Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
104. Larangan


__ADS_3

Sosok dewa hitam yang masih terbelenggu dalam goa. Berbagai ukiran yang menggambarkan dirinya di antara para manusia, serta kekuatan hitam yang dirasa sempurna.


Hari berlalu begitu cepat. Mereka keluar setelah berminggu-minggu di sana. Setelah bertemu dengan dewa hitam yang belum berwujud sepenuhnya, dan juga merekonstruksi tubuh agar sang dewa tersebut bangkit.


Kala itu, semua Para Pemilik Tubuh Dewa menginginkan hal sama. Namun tidak untuk Yongchun, ia sama sekali tak tertarik dengan hal tersebut. Melainkan, ia pernah sekali berpikir tentang bagaimana cara mengendalikan sosok dewa itu sendiri.


Memang sangat tidak masuk akal!


“Di mana God Ear? Pria yang bahasanya aneh itu.”


“Aku tidak tahu. Cari saja sendiri. Paling dia masih di dalam.”


God Ear tak kunjung menyusul mereka sehingga mereka pun akan pergi lebih dulu.


***


Di sisi lain, God Ear memang masih berada di dalam goa. Tampaknya ia menemukan sesuatu yang bahkan tidak dilihat oleh Mata Yongchun. God Ear merabanya sedikit demi sedikit dan mendapatkan garis-garis lurus, melengkung dan lainnya.


“Ini ...hal yang perlu aku baca. Kira-kira kenapa Dewa Hitam dicabik sampai seperti itu?”


Alih-alih ia berharap mendapatkan sesuatu hal lebih tentang dewa hitam namun ternyata itu berbeda dari bayangannya. Lantas, gambaran itu mengarah ke seorang bayi.


“Maksudnya apa ini?”


Karena gambarnya tidak begitu terlihat, sehingga ia pun mengambil api dari batang kayu yang menancap di dinding goa. Lalu memperlihatkan sisi dinding bergambar itu dengan jelas.


Gambaran antara dewa, bayi dan sepasang kekasih. Di tengah antara tiga gambar tersebut, terdapat sebuah gambar yang mirip dengan dewa namun seperti jauh lebih kuat dari dewa sebelumnya.


“Ha, jadi begitu. Jika salah satu di antara kita telah memiliki keturunan maka keturunan itu lah yang menggantikan posisi kedewaan? Sungguh g*la! Apa pun itu tidak bisa dibiarkan, harus dibunuh!”


Udara kian menipis, God Ear perlahan merasa sesak napas. Ia pun bergegas untuk pergi.


***


“Kau?”


Ternyata God Ear telah ditunggu oleh Yongchun. Hari pun sudah berganti malam berbintang. Angin dingin mulai berembus.


“Aku menunggumu karena kupikir kau mati di dalam,” tukas Yongchun kepadanya seraya tersenyum tipis.


“Kenapa kau harus menunggu di sini. Hari sudah malam, memangnya kau tidak istirahat?”


“Sudah kulakukan sejak tadi. Lagi pula butuh waktu lama hanya untuk naik tangga 'kan? Mungkin sekitar 3 jam?” celetuk Yongchun.

__ADS_1


“Oh, ya. Aku tidak memperkirakan jamnya sih.”


Tentu saja God Ear bahkan masih terpikirkan dengan hal yang telah ia lihat sebelumnya di dalam goa. Yang di mana jika salah satu dari Pemilik Tubuh Dewa memiliki keturunan maka keturunannya itulah yang akan menggantikan posisi kedewaan.


Dan bagi God Ear, jika posisi itu diambil alih oleh manusia maka kehancuran lah yang akan datang.


“Mata Dewa, apa urusanmu menunggu diriku di sini?” tanya God Ear.


“Tidak ada hal yang penting. Hanya saja, kau terlalu lama di dalam. Apa yang kau temukan?” balas Yongchun yang mengetahui sesuatu.


“Ah, aku mengerti. Tadinya aku ingin mengatakan hal ini pada kalian saat kita semua berkumpul. Termasuk salah seorang itu. Dan yah, yang aku temukan itu sosok keturunan yang tidak diperbolehkan.”


“Keturunan?”


“Ya. Kalau salah satu dari kita memiliki keturunan atau anak, maka anak itu akan membawakan kehancuran. Aku cukup yakin tentang hal itu.”


Yakin? Tidak, God Ear benar-benar tidak mengatakannya dengan baik. Ia menyembunyikan fakta perihal keturunan itu akan jauh lebih kuat sehingga menggantikan posisi kedewaan. Inti dari gambar tersebut, era yang berbeda lagi akan muncul.


God Ear sengaja mengatakan bahwa itu kehancuran karena menurutnya akan begitu.


***


Di bagian timur lain. Dinasti baru, Era Kekaisaran Wang. Kaisar Wang Xian.


Kini, Relia dan Nia masih berada di sana. Begitu juga dengan Bing He yang menjaga mereka.


Relia saat ini sedang mengobati Kaisar Wang dan memperhatikan kondisi terhadap orang-orang yang terkena penyakit setelah diobati.


“Si Yongchun itu sebenarnya siapa dia?”


“Kau tidak perlu tahu.” Relia menjawabnya dengan ketus.


“Bicara yang sopan terhadapku,” ucap Kaisar Wang seraya menatap sinis pada Relia.


“Kenapa aku harus menghormati orang sepertimu. Kau tak layak untuk itu. Selain Asyura, di mataku tidak ada yang berhak mendapatkan penghormatan selain dirinya.”


Set!


Relia mengikat perban pada tubuh Wang Xian lalu beranjak dari sana.


“Tunggu!”


“Ada apa lagi? Bagianmu sudah selesai. Semua yang kau janjikan sudah ada berada di genggamanku. Lukamu pun sudah sembuh, hanya tersisa bekas saja.”

__ADS_1


“Apa kau tahu apa yang terjadi pada Yongchun, maksudku Asyura?”


“Maksudmu apa?” tanya Relia tak mengerti lantas menoleh ke belakang.


“Asyura memiliki Mata Dewa. Dan mungkin saja dia sedang bertemu dengan sosok yang mirip dengannya di pulau lain. Apa kau tak khawatir?”


“Sosok yang mirip dengannya? Aku tak begitu mengerti apa maksudmu. Tapi Mata Dewa yang kau sebut itu pasti ada hubungannya dengan kedua matanya itu benar?”


“Ya. Mata Dewa bukan sembarangan. Dia mungkin akan mati saat terjadi gerhana bulan. Sosok dewa hitam akan muncul, dan yang mirip dengannya lah yang telah membangkitkan dia.”


“Aku tidak begitu mengerti. Memahaminya saja sudah membuatku pusing. Jangan berkata hal-hal aneh lagi,” ketus Relia seraya melangkah pergi.


“Aku peringatkan dirimu Pendekar Wanita! Suamimu akan mati karena hal itu. Dan jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan, maka jangan sungkan untuk meminta bantuan dariku,” kata Kaisar Wang seraya bangkit dari ranjangnya.


“Memang seharusnya kau melakukan hal itu!”


Klap!


Relia menutup pintu kamar. Dan sudah ada banyak pelayan yang berhamburan mendatangi Relia. Tuk menanyakan kondisi Wang Xian. Begitu juga dengan tabib yang membantu.


Di samping itu, seorang wanita bertubuh sedikit lebih pendek darinya datang sembari melambaikan tangannya.


“Kak Relia!”


“Nia.”


Segera Nia, wanita itu menarik lengan Relia dari kerumunan mereka.


“Relia belum selesai menjelaskannya pada mereka,” ucap Relia.


“Sudah tidak apa-apa! Lagipula, kak Relia harusnya istirahat saja!” pekik Nia yang mengamuk.


Lantaran Nia tidak tega membiarkan Relia terus bergerak sepanjang waktu. Terutama perutnya yang semakin besar, menandakan adanya kandungan di dalam.


“Kakak harusnya duduk saja! Aku tadi 'kan sudah bilang, soal Kaisar itu, biarkan aku saja yang menanganinya!” tegas Nia sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Hm, Relia khawatir kalau Nia melakukan kesalahan nanti.”


“Kakak sangat tidak percaya denganku. Percayalah! Dan mulai besok, aku yang akan menggantikan pekerjaanku! Ha, dasar! Punya suami tidak begitu peka terhadap istri-istrinya!” gerutu Nia lantas mengerucutkan bibirnya.


“Tidak ada hari esok, Nia. Besok kita akan pergi ke tempat pulau di mana suami kita berada,” ucap Relia seraya mengusap lembut perutnya.


“Eh!? Tapi itu tidak mungkin kalau dalam kondisi kakak seperti ini!”

__ADS_1


“Sebentar lagi, dia akan lahir.” Relia tersenyum.


__ADS_2