
Usai pertarungan antar pemberontak di Istana Wulan. Hampir mencapai tengah malam, kesunyian di antara langit dirasakan oleh mereka.
Dua wanita yang merupakan seorang istri Yongchun. Relia dan Nia. Mereka berada di depan gerbang Istana Wulan, kemudian Bing He muncul tak lama setelah itu.
“Nia merasakannya juga?”
“Iya. Ada yang aneh.”
Relia dan Nia menengadah, melihat langit yang mereka rasa ada sesuatu yang mirip dengan sosok suami mereka. Namun itu jelas tak mungkin, bahkan sekarang masih terasa aura itu walau kini samar-samar.
“Itu adalah seni iblis. Kalian tahu?” ujar Bing He.
“Tidak. Relia hanya tahu kalau Asyura itu memiliki hal sama seperti yang ada di langit tadi.” Relia merujuk pada apa yang terlintas sesaat tadi.
“Itulah seni iblis. Sama seperti suami kalian, yang kini tidak sengaja menggunakannya atau bahkan memilikinya. Harusnya kalian tahu, orang yang sudah kehilangan kedua matanya dalam perang itu tidak bisa lagi digunakan. Lalu kalian pikir, apa yang menyebabkan dirinya masih bisa melihat?”
Bing He menyinggung peperangan saudara yang dulu pernah terjadi di timur tengah. Dimana perang saudara itu berakhir ketika Asyura (Yongchun) mengalahkan pemimpin KT, Viona di laut merah.
Keduanya mengerti asal muasal kedua mata itu. Perubahan pada diri Yongchun juga semakin dilihat dan dirasakan semakin berbeda. Tidak seperti biasanya meskipun penampilan, sifat atau hal lainnya itu tidak berubah. Bahkan cara berpikirnya saja masih sama. Meski terdengar licik, ia pernah memanipulasi ingatannya sendiri demi mencapai sesuatu saat itu.
“Crow memang tahu segalanya atau apa? Kudengar kau adalah bawahan kaisar yang ada di sini,” pikir Nia, melirik sinis ke arah Bing He.
“Tidak terlalu mengetahuinya. Dan yah, aku sudah menjadi mantan bawahan kaisar itu. Lalu sekarang aku berdiri di posisi yang sama seperti kalian. Relia dan Nia, aku harap suatu saat nanti jika terjadi sesuatu pada Asyura, kalian berdua dapat melakukan sesuatu untuk membantunya.”
Tanpa dibilang pun mereka berdua juga pasti akan membantu. Entah resiko saat penyatuan negri timur terjadi atau hal lainnya semacam Mata Dewa yang terkutuk itu.
__ADS_1
Relia menghela napas panjang, dingin yang ia rasakan semakin menjadi rasanya. Terdapat bercak darah di pedang yang masih ia genggam kuat-kuat.
Nia terdiam dan kembali memandang langit dengan tatapan sendu di wajah. Seolah merasakan apa yang dirasakan oleh suami mereka.
“Crow, kau juga harus melakukan hal yang sama jika berniat berdiri di posisi yang sama seperti kami.” Relia berucap, Bing He menganggukkan kepala tanpa protes.
“Akan kulakukan apa pun demi dirinya. Segala keputusan yang sudah diputuskan olehnya pun takkan membuatku bimbang memikirkannya.” Sebelum pergi, Bing He mengatakan sesuatu lagi dengan suara yang lirih. “Yang terpenting, aku sudah mengatakan sesuatu yang mungkin akan terjadi pada Asyura. Seni Iblis itu tidak dapat diremehkan,” imbuhnya.
Jika ditanya ke mana Bing He pergi, ia masuk ke dalam Istana Wulan lewat jalan belakang. Agar aman tuk menemui Putri Yu Jie yang kini berada di dalam kamar seorang diri.
Bing He mengetuk pelan jendela kecil kamar Yu Jie yang kemudian menyadari ada seseorang yang hendak menemuinya.
“Bing He, sedang apa malam-malam begini?" tanya Yu Jie seraya ia membuka jendela itu agar suaranya dapat terdengar.
“Maaf mengganggu Putri di tengah malam begini. Aku datang kemari hanya untuk memastikan diri Putri baik-baik saja. Dan sepertinya Putri Yu Jie tidak bisa tidur?” pikir Bing He menyunggingkan senyum tipis.
“Ah, benarkah? Tak apa, Putri Yu Jie justru sangat lelah. Tenang saja, saya yang akan melindungimu dan ada dua pendekar yang sedang berjaga di luar. Yah, meskipun sebentar lagi mereka akan pergi.”
“Dua pendekar? Aku tak punya kenalan pendekar yang sudi tuk membantuku yang lemah. Jika berkenan, bolehkah aku tahu siapakah mereka?” tanya Yu Jie, ia merasa kebingungan serta heran.
“Sebelumnya maaf jika menyinggung. Anda hendak dinikahkan oleh seorang pria dan dia adalah penguasa wilayah timur tengah bernama Asyura Ayah. Dan dua pendekar yang sedang berjaga di luar sana adalah kedua istrinya,” ungkap Bing He.
“Kenapa wanita itu berjaga di depan? Aku tahu aku tak bisa membiarkan masuk karena Ayah pasti takkan mengijinkan. Namun, ini sudah tengah malam.” Terlukis kecemasan di raut wajahnya.
“Putri tak perlu merasa sungkan. Mereka ada bukan untuk melayani suami tercinta di satu ranjang. Mereka juga datang karena tahu kalau penyatuan negri timur tidaklah semudah itu, sehingga dapat memperkirakan masalah yang biasa terjadi di setiap wilayah.” Bing He tertawa kecil.
__ADS_1
Putri Yu Jie mendengus tak puas mendengar jawabannya. Mau bagaimanapun, kedua istri itu adalah seorang wanita yang seharusnya berdiam di rumah menunggu kepulangan. Tak biasanya ia mengetahui hal seperti ini, karena selain Xie Xie, jarang ada pendekar wanita lainnya.
“Mohon maafkan saya. Saya hanya berusaha untuk menghibur Putri Yu Jie. Anda itu bodoh, naif dan lemah. Semua orang tahu itu, ditambah lagi Anda termasuk orang yang cengeng. Karena itulah, sudah jadi tugasku untuk membuat hati Putri kembali berbahagia,” ujar Bing He.
“Kau pintar bermain kata-kata seperti majikanmu, ya. Tapi aku merasa aneh, kenapa kau tak pernah punya seorang pendamping sampai sekarang?” sindir Yu Jie, agaknya ia mengejek.
“Ya, ampun. Saya sudah cukup tua. Saya tidak bermaksud menggoda Putri Yu Jie dengan semua kalimat yang barusan saya utarakan. Hanya sekadar menghibur,” jelas Bing He.
Yu Jie terkekeh-kekeh mendengarnya, padahal ia tahu apa maksud dari perkataan Bing He tadi.
***
Di bagian ujung selatan. Goa yang sudah ditemukan itu hancur karena seni iblis. Semua jasad yang mempelajari seni iblis sebelumnya pun hancur menjadi abu.
Pemimpin Wang, Li, Yang, dan Xie menatap pada salah satu target mereka selanjutnya.
Seolah tatapan itu berisyarat agar segera menghabisi sosok yang sama dengan para pemberontak yang berada di dalam goa sebelumnya.
Enggan berdiri, kedua kaki Yongchun merasa lemas. Ia hanya terduduk menggenggam erat kedua pedangnya dengan tubuh yang gemetaran dan berkeringat dingin di cuaca seperti ini.
“Aku tak mau melakukan hal ini. Tapi apakah dia juga mempelajari seni iblis?” tanya Pemimpin Li seraya menyibak kipas kertas, menutup setengah wajahnya.
“Kalau benar, sudah pasti akan diperlakukan hal yang sama. Ingat, Seni Iblis itu hal tabu bagi wilayah timur laut kita. Tak seharusnya seseorang menggunakan hal itu. Namun, dia juga adalah orang luar. Apa perlu mempertimbangkannya?” sahut Xie.
“Perlakukan seperti yang seharusnya kita lakukan pada "mereka" agar semua orang jera untuk tidak menggunakan kekuatan itu semena-mena.” Wang Xian memberi perintah.
__ADS_1
Sambil menahan sakit, Yongchun sedikit menarik kedua ujung bibirnya, seringai kecil itu menandakan ia akhirnya mengerti akan apa yang diperingati oleh Yang Jian sebelum ini.