
Kehadiran Dewa Hitam yang tiba-tiba. Mengacungkan senjata tepat ke leher, membuat Nia dan Relia terkejut hingga membelalakkan kedua mata. Mereka berdua sontak dapat bergerak ketika aura mencekam datang ibarat angin yang menetap di tempat.
Rasanya, sekali gerak maka nyawa akan melayang. Itulah yang mereka rasakan, dan bayi itu pun menangis sejadi-jadinya.
“Kau pikir, kau bisa melarikan diri dariku? Aku katakan ini, bahwa aku sengaja mengulur waktu karena aku harus memastikan yang mana bayi yang aku maksud itu.”
Perkataannya merujuk ke si bayi yang digendong oleh Relia. Bergegas, Relia menyikut sehingga Dewa Hitam melangkah mundur karena reflek begitu saja.
“Nia! Bawa bayi ini. Dan pergilah!” pekik Relia berwajah panik, ia pun menyodorkan anaknya pada Nia dan menyuruh mereka untuk pergi secepatnya.
Lantas, Dewa Hitam kembali menyerang. Sebilah pedang itu berayun cepat dan nyaris menyayat leher Relia. Sabetan pedang itu cukup dangkal, Relia berpikir bahwa Dewa Hitam tidak terlalu dapat menggunakan pedangnya.
“Kak Relia!” panggil Nia seraya melempar belati untuknya.
“Cepat pergilah!” Relia menangkap belati itu, dan menahan setiap ayunan pada pedang milik God Ear.
God Ear sekarang tidak dalam kondisi yang dapat sadar. Lantaran Dewa Hitam mengambil alih tubuhnya dengan mudah, begitu pun dengan pedang berlumur darah serta api hitam berkobar.
“Siapa yang telah kau bunuh dengan pedang itu!?” pekik Relia. Berpikir bahwa pedang itu sebelumnya digunakan.
“Itu bukan urusanmu!”
Syak! Syak!
Sedikit demi sedikit Relia menghindar dari setiap serangannya. Lalu menangkis dan bertahan. Akan tetapi, Dewa Hitam belumlah serius melakukannya. Dewa Hitam kemudian pergi meninggalkan Relia.
“Mendekaplah di sana, Nona! Aku akan merawat bayi mungilmu itu! Hahaha!” ujar Dewa Hitam tertawa keras.
“Jangan pernah kau menyentuhnya!” sahut Relia mengejarnya.
Kecepatan mereka berlari sama sekali tidak bisa dibandingkan lantaran Dewa Hitam memiliki kekuatan fisik yang cukup unggul saat ini. Sementara Relia, kekuatan fisiknya sudah jauh berbeda semenjak memiliki seorang bayi.
Namun, Dewa Hitam itu seolah merasa terganggu. Ia lantas mulai menikmati harinya. Mengubah siang menjadi malam, kegelapan itu membuat kekuatan Dewa Hitam melonjak pesat.
Sraaaaaa!
Bagai ancaman hewan buas. Relia bagai mangsa pun bergidik. Tubuhnya jatuh ke tanah saat itu juga, dengan lemas dan sesuatu menyekik lehernya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu mengapa kau sangat ingin menyerangku, ah, tentu saja kau ingin menyelamatkan anakmu itu. Kalau begitu, aku akan membiarkanmu ataupun aku bersenang-senang!”
Pedang menjadi berbuah kali lipat melingkar dari sisi bawah kanan hingga ke sisi kiri bawah Dewa Hitam pedang berbayang kehitaman itu mengandung sebuah unsur listrik yang sama hitamnya, terlihat sekilas.
“Kau tahu, aku melakukan ini persis ketika aku melawan pria itu. Dia benar-benar keras kepala sama seperti dirimu,” tukas Dewa Hitam.
Dalam batin Relia, ia tak tahu harus apa lagi. Selain mengangkat tinggi belati salah satu senjata yang ia punya sekarang.
Trang! Trang!
Begitu pedang berbayang satu-persatu melesat ke arahnya, Relia pun hanya bermodalkan pertahanan fisik serta pada belatinya. Bertahan, hingga membuat sebilah belati itu terkikis oleh mata pedang hitam.
Sesekali Relia merasakan setruman begitu mata pedang menyentuh belati. Jelas saja karena terdapat unsur di setiap pedang Dewa Hitam.
Bats!
Relia memaksa dirinya untuk bergerak. Melompat dan menuju ke arah Dewa Hitam. Namun di saat yang sama, pedang berbayang hitam yang dapat dihitung dengan jari telah menusuk ke tubuh Relia.
Setiap mata pedang menusuknya, seiring waktu itu terus menembus kulit serta daging Relia. Mata Relia menyipit begitu darahnya menggenang di bawah kedua kaki.
Perisai yang tidak selalu ke belakang, sama dengan matanya. Dewa Hitam mengincar titik buta dengan tepat.
“Tidak akan kubiarkan kau mendekat,” kata Dewa Hitam meremehkan sekaligus menikmatinya menyiksa seorang wanita.
“Dasar ...tidak sepatutnya kau bangkit kembali. Aku cukup yakin bahwa suamiku pun memikirkan hal yang sama.”
Tang!
Belati terlepas dari genggamannya, tubuh Relia ambruk di jalanan dengan bersimbah darah di bagian punggung. Kesadarannya semakin menipis, keberadaannya pun menjadi bahan tertawaan untuk Sang Dewa Hitam. Yang tercela, yang bersiasat, dan yang seperti kejahatan manusia itu sendiri.
“Apa kau menyerah? Ya, pastinya. Manusia sepertimu, sekalipun menggunakan energi pasti tidak cukup kuat daripada pendekar pedang hitam. Suami itu.”
Dewa Hitam mengangkat tubuh Relia dan membuat Relia menatap wajahnya.
“Coba, katakan apa yang ingin kau katakan? Kau pasti sangat sedih karena akan mati bukan? Jadi setidaknya berilah surat wasiat maka aku akan menyampaikannya.”
“Bagaimana dengan suamiku? God Eye.” Relia bertanya dengan raut wajah yang sedih. Namun tak dapat mengeluarkan air mata.
__ADS_1
“Suamimu? Ah, sayang sekali. God Eye sudah mati.”
Satu kalimat yang berarti baginya. Berharap Yongchun hidup, namun tak sesuai realita. Membuat Relia semakin jatuh terpuruk ke dalam jurang yang besar dan gelap. Sesaat pandangannya menggelap, sedikit kesadaran yang susah payah ia pertahankan kini lenyap usai mendengar sepatah kata dari Dewa Hitam.
Grep!
Akan tetapi meski berada di ambang batas tubuhnya, Relia mencengkram pergelangan tangan Dewa Hitam yang nyaris memenggal lehernya.
“Oh, kau masih hidup rupanya.”
Tap!
Dewa Hitam merasa ini tidak menarik lagi. Ia lantas bangkit dari sana dan kemudian beranjak pergi. Malam berubah kembali menjadi siang, Dewa Hitam kembali bergerak cepat tuk menyusul Nia beserta bayi itu pergi.
“Khe! Khe! Khe! Wanita keras kepala sama seperti suaminya. Khe, khe, aku benar-benar tak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Terutama saat lahirnya keturunan mereka. Sungguh tak habis pikir!”
Kedalaman, jatuh ke jurang. Hal yang ia rasakan ketika berada dalam ambang batas kesadarannya. Relia merasa seperti tidak mampu bangkit kembali. Tubuhnya berat seperti ditekan oleh kedalaman jurang ataupun air laut.
“Relia.” Suatu ketika saat ia hendak menutup mata, suara berbisik memanggil namanya. Bergema dalam kepala hingga membuat Relia membuka mata.
Tes, tes!
Setitik darah berjatuhan dan kemudian menjadi deras seolah hujan datang. Punggung yang basah, bau anyir sesaat tercium di hidungnya. Siang itu, hujan kembali datang dan membasahi tubuh Relia.
Bagai mimpi terkabul menjadi nyata. Sosok Relia yang berada dalam ambang batas kesadarannya kini sepenuhnya sadar meski luka tusukan pedangnya masih terbuka lebar.
“Asyura ...dia masih hidup!”
Relia mengepalkan tangan sekuat tenaga. Percaya bahwa apa yang menjadi mimpinya ketika ia dibisiki oleh seseorang, yakni suaminya masihlah hidup hingga sekarang.
Kembali menenun rasa percaya berlandaskan cinta, pupus harapan pun tidak ada lagi. Pada akhirnya Relia kembali mempercayai bahwa Yongchun masih hidup.
“Jangan sampai terlepas dari pandanganku. Dan, Relia akan datang ke sana. Setidaknya ketika Dewa Hitam tak lagi mengincar!”
Drap! Drap!
Relia bergegas pergi tak peduli seberapa banyak tetes darah berjatuhan saat itu. Secepatnya ia harus sampai menuju Nia dan bayinya berada saat ini.
__ADS_1