
Semula jadi gelap gulita. Hening sesaat dan tiada kehadiran seorang pun. Termasuk dirinya. Seraya ia mengepalkan kedua tangan dan mulai merasa kedinginan, kesunyian pun semakin melanda di lubuk hatinya yang terdalam.
Mendadak ia merasa sepi, tak ada seorang pun. Apakah ini rasanya mati? Kedipan mata tak lagi ia rasakan, sekujur tubuhnya pula sudah tidak nampak. Disentuh juga tidak bisa, seolah transparan.
Tidak melihat, tidak mendengar, tidak bisa merasakan, semua indra miliknya tertutup rapat oleh bayangan yang membayanginya.
Memikirkan apa yang harus ia lakukan. Berbagai ucapan dari setiap orang terlintas dalam benaknya. Suara gemerincing dari sebuah lonceng emas, suara percikan air, jatuhnya daun yang kemudian bergesekan dengan tanah kering.
Suara injakan kaki juga terdengar tak lama setelah itu terjadi.
“Kita ini sama.”
Ketika itu, Yongchun. Sesosok pria dengan kedua pedang, tubuh penuh luka, masa lalu yang terpendam pun terbentuk.
Kegelapan gulita pun berubah menjadi terang benderang. Cahaya masuk dan membuat pandangan Yongchun silau. Buta sesaat lalu melihat neraka dingin ini sekali lagi.
Uap dingin di mana-mana. Sesaat terdiam dan bertanya-tanya apa yang barusan terjadi namun tak lama setelah itu, ia akhirnya mengerti.
“Kau sosok lain di dalam diriku?” tanya Yongchun sembari menunjuk padanya.
“Tentu saja.” Suara Serak yang ia dengar tak lagi sama. Setidaknya ia bersyukur kalau suara yang dikeluarkan bukanlah suara sahabatnya sendiri.
“Kalau begitu, berhentilah menghalangi jalanku sebagai penguasa serta pendekar pedang. Aku tak mau berurusan dengan hal-hal yang merepotkan,” tutur Yongchun menegas.
“Terserah kau mau lakukan apa pun padaku. Asalkan kau tak menghalangi jalanku untuk kembali pulang dan melakukan apa yang harus aku lakukan setelah ini!” imbuhnya sekali lagi.
Sosok tersebut diam. Tak berselang lama kemudian, ia kembali melesat dengan seringainya. Sepertinya ia enggan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yongchun. Sehingga sosok itu kembali menyerangnya.
“Hah! Sama keras kepalanya seperti diriku?”
Tak ragu setelah tahu siapa itu. Menekankan wujud tenaga dalam pada sebilah pedang dan disusul dengan tangan kiri yang menarik pedang satunya lagi.
Dua pedang dengan wujud yang sangat berbeda. Tak ada kesamaan, namun sama tajamnya begitu tenaganya merasuk ke dalam.
Yongchun melakukan tebasan silang selama beberapa kali seraya menghindari serangan dengan melangkah ke belakang. Dan saat menghindar ke samping, terdapat celah sedikit ia langsung mengayunkan salah satu pedangnya.
__ADS_1
Tetapi, yang ia tebas bukanlah sosok tersebut melainkan hanyalah potongan kayu dengan kapak di tangannya.
“Ke mana lagi aku?”
Ia berhenti. Dan mulai memperhatikan keadaan sekitar yang berubah. Dengan pakaian lusuh dan caping, serta apa yang barusan ia lakukan hanyalah memotong kayu.
Ia berada di halaman belakang rumah seseorang. Rumah yang dimiliki oleh seorang pedagang. Ia bersama yang lainnya melakukan hal yang sama.
“Hei, ayo cepat bekerja!”
Salah satu pria di sana berteriak padanya. Yongchun terdiam dan kemudian tahu ini di mana dan kapan.
“Ini ...aku pernah melakukan hal ini sebelumnya. Kalau tidak salah, sebulan sebelum musim semi datang.”
“Yang Mulia sedang mencari keberadaan Pemimpin Yong! Apakah pria buta itu ada di sini?”
“Mana mungkin ada di sini! Kalaupun ada, dia pasti sudah ketahuan. Ingat tidak, tempo hari saat para pemberontak itu datang? Dia yang paling besar kekuatannya sehingga tak bisa menahan hawa keberadaan yang bikin merinding itu!” oceh seorang pria tua sembari memotong kembali kayu-kayunya.
“Sudah! Jangan banyak bicara! Cukup gunakan kaki dan tangan kalian untuk bekerja!”
Hal itu terjadi di saat Kaisar Ming mencarinya ke mana-mana sedangkan Yongchun tengah menyamar sebagai tukang kayu demi menghindari si kaisar itu.
“Boleh aku bertanya, bagaimana keadaan Istana Wulan?” tanya Yongchun.
“Oh, itu. Sepertinya sangat kacau. Gara-gara Pemimpin Yong, para pemimpin kultus katanya berkhianat. Yang tersisa hanyalah Pemimpin Yin saja,” jawab salah seorang yang ada di dekatnya.
“Apa? Benarkah itu? Lalu Pemimpin Wang?”
“Dia hilang bersama dengan Pemimpin Li, Xie dan Zhao. Lalu Pemimpin Yang, sepertinya terdengar rumor kalau dia sedang terbaring sakit parah.”
Sepertinya Yongchun berniat mengetahui informasi tentang keadaan Istana Wulan. Dan selain Xie, Li dan Zhao, ia tak begitu tahu ke mana perginya Wang Xian.
Ditambah lagi Yang Jian juga terluka karenanya. Banyak tindakan yang tidak masuk akal.
Termasuk berita penting yang akan ia dengar ini.
__ADS_1
Pria itu berbisik, “Kudengar Yang Mulia berencana menguasi wilayah di balik Laut Merah. Dikatakan di sana banyak sekali harta, jadi kami pasti akan mendapatkan emas lebih banyak lagi.”
“Di balik laut merah serta perbatasan di antara dua wilayah adalah wilayahku. Tapi di sana tidak banyak harta, yang ada hanyalah tengkorak para pendekar yang tenggelam ke dasar laut,” gumam Yongchun dengan suara lirih seraya ia menutup mulutnya dan memalingkan wajah.
“Apa yang kau gumamkan?” tanya pria itu penasaran.
“Ah, tidak.”
Tidak disangka ia benar-benar seperti kembali ke masa 1 bulan yang lalu. Tapi Yongchun menyakini dirinya bahwa ini hanyalah seberkas memori sebelum ia jatuh ke dasar neraka.
Tetapi, Yongchun baru teringat akan satu hal. Mengapa pada saat itu, auranya tidak menyembur keluar seperti biasanya.
“Itu karena diriku. Akulah yang membawamu ke sini. Akulah yang menekan kekuatanmu, dasar amatir!” ketus seseorang, yang ternyata adalah sosok yang mendiami tubuh Yongchun.
Ia bergidik ngeri. Lantas, disusul dengan sebuah tepukan pundak yang membuatnya terkejut.
“Kau kenapa hanya berdiam diri saja? Tidak ingin pulang?”
Rupanya hanya Niao. Yongchun pun menghela napas lega. Ia telah kembali ke neraka dingin.
“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Niao.
“Tidak. Aku hanya berpikir apakah tempat ini sungguh nyata atau tidak. Tapi yah, itu semua tidaklah penting asalkan aku keluar hidup-hidup dari sini,” ujar Yongchun yang kemudian ia melangkah maju.
“Tunggu sebentar!” pinta Niao dengan tegas. Menghentikan langkah Yongchun karena ingin memberitahunya sesuatu.
“Ada apa?” Yongchun menoleh.
“Di balik bebatuan es itu,” kata Niao seraya menunjuk ke kanan. “Bisa dijadikan tempat untukku membuka pintu ke neraka lain.”
Dahinya berkerut, Yongchun lantas berdecih karena dikecewakan. Kemudian berkata, “Kupikir langsung jalan keluar menuju duniaku.”
“Haha, maaf saja. Dan ada hal yang aku peringatkan. Neraka ini mungkin sulit untukmu. Banyak ilusi yang akan memperlihatkan sosok aslimu dulu atau mungkin kesalahan atau dosa yang pernah kau lakukan,” ujar Niao menjelaskan.
Perasaan baru saja Yongchun menghadapi ilusi. Yah, meskipun itu bukan ilusi sepenuhnya. Lebih tepat dikatakan, ia bertarung dengan sosok yang mendiami tubuhnya.
__ADS_1