Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
107. Ancaman Romusha


__ADS_3

Sepertinya Romusha sama sekali tidak berniat untuk berhenti mengikuti Nia. Sehingga Nia pun menghampiri Romusha dan bilang sekali lagi bahwa dia tidak membutuhkan bantuan atau apa pun itu.


“Pergi!”


“Jangan galak begitu. Aku hanya dari dulu penasaran. Keberadaan seseorang yang asing kemari itu sudah cukup jarang. Apalagi dengan kondisi pulau yang kerap kali didatangi perampok.”


“Maksudmu apa?”


“Selain kalau kamu berkaitan dengan Pemilik Tubuh Dewa?”


Drap! Drap!


Nia pada akhirnya pergi setelah mendengar omongan Romusha yang serasa tidak masuk akal. Akan tetapi Romusha masih mengikuti. Dari satu rumah ke rumah lainnya, selalu saja Romusha ada di sekitarnya.


Jengkel, Nia sekali lagi menghampirinya. Namun dengan tangan yang memegang sebuah belati perak.


Srat!


Menggores wajah Romusha tanpa ragu.


Lantas Nia berkata, “Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu.” Dengan nada mengancam, Nia berharap Romusha tak lagi datang membuntuti.


Sruaaa!!!


Namun, bukannya jera. Justru Romusha menyeringai tipis serta ia menunjukkan tangan kanan yang berubah menjadi lebih besar berwarna kehitaman dengan sesuatu yang berkobar di sekeliling lengannya.


“Bisa dibilang aku adalah salah satu Pemilik Tubuh Dewa. Apa kau percaya?”


Nia menyeret langkahnya mundur. Ia berwaspada dengan tidak melepas pandangan terhadapnya. Untuk sesaat ia mengepal kedua tangan dengan kuat karena saat ini Nia merasakan aura yang begitu mencekam dari tubuh Romusha.


“Perkenalkan, namaku Romusha. God Hand atau Tangan Dewa.”


“Apa maumu sebenarnya? Aku bukan bagian dari kalian juga.” Nia bertanya sembari menodongkan arah belati ke depan.


“Singkat saja, orang yang kamu cari itu juga sama sepertiku, 'kan? Nah, coba katakan siapa dia dan apa hubunganmu dengannya?” Romusha mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Nia dengan tersenyum tipis seolah menyindir.


Namun Nia sama sekali tidak menjawabnya, Nia membalikkan badan lalu pergi begitu saja. Sembari memastikan ke belakang, ia melihat Romusha yang diam mematung di sana.


“Dia tidak mengikutiku lagi? Baguslah. Akan repot jadinya kalau aku berhadapan dengan orang semacam kak Asyura.”


Nia menutup kepala dengan tudung jubahnya. Lantas pergi masuk ke dalam kerumunan orang. Ketika ia berjalan cukup jauh dari sana posisi sebelumnya.


Drap! Drap!


Terdengar suara langkah kaki yang cepat. Menyentuh tanah keras seperti pijakan pada kaki kuda. Suara yang cukup berat.


“Hah!?”

__ADS_1


Dalam kerumunan, Nia sempat menoleh ke belakang lagi dan mendapati pria yang sama. Yaitu Romusha tengah berlari mengejarnya.


“Kenapa lagi dia!?”


Bergegas Nia menjauh dari kerumunan. Menyembunyikan tubuh mungil di antara punggung orang, lalu sampai menuju ke celah antara dua bangunan pendek.


“Apa dia tahu sesuatu? Tunggu, kalau aku datang dan bertanya di mana kak Asyura ...ini cukup bahaya. Aku belum tahu bagaimana semua orang menyikapi tindakanku. Lalu, bagaimana jika ini berbahaya?”


Nia menggigit jari jemari sembari menggumamkan sesuatu karena ketakutannya. Beberapa kali ia menoleh ke belakang lagi lalu pergi ke arah sebaliknya, dan menuju ke rumah Amiya.


***


Brak!


Nia datang membanting pintu. Bergegas masuk dan mencari keberadaan Relia.


“Kak Relia!”


“Ada apa Nia? Sepertinya Nia sangat gelisah?” pikir Relia. Muncul dari balik ruangan.


“Kakak! Pulau ini berbahaya! Akan lebih baik jika kita pulang saja. Ini demi keselamatan kita berdua. Ya?” pinta Nia berwajah gelisah. Peluhnya bercucuran deras saking ia merasa takut.


Kemudian Relia memeluk Nia, beberapa kali ia menepuk-nepuk punggungnya sampai Nia merasa nyaman dan tenang.


“Bicaralah yang jelas, Nia. Jangan terburu-buru,” ucap Relia.


“Kak, ada orang yang sama seperti kak Asyura. Dia memiliki kekuatan hitam dan terasa seperti di hadapan Iblis. Makanya aku sarankan kita lebih baik cepat pergi.”


Relia masih ingat dengan jelas, seberapa mengerikannya Yongchun saat itu. Saat-saat dirinya telah lelah dipermainkan, marah serta sulit untuk menahan diri. Relia tahu betul sifat Yongchun semenjak era perang saudara di timur tengah dulu.


“Ya, kak? Mari kita pergi dari sini. Firasatku buruk,” pinta Nia. Wajahnya memelas seraya menarik ujung pakaian Relia dengan kuat.


“Tenanglah Nia. Suami kita berada di pulau ini, bukan?”


“Kakak! Kenapa bisa tahu? Aku bahkan tidak menjelaskan hal itu,” ucap Nia panik.


“Tentu Relia tahu. Karena dari omongan Nia barusan, yang mengatakan ada seseorang yang sama dengannya maka itu berarti ini adalah tempat berkumpulnya Para Pemilik Tubuh Dewa.”


Relia mengelus ujung kepala Nia dengan lembut, berusaha untuk menenangkan Nia yang sempat cemas dan panik lagi.


“Suami kita juga bagian dari sana. Terakhir kali dia bersikap aneh, jadi Relia tahu betul kalau dia ada di tempat ini.”


“Kalau begitu ...”


“Jangan ke mana-mana,” kata Relia seraya berjalan ke sudut ruangan dan mengambil sebuah pedang.


Pedang itu bukan miliknya melainkan milik keluarga Amiya. Terakhir kali pedangnya patah karena memang sudah usang.

__ADS_1


“Kakak mau ke mana?” tanya Nia.


“Relia akan pergi menemui salah seorang dari mereka,” jawab Relia.


“Apa? Jangan kak! Di luar ada seseorang yang mengejarku. Aku bersusah payah untuk kembali ke sini, jadi kakak jangan—”


“Tidak, Relia tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi.”


Ceklak!


Relia membuka pintu untuk keluar namun apa yang ia lihat sekarang sungguh membuatnya terkejut. Tak menyangka akan kedatangan tamu yakni seorang pria bertubuh kekar, besar dan terlihat sangat bercahaya.


Pria dengan tangan kanan bak monster. Senyum di wajah seolah-olah hendak menerkam dirinya.


“Siapa?”


“Kakak! Menghindar!”


Srak!


Beruntung Nia memperingatinya. Kalau tidak, cakaran dari tangan kanan pria itu akan mengoyak kepalanya. Relia menundukkan tubuh, dan membuat dinding yang menjadi rusak.


Syat!


Relia bergerak cepat. Menarik lalu mengayunkan pedang dengan mendatar. Menyayat tubuh kekar itu hingga darah mengalir dengan derasnya.


“Hm, ternyata kalian berdua itu 11 12 rupanya.”


Syat! Syat!


Beberapa serangan dari Relia dihindari olehnya. Gerakan cepat itu mampu ia halau seolah hanya sedang melawan angin lalu.


“Tunggu, ada apa ini?” Amiya datang dari pintu belakang namun tiba-tiba ada suara keributan di depan rumahnya, jelas ia sangat khawatir.


“Tidak apa-apa. Lebih baik kau masuk ke dalam. Ada orang berbahaya di sana.”


Tap, tap!


Melangkah pergi tuk membantu Relia menghadapi Romusha sang Tangan Dewa. Namun Relia sempat menoleh ke belakang lalu menatap sinis pada Nia, isyarat untuknya tidak mendekat terlebih dahulu.


“Baiklah, kak. Tapi dia itu orang yang sama seperti dia.” Nia hanya bisa terdiam sembari memperhatikan alur pertarungan mereka.


Jrash!!


Satu serangan menembus lengan yang nampak seperti monster. Untuk sesaat mereka terdiam tanpa kata, lalu kemudian pedang yang digunakan Relia menjadi hancur menjadi abu.


“Ternyata kalian adalah suami Mata Dewa.”

__ADS_1


Melihat reaksi Relia yang datar. Lantas menarik genggaman tangan. Romusha kembali mengatakan sesuatu hal.


“Ah, jangan kaget. Aku tahu bahwa kalian adalah suami Mata Dewa karena beberapa orang yang sebelumnya pernah ditanyai oleh nona imut di sana. Lalu, apa kalian tahu kalau berita tentang kami yang memiliki keluarga itu bukan hal yang baik?”


__ADS_2