagaimana keadaan kakakmu, Yang Jian?” tanya Kaisar Ming lalu menatapnya.


“Wang Yongchun menyelamatkannya. Saat ini ia tengah terbaring pulas dalam keadaan setengah mati. Kemungkinan besar, dia takkan bangun lebih awal,” kata Yin dengan menundukkan kepalanya.


“Hm, baik.” Ming berdeham. “Pemimpin Yin. Selain para pemberontak, apakah Yongchun hanya bergerak sendirian?” tanya Kaisar Ming.


Pemimpin Yin lantas mengingat suatu hal, beruntung ia teringat di detik-detik ini. Ia sesungguhnya merasa malu, kalau melupakan hal tersebut.


“Maafkan saya. Saya teringat, bahwa Wang Yongchun memiliki sekutu dari pemimpin kultus 7 Surgawi. Tidak lain adalah Pemimpin Li, Xie dan Zhao.”


Mendengar hal itu, raut wajah Kaisar Ming berubah 180 derajat. Kerutan di kening dengan tatapan yang culas, tanda ia kesal.

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian, ia menghela napas panjang.


“Sudah, tidak masalah. Dan Pemimpin Yin, aku harap kau bisa menahan kekuatan itu sendiri. Jika kau benar-benar tidak bisa ...” Kaisar itu menatapnya tajam lalu melanjutkan kalimatnya, “akan kujatuhkan kau ke dasar neraka!”


Deg!


Perasaan cemas tak karuan itu mulai Yin rasakan seiring waktu. Ucapannya bukan hanya sekadar ancaman, sebab jika guratan hitam yang adalah seni iblis ini tidak bisa ia tahan maka Kaisar Ming takkan segan-segan membuangnya.


“Bawa Yongchun kemari dan menghadapku! Atau kau yang akan jatuh lebih dulu!” titah kaisar dengan marah.


Kemudian ia pun berpamitan pergi, setelah keluar dengan mengenakan topengnya, dua wanita datang menghampiri Pemimpin Yin.


Dua wanita itu tak lain adalah kakak-kakaknya Yu Jie. Mereka datang dan menggandeng lengan Yin, mengajaknya untuk minum teh bersama. Tetapi, Yin hanya melewati mereka begitu saja.


Keluar dari istana dengan wajah suram.


“Pemimpin Yin ...jarang sekali dia datang ke istana,” gumam Yu Jie yang kebetulan melihatnya.


***


Pemimpin Yin berjalan menuju ke kediaman Wang. Tetapi, ia tak merasakan adanya hawa kehadiran Yongchun.


Kekesalannya semakin menjadi, tanpa disengaja ia bertemu salah satu pengikut Wang.


“Apa kau tahu di mana Wang Yongchun?” tanya Yin sambil mengangkat tubuhnya dengan satu tangan.


Pengikut Wang tampak ketakutan, keringat dingin bercucuran ke punggungnya. Namun tak bisa ia katakan keberadaan Yongchun, sebab dirinya sendiri saja tidak tahu.


“Tidak tahu, aku tidak tahu!” kata pria itu sambil menggelengkan kepala.


“Hah? Kau bilang kau tidak tahu?! Apa-apaan jawabanmu itu!” pekik Yin, emosinya semakin melunjak dan aura kepekatan hitam itu muncul mengelilingi tubuhnya.


Ketika genggamannya semakin mengerat, tanpa sadar pengikut Wang itu jatuh dengan tubuh yang semakin mengerut kering.


Tubuhnya membujur kaku, mengering bagai daun gugur. Tak ada tanda-tanda kehidupan lagi di dalam tubuh pria tersebut. Dengan kata lain, mati.

__ADS_1


__ADS_2