Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
059. Neraka Dingin


__ADS_3

Menjatuhkan diri, membiarkan tubuh itu berada di ambang udara. Langit panas begitu membara rasanya. Tatkala ada sesosok cahaya yang sekecil jarinya di sana. Tak dapat ia raih, namun bisa dirasakan. Melalui hangatnya dan hamburan kelopak bunga yang jatuh. Daun muda yang tidak sengaja terpetik pun ikut jatuh.


Sekilas, potongan kehidupannya terhadap secercah masa depan yang cerah nampak. Seperti klise dalam cerita, tutur kata yang dibisikkan lewat telinga mulai terdengar lebih keras.


“Pria bodoh! Jangan kau sia-siakan nyawa yang diberikan dewa-mu!”


Oh, ternyata hanya suara Niao. Ia pikir hanya ilusi semata, karena tak pernah berada di tempat yang luar biasa panas seperti ini.


Yongchun tak bergerak seusai Niao membawanya lagi ke punggungnya. Berharap Yongchun baik-baik saja, tapi setiap kali ia memanggil pun tak ada respon seperti biasa.


“Ah ...” Tiba-tiba ia mulai mengeluarkan suara. Seolah baru saja tersadar dari tidur nyenyaknya.


Melihat ia masih menggenggam kedua pedang, ia pun segera menyarungkannya kembali.


“Barusan kau bilang apa, Niao?”


“Bilang apa?! Aku hanya memanggilmu beberapa kali! Benar-benar ...bikin kesal saja!”


Dari cara Niao berteriak sekeras ini, Yongchun yang juga melihat isi hatinya yang gelisah, pertanda bahwa Niao sungguh-sungguh mengkhawatirkan Yongchun sejak tadi.


“Maafkan aku, Niao. Sepertinya karena terlalu lama di sini, aku jadi melihat ilusi tentangku dulu. Yah, tapi itu hanya sekilas,” ujar Yongchun sambil memegang kepala yang tiba-tiba saja sakit.


“Ilusi? Itu belum waktunya kita ke sana. Pokoknya, kita harus kejar waktu sebelum mahluk neraka yang lain tahu keberadaanmu,” ujar Niao mempercepat langkah terbangnya.


“Tenang saja, Niao. Aku sudah pandai menghapus hawa keberadaanku, serta mengontrol aura yang keluar dan kekuatanku sendiri,” ucap Yongchun, dengan semangat ia mengepalkan kedua tangan ke depan dada. Lalu tersenyum puas.


“Terserah apa yang kau katakan. Aku akan membuka gerbang di depan sana!”


Tak seperti apa yang dikatakan oleh Niao, mereka melewati gerbang transparan dan tiba di neraka yang dingin.


Seluruh tempat ini dipenuhi oleh es-es. Hawa dingin menusuk pun membuatnya menggigil kedinginan. Setelah berwarna merah kehitaman, sekarang sejauh mata memandang hanya terdapat warna biru keputihan yang terang bersinar.


Kilau bagai berlian, pernak-pernik yang baru saja terpasang. Sesaat Yongchun berpikir bahwa tempat ini sangat indah.

__ADS_1


Tetapi ia kemudian mengubah wajahnya dengan cemberut. Tak disangka ternyata ia dapat keluar dari neraka api tak berdasar namun tidak kembali menuju dunia asalnya melainkan hanya berpindah ke neraka yang lain.


“Ayolah, nak. Jangan ngambek begitu. Di sini, alam neraka itu banyak. Jadi bersabarlah karena aku juga masih ada di sini untuk membantumu.”


Niao merasa gelisah lagi. Ditambah melihat Yongchun merajuk kesal sembari melipat kedua tangannya ke depan, dan bahkan ia memalingkan wajah dari Niao.


“Ah, ya, ampun. Baru kali ini aku bertemu manusia yang benar-benar sensitif. Yang benar saja, kau dipilih untuk diberikan tubuh dewa? Aku masih tak percaya,” keluh Niao memijat kening.


Perawakan Niao mungkin terlihat seperti pemuda labil namun usia Niao sebagai siluman sudah ribuan tahun, jadi wajar saja ia menjadikan segala hal menjadi beban pikirannya. Orang tua.


“Sudahlah. Tak ada waktu untuk memikirkan hal ini. Hei, Niao. Cepat tunjukkan jalannya!” tegas Yongchun.


Dasar manusia serampangan. Yongchun benar-benar memiliki sifat dan sikap yang tidak patut dicontoh. Bisa-bisanya kebiasaan memerintah orang tua itu tak berubah sampai sekarang.


“Hah, dasar.”


“Niao, aku sebenarnya masih terpikirkan sesuatu. Alam ini sebenarnya ada berapa lapisan sampai aku kembali ke dunia asalku?” tanya Yongchun.


“Aku lupa. Mungkin sekitar 7 atau 10 lapisan. Tapi mungkin jalanmu akan dipermudah. Toh, tidak akan ada yang tahu masa depan seseorang,” tutur Niao.


“Itu karena kekuatanku, apa lagi? Meski namanya neraka tak berdasar, khusus untukku, aku bisa melewati beberapa neraka. Karena aku ini mahluk neraka pengembara,” jawab Niao bernada sombong.


“Aku lupa mengatakan satu hal, berhati-hatilah terhadap hawa dingin ini,” imbuh Niao.


Sudah telat Niao memperingatkannya. Tubuh Yongchun merasakan dingin yang luar biasa, hingga kulitnya terasa mengelupas jika sekali bergerak saja. Kedua kakinya pun seolah membeku, dan saat ia kembali melangkah, tidak sengaja terpeleset sebab kakinya sudah tak bisa bergerak.


“Wah! Niao! Tolong aku!”


Karena jalannya sangat curam dan sangat licin. Yongchun pun tergelincir ke bawah, seolah ia tengah seluncuran dengan bersenang-senang.


Niao pun menarik kerah pakaian Yongchun untuk menghentikannya. Tetapi posisi itu tak bertahan lama, karena Niao pun seketika ikut tergelincir. Hingga saat, mereka nyaris tercebur ke suatu sungai dengan beberapa bongkahan es di dalamnya.


“Nak, aku akan melemparmu!”

__ADS_1


Niao pun melempar tubuh Yongchun agar menjauh dari sungai tersebut. Sehingga hanya Niao saja yang tercebur di sana.


Tak menunggu waktu lama, setelah Yongchun selamat. Tubuh Niao mengambang dengan beku.


“Kenapa airnya tidak beku sedangkan Niao beku?” Menyimpan pertanyaan ini dalam benaknya, Yongchun menggunakan pedang panjang untuk menariknya ke daratan.


“Hei, Niao! Kau tak apa?”


Sepertinya Niao mendengar apa yang diucapkan oleh Yongchun namun tak bisa membalas apalagi menggerakan tubuhnya sedikit pun.


“Kalau begini caranya, aku terpaksa menggunakan tenaga dalam.”


Yongchun mengeluarkan kekuatan hitam mengalir ke tangan kanannya dan saat ia menggenggam pedang yang kini menancap ke batu es tersebut, kekuatannya pun beralih masuk dan membuat batu es itu mencair.


“Aku tak tahu apakah ini berguna. Tapi yang seringkali kulakukan hanyalah seperti ini, Niao. Jadi maaf kalau kau terluka karena ini,” lirih Yongchun.


Yongchun merasa bersalah, karena dirinya yang ceroboh, Niao menjadi begini. Raut wajahnya kusut, suram dan perasaan gelisah pun ada karena keadaan Niao.


Tak cukup hanya melelehkan, Yongchun menarik pedang itu kembali. Kemudian mengayunkannya dengan niat menghancurkan batuan es yang membuat Niao membeku.


Crak!


Ayunan pedang Yongchun terlalu dangkal, terlalu sempit dan padat karena batuan es iti sungguh sulit untuk dilelehkan di neraka yang dingin.


Belum lagi ia harus menanggung rasa sakit dari kulitnya yang terus mengelupas.


“Ck, dasar. Alam neraka benar-benar siksaan yang pantas buatku!”


Perlahan batuan es itu meleleh karenanya. Kekuatan hitam itu pun lenyap bersamaan dengan hawa keberadaan Yongchun saat ini.


Napas Yongchun berat. Ia terduduk seraya menunggu Niao kembali pulih dan sadarkan diri.


“Aku tak mengira kau akan menyelamatkanku, pendekar.” Niao berkata lalu berkedip sekali.

__ADS_1


“Kalau kau tak berguna, juga pasti akan kutinggalkan sejak tadi!” ketus Yongchun.


__ADS_2