Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
128. Jiwa & Raga yang Sempurna, Diperlukannya Sebuah Tekad Baru Tuk Memulai Era


__ADS_3

Pagi itu, Yongchun menghadapi segala serangan darinya. Sempat membalas namun selalu tertahan seakan dinding pertahanan Dewa Hitam adalah antara langit dan bumi.


“A-apa?”


Ketika itu, Yongchun berhenti bergerak. Keluar darah segar dari mulutnya. Terus jatuh hingga menggenang ke kedua kakinya. Bagian dalam tubuhnya seperti hancur tak berbentuk. Asam bagai ombak menghantam dinding dalam tubuhnya.


“Aku tidak tahu apakah ini berpengaruh padamu. Tapi sekarang lihat, kau ternyata mudah dikalahkan.”


Jiwa Dewa Hitam bersemayam dalam tubuh Yongchun namun jiwa itu tak punya kuasa mengendalikannya karena itulah Dewa Hitam yang sekarang berupa kepingan jiwa itu kini menggunakan kuasa.


Kepalan tangannya itu mengenggam erat bagian jantung Yongchun secara tak langsung, sehingga mengakibatkan Yongchun tak bisa bernapas. Semula gerakannya terhenti pun ambruk kemudian.


Tubuhnya bersimbah darah, nyaris ia kehilangan kesadaran di samping ia berusaha untuk bernapas seraya tetap mengenggam erat pedangnya.


“Aku takkan kalah dari—”


Syak! Syak! Syak!


Sesuatu kehitaman mengitari tubuhnya hingga menutupi dan membuat tubuh Yongchun tak bergerak seinci pun. Keadaan tiba-tiba menghening, sunyi.


Dalam dunia bawah kesadaran Yongchun, sekarang. Semuanya gelap gulita menyerupai neraka hitam tanpa cahaya setitik pun. Suara, hawa dan lainnya sama sekali tidak dapat dirasa. Indranya tertutup rapat saat kesadaran itu diambil alih.


“Aku berhasil mengoyak tubuhmu, itulah yang aku rasakan tapi kenapa yang aku koyak justru jiwaku sendiri?” Satu suara muncul, membuat indra pendengar terbuka dengan sendirinya.


Perlahan cahaya dari gelapnya pendengaran terbuka, mendengar satu jenis suara yang menggaung hingga ke seluruh ruangan di sini. Yang gelap dan tidak ada satu pun benda yang nampak.


Srek, srek!


Kemudian terdengar lagi suara asing. Cukup unik didengarnya, dan tak hanya itu. Ia mendengarnya dari tubuh yang tergesek oleh lantai tipis di bawahnya.


Indra perasa terbuka.


“Siapa?” Mulut itu bergetar, berbicara dengan sendirinya setelah otak itu berputar dan bekerja.

__ADS_1


Srak! Srak! Srak!


Balutan hitam terbuka dengan cepatnya. Membuat Yongchun sadar kembali dengan dua mata yang berkobar api hitam. Pandangannya sangat jelas. Dan sesuatu menggerakkan kedua kakinya sampai bangkit berdiri. Lalu menggerakkan kedua tangan yang memegang pedang setelahnya.


SYAK!


Satu tebasan dari atas ke bawah, sekelebat api berwarna putih mengikuti gerakan pedang secepat cahaya. Pandangan tubuh seseorang yang sedang Yongchun hadapi saat ini berubah drastis.


Mula hanya terdapat bola mata hitam saja. Namun sekarang, berubah menjadi biasa. God Ear menyunggingkan senyum lantas berbaring di tanah berdebu dengan darah yang merembes keluar.


“Apa yang terjadi?” Hanya itu yang bisa ia katakan sekarang. Kejadian yang barusan terjadi tidak seperti yang bisa ia bayangkan hingga akhir hayat.


Mengingatnya saja membuatnya bulu kuduk merinding. Yongchun beberapa kali mengedipkan kedua mata dengan penuh kebingungan, tetap ia menggenggam pedang yang kemudian bilahnya patah menjadi bebedapa bagian.


“Bukankah seharusnya aku mati? Dewa Hitam itu melakukan sesuatu pada tubuhku, aku seperti dirasuki atau ...yang lain telah terjadi?” gumam Yongchun. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi saat itu.


“Benar!” Terdengar suara menggema dalam isi kepalanya. Sesaat Yongchun bergidik, menjatuhkan gagang pedang ke tanah lantas menutup rapat kedua telinganya.


Maka sosok suara yang menggema dalam kepalanya itu kembali mengatakan sesuatu. Kali ini dengan ancaman tegas.


“Kau melupakan aku? Aku ini Dewa! Aku lah yang berkuasa. Dan aku berhak merebut tubuh manusia, yakni kau! Ingat, kalau kau berani-beraninya memanggilku lagi dengan nama rendahan, "hitam", maka aku akan membuat tubuh ini tercabik-cabik!”


Terdengar sangat kejam, Yongchun ambruk ke tanah dengan tubuh gemetar kuat. Tak kuasa ia menahan semua beban berat yang terasa mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Ini bukan darah, air atau makanan. Sama sekali bukan.


“Ke-kenapa kau? Kau saja tidak bisa membuat tubuh ini menjadi milikmu, buktinya aku masih hidup!” Dengan beraninya, Yongchun menyahut perkataan Dewa Hitam itu.


“Kenapa katamu?! Diamlah kau! Kau tak berhak bicara!”


Crat!


Kedua telinganya mengeluarkan darah secara tiba-tiba. Yongchun menjadi lemah dan semakin melemah padahal kekuatan mengalir padanya sekarang ini.


“Aku bisa mengendalikan tubuhmu, hanya dengan membuatmu mati dan hidup kembali! Kali ini aku takkan gagal seperti sebelumnya!” amuk Dewa Hitam yang membuat seluruh tubuhnya bergetar kuat, darah keluar dengan derasnya.

__ADS_1


Setelah hal itu, perlahan Yongchun mengangkat patahan pedang di sekitarnya. Ia kemudian mengarahkan ujung patahan itu. Begitu tajam dan berkilau di bawah sinar matahari.


“A-apa?”


Kedua tangannya bergerak sendiri. Dan selama beberapa waktu patahan pedang bergerak semakin mendekat ke lehernya.


“Aku tidak akan melakukan hal seperti ini!” pekik Yongchun menghadapi Dewa Hitam yang tengah mengendalikan tubuhnya untuk bunuh diri.


Dewan Hitam itu terus bersikeras membuat gerakan tangan Yongchun mengarah ke lehernya dengan sebilah yang tajam itu. Terlihat dari luar, Yongchun seolah-olah akan membunuh dirinya sendiri.


Peluh bercucuran deras, setetes darah pun mengalir jatuh ke atas tanah. Tangan Yongchun gemetaran kuat seiring tangannya bergerak tuk membunuh dirinya sendiri.


Srat!


Tergoreslah leher Yongchun. Beruntung tidak menusuk ataupun menembusnya. Setelah beberapa saat Yongchun terdiam dengan wajah kebingungan. Kedua tangan yang sebelumnya menggenggam kuat patahan pedang seketika terlepas. Ia tiba-tiba melemas setelah itu.


Sraaaa!


Asap hitam keluar dari tubuh Yongchun. Menampakkan wujud si Dewa Hitam yang tak lagi terbentuk. Wujudnya bagai asap yang akan hilang begitu angin datang itu kini menatap culas Yongchun.


“Aku tidak tahu namamu. Tapi, meskipun begitu, aku pun harusnya juga bisa mengendalikan tubuhmu. Tetapi sepertinya ada sosok yang melindungimu dari belakang sana.” Dewa Hitam itu berkata sesuatu yang tidak dapat dimengerti dengan sekali dengar.


Lantaran, sosok semua orang yang dimaksud adalah sosok orang-orang yang telah dibantu oleh Yongchun. Bisa dikatakan mereka adalah keluarga ataupun rekan Yongchun terdekat. Mulai dari guru-gurunya, sahabat karib lalu keluarga berupa Ayah dan Ibunya.


Sosok terakhir muncul bukan sosok yang melindungi Yongchun sebagai arwah orang mati melainkan sosok yang bisa dikatakan penjaga atau bahkan mungkin sesosok dewa.


Bekas tapak tangan miliknya kini masih membekas di pundak Yongchun. Karena itulah sosok tersebut muncul. Mereka yang berada di belakang Yongchun seolah mendorongnya untuk terus maju ke depan.


Meski ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Melihat bahkan merasakannya saja tidak, namun seolah ini memang dedikasinya semenjak kecil. Bertarung dan Berlindunglah sebelum ia menyelamatkan seseorang.


“Tidak.” Yongchun kemudian bangkit dari sana. Lantas kembali berucap, “Aku tidak akan menyelamatkan diriku sendiri sebelum aku menyelamatkan seseorang yang berharga.”


Tetapi ia mengubah dedikasi awalnya menjadikan orang terpenting adalah hal prioritas dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2