Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
039. Distrik Hiburan


__ADS_3

20 tahun yang lalu, wilayah timur laut masih kosong tanpa kekaisaran. Di saat itu, wilayah timur tengah yang terbagi menjadi beberapa bagian masih menyembunyikan sesuatu, awal Ketingkatan Pendekar terbentuk tanpa adanya orang barat.


Distrik Hiburan. Tempat para wanita diperjualbelikan oleh pria yang haus akan nafsu.


Namun kali ini, mereka kedatangan pria gila. Yang mengincar gadis kecil dengan rambut panjang berwarna hitam.


Plak!


Gadis itu menepis tangan seorang pria yang hendak membawanya pergi.


“Aku tak mau ikut denganmu, dan aku akan pergi dari sini!” jerit gadis itu.


Ia kemudian berlari dari mereka namun si penjual berhasil menangkapnya kembali. Gadis itu pun memberontak sekuat tenaga, bahkan ia dengan beraninya mencakar lengan serta wajah orang itu.


“Haha! Gadis ini sangat beringas sekali! Aku lebih suka begini, ya, ya ...!”


Pria yang hendak membelinya itu sungguh tak waras. Mungkin mentalnya sudah lama hancur sehingga akalnya pun mengikut jatuh.


“LEPASKAN!”


Nampak beberapa wanita dewasa dan banyak gadis berkumpul di satu tempat yang sama dengannya, melihat hal itu jelas membuat mereka bergidik ngeri.


Tetapi, perjuangan gadis ini untuk pergi melarikan diri dari mereka, perlahan membuat hati para wanita tergerak. Walau hanya sedikit, terbesit di pikirannya bahwa melawan orang seperti mereka adalah tindakan yang jauh lebih baik daripada mempasrahkan diri.


“Kakak ...apa suatu saat kita akan bebas?” Gadis yang lebih kecil dari gadis sebelumnya bertanya, namun juga berharap pada wanita dewasa yang ada di hadapannya.


“Ya, pasti ...”


Salah seorang wanita dewasa itu memeluknya erat. Juga berharap bahwa suatu saat nanti akan terkabul. Berharap Dewi Keberuntungan datang dan menolong mereka.


Dengan tubuh gemetaran, rasa takut yang masih menjalar, satu persatu para wanita dewasa menggerakkan kedua kakinya tuk berdiri.


Salah satunya menggenggam erat sebilah pisau kecil di balik punggung. Napasnya berat, ia melotot ke arah dua pria tersebut.


“Apa kamu sanggup membunuh?”


“Tidak ...aku tidak tahu.”


Penjual itu menyadari mereka yang berdiri dan menatapnya.


“Hah? Kalian ingin apa?”

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, mereka yang berada dalam jangkauan segera mendorong mereka agar melepaskan gadis tersebut.


“Dasar pria brengsek!”


Wanita itu berteriak keras sembari menusuk tubuh pria yang kini terbaring di atas tanah dengan sebilah pisau.


Para wanita dewasa yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari juga berusaha untuk melakukan sesuatu terhadap pria gila satunya.


Gadis merasa ngeri sesaat, salah satu dari mereka membunuh seseorang. Ia beringsut, nyalinya tuk melawan pun ciut seketika. Ketakutan hingga tubuhnya gemetaran jadi saksi atas pembunuhan tersebut.


Tak bisa ia lupakan semudah itu. Meski setelahnya ia akan lupa, pasti suatu saat ingatan terburuk ini akan muncul.


“Tidak ...aku akan lari! Semuanya, ayo lari! Keluar dari sini!” Gadis itu pun mengajak yang lain untuk melarikan diri.


“Hah? Kau ingin ke mana?!”


Beruntung ada wanita dewasa berani melawan mereka. Para gadis kecil yang tersisa juga sudah melarikan diri sejauh mungkin agar tak lagi dekat dengan distrik sampah macam itu.


Beberapa dari mereka sudah tak kuat berlari. Sehingga gadis dengan rambut hitam itu memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu tenda yang kosong.


“Ini di mana, ya?”


Terhitung 10 gadis bersama dengannya, mereka juga hampir seumuran. Banyak dari mereka yang adalah anak buangan, yatim piatu atau anak yang diculik.


“Hei, apakah kita akan tetap seperti ini? Berlari tanpa arah, kita juga tidak akan terus tinggal di sini, 'kan? Apa kita kabur dari wilayah ini saja?”


Tiba-tiba seorang gadis dengan rambut pendek berbicara hal yang tidak mungkin terjadi. Semua gadis pun tersentak mendengarnya.


“Itu jelas tidak mungkin! Di balik laut yang ada di ujung sana bukanlah tempat yang memungkinkan untuk kita hidup di sana!” tegas si gadis beringas.


“Apa salahnya? Siapa tahu kita diselamatkan oleh mereka! Lagipula di sini tidak aman, 'kan?”


“Sama saja! Di sini kita hidup dalam penderitaan tapi di sana? Di sana tidak ada jalan agar kita terus hidup!”


“Kalau begitu aku memilih untuk mati saja!”


“Jangan menyerah seperti itu! Kau pikir nyawa manusia bisa dianggap remeh begitu? Hah?”


Gadis beringas itu mengamuk, dan tak sadar ia mencengkram kedua pundak gadis lainnya dengan kuat. Perlahan gadis itu menutup mulut rapat-rapat dan kemudian tangisnya pecah.


“Ah ...aa, maaf? Maafkan aku ...”

__ADS_1


Ia tanpa sengaja menyakitinya tapi tak tahu harus berbuat apa. Jadi hanya diam sampai menunggu tangisannya berhenti.


Srak...


Seseorang membuka tenda yang tadi tertutup. Ia terkejut dengan beberapa anak gadis yang ada di dalam sana.


“Apa kalian anak terlantar?”


Sekilas terlihat baik-baik saja, bahkan banyak gadis yang nampaknya tertidur cukup pulas di dalam tenda. Tapi gadis dengan rambut panjang berwarna hitam menyadari kehadiran seseorang.


“Siapa?”


Ia berwaspada dan berjaga-jaga dengan membawa salah satu barang yang ada di dalam tenda, jika pria ini akan melakukan hal buruk, ia akan melempar barangnya. Lalu melarikan diri.


“Tenang ...tenang. Aku tidak akan berbuat macam-macam. Anak gadis cantik sepertimu tidak usah melakukan sesuatu, tidurlah jika kau mau. Aku akan menunggu di luar, bilang saja kalau butuh sesuatu, ya.”


Pria ini berbeda. Tak seperti pria brengsek yang suka menghamburkan uang hanya untuk memuaskan nafsu duniawi. Bagi si gadis, ia adalah pria penyelamat. Pahlawan.


“Apa ini tendamu, paman?”


“Iya. Ini tendaku. Aku adalah seorang pedagang yang mampir ke wilayah bagian ini, tapi sepertinya tampak kacau sekali. Kudengar ada Distrik Hiburan, tempat itu buruk. Jadi sebaiknya kau menjauhi tempat itu, ya?” ujar si pedagang.


“Kami berasal dari sana. Kami sudah berani melarikan diri dari tempat itu. Bersyukur kami masih selamat saat ini. Lalu, menemukan tenda untuk kami beristirahat itu juga sudah cukup. Terima kasih, sudah mengijinkan kami masuk ke dalam tendamu.”


“Iya. Tidak masalah. Kalau kau mau, aku akan membawamu dan lainnya ke tempatku yang lebih aman, bagaimana?” Pedagang itu menawarkannya.


“Bukankah kau tinggal di tenda, kenapa kau punya rumah juga di sini?”


“Ah, itu ...ceritanya cukup panjang. Bagi seorang pedagang, dulu aku pernah tinggal di sini dan aku cukup yakin sampai saat ini tidak ada orang yang menempati karena di daerah terpelosok. Mau?”


“Hm ...baiklah. Aku mau-mau saja. Apa kita harus berjalan lagi sekarang? Tapi aku masih takut jika orang-orang itu datang lagi,” ucapnya meragu.


Pedagang itu mengelus kepalanya dengan lembut seraya berkata, “Aku punya gerobak dengan kuda. Aku yakin, kau dan lainnya bisa bersembunyi di antara barang-barangku. Nanti juga akan kuberikan kain.”


“Apa cukup jauh?”


“Ya, lumayan. Itu dekat sekali dengan ujung wilayah ini.”


Tempat itu adalah yang sekarang dijadikan sebagai kediaman Xie, Sekte Kabut Malam. Dulunya memang masih baik-baik saja, hanya beberapa kendala dengan tumbuhan liar yang tumbuh di tempat itu.


Namun karena beberapa kejadian, bangunan milik pria itu jadi hancur tak terbentuk.

__ADS_1


__ADS_2