Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
102. Kesepakatan dengan God Soul


__ADS_3

Pola serangan yang berturut-turut sama, akan membuat Yongchun memudahkan dalam membalas serangan. Pukulan yang congkak, tombak yang runcing pun tak ada gunanya. Gos Soul mudah dibaca pergerakannya.


“Bagaimana jika aku mengambil Jiwa Dewa yang ada di tubuhmu? Hm, aku penasaran apa kau akan mati atau tetap hidup sebagai pendekar biasa.”


Pedang tertancap di samping kepala God Soul. God Soul pula terluka di bagian perut lantaran karena tenaga dalam Yongchun. Seolah tertembus, God Soul akan mati jika dibiarkan seperti ini.


“Heh, silahkan saja lakukan apa yang kau mau! Itupun kalau kau bisa!”


Syat!


Ujung tombak menggores dan memukul mundur Yongchun dengan hempasan angin. God Soul kembali bangkit dengan berdarah-darah. Perlahan lukanya tertutup oleh semburat-semburat berwarna kehitaman pekat.


“Hm, ternyata tidak mudah.”


Masih saja santai begitu. Yongchun benar-benar tak menganggap bahwa God Soul adalah ancaman yang tak lebih dari Bon.


“Kau bicara apa? Tampaknya kau meremehkan diriku!”


Clank!


Suara dengingan kuat, hamparan angin menggesek rerumputan yang pendek. Kedua senjata itu saling menyentuh, namun tak lama tombak God Soul perlahan merapuh bagai debu.


Srat!


Hanya dengan satu sayatan pada salah satu pedangnya, tubuh God Soul lagi-lagi tergores. Sulit untuk kembali pulih, serasa energinya lenyap dalam sekali tebasan. Kobaran api pun membara dalam lukanya.


Tubuh God Soul tidak seimbang yang pada akhirnya jatuh bertekuk lutut di hadapannya. Ia selalu bergumam, "Kenapa?", dan terus berulang-ulang tanpa henti.


Ia menundukkan kepala dengan mata melotot tak percaya bahwa dirinya akan mudah dikalahkan dengan sekali tebasan saja. Semua yang ia miliki terasa seperti diserap oleh Yongchun, namun nyatanya God Soul sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk bertarung lebih dari ini.


“Jangan terlalu memikirkan kenapa dirimu lebih lemah darimu. Mudah saja, karena kau belum mengalami rekonstruksi tubuh, bukan? Hal itu cukup penting.”


“Apa maksudmu?” tanya God Soul.


“Rekontruksi tubuh, di mana tubuh dan tenaga dalam serta kekuatan hitam yang kita miliki meningkat lebih jauh.”


“Aku tidak peduli. Bunuh saja aku! Aku kalah 'kan? Pertarungan ini, kalau sepihak kalah maka pihak itu akan mati.”


“Dari pada mati, akan lebih baik kau jadilah rekanku.”


Alias, "Budak", itulah yang Yongchun maksud. Sembari duduk berjongkok ia mengulurkan tangan padanya.

__ADS_1


“Jika ingin mati. Maka jadilah perisai untukku ke depannya.” Yongchun menyeringai.


***


Di ruang makan, tengah. Mereka semua berkumpul dalam satu ruangan untuk makan bersama. Hari juga sudah gelap, namun God Ear tak kunjung datang.


“Ada yang tahu dia ke mana?” God Hand, Romusha bertanya.


“Aku sama sekali tidak peduli dengannya tuh.”


“Dia mungkin pergi ke suatu tempat. Hei, God Soul, apa kau tahu di mana dia?” tanya God Eye, Yongchun.


“Aku tidak tahu. Selain dia pergi dari tempat si penempa besi itu,” jawab God Soul.


Obrolan mereka terlalu canggung didengar satu sama lain. Mereka hanya saling duduk berhadapan satu sama lain dengan menatap meja yang kosong.


Setelah beberapa saat menunggu, pintu ruang terbuka dan terlihat Kuraki membawakan banyak makanan dalam satu nampan.


Ada nasi, dan berbagai lauk dihidangkan di atas meja. Aroma dari makanan itu sungguh menggugah selera, tidak satu pun dari mereka mampu mengelak hidangan yang terlihat menggoda itu.


“Kuraki, pintar memasak rupanya.” Romusha memuji.


“Tidak. Saya tidak sepintar itu.” Kuraki merasa malu ketika dipuji.


“Tidak. Saya lah yang harusnya merasa berterima kasih. Melayani kalian adalah sebuah keberkahan bagi saya tersendiri.” Semakin merona lah wajah Kuraki.


“Wah, wah, datang-datang sudah disuguhi banyak makanan begini. Saya merasa senang padamu Kuraki,” kata God Ear dengan wajah sumringah.


God Ear akhirnya datang juga setelah sekian lama waktu ia berada di luar. Entah mengapa, penginapan Kuraki menjadi tempat baru bagi mereka.


“Oh, God Soul. Kau datang, tidak kusangka kau akan menerima tawaran God Eye,” singgung God Ear kepadanya.


“Apa maksudmu? Bukankah kau sendiri tahu karena memiliki pendengaran jarak jauh.” God Soul membalasnya dengan sindiran.


“Ya, begitu, deh. Pendengaran yang cukup berguna, bukan? Untungnya aku tidak terlibat lagi denganmu. God Soul.” God Ear mengambil tempat di sampingnya. Seraya mengobrol dengan sok akrab.


“Selama ini apa yang kau lakukan?” Pikiran Dewa bertanya.


“Baca sendiri pikiranku, dong! Aku malas menjelaskannya.”


“Tidak akan. Itu tidak adil bagi yang lain. Dan aku sendiri tidak begitu memahami isi pikiranmu yang begitu rumit,” ketusnya.

__ADS_1


Sesuai yang mereka perbincangkan. Sesaat suasana menjadi tegang. Karena kepulangan God Ear bukanlah hanya sekadar pulang saja melainkan juga membawa sebuah berita besar khususnya bagi mereka.


“Aku menemukan sebuah tempat di mana kita bisa mengetahui sesuatu tentang Dewa Hitam. Aku tahu, kalian termasuk aku sangat penasaran tentang hal itu.”


“God Ear, kau tidak bercanda?” Romusha bertanya.


“Tentu tidak. Ini serius. Situasi yang serius. Kalian takkan rugi mendengarnya. Seperti yang pernah aku ceritakan dulu kalau kita semua memiliki setiap bagian tubuh dewa. Dan itu bukan dewa biasa.”


“Ya, setelah aku mendengar kalau kita tidak bersatu maka dunia akan hancur. Namun jika kita bersatu atau berkumpul, maka era dunia lain akan muncul,” sahut Yongchun menegas.


“Nah itu. Lalu bukankah kita kekurangan satu orang?” sindir Pikiran Dewa.


“Ah, kalau maksudmu adalah God Mouth, aku sarankan jangan ganggu dia. Dia memiliki niat membunuh yang cukup kuat. Aku barusan mendengar isi hatinya cukup jelas, mungkin dia sedang menuju kemari.”


Raut wajah God Ear dipenuhi kecemasan setelah menjelaskan tentang God Mouth. Salah satu yang tersisa di antara mereka.


“Lalu bagaimana cara kita dapat berkumpul kalau dia seperti itu?” tanya Romusha.


“Nanti akan ku urus. Namun besok, kita akan ke tempat di mana sejarah tentang dewa ada di sana. Letaknya berada di pulau ini, seperti katamu,” ujar God Ear seraya melirik Pikiran Dewa.


“Kenapa tidak memilih era dunia lain muncul saja?” God Soul bertanya.


“Dia bertanya kenapa tidak memiliki era dunia lain muncul,” ucap Yongchun menerjemahkannya.


“Aku tidak sarankan,” kata God Ear sambil menggelengkan kepala.


“Baiklah, kalau rekontruksi tubuh. Apa itu? Aku mendengarnya dari God Eye, apa itu sebenarnya?” God Soul kembali bertanya.


God Ear yang mengerti sedikit dengan pertanyaannya. Ia pun lekas menjawab dengan pemahaman kata yang lebih mudah diselingi dengan sebuah isyarat.


“Perubahan tubuh. Tenaga dalam atau energi kehidupan, penampilan serta kekuatan luar yang kita miliki dari setiap bagian tubuh dewa hitam,” jelas God Ear.


“Seperti yang kau katakan God Eye,” ucap God Soul menatap Yongchun.


“Sudah aku bilang 'kan?”


“Aku ingin tahu caranya. Karena mungkin aku membutuhkannya.”


“Bukan mungkin tapi harus. Karena kita berkumpul bukan hanya sekadar berkumpul saja, God Soul.” Yongchun menjawab.


“Ya, itu benar.” God Ear menganggukkan kepala, “God Soul, rekontruksi itu cukup sulit tapi sepertinya tidak bagimu yang memiliki jiwa dewa. Kita akan pergi ke tempat sejarah itu besok, dan kita akan merekonstruksi tubuh itu bersamaan,” imbuhnya.

__ADS_1


“Sepertinya besok akan menjadi hari yang panjang.”


__ADS_2