Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
042. Kepercayaan yang Sulit Didapat


__ADS_3

Kehadiran Li Bai dan Wang Xian tentu membuat 3 gadis itu terkejut. Berwaspada dengan keberadaan orang asing, dan bersiap akan melarikan diri.


“Ah, tidak ...tidak. Aku dan teman kecilku kemari karena ingin menyelamatkan kalian. Aku tahu kalian berasal dari Distrik Hiburan, karena itulah ...”


Buak!!


Karena Wang Xian asal berbicara, Li Bai memukulnya agar berhenti.


“Jangan berkata seperti itu, bodoh! Gadis akan takut kalau mendengar kata-kata yang familiar bagi mereka. Jadi seharusnya ...”


“Siapa kalian?! Mau apa kemari? Ingin menjual kami juga ya? Kuperingatkan, untuk tidak mendekat atau kubunuh kalian!” seru si gadis berambut hitam panjang, ia berdiri di depan kedua gadis lainnya.


Berkata akan membunuh namun ia tak punya senjata apa pun di genggamannya. Hanya bermodalkan keberanian dan berusaha tuk melindungi gadis yang lebih muda darinya.


“Kak Li sama saja, tuh.”


“Apa? Hei, ayolah bekerja sama. Kita sudah menumpaskan bandit itu tapi apa yang kita lakukan pada mereka? Kita harus menyelamatkannya seperti saat sebelumnya, 'kan? Tapi sejujurnya ini sangat sulit,” kata Li Bai yang kemudian duduk menghadap mereka.


Wang Xian berbisik, “Kau rayu saja mereka.”


Buak!!


Sekali lagi pukulan Li Bai berhasil mendarat di wajah Wang Xian sampai menimbulkan bekas memar.


Li Bai mempunyai cara tersendiri agar mereka tak lagi merasa diancam atau hal buruk lainnya.


“Dengar, aku tak tertarik pada wanita apalagi gadis kecil seperti kalian. Aku masih muda, dan aku butuh kebebasan. Tapi yang kulihat, di sini tak ada hal semacam itu. Jika kau ingin menjadi lebih kuat untuk melindungi mereka, maka ikutlah denganku,” tutur Li Bai seraya mengulurkan tangannya.


Li Bai mengerti setelah gadis dengan rambut hitam itu bertindak selayaknya kakak sulung bagi mereka. Sangat memahami bahwasanya gadis yang bernama Xie Xie akan melakukan apa saja demi keadilan yang seharusnya mereka dapatkan.


Xie Xie terdiam, melihat Li Bai mengulurkan tangannya, masih ia meragu akan keputusan untuk percaya atau tidak.


Hingga gadis kurus itu menarik-narik ujung pakaian Xie Xie yang basah akan darah. Lalu berkata, “Lin Lin ingin mempercayai mereka.”


Demi Lin Lin, ia pun mengangguk tanda percaya dan setuju untuk ikut dengan dua lelaki itu.


Mereka bertiga pun mengikutinya ke mana mereka akan membawanya pergi. Ke suatu tempat, ialah sebuah rumah milik pria tua itu.

__ADS_1


“Tetua! Kami membawakan beberapa anak lagi. Salah satunya terluka, biarkan aku mengobatinya lebih dulu.”


“Baiklah, setelah itu ambilkan makanan untuk mereka yang kelaparan.”


Ming Fu masih saja berbaring di sana, ia tampak nyaman dengan posisinya saat ini. Lalu melihat beberapa anak perempuan masuk, ia pun terkejut.


“Nak! Apa kau terluka karena sesuatu? Punggungmu jadi berdarah seperti ini.” Ia menghentikan langkah Xie Xie yang saat itu hanya terdiam sambil menggenggam tangan Lin Lin dan satu gadis lainnya.


“Sudah kubilang Tetua, salah satunya terluka. Apa Anda sudah jadi tuli sekarang?” Li Bai menegas.


“Ah, maaf. Aku hanya terkejut saja, Li Bai.”


***


Li Bai membersihkan lalu mengobati lukanya yang parah itu. Begitu juga dengan dua gadis lainnya yang terluka di bagian telapak kaki mereka.


“Sampai separah ini, apa kalian masih sanggup menahannya jika hari ini aku tidak bertemu kalian?”


“Lin Lin bisa menahannya berkat Xie Xie yang pemberani. Dia memberi kami kekuatan, dan sekarang kami kenyang,” kata Lin Lin seraya memakan makanan yang diberikan kepadanya.


“Oh, begitu. Pantas saja. Apa kalian berasal dari Distrik Hiburan? Yang banyak wanita tapi diperlakukan tidak baik oleh para pria?” tanya Li Bai.


“Hei, Lin Lin! Jangan asal memberi tahu hal itu pada siapa-siapa! Dia masih orang asing,” amuk Xie.


“Tapi dia sudah menolong kita! Apa salahnya aku percaya?”


“Kau yang tidak tahu. Kau juga hampir dibunuh oleh pria yang kau tak kenali, bukan? Aku saja hampir tertipu, pasti kau pertama kalinya menghadapi hal mengerikan seperti tadi, benar?” sahut Xie.


“Huh, aku tahu. Tapi memang benar ...itu pertama kalinya bagiku,” ucap Lin memalingkan wajah.


“Sudah, sudah.”


Li Bai kewalahan dengan sikap mereka. Terus bertengkar, meski kadang sudah berbaikan pun pasti ada waktunya mereka bertengkar lagi.


Setelah Li Bai merawat mereka, ia pun pergi menemui Tetua-nya. Ia hendak membicarakan sesuatu perihal wilayah ini.


Di dalam ruangan yang tidak panas ataupun dingin, tak dapat dipungkiri bahwa mereka merasa aman di sini. Kebahagiaan yang dirasakan mungkin hanya sebentar saja.

__ADS_1


Hingga suatu waktu, di balik jendela, dirinya melihat sekaligus mendengar beberapa orang berbincang hal buruk tentang Li Bai.


“Si Ming itu, katanya ingin jadi kaisar di wilayah ini? Bodoh, ya. Itu sudah pasti mustahil. Dia juga tidak kaya, kuasa juga tak punya. Memangnya dia bakal pakai cara apa untuk membuatnya jadi kaisar.”


“Hei, itu benar. Tapi kudengar dia kuat, dan dia juga bersama dengan beberapa orang. Terutama si Zhao itu, sudah kekar di usia muda saja sudah membuat nyali para bandit menciut. Tapi, kau tahu soal Li?”


“Li? Maksudmu Li Bai yang sering mengambil banyak wanita dan anak-anak perempuan yang melarikan diri dari Distrik Hiburan? Oh, kalau itu aku sudah tahu.” Kemudian pria ini tertawa kecil.


Menertawakan dengan sebab, banyak orang bilang kalau Li Bai adalah orang penyuka wanita. Dia kerap kali mempermainkan banyak wanita. Pria yang terdengar sangat menjijikan.


Mendengarnya membuat Xie Xie amat marah. Ia berpikir lagi-lagi dirinya ditipu. Merasa muak, ia pun pergi.


“Mau ke mana?” tanya Lin Lin.


“Aku mau menghajar pria brengsek itu!”


Xie Xie menahan amarah pun tak bisa setelah apa yang barusan ia dengar tadi. Nyatanya Li Bai tak sebaik yang ia kira sebelumnya, walaupun Lin Lin menaruh rasa kepercayaan pada Li Bai, ia masih tak bisa.


Perkataannya sebelumnya pun jadi diragukan. Xie Xie berlari tuk menemui Li Bai, namun dia tak ada di mana-mana. Bahkan setelah berbincang dengan pria tua itu, ia pergi bersama dengan anak lelaki yang selalu bersamanya.


Langkahnya semakin lama semakin cepat. Tak peduli luka itu akan terbuka lagi atau tidak, ia tetap berlari mencari Li Bai.


Hingga malam pun tiba.


“Lin Lin ingin bertanya, apakah pria yang telah menyelamatkan kami itu adalah pria yang berbahaya?”


Lin Lin merasa cemas dengan keberadaan Xie Xie saat ini. Ia pun bertanya pada pria tua itu, apakah benar Li Bai adalah pria yang dirumorkan sebagai pria terburuk persis seperti yang dikatakan oleh banyak orang.


Namun pria tua itu berkata sambil tersenyum lega, “Li Bai bukanlah orang semacam itu. Kalaupun gadis itu tak kunjung kembali, ia akan mencarinya. Kau khawatir, benar?”


“Ya. Xie Xie tidak pernah seperti ini. Kalaupun pergi pasti akan kembali secepatnya.”


Tanpa tahu apa yang terjadi bahwa sekarang Xie Xie tersesat ke pedalaman hutan seharian. Entah bagaimana ia pulang, semenjak kepikiran tentang rumor buruk Li Bai, ia enggan bergerak dari sana. Ia duduk di balik pohon yang besar.


“Kau ...di sini?”


Li Bai, pria itu napasnya berat. Menunjukkan wajah cemas dengan penuh luka di mana-mana. Kekhawatirannya itu dapat ia rasakan, sebab Li Bai takut jika terjadi sesuatu pada Xie Xie. Sinar matanya bukanlah pria pembohong.

__ADS_1


“Kau datang untukku?”


“Tentu saja!” tegas Li Bai dengan wajah marah.


__ADS_2