
“Apa yang sebenarnya dia incar kemari?” tanya Lin Lin dengan heran.
“Apa pun itu. Dia datang kemari hanya karena tak ingin melihat wilayahnya menjadi miskin. Tetapi Kaisar Ming membuat syarat itu agar penyatuan negri timur terlaksana, kira-kira kapan itu terjadi?” gumam Xie.
“Nona Xie Xie jadi sangat memikirkan pria itu. Ngomong-ngomong sekeping emas untuk buah persik itu terlalu berlebihan, deh.”
“Aku tahu.” Xie Xie menganggukkan kepalanya.
***
Badai salju mereda saat Yongchun yang baru saja diusir dari kediaman Xie, dan datang ke suatu pekerangan rumah. Seseorang pria memintanya untuk duduk di sana.
“Maaf, apa kau mengenalku?” tanya Yongchun.
“Ya, ampun. Mana mungkin aku tidak mengenalmu, Wang Yongchun. Kau bahkan dituduh membunuh Pemimpin Luo. Tidak sadar, ya kalau dirimu itu seterkenal itu? Hm ...” Pria itu mendengus.
Yongchun tersenyum. “Kau benar, tapi kenapa kau mengajakku berbicara?”
“Aku hanya butuh teman yang bisa diajak bicara. Itu saja. Karena hari ini aku sangat galau.”
Pria itu sekali lagi mendengus. Ia menceritakan tentang dirinya dan beberapa hal. Diri pria itu merupakan pengikut Pemimpin Li yang terkenal akan ketampanannya. Li sendiri kerap lali dikerumuni oleh banyak wanita sehingga membuat pengikutnya sendiri pun merasa cemburu.
“Aku ingin sekali memiliki istri, tapi tak semudah itu. Ini membuatku galau. Lalu, apakah Yongchun sendiri sama sepertiku?”
“Mungkin akan aneh jika aku yang mengatakan hal ini. Tapi, kau pasti akan menyesal,” tutur Yongchun seraya ia menepuk punggung pria tersebut.
Pria ini bingung lantas bertanya, “Loh, kenapa?”
“Sama sepertimu dulu aku benar-benar ingin sekali menikahi gadis-gadis. Tapi saat aku mendapatkannya, sudah gitu dua sekaligus, aku menyesal. Mereka kerap kali melempariku sesuatu saat mereka kesal. Hasil panen yang berusaha aku sembunyikan pun berhasil ditemukan oleh mereka,” ungkap Yongchun bercerita.
“Wah, itu menakutkan sekali. Kenapa mereka seseram itu, ya?” Kening pria itu pun mengerut.
“Mana aku tahu. Yang pasti kau akan menyesal saat menikahi seorang wanita atau gadis. Tapi bukan berarti kau tak boleh menikah atau apa,” sahut Yongchun.
__ADS_1
Dari kejauhan, Lin Lin, gadis gahar kembali lagi. Ia melambaikan tangannya dan berharap Yongchun melihatnya namun tak ada harapan sebab Yongchun sendiri pura-pura tidak melihat.
“Hei! Nona Xie Xie memintamu untuk bertemu denganmu! Ingat, apa yang kau tanyakan sebelumnya?! Termasuk Pemimpin Yin! Jangan sampai aku yang menyeretmu ke sana lagi!” Lin Lin berteriak sangat keras, membuat Yongchun harus mendengar semua perkataannya.
“Apa dia istrimu?” Pria bujang itu menebak.
“Bukan!” tegas Yongchun.
***
Di Istana Wulan
Terdapat 4 keturunan langsung dari darah kekaisaran. Yang tidak lain adalah satu kakak laki-laki dan 3 perempuan. Yang paling bungsu adalah Ming Yu Jie, putri bungsu yang hendak dinikahkan bersyarat pada Yongchun sebagai penguasa wilayah timur tengah.
Kehidupan di istana itu mungkin terlihat megah tapi tidak dengan Yu Jie sendiri. Ia seringkali digunjing oleh para kakak-kakaknya. Yang paling parah adalah kedua kakak perempuannya. Mereka memperlakukan Yu Jie seperti kotoran atau hama menjijikan.
Yu Jie hanya terus terdiam meski selama beberapa kali para kakaknya berencana melakukan sesuatu padanya. Termasuk perencanaan pembunuhan itu.
Ada alasan mengapa Yu Jie sebagai putri bungsu harus menghadapi ini semua. Tidak lain adalah Yu Jie sendiri lahir dari wanita penghibur jadi selalu dipandang sebelah mata. Termasuk beberapa pelayan yang terpaksa melayani.
Kakak laki-lakinya yang paling dewasa selalu memarahi Yu Jie yang terkadang pulang dalam kondisi tak prima. Entah sekujur tubuhnya basah, sedikit terluka atau hal lainnya.
Ditambah dengan perlakuan Ayahnya yang semena-mena membuat Yu Jie akan menikah tanpa persetujuan dari Yu Jie sendiri. Namun Yu Jie sudah tahu siapa orang yang akan ia nikahi, karena orangnya sangat baik, ia pun menerimanya dengan senang hati.
Pada suatu waktu, ketika Bing He menyampaikan pesan pada Yu Jie.
Yang berpesan, "Apa kau ingin hidup?", itu sejujurnya membuat putri Yu Jie merasa bimbang. Ia tak begitu mengerti kenapa pesan berupa pertanyaan kepadanya itu disampaikan. Akan tetapi pernah sekali Yu Jie berpikir bahwa maksudnya adalah menyelamatkan dirinya dari cengkraman keluarga kekaisaran di era ini.
Sambil berpikir begitu, Yu Jie tersenyum puas memandangi langit.
“Putri, Anda harus masuk ke dalam. Saljunya mungkin reda tapi ini masih terlalu lebat,” ucap si pelayan di sampingnya.
“Tak apa. Kalau kau keberatan, pergilah. Aku bisa sendiri di sini.”
__ADS_1
Yu Jie tetap duduk di bangku taman, memandangi butiran salju turun dengan lebat. Seolah menggantikan Yu Jie menangis hari ini.
“Kalau begitu saya akan tetap di sini.”
“Jangan memaksakan dirimu begitu. Aku sendiri juga tak masalah,” sahut Yu Jie.
“Tidak. Sama seperti Putri Yu Jie, saya pun kukuh atas pendirian saya. Kalau Putri terluka nanti, maka saya harus membuat itu takkan terjadi.”
Meski banyak orang-orang dalam istana menggunjingnya karena Ibunya adalah seorang wanita penghibur, tampak ada beberapa pelayan termasuk yang saat ini mendampinginya benar-benar tulus.
Tak banyak mereka yang seperti itu. Akan tetapi tak pernah Yu Jie membuka hati pada mereka. Ia hanya tersenyum menyembunyikan luka itu.
“Hei, apa kau akan tetap berdiri membelakangi diriku?” tanya Yu Jie.
“Ya, Putri.”
“Sebelum meminta dirimu untuk duduk di sebelahku, aku ada permintaan. Tolong ambilkan segelas air hangat untukku, ya.”
“Baik, akan saya bawakan secepat mungkin!” tegas pelayan itu.
“Tidak terlalu cepat juga tidak apa-apa.”
Sekali lagi Putri Yu Jie tersenyum. Pelayan itu juga sudah tahu kenapa Yu Jie jadi seringkali begini dan menyuruhnya pergi walau secara tak langsung. Akan demikian pelayan itu punya alasan meninggalkannya, namun pelayan Yu Jie tak ada maksud hal lain.
Akan tetap melakukan apa yang dipinta dan segera kembali menyusul Yu Jie.
Memandangi butiran salju yang turun. Dingin namun pemandangan ini tampak indah sekali. Di mata Yu Jie, mereka terlihat seperti berlian yang ditemukan di tengah jalan. Sangat berkilau dan begitu jatuh dan menumpuk di antara tanah dan salju lainnya pasti akan tercampur tak terlihat.
Sangat berharga, Yu Jie sangat senang saat memandangi butiran-butiran salju tersebut.
“Hei, Bing He, kau ada di mana? Ada yang ingin kukatakan kalau aku berniat untuk mati jika tak dapat keluar dari istana, namun sebaliknya aku akan hidup jika diberi kebebasan dari ini semua.”
Mengatakan apa yang hendak ia katakan tuk menjawab pesan itu pada Bing He. Berharap Bing He mendengar semua perkataan itu.
__ADS_1
Dan sekarang pun, tak ada yang tahu Bing He ada di sekitar istana. Tersenyum puas saat mendengar apa yang benar-benar diinginkan oleh Putri Yu Jie.