Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
100. God Soul Bagian II


__ADS_3

Kehadiran God Soul menyebabkan cuaca berubah lebih cepat. Memang dalam kondisi musim hujan namun akan tetapi hujan yang sudah berhenti justru kembali muncul begitu dipanggil oleh pria asing itu.


Yongchun dan God Ear yang mengikuti justru menerima dampak yang lebih besar. Tak kuasa mereka menahan serangan dari God Soul yang identik dengan air. Tak hanya itu, God Soul—seperti julukan di antara Pemilik Tubuh Dewa, pria tersebut memunculkan semacam jiwa yang bersemayam dalam tubuhnya.


Seolah-olah God Soul lah yang saat itu berkuasa atas mereka. Sehingga membuat keduanya bergidik merinding.


Rintik hujan yang turun deras perlahan berhenti seiring hilangnya ia dalam tabir asap. Baik Yongchun dan God Ear, mereka hanya diam tak berkutik dalam waktu yang lama.


***


Tukang Besi, Penempa bernama Vulcan.


Yongchun menemukan tempat ini ketika ia kembali pulang ke tempat Kuraki. Tempat di sinilah, ia bisa membuat pedangnya kembali utuh.


“Tuan, sepertinya sulit membuat pedang agar tidak patah saat digunakan bersamaan dengan kekuatan Anda.”


Vulcan memiliki kesulitan bahkan sebelum ia mencoba menempanya kembali. Dilihat dari patahan pedang saja, Vulcan dapat menyimpulkan bahwa itu karena kekuatan Yongchun.


“Oh, kau tahu siapa aku rupanya.”


“Tentu saja Tuan. Siapa yang tidak tahu Tuan God Eye datang kemari. Buktinya saja tidak ada orang yang berniat mengancam Tuan, bukan?”


“Ya, tapi sepertinya ada beberapa orang yang tidak menyadari. Orang biasa khususnya,” ucap Yongchun.


“Haha! Tuan ada benarnya juga!”


“Jadi, untuk itu bagaimana? Apakah aku harus mencari bahan yang kokoh untuk dua pedangku? Apalagi yang satu ini, satu-satunya pedang yang harus ku jaga seumur hidup.”


Tang! Tang!


Yongchun mengetuk-ngetuk gagang pedang yang berwarna kehijauan tua. Milik seorang sahabat terdekat, yakni Gupta. Tentu ia harus menjaganya seumur hidup namun ia sedikit kecewa karena tidak berhasil menjaganya dengan baik.


“Nampaknya Tuan Mata Dewa amat menyayangi dua senjatanya. Aku jadi terkesan. Tapi, mengingat kekuatan Anda adalah sebagian dari Kuro Yami, sepertinya tidak ada bahan yang cocok.”


Vulcan menggelengkan kepala.


Kuro Kami, Dewa Hitam.


“Itu artinya, pedangku tidak bisa kembali?”

__ADS_1


Mendengar Vulcan mengatakan bahwa tidak ada bahan yang cocok, jelas Yongchun sangat kecewa. Namun Vulcan kembali mengatakan sesuatu yang membuat semangatnya kembali.


“Tuan, janganlah kecewa! Tidak ada bahan yang cocok untuk pedang Tuan karena kekuatan Tuan yang amat besar. Tapi, dengan kekuatan itu sendiri sudah dijamin bisa.”


“Hei, Vulcan! Apa kabar?” sapa seseorang di belakang.


Yang ternyata adalah God Ear. Setiap Yongchun pergi, anehnya Telinga Dewa kerap muncul di sisinya. Entah kebetulan atau memang disengaja karena God Ear menggunakan pendengaran milik Dewa itu sendiri.


“Ah, Tuan God Ear! Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Tuan?” balas sapa Vulcan kepadanya.


“Seperti biasa kau sangat bersemangat. Aku pun sangat sehat, baik-baik saja tanpa ada masalah kecuali ...”


Tanpa melanjutkan omongannya, God Ear melirik Yongchun dengan senyum tersungging.


“Kalau kau ingin mengatakan sesuatu. Maka katakanlah sekarang juga,” ketus Yongchun merasa sangat tidak nyaman dengan lirikannya itu.


God Ear berdeham, “Hm, aku hanya ingin kemari karena sepertinya kau sangat kesulitan. Terutama untuk membuat pedangmu kembali utuh itu memang sulit.”


“Saya sudah memberitahukannya pada Tuan God Eye, Tuan!” sahut Vulcan dengan suara meninggi.


“Oh, kalau begitu. Aku ingin lihat, akan jadi apa nanti. Ayo cepat,” kata God Ear yang menanti pedang Yongchun.


Yang perlu Yongchun lakukan sekarang hanyalah menggunakan kekuatan tanpa pedang. Kobaran api hitam menyelimuti tangan kanannya tanpa membakar kain pakaian yang ia kenakan.


Seperti yang diminta, Yongchun mengalirkan kekuatan itu pada besi. Sesaat tidak terjadi apa-apa namun ketika Vulcan menaruhnya di dekat perapian lalu menempa dengan hati-hati, barulah sesuatu terbentuk.


Bilah pedang yang dibuat secara hati-hati. Memperhatikan setiap celah yang hampir terlewat, tempaan yang kuat namun teratur. Vulcan sangat serius ketika melakukan pekerjaannya.


Pedang yang ditempa menjadi hitam pekat dengan satu goresan yang berwarna jingga. Tidak terlalu terlihat, namun itu memiliki kesan bahwa pedang yang patah masih dapat digunakan.


“Layaknya kerak bumi. Ini terjadi begitu saja, maaf jika Tuan tidak menyukainya.”


Vulcan menyodorkan kedua pedang Yongchun yang sudah jadi.


“Kesannya seperti aku jatuh ke jurang. Ha, tapi tak apa. Aku suka, terima kasih Vulcan.”


Yongchun menunjukkan reaksi puas. Kedua pedang yang disamaratakan itu kini menjadi miliknya.


Sebelum pergi, Yongchun kembali menyodorkan dua gagang pedang.

__ADS_1


“Vulcan, ini dua pedang yang kupinjam dari seseorang. Bisakah kau menyelesaikannya?” tanya Yongchun.


“Tenang Tuan God Eye. Ini pedang yang biasa. Saya punya ini lebih dari 1.”


Lantas Vulcan memberikan dua pedang yang sama persis dengan itu secara cuma-cuma.


“Ini aku ambil saja? Apa tidak masalah?” tanya Yongchun agaknya tidak merasa enak.


“Iya Tuan God Eye. Ambil saja. Tapi tidak untuk dua pedang yang barusan saya buat, ya! Haha!”


“Baiklah kalau begitu.”


Yongchun mengambilnya dan kemudian ia kembali ke tempat di mana ia mengambil pedang itu. Kerumunan banyak orang sudah tidak ada, sepertinya pertarungan sudah berakhir.


Yongchun meletakkan kedua pedang itu di pinggir jalan dan berharap pemilik itu akan datang.


“Wah, lihat ada pedang!”


“Hei! Hei! Itu milikku!”


Salah seorang hendak mencurinya namun tak lama pemiliknya datang secara kebetulan, dan ia segera mengambil pedang itu.


Pedang sudah kembali ke asal, meski tidak sepenuhnya sama karena itu milik Vulcan sebelumnya.


Awan masih mendung. Suasana yang cukup suram yang dilihat oleh Yongchun. Meskipun begitu, ia masih mengagumi betapa hebatnya hujan. Rintik air yang membasahi wajah membuatnya lebih segar.


“God Soul, artinya Jiwa Dewa. Aku menunggumu datang. Kau pasti sangat penasaran denganku ataupun pria yang bersamaku saat itu, 'kan?”


Melangkah pergi menuju ke suatu tempat dengan bergumamkan sesuatu seraya ia menyunggingkan senyum tipis. Ia kembali menatap langit dan merasakan hawa tipis melewati dirinya.


***


Datang seorang pria berjas panjang dengan sepatu boot berwarna coklat. Warna rambut yang cerah dan syal yang di lehernya membuat ia sangat mencolok. Hawa keberadaannya yang tipis pun tetap mencolok terutama di mata orang-orang yang mengenal Pemilik Tubuh Dewa.


God Soul datang ke tempat Vulcan berada.


“Hei, katakan siapa dia sebenarnya dan di mana dia tinggal? Kau mengerti apa yang aku ucapkan?”


Vulcan sesaat terdiam tanpa kata. Ternganga dengan wajah serius menatap wajah God Soul yang tersembunyi di balik syal. Sosok yang berada di belakang pria itu pun sekilas menampakkan diri.

__ADS_1


“Wah, Tuan. Saya tidak menyangka akan kedatangan tamu lagi secepat ini. Ditambah lagi tamunya adalah tamu istimewa. Melihat banyak dari mereka telah berkumpul. Saya sangat menanti yang tersisa saat ini.”


“Pembicaraan ini jadi tidak berguna kalau kau sibuk memuji,” ketus God Soul seraya menatap tajam padanya.


__ADS_2