Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
044. Rayuan yang Sudah Tak Berlaku


__ADS_3

Ketika Yongchun hendak pergi lagi, tiba-tiba Li Bai menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Yongchun. Ia bersembunyi dari beberapa wanita yang sepertinya sedang mencari keberadaan Li Bai.


“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya Yongchun, ia terpaksa berhenti karena Li Bai menarik tubuhnya mundur.


“Ada wanita. Wanita itu lagi, kenapa setiap kali aku harus berurusan dengan mereka, sih. Hei, Yongchun! Tolong katakan sesuatu pada mereka agar pergi dari hadapanku,” pinta Li Bai seenaknya sendiri.


Li Bai beralih ke salah satu tempat yang memungkinkannya untuk bersembunyi sejenak. Kala itu, para wanita yang melihat Yongchun pun segera berlari ke arahnya.


“Wah, ada pria tampan di sini juga. Hei, apa kau melihat Li Bai. Maksudku Pemimpin Li?” tanya salah seorang wanita.


“Hm, sepertinya tidak. Aku tidak tahu.” Yongchun berdeham sebelum ia benar-benar menjawabnya.


“Eh? Dia buta. Jadi mana mungkin dia tahu siapa saja yang ada di sini.”


“Ah, itu benar. Sayang sekali. Tetapi apa kau yakin Pemimpin Li ada di sekitar sini?”


“Aku yakin dia di sini. Tadi aku melihatnya kemari jadi aku bergegas memanggil kalian lalu datang ke tempat ini. Tetapi aku tak melihat Pemimpin Li di mana pun. Apakah dia sudah pergi, ya?” Wanita yang tampaknya adalah ketua dari kelompok itu pun menjadi bingung.


“Kalian mencari Pemimpin Li sebenarnya untuk apa?” tanya Yongchun penasaran seraya ia mendekat pada ketua kelompok itu.


Sontak terkejut, wajah wanita itu pun berubah menjadi merah. Kemudian ia menjawabnya dengan sedikit terbata-bata, “Ka-Kami hanya ingin bermain dengannya dan ...memberikan beberapa makanan yang Pemimpin Li suka.”


“Ternyata hanya itu rupanya. Tapi kenapa dia enggan sekali bersama mereka?” Dalam batin Yongchun berpikir ada yang salah dengan Li Bai, ia pun menoleh ke tempatnya bersembunyi.


Melihat gerakan tangan Li Bai yang melambai, tanda ingin Yongchun mengusir mereka secepatnya. Lantas Yongchun pun menghela napas panjang.


“Apa dia pernah bilang kalau dia itu keberatan untuk bersama dengan kalian? Atau sungkan?” tanya Yongchun sekali lagi tuk memastikan.


“Um, sepertinya tidak. Dia merasa senang saja tuh,” ucap salah satu mereka dengan yakin.


“Di antara dia bodoh atau memang sungkan. Dia benar-benar tak bisa mengatasi hal seperti ini, ya.”


Lagi-lagi Yongchun bergelut di dalam pikirannya. Berusaha keras mengetahui apa yang menjadi masalah Pemimpin Li, dan kemudian terlintas dalam benaknya bahwa mungkin ada suatu kejadian memalukan yang menimpa Li Bai bersama atau di hadapan banyak wanita.

__ADS_1


Yah, tapi itu juga bukan urusan yang harus diurus oleh Yongchun.


“Nona-nona sekalian, di tempat seperti ini sangat sepi. Barusan aku bertemu seseorang yang sangat berbahaya di sini, jadi tak mungkin ada Pemimpin Li. Aku harap kalian segera pulang ke rumah atau badai salju akan kembali datang,” tutur Yongchun seraya tersenyum.


Para wanita menjadi tersipu malu mendengarnya. Mereka pun terdiam dan menatap satu-satunya pria yang ada di hadapan mereka saat ini.


“Kenapa kau tahu kami ada banyak?” tanya salah seorang wanita.


“Dari suara kalian pun sudah jelas. Suara kalian mungkin terdengar lirih tapi aku masih bisa mempergunakan kedua telingaku. Aku juga bisa melihat bidadari seindah ini ada di dekatku juga ...sungguh beruntung,” ucap Yongchun seraya meraih tangannya.


Kemudian ia kembali berbicara dengan rayuan murahan seperti itu. Yongchun bilang, “Nona ini memiliki rambut hitam yang lurus panjang, pakaianmu sungguh sopan dan warna putihnya benar-benar cocok dengan sifatmu yang anggun.”


Tidak hanya orang yang ia rayu bahkan semua temannya itu ikut tersipu. Li Bai tertegun dengan apa yang barusan ia lakukan, menunjukkan bahwa dirinya benar-benar bisa melihat saja sudah membuat ia kaget apalagi keahliannya dalam rayuan.


“Ka-kalau begitu ...kami akan segera pulang ke rumah. Hari ini entah kenapa terasa panas, ya.”


Mereka pun akhirnya pergi. Rayuan itu benar-benar manjur. Yongchun pun mendesah lelah, seolah ia baru saja melakukan pekerjaan berat.


“Tampaknya dirimu sungguh senang menyalami mereka.”


Seketika itu sekujur tubuh Yongchun berkeringat dingin. Tak mampu menoleh ke belakang karena saking takutnya ia pada Relia.


Li Bai pun tak henti-hentinya ia terkejut. Kedatangan Relia, sosok wanita yang membuat ia berdecak kagum untuk pertama kali, muncul di hadapannya sekali lagi.


“Suamiku, kenapa sepertinya Relia merasa ada suatu rencana lain di wilayah ini, ya?” celetuk Relia dengan beberapa jemari yang menutup bibirnya.


“Maaf. Bukan maksudku begitu,” kata Yongchun dengan perasaan gelisah.


Apa yang harus Yongchun lakukan saat ini?


Apa yang harus ia katakan saat ini?


Bagaimana cara agar si istri tidak marah?

__ADS_1


Berbagai pertanyaan menghantui Yongchun dalam sekejap, memang benar perilakunya barusan tidak seharusnya ia lakukan. Namun akan tetapi Yongchun memang seringkali begini.


Dan sekarang Li Bai, ia makin syok karena mendengar bahwa wanita itu ternyata adalah istri Yongchun. Hancur sudah hatinya yang yang rapuh.


“Ah ...maaf, sepertinya aku menguping pembicaraan kalian. Aku akan segera pergi,” ucap Li Bai yang kemudian melangkahkan kaki.


“Tunggu sebentar, Pemimpin Li! Aku akan ikut denganmu! Ya, aku ikut denganmu!” Suara Yongchun semakin meninggi lalu mengikuti langkah Li Bai.


Li Bai mengangkat tangannya kemudian berkata, “Tidak. Akan lebih baik kau menjelaskan situasi itu tadi.” Li Bai menatapnya serius.


“Lalu, aku lupa bilang satu hal padamu. Pemimpin Zhao tak bisa menemukan para pemberontak yang tersisa. Dia sekarang sedang menunggu perintahmu lagi,” imbuhnya.


“Sudah kuduga Pemimpin Zhao tak bisa menemukannya, ya. Kalau begitu, aku ingin kalian berdua menyampaikan pesanku pada orang yang saat ini sedang menggantikanku untuk sementara waktu,” tutur Yongchun, menarik pundak Li Bai agar tidak pergi.


“Lalu kenapa kau menahanku? Sana pergi hadapi istrimu!” tegas Li Bai mendorong tubuhnya dengan kipas kertas.


Yongchun pada akhirnya terdiam membiarkan Li Bai pergi menjauh darinya.


Li Bai telah menyampaikan pesan Zhao Yun pada Yongchun, tentang para pemberontak yang tidak bisa ditemukan. Lantas Yongchun pun meminta tolong pada mereka untuk memberikan sebuah pesan singkat pada seorang pria yang ada di wilayah timur tengah.


Pria yang menggantikan posisi Yongchun untuk sementara waktu, Diola.


Kemudian sekarang ...


“Sudah selesai bicara?” tanya Relia pada Yongchun.


“Y-Ya ...” Yongchun gagap.


Seorang istri yang marah itu tak bisa ditaklukan dengan mudah. Rayuan juga tak mempan, Relia juga tidak mudah dirayu dengan uang. Apa pun yang akan Yongchun lakukan juga semua tak akan merubah emosinya itu.


Jadi yang harus Yongchun lakukan saat ini adalah menenangkan hatinya, membiarkan sang istri melakukan apa saja sampai akhirnya tenang nanti.


Yongchun berjalan menghampiri Relia lalu meraih dan kemudian mengecup punggung tangannya dengan lembut.

__ADS_1


“Lakukan apa yang kau inginkan, asal jangan sampai aku dikebiri.”


Meskipun akan membiarkan Relia melakukan apa saja, namun tampaknya ia masih ingin buah jantannya tetap utuh.


__ADS_2