Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
058. Membalas Serangan!


__ADS_3

Naga ular dengan tubuh berapi jatuh tersungkur setelah racun dari taring milik Niao bekerja. Dalam posisi hidup dan mati, mahluk neraka itu kini terdiam.


“Hei, kau!” Niao memanggil Yongchun yang sedari tadi melirik-lirik ke arah naga ular itu.


Fokusnya terpecah lantaran Niao memanggil dengan nada jengkel. Yongchun menoleh dan melihat apa yang ada di dalam diri Niao saat ini.


Emosi serta aura yang hitam bak kobaran api, tak ada jiwa di sana. Satu pun tidak ada.


“Kau ini betulan hidup atau tidak?” tanya Yongchun.


“Maksudmu apa berkata begitu. Cepat naik atau dia akan bangun lagi. Karena aku membuatnya mati, maka tak lama lagi ia bangkit,” kata Niao.


Yongchun mendesah lelah, ia pun menungganginya tanpa sungkan. Beberapa pertanyaan tentang Niao mulai mengalir di kepalanya, dan apa yang ada di alam neraka ini benar-benar tidak membuatnya mengerti. Mencoba memahami saja berujung buntu.


Bagaimana mungkin ia bisa berlatih untuk mengontrol kekuatannya kalau tempatnya saja begini.


“Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini.”


Niao pun mengerti sebab akibat rasa gelisah yang Yongchun rasakan. Mereka terbang keluar dari goa, dan menuju alam yang membentang luas. Hawa api menyeruak keluar, percikan, bau darah, nanah dan lainnya bercampur aduk.


Yongchun merasakan hal-hal seperti ini lagi, tentu membuatnya mual namun ia menahannya sebisa mungkin. Karena tak ingin jadi beban di suatu alam yang tak mudah dimengerti.


Ibarat, mereka berada di dalam perut suatu makhluk. Bara api itu terlihat seperti asam lambung yang akan melelehkannya sampai hancur lebur bagai bubur.


“Aku melihatmu tidak memiliki jiwa. Yang aku rasakan hanyalah auramu yang begitu besar, Niao. Itu sedikit aneh bagiku. Terutama aku tak bisa memperkirakan kapan kau mati,” jelas Yongchun.


“Ya, jelas saja kau berpikir begitu. Kau 'kan sudah tahu kalau kami yang sudah tinggal lama di alam neraka, tidaklah hidup ataupun mati. Kenapa kau jadi memikirkan hal ini? Padahal tidak ada hubungannya denganmu. Dan bukankah berarti, kau tidak bisa melihat atau merasakan kapan aku mati, itu adalah hal yang baik?” pikirnya.


“Maksudmu, kau berpikir takkan mati?”


“Tentu saja! Aku ini siluman, berbeda seperti manusia lemah seperti kau!” sindirnya.


Yongchun menengadah ke langit-langit, ia melepas kain penutup matanya dan semburat hitam pun keluar dengan deras hingga jatuh menetes.

__ADS_1


Ia berkedip, lantas kekuatan yang mengalir di kedua matanya seketika berpindah ke kedua tangannya. Memadat dan seolah membentuk senjata kosong.


“Maksudmu, mengontrol, apakah seperti ini?”


Niao melirik serta merasakan aura itu semakin mengecil.


“Kenapa bisa kau lakukan dalam waktu singkat?” tanya Niao tak percaya.


“Karena aku melihat makhluk tak jelas itu bertarung denganmu. Saat dia keluar, kekuatan itu keluar seperlunya dan saat dia berenang masuk ke dalam, kekuatan serta keberadaannya sendiri lenyap seketika,” ucap Yongchun seraya mengepalkan tangan sekuatnya, kekuatan itu pun menajam.


“Itu mungkin karena pengaruh laut neraka. Bukankah aku juga begitu saat masuk ke dalam tadi? Yah, apa pun cara yang telah kau gunakan, asal itu mempengaruhimu.”


“Lalu, apa maksudmu dengan, "Tubuh Dewa?", aku tak begitu mengerti.” Yongchun bertanya.


“Ya, yang kumaksud tidak lain adalah mata yang kau miliki. Intinya, meski hanya mata saja yang terlihat, tapi sejak kecil kau memiliki tubuh dewa,” tutur Niao tak terdengar seperti omong kosong belaka.


“Dulu aku tidak begini. Yang kulakukan hanyalah mengasah pedang serta teknikku untuk berbuat curang dengan pedang,” ungkap Yongchun tak tahu malu dengan aib sendiri.


“Lagipula ada alasan aku harus melakukan itu, karena jika tidak pasti keadaan di sana lebih kacau. Hancur berantakan.” Perlahan suara Yongchun rendah.


Niao menghela napas sebelum ia akhirnya berbicara sesuatu yang terdengar serius.


“Dulu sekali, ada sosok yang disebut sebagai "Panglima Neraka", aku tidak begitu mengerti apa maksudnya. Tapi yang kutahu, sosok itu menjelma sebagai manusia dan hidup di dunia sana. Mungkin dunia yang sama denganmu.”


“Tiba-tiba bercerita seperti itu. Memangnya aku akan mendengarkan sejarah panjang lebar, ya? Meski aku ini pintar tapi bukan berarti aku suka menyimak,” ucap Yongchun, menaikkan kedua bahunya.


“Sudahlah dengar saja. Karena aku berharap sosok itu ada di dekatmu sebelumnya. Maksudku saat kau masih ada di duniamu itu. Kau tahu, sosok itu aslinya sama seperti kami. Menggunakan sihir hitam atau apalah sebutannya.”


Sesaat Yongchun terdiam. Satu-satunya hal yang terlintas begitu mendengar perkataan Niao, adalah Seni Iblis.


“Aku tidak mengerti apa itu sihir hitam atau sejenisnya tapi kurasa aku pernah mendengar hal ini. Seni Iblis, itulah cara kami menyebutnya. Itu hal tabu di dunia kami, tapi tidak dengan alam neraka, benar?”


“Ya, itu benar.” Niao mengangguk.

__ADS_1


“Apa sosok yang kau maksud, selalu mengeluarkan kekuatan aneh dengan bentuk guratan seperti bekas luka?” tanya Yongchun.


“Itu ...” Raut wajah Niao terlihat gelisah. Namun, sebelum ia menjawabnya, terdengar suara yang memekikkan telinga mereka dari belakang.


Burung-burung itu kembali lagi. Menyerang mereka atau lebih tepatnya Yongchun-lah yang menjadi sasaran mereka. Ketika itu, Niao segera mempercepat gerakannya, kedua sayap itu menghempaskan angin ke bawah dan membuatnya terbang menjulang ke atas.


“Tak kusangka akan jadi seperti ini. Tidak di luar atau di dalam pun sama saja, ya.”


Ia berbalik dalam posisi ia masih menunggangi Niao. Menarik kedua pedang dan menantikan kedatangan mereka.


“Hei, apa yang kau lakukan?!”


“Kau tetaplah terbang saja. Aku benci pada mereka karena perbuatannya terhadapku tadi,” ujar Yongchun dengan ketus.


Salah satu dari mereka mengarah padanya, tanpa pikir panjang Yongchun melompat ke tubuhnya. Tubuh burung itu pun terkejut, sesaat tak seimbang, dan nyaris saja mereka terjatuh.


“Hei, kau! Dasar—”


Betapa terkejutnya Niao melihat Yongchun sangat gegabah. Barusan ia menusuk tubuh burung itu lalu pindah ke burung lainnya dan melakukan hal yang sama seterusnya.


Dengan akal yang dibanggakan, Yongchun menggunakan para burung sebagai pijakan di udara dan lalu setelah ia bunuh tanpa belas kasih. Meskipun mereka akan bangkit lagi karena mereka adalah mahluk neraka, Yongchun tetap merasa lega.


Pekikan para burung terdengar sangat nyaring, tetapi tak lebih dari raungan naga yang sebelum ini ia temui. Mungkin saja alasan mereka bersuara itu karena melihat teman-temannya tumbang satu persatu.


“Maaf saja. Karena kalian tidak bisa mati, jadi aku boleh saja melakukan hal ini, 'kan? Lagipula aku sudah pernah membunuh seseorang yang jauh lebih perasa ketimbang kalian!”


Slashh!


Terakhir, burung yang tersisa dipenggal kepalanya oleh Yongchun. Ia kemudian dengan sengaja menjatuhkan diri dan tetap menggenggam kedua pedangnya.


“Pria bodoh!”


Niao pun mengejarnya. Sehingga tubuh Yongchun takkan terjatuh di atas tanah berapi.

__ADS_1


__ADS_2