Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
093. Kuraki, Pembuat Tubuh Buatan


__ADS_3

Beberapa jam telah berlalu, dan rintik hujan pun berhenti. Yongchun pergi ke suatu tempat, di mana ia dapat melihat laut yang membentang luas. Suasana ketika hujan telah berhenti, rasanya ada nikmat tersendiri.


Ia terdiam dengan menggenggam kedua pedang yang terselip di pinggangnya.


Datang seorang wanita. Memejamkan mata dengan menghadap laut itu. Yongchun sekilas memperhatikannya.


“Eh?”


Tampaknya wanita itu sadar karena diperhatikan oleh Yongchun. Segera ia menghampirinya dan bertanya siapa.


“Anu, maaf? Siapakah Tuan? Sepertinya Tuan adalah orang asing. Saya tidak pernah melihat Tuan sebelumnya.”


Yongchun terdiam tanpa menjawab apa-apa. Ia hanya menatap wajah wanita itu dengan rambut yang pendek sebahu berwarna kecoklatan. Wanita yang lebih pendek darinya, suara yang rendah membuat ia terkesima.


“Ah, Tuan ternyata buta.”


Wanita itu tampak gelisah karena ia baru menyadari bahwa Yongchun buta. Tak bisa melihat. Itulah yang terbesit dalam pikirannya. Sehingga pria pendekar pedang ini hanya bisa diam dan tak tahu harus berkata apa.


“Oh, maaf. Sebelumnya perkenalkan saya, Kuraki. Saya pembuat tubuh buatan,” ujarnya memperkenalkan diri seraya meraih tangan Yongchun dan membuatnya menyentuh wajah Kuraki sendiri.


“Kuraki, saya memang buta. Tapi saya masih bisa melihat.”


Suara maskulin terdengar membisikkan di kedua telinganya. Kuraki kaget dan seketika wajahnya memerah semerah tomat. Tercengang ia lantas mengalihkan pandangan.


“Nona Kuraki pasti sangat terkejut. Saya bilang saya tidak buta tapi tidak ada jaminan, bukan?” ujar Yongchun seraya membuka penutup matanya.


“Saya Yongchun, berasal dari timur laut. Saya datang kemari karena sepertinya ada yang berniat mengundang,” imbuh Yongchun.


Seberkas api berkobar-kobar di kedua matanya yang kosong. Warna kehitaman dan aura yang dipancarkannya sangat kuat, mencekam dan membuat Kuraki merinding.


Seketika Kuraki kembali tercengang. Tak menyangka bahwa sosok yang berada di depannya saat ini adalah sosok yang sangat diagungkan.


Kuraki kemudian tertunduk malu sekaligus rasa hormat padanya.


“Maafkan saya! Saya Kuraki, sampai tidak menyadari bahwa Anda adalah Mata Dewa!”


Srak! Langkahnya menyapu dedaunan yang gugur, kembali menghadap laut terbentang luas. Hamparan angin menerpa helai pakaiannya hingga terbuka.


Kuraki sempat mencuri-curi pandang hingga akhirnya menjadi tersipu malu kemudian.

__ADS_1


“Katamu, kau adalah pembuat tubuh buatan. Aku jadi tertarik,” kata Yongchun seraya mengikat penutup matanya lagi.


“Ya, itu benar. Saya bisa membuat tangan, kaki atau bahkan mata sekalipun!” ucapnya dengan meninggikan suara dan bersemangat.


Yongchun hanya diam menatap dengan senyum tipis tersungging, Kuraki tersadar barusan yang ia lakukan terlalu blak-blakan sehingga ia kembali tertunduk malu.


Kemudian ia mengajak Yongchun ke rumahnya yang berada dekat dari sini. Yongchun pun membuntutinya dari belakang seperti ekor tikus seraya menoleh ke samping kanan dan kirinya.


Suasana di pulau Nihonkoku benar-benar berbeda, udara atau suhu bahkan musimnya sangat berbeda dengan tempat tinggalnya yang berada di timur tengah. Tentu saja itu membuatnya takjub. Perasaan yang meluap-luap karena amarah pun telah lenyap seolah diterpa semilir angin.


“Silahkan masuk, Tuan God Eye.”


Kuraki menyambut Yongchun dengan ramah. Mempersilahkan masuk ke halaman rumah yang luas. Terdapat pasir dan beberapa batu terpisah ada di atas pasir itu.


Setelah Yongchun masuk ke dalam, ia terpukau dengan tatanan setiap ruang yang berjejer rapi. Bentuk bangunannya seperti huruf T, dan itu membuat Yongchun penasaran apa saja isi dari rumah tersebut.


Grek! Kuraki kemudian mempersilahkan Yongchun masuk ke ruangan yang barusan ia buka. Segera Yongchun melangkahkan kaki, masuk ke dalam.


“Saya akan menyiapkan air hangat terlebih dahulu,” ucap Kuraki.


“Tunggu sebentar, Nona Kuraki. Saya ingin berbicara sebentar padamu.”


Yongchun mengajak Kuraki untuk berbicara sebentar. Lantaran sejak tadi ia merasa penasaran, kenapa seseorang asing seperti Kuraki mengetahui identitasnya sebagai Mata Dewa.


“Jangan terlalu formal begitu. Aku hanya ingin bertanya sebentar, kenapa kau tahu kalau aku adalah Mata Dewa?” tanya Yongchun.


“Tidak semua orang mengetahuinya tapi termasuk banyak yang mengetahui siapa itu Mata Dewa. Atau lebih tepatnya Para Pemilik Tubuh Dewa,” tutur Kuraki menjelaskan.


“Kurang lebih aku mengerti. Yah, untuk jelasnya nanti saja kau jelaskan.”


“Baik. Kalau begitu saya akan pergi.”


Kuraki berpamitan pergi untuk menyiapkan air hangat di pemandian miliknya di rumah ini. Rumah yang sangat besar, bahkan sepertinya tak ada orang lain selain Kuraki sendiri.


“Apa ini sebenarnya bukan rumah tapi penginapan? Tapi terlalu sepi,” celetuk Yongchun.


***


“Tuan, air hangatnya sudah siap.”

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu air hangat. Kuraki mengantarkannya sekaligus membantunya untuk melepaskan pakaian.


“A-aku canggung ini ...” ucap Yongchun terbata-bata. Ia tampak tak terbiasa dengan perlakuan seperti ini.


“Tenang saja, aset Tuan tidak akan terlihat selama saya menutup mata,” kata Kuraki dengan senyum.


“Memangnya kau bisa melihat jika menutup mata?” tanya Yongchun.


“Ini sudah saya lakukan,” jawab Kuraki yang mengaitkan handuk ke bagian tubuh bawah Yongchun.


Yongchun berendam ke kolam air hangat. Kaget sekaligus takjub, ia sangat menikmatinya dan merasa rileks.


“Saya akan membantu Tuan untuk menggosokkan punggung,” kata Kuraki seraya menggosokkan punggung Yongchun.


“Ini, apakah kebiasaan orang-orang seperti ini?” tanya Yongchun keheranan.


“Iya, Tuan benar. Tapi biasanya dilakukan di penginapan. Dulu pun ini adalah penginapan namun sekarang hanya rumah biasa.”


“Begitu rupanya.”


Berendam membuatnya sedikit mengantuk. Yongchun menguap lantas Kuraki terlihat menikmati ketika melayani Yongchun.


“Nona Kuraki, sepertinya yang kau bilang sebelumnya. Para Pemilik Tubuh Dewa, itu sudah pasti ada banyak, benar?” ujar Yongchun memastikan.


“Tuan benar. Selain mata, ada tangan, lidah, telinga, jiwa bahkan juga ingatan. Itu semua termasuk Tubuh Dewa,” jelas Kuraki.


“Sebelumnya saya bertemu pria bernama Shira, dia mengaku sebagai Tangan Dewa. Apakah dia salah satunya?”


Kuraki menjawab, “Anda tidak benar. Shira yang Tuan temui pasti ada di kuil yang berada di bukti. Perlu Tuan ketahui bahwa Shira hanyalah memiliki sedikit kekuatan dari Tangan Dewa yang asli.”


Sontak terkejut. Tapi itu hal wajar sebab Shira mudah dikalahkan oleh Yongchun.


“Para pemilik tubuh dewa itu tergolong sangat kuat. Samurai, sebutan lain pendekar di sini adalah yang berkuasa. Termasuk Tuan God Eye, Mata Dewa,” imbuh Kurari.


“Aku cukup mengerti.”


Ceplas ...


Yongchun beranjak dari sana dan keluar dari kolam air hangat. Sepertinya tidak hanya tubuhnya saja yang dibersihkan, bahkan rambut Yongchun yang sangat panjang pun diurus oleh Kuraki menggunakan sesuatu berupa cairan.

__ADS_1


Goresan, jejak pedang terukir di sekujur tubuhnya yang kekar. Kuraki yang sebelumnya hanya menundukkan kepala, kini berhadapan dengan Yongchun penuh tanya.


Seraya menyerahkan pakaian pada Yongchun. Kuraki berkata, “Tuan. Para Pemilik Tubuh Dewa sedang menunggu kehadiranmu.”


__ADS_2