Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
141. Mayat yang Tergeletak! Apakah Ulah Pria Buta?


__ADS_3

Tidak banyak cara untuk menghancurkan Dewa Hitam. Apa pun caranya itu pasti memiliki suatu resiko besar sekalipun mungkin akan menghancurkan pulau Nihonkoku ini.


Pagi hari, usai yang terjadi pada Yongchun dan Bon. Yongchun pernah mengatakan sekali pada Sigar bahwa kesadaran Dewa Hitam telah terbagi menjadi dua.


Lalu sekarang, terdapat kejadian yang aneh. Di pagi hari yang cerah ini, Kuraki mendapati sesosok mayat pria yang berlumur darah dengan mata terbuka lebar. Jari jemari yang kaku itu terlihat seakan ia melawan seseorang menjelang kematiannya.


Terdapat pula sebuah jejak pedang yang tergores di setiap dinding sekitar mayat pria itu. Kuraki yang hendak berbelanja pun seketika mengurungkan niatnya dan kembali ke penginapan.


“Tuan-tuan!” Kuraki berhasil memanggil seseorang yang berada di dalam penginapan.


Munculah seorang wanita dengan pakaian yukata panjang dengan sanggulnya. Arashiyama menatap datar pada Kuraki tanpa bicara apa-apa.


“Nona God Ear! Ada mayat! Itu adalah Tuan God Soul!”


“Aku tahu.” Arashiyama bersikap biasa saja seolah hal ini sudah biasa. Namun begitulah wajahnya sehari-hari.


“Nona sudah tahu?”


“Tentu saja. Kami sedang membicarakan itu di tempat God Hand sekarang. Apa Kuraki ingin mengatakan sesuatu tentang itu?”


“Ya! Biarkan aku bicara pada mereka!” Kuraki menggangguk-anggukan kepala, lalu bergegas menuju ke ruangan Romusha.


Draak!


“Maaf semua! Ada hal yang saya ingin bicarakan pada kalian semua. Ini tentang—”


“Kuraki, tenang saja. Jangan terburu-buru dan katakan saja pelan-pelan,” sahut Yongchun membuat Kuraki sedikit lebih tenang.


Kuraki menceritakan apa yang barusan ia lihat. Sementara Yongchun, Sigar dan Romusha saling melirik dengan serius. Mereka bertiga pun tahu hal ini bahkan sebelum Kuraki terbangun dari tidur lelapnya.


“Sungguh tak masuk akal.”


Biasanya jika salah satu dari pemilik tubuh Dewa mati maka keberadaan sosok darinya akan kembali muncul dalam sehari. Namun mayat God Soul sudah lebih dari 3 hari, dan itu baru ditemukan sekarang.


Hari berikutnya pun sama. Kejadian yang sama kembali terulang. Mayat God Soul telah dimakamkan lalu sekarang muncul lagi mayat baru di tempat yang sama. Jejak pedang pun semakin bertambah banyak.

__ADS_1


“Kali ini pria berotak otot itu ya.”


“Kenapa menjadi seperti ini? Oh ya bagaimana dengan Bon ...maksudku God Mouth?”


“Dia masih berbaring pulas karena luka yang dia dapatkan dari Romusha.”


“Katakan God Eye, apa yang sebenarnya terjadi?” Sigar bertanya pada Yongchun.


Sudah dua hari dan dua mayat tergeletak di gang sempit. Jejak pedang yang kian bertambah serta genangan atau lumuran darah tercecer ke mana-mana di sekitar gang itu. Sehabis God Soul, God Hand Romusha menjadi target berikutnya.


Lalu, Sigar secara tak langsung pun menuduh Yongchun sebagai pelakunya. Hal itu terjadi karena tempo hari Sigar sudah mencurigainya semenjak kehilangan kesadaran akan Dewa Hitam.


“Kenapa kau bertanya begitu?”


“Sudahlah, jawab saja. Kau pikir kau bisa menipuku?”


“Sudah aku katakan, kenapa kau bertanya begitu? Aku tidak mengerti sama sekali dengan maksudmu,” sahut Yongchun dengan culas. Ia meninggikan suaranya lantaran tidak suka dengan sikap Sigar yang sembarangan menuduh.


“Saat itu aku melihatmu, melihatmu yang dikendalikan oleh Dewa Hitam. Kau nyaris membuat God Ear ke-2 mati,” ujar Sigar. Ia menggenggam sarung pedang dan berniat untuk menarik sekaligus menyerang Yongchun.


“Aku mungkin dikendalikan olehnya tapi aku sama sekali tidak berniat untuk membunuhnya, kau tahu. Dan sekarang aku sudah baik-baik saja,” sahut Yongchun.


“Hah ...aku pikir percuma mencurigaimu. Karena kesadaran Dewa Hitam dapat terbagi. Hal itu terbukti dengan menyerang keduanya sama seperti itu.” Akhirnya Sigar menyerah. Ia menghela napas dengan lelah lalu berbaring di lantai tatami sambil memandangi halaman belakang.


Halaman belakang Sigar dipenuhi rerumputan hijau dengan beberapa batuan yang berdiri di atas rumput-rumput. Angin berdesir membuat rerumputan melambai-lambai dengan pelan seakan tengah menyapa mereka.


Aura yang sempat mengintimidasi mendadak berubah menjadi tenang. Sesaat Yongchun melirik Sigar yang bersantai, lalu berdiri dan berniat akan pergi.


“Apa kau akan pergi ke tempat itu lagi?”


“Ya. Sekaligus melihat putraku,” jawab Yongchun.


“Berhati-hatilah, karena kita tidak akan tahu mau sampai kapan dewa itu akan menunjukkan batang hidungnya. Dan jangan sampai anakmu pun ikut kena getah Ayahnya sendiri,” sindir Sigar dengan keras. Rupanya Sigar sangat membenci Yongchun semenjak hari itu.


***

__ADS_1


Siang dengan terik dan matahari yang meninggi di atas kepala. Yongchun mengamati jejak mayat baru-baru ini. Ia membayangi mayat Romusha yang sebelumnya ada di sana dengan posisi tubuh tengkurap dengan kepala menghadap ke atas.


“Lehernya terpelintir. Tak hanya itu bahkan tangan kanannya terputus saat menggunakan kekuatan Dewa Hitam.”


Srek!


Yongchun menggosokkan jarinya ke tanah bekas darah, ia kemudian menggosokkannya dengan jari, debu hitam pun terjatuh.


“Hm, api. Ternyata yang dikatakan Sigar ada benarnya.” Yongchun menyeringai tipis mengingat tuduhan Sigar kepadanya.


Entah akan terjadi hal yang sama lagi atau tidak. Tapi yang pasti raut wajah Yongchun berubah.


“Tapi, melawan Dewa Hitam adalah kesalahan. Salah-salah negri ini akan mati dalam waktu singkat. Maka dari itu aku memilih untuk berjudi, antara aku atau putraku sendiri.”


Sosok Yongchun sekarang sudah sangat berubah. Hal itu jelas terlihat oleh seorang bocah yang selalu memegang pedang miliknya. Ia tak sengaja mengintip dari balik dinding luar pada gang tersebut.


“Dia tidak mengajariku apa-apa. Lalu apa yang terjadi padanya sekarang? Kenapa dia membuatku tidak nyaman,” gumam bocah itu.


“Apa yang kau lakukan di sini, bocah?”


Tiba-tiba saja Yongchun sudah berada di belakang si bocah, padahal sebelumnya si bocah masih melihatnya di depan. Dan hal itu membuat bocah lelaki bergidik merinding. Selama beberapa waktu ia tak bisa bergerak bahkan untuk menggerakkan seujung jari pun sulit.


“Bocah?”


Bocah itu akhirnya menoleh ke arah Yongchun dengan perasaan takut. Kali ini suaranya tidak mau keluar.


“Sejak kapan ada di belakangku?” Bocah itu pun bertanya.


“Kalau kau bertanya begitu, aku jadi bingung sendiri. Karena aku sudah berada di belakangmu. Ngomong-ngomong apa kau tidak ada pekerjaan?”


Bocah itu terdiam, ia menundukkan kepala dalam-dalam. Seraya memikirkan sesuatu dengan keras. Setelah beberapa saat ia pun kembali mengangkat kepalanya dan menatap wajah pria yang terdapat banyak luka goresan.


“Ada apa, paman?”


“Aku hanya ingin kau membantuku sesuatu. Bolehkah?”

__ADS_1


Bocah itu menggangguk pelan namun dengan perasaan khawatir. Tampak ia meragu, tapi sepertinya Yongchun tidak peduli asalkan mendapatkan bantuan darinya.


“Kalau begitu dengarkan, bantu aku dengan menggiring pria dengan poni panjang datang kemari.” Yongchun mengatakannya tanpa basa-basi, sontak si bocah lelaki itu terpaku pada sunggingan senyumnya.


__ADS_2