
Ayunan tombak yang ringan tampak ia lihai memainkannya. Dewa Hitam menuruni setiap anak tangga sembari mengayunkan tombak ke sisi kanan dan kirinya. Ia melaju ke arah Yongchun yang tengah sibuk bertahan di sana.
Trang!
Ketika dua senjata kembali beradu, suaranya berdengung cukup kuat. Yongchun kehabisan akal karena gerakannya selalu terbaca oleh Dewa Hitam.
“Ukh! Dia benar-benar mengincarku!” pekik Yongchun yang kemudian bangkit dan mengelak dari juluran tangan Dewa Hitam yang hendak mencabut matanya.
Begitu ia menghindar, tatapan Dewa Hitam kembali meliriknya dengan tajam. Untuk sesaat hawa menekan tubuh Yongchun dengan kuat. Aura yang begitu mengintimidasi sampai Shira di atas sana pun dapat merasakannya.
“Astaga, apa yang sebenarnya terjadi?” Shira hanya terdiam di atas sana sambil berpikir, bertanya-tanya apa yang telah terjadi di bawah.
Namun beberapa saat kemudian, sabetan pedang bagai kilat menyambar itu memotong beberapa Tori ke bawah. Dibarengi dengan jatuhnya Yongchun lagi, ia kembali berguling lantas pijakannya ikut rubuh.
Duk! Duk!
Setiap sisi anggota tubuh Yongchun selalu menghantam beberapa puing anak tangga yang ikut terpotong. Tombak petir itu pun menyala semakin kuatnya.
“Kau akan mati di tanganku kalau tidak segera memberikan mata itu padaku!” pekik Dewa Hitam dan memunculkan sebuah tanduk di tengah dahinya.
“Euh! Apa-apaan itu!”
Brak!
Tubuh Yongchun telah terjatuh ke paling dasar sekarang. Tidak menunggu waktu lama ia akhirnya bangkit dari sana dan menghindari Tori yang berjatuhan serta dari Dewa Hitam itu sendiri.
“Sinting! Benar-benar tidak masuk akal!” Yongchun menggerutu seraya menggenggam kuat pedangnya lagi.
Berlari dan terus berlari tanpa henti, Yongchun enggan berhenti karena petir hitam itu pun muncul dan mengejarnya lebih cepat.
Ctar!
Kilatan itu menyambar punggung Yongchun, ia pun seketika ambruk di jalanan dengan tanpa kesadaran yang tersisa.
“Hm, ini aneh. Matanya tidak bisa dicabut dengan mudah. Apa karena sudah terlalu lama melekat di tubuhnya, ya?”
Malam itu, semua penduduk keluar dan berkumpul pada satu tempat tertentu. Mereka membicarakan soal cuaca yang akhir-akhir ini tidak stabil. Banyak hal yang janggal dan tak masuk akal telah terjadi.
Para Pemilik Tubuh Dewa pun segera mengatasi hal tersebut dengan berbohong. Lantaran mereka tahu bahwa hal ini terjadi karena sosok Dewa Hitam bangkit ke dalam tubuh God Soul.
__ADS_1
Masih di malam yang sama. Yongchun terbangun di dekat goa bersejarah. Diam-diam ia mengutuknya begitu bangun. Lalu kemudian bangkit dan bersandar pada dinding luar goa.
Ia tak merasakan hawa keberadaan Dewa Hitam atauapun God Soul sendiri. Namun dalam benaknya ia berpikir keras, apakah sekarang God Soul benar-benar mati?
“Tidak. Jangan sampai. Aku masih melihatnya, bagaimana takdir itu bergerak karena tekadnya yang cukup besar. Bahkan lebih besar dariku,” gumam Yongchun seraya mengulurkan tangan kanan ke depan.
Ia kemudian baru sadar bahwa selama ini pedang itu ada pada genggamannya sampai sekarang. Mengingat tak adanya Dewa Hitam itu, ia lantas menyarungkan kembali pedangnya.
“Tunggu sebentar. Rasanya aku melupakan beberapa hal. Ah, aku tidak lupa ingatan 'kan? Iya, benar. Aku masih mengingatnya. Dengan jelas.”
Truk tuk!
Kerikil berjatuhan mengenai atas kepala Yongchun. Dan tiba-tiba saja ia mengingat kejadian yang barusan dilupakan. Yakni, saat dirinya tersambar oleh kilat petir hitam.
“Oh, ya! Benar! Kalau begitu di mana dia?! Sosok tak jelas seperti itu disebut dewa? Aku tak percaya. Dan dia harus segera dibasmi. Aku juga tidak peduli dengan sejarah atau apalah itu!”
Kemudian Yongchun bangkit dan menarik pedang dari sarungnya lagi. Berwaspada akan sekitar tuk berjaga-jaga jika dirinya disergap lagi oleh Dewa Hitam itu.
***
Fajar telah menyingsing. Mentari pagi dengan hangatnya pun mulai menyinari pulau Nihonkoku. Keadaan yang masih dibilang ricuh dalam diam. Mereka asik bergosip sendiri tentang yang terjadi semalaman.
Relia dan Nia keluar. Tak lupa Relia membawa bayinya yang terdapat sebuah kalung dengan ornamen kayu membentuk wujud matahari. Sepertinya mereka berencana untuk keluar dari rumah Amiya.
“Kalian yakin ingin pergi sekarang?” tanya Amiya yang cemas.
“Tentu saja. Untuk pedangnya, Relia minta maaf dan terima kasih karena telah menampung kami bertiga,” kata Relia sembari menundukkan kepalanya.
Amiya menggigit bibir bawahnya lantaran ia kesal dan juga cemas mengenai mereka bertiga. Kurang lebih Amiya memahami mengapa mereka ingin cepat pergi, dan itu karena suami mereka.
Kejadian yang kemarin pun, membuat semua penduduk terutama Relia dan Nia terus dipikirkan. Dan ada perbincangan yang tidak dimengerti oleh Amiya dan tampaknya karena itu juga mereka sangat cemas.
“Hah, baiklah. Berhati-hatilah kalian,” kata Amiya lalu tersenyum.
Relia dan Nia menganggukkan kepala. Lalu pergi dari satu tempat ke tempat yang lain.
“Kak, apakah kak Asyura benar-benar ada di daerah ini sama seperti yang diceritakan oleh pria itu?” tanya Nia.
“Iya, benar. Relia sendiri juga sudah memastikannya. Dan dia berada dalam kondisi normal, jadi tenang saja.”
__ADS_1
“Ngomong-ngomong kak, apakah kakak tidak akan memberikannya nama?” tanya Nia pada bayi mungil itu.
Relia sedikit tersenyum kemudian menjawab, “Relia akan memberinya nama saat kita semua berkumpul. Karena nama dari Ayahnya akan menjadikan dia lebih kuat.” Relia mengeluskan jari ke wajah bayi itu.
“Hm, kakak terlalu setia. Padahal kakak cantik, 'kan bisa saja selingkuh dengan orang lain.” Nia mengangkat dua bahu seraya membalikkan badannya.
“Kenapa jadi begitu. Nia sendiri tidak mau meninggalkan Asyura, benar?”
Nia hanya tersenyum begitu mendengar kalimat Relia. Kesetiaan mereka sebagai seorang istri tak kalah jauh dari Yongchun (Asyura) sendiri.
Di suatu tempat mereka kembali berhenti untuk makan siang. Dan secara kebetulan ada God Hand, Romusha di sana yang tengah duduk dan hanya menatap meja.
Nia menghampiri lalu menyindirnya dengan sinis.
“Sepertinya kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, ya?”
“Aku kira siapa. Ternyata itu kau, ya. Hah ...” Romusha menghela napas panjang.
Terlihat wajahnya yang lesu serta tubuh yang nampak kurus. Seperti tidak pernah makan selama satu minggu saja.
“Dewa Hitam bangkit,” ucap Romusha seraya menenggak minumannya.
Satu kalimat itu pun seketika membuat mereka terguncang. Tak habis pikir bahwa fenomena kemarin malam adalah karena ulah Dewa Hitam.
“Tunggu, apa yang kau maksud? Ceritakan dengan jelas!” pinta Nia berwajah serius.
“Padahal belum adanya gerhana bulan. Lalu kenapa?” gumam Relia merasa tak percaya dengan ini semua.
“Dewa Hitam bangkit karena God Soul, salah satu dari kami tidak kuat menahan kekuatannya semenjak datang ke goa yang aku maksud saat itu,” ucap Romusha tanpa menatap wajah Nia.
“Hei!” Nia mengamuk saat Romusha menjelaskan setengah-setengah begitu. Ia menarik pakaiannya dan membuat wajah mereka saling bertatapan.
“Yang jelas! Dan beritahu aku apakah dia baik-baik saja?” tanya Nia sekali lagi.
“Kau terlalu brutal, Nona.” Romusha menepis tangan Nia.
Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu berkata, “God Soul, Jiwa Dewa. Sama seperti julukannya, dia menjadi penopang kebangkitan Dewa Hitam sendiri. Dan karena orang yang memiliki jiwa ini tidak kuat menahan beban kekuatan Dewa Hitam yang besar, ia lalu menggila.”
“Kau tahu maksudku, bukan? Dewa Hitam lah yang kini berada di tubuh God Soul. Lalu, keberadaan Mata Dewa hilang di malam itu bersama dengannya,” imbuh Romusha.
__ADS_1