Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
026. Para Pemberontak Muncul Bagian III


__ADS_3

Perbincangan di bawah rembulan bersalju itu dapat dipastikan benar-benar nyata. Namun, Yongchun belum berkata apa pun. Ia terdiam seraya memikirkan apa untungnya bagi Zhao Yun jika bekerja sama dengannya.


“Kutunggu sampai ini benar-benar berakhir, Wang Yongchun.”


Keduanya berpisah ke arah yang berbeda. Menumpaskan semua para pemberontak tuk membantu pendekar yang lainnya. Tak lama ia rasa jumlah mereka terus berkurang, namun datang sebuah laporan bahwa pemberontak lainnya telah muncul dari ujung utara. Yang berdekatan dengan Istana Wulan.


Sudah dipastikan mereka mengincar Kaisar. Semua para pemimpin kultus pun segera menuju ke arah Istana. Tidak dengan Yongchun, ia tetap berdiri di posisinya.


Klak!


Utara bagian tengah, dekat dengan kediaman Wang itu berangsur-angsur sepi. Menghembuskan napas dingin seraya ia kembali menyarungkan pedangnya. Melihat rembulan yang kian meredup, salah seorang muncul dengan aura yang tak bisa dijelaskan.


Pria itu memiliki wajah sangar, auranya bercampur dengan sifat kebajikan dan kejahatan. Tidak menentu, bahkan pergerakan dari emosi yang dilontarkan pun seolah-olah menyala bagai api besar.


“Aku yakin di Istana Wulan sama kacaunya. Akan lebih baik jika Kaisar cepat mati, tapi itu tidak mungkin mudah. Lagipula masih banyak pendekar yang setia dengan kekaisaran,” guman Yongchun.


Pria itu berjalan sendirian lalu menatap sinis ke arah Yongchun. Ia terdiam sesaat, kemudian melesat ke arahnya dengan tenaga dalam yang memperkuat setiap anggota tubuh.


Terfokus satu arah, kembali mengangkat pedang dan menghadapinya secara langsung. Yongchun memperpendek jarak.


“Apa kau yang memimpin mereka?” tanya Yongchun seraya menahan pedang dengan pedangnya.


“Untuk apa aku memberitahumu? Lagipula siapa pula kau?” Tak menjawab, justru pria ini berbalik tanya.


Trang!


Kedua pedang itu berpadu. Yang berbeda hanyalah Yongchun tak menggunakan tenaga dalamnya. Ia menangkis dan berbalik menyerang hanya dengan pedang kosong.


Tenaga dalam bercampur aduk menjadi satu, mengayunkan pedang dari berbagai sisi dan terus membuat Yongchun terdesak mundur dengan menyeret langkahnya perlahan.


Salju menumpuk itu mudah disingkirkan dengan ayunan pedang berbalut tenaga dalam kehitaman. Sehingga membuat terpaan angin berbalik dari arah yang sebenarnya.


Napas pria itu pun kian melemah, terengah-engah namun agaknya masih siap bertarung. Yongchun melompat ke belakang tuk menjaga jarak, lalu menarik pedang satunya lagi.

__ADS_1


Dari belakang punggung, ia memutar pergelangan tangan yang kini menggenggam erat kedua pedangnya. Dalam sekali ayunan ke depan, membuat salju di sekitar menghempas dan menjadi kabut bersalju.


Tak seorang pun yang paham kecuali pria yang kini diserang oleh Yongchun. Bahwa dalam kabut bersalju tersebut merupakan ancaman untuknya. Hal itu membuat penglihatannya memudar, tubuhnya pun membeku begitu hempasan mengenainya.


“Aku melawanmu hanya dengan pedang kosong saja. Apa kau masih tak sanggup melawanku? Jika iya maka berbaringlah di sana, agar aku mengurus hal ini dengan benar.”


Salah satu pedang ia sarungkan. Yongchun menghampiri setelah kabut itu kembali jatuh ke tanah. Menghampiri pria yang sudah terbaring membeku namun aura kebajikan dan kejahatan itu kian menggelora dan nyaris membuat Yongchun berhalusinasi.


Seperkian detik, badai salju mulai mereda. Namun butiran atau keping salju masih turun.


“Tentunya salju akan membuatmu dingin meskipun kau mengenakan baju hangat dan tebal saat ini. Apalagi kalau tertumpuk salju di saat badai datang. Tapi, aku tak berniat membunuhmu,” ucap Yongchun.


“Mustahil dengan pedang kosong! Tenaga dalam apa yang kau punya?” tanya pria itu dengan marah.


Tubuhnya masih gemetaran karena salju membuatnya beku. Dingin itu menyeruak jika sekali lagi ia bergerak, namun tekad besar tak bisa dibandingkan. Pria ini mampu mengangkat lalu mengayunkan pedangnya sekali lagi.


“Aku menyerang demi keadilan di tanah ini!” serunya yang kemudian menusuk tubuh Yongchun.


Pedang panjang yang menembus kulit, tulang ataupun dagingnya. Darah mengalir deras ke bilah pedang sampai ke jari jemarinya. Reaksi Yongchun berubah saat aura itu mencoba tuk membunuhnya, bukan dari serangan pria tersebut.


Tak ada suara lain mengganggu. Hanya kesunyian, kehampaan, dan kebencian yang Yongchun rasakan darinya.


Napas pria ini semakin berat, tangan dan sekujur tubuh terus gemetaran. Bukan takut tapi tenaga dalam yang ia punya kian melemah. Rasa sakit ketika dinginnya merasuk ke dalam juga membuatnya mati rasa.


Tetapi ada sesuatu yang membuatnya masih hidup.


Misteri.


“Kau ini siapa sebenarnya?” Dari berbagai kata, hanya ini yang ia lontarkan padanya. Yongchun bertanya dan membuat ia tersentak.


Terkulai lemas, ambruk meninggalkan jejak.


Buak! Satu pukulan ia layangkan ke wajah pria itu sembari berteriak, “Siapa yang menyuruhmu mati?! Cepat bangun!” Yongchun kemudian menarik kerah bajunya.

__ADS_1


“Kau ...ke-kenapa masih hi-hidup ...dengan luka ...itu?” Kalimatnya terbata, tampak ia berusaha keras untuk membalas pukulan namun sudah tak bisa. Sekujur tubuhnya tak mampu digerakkan sama sekali.


Terselip sesuatu kata-kata yang mampu Yongchun pahami, "Mata Dewa", dengan tatapan sendu dan detak jantung berdetak pelan.


Yongchun tahu kondisinya separah ini, ia pun menyeret tubuhnya ke suatu tempat dan membuatnya tetap hangat. Aura yang dimiliki olehnya masih terasa begitu kuat, dan ada banyak sekali pertanyaan yang hendak ia tanyakan pada pria ini.


“Kau harus tetap bangun untukku! Wilayah kita ...negri kitalah yang menjadi taruhan. Jangan mati hanya karena aku! Kumohon hiduplah!”


Kedua matanya berkedip. Sosok lain pun telah datang, ialah Pemimpin Wang. Datang dan membawa tubuh pria itu masuk ke dalam kediamannya dan memberikan perapian agar hangat kembali.


“Aku juga masih membutuhkan pria ini. Kira-kira kenapa, ya? Apakah mungkin ada sesuatu yang familiar untukmu, Yongchun?” pikir Wang Xian.


Kedua tangan Yongchun mulai gemetar. Sosok lain yang mendiami pria itulah yang membuatnya begini. Kesunyian, kehampaan, dan kebencian itu pun juga bukan berasal darinya.


Ada sesuatu, yang lebih dari itu semua.


“Ini ...”


Tidak bisa dijelaskan karena apa. Saat Yongchun mengusap wajah, kedua matanya mengeluarkan darah dan tidak pernah berhenti mengalir hingga menggenang di bawah.


“Bukan luka dari Pemimpin Yin. Apakah mungkin ini dari ...”


“Aku mengabulkan permintaanmu untuk membuat pria ini tetap hidup, Yongchun. Tak tahukah apa alasan tubuhmu ikut bergetar saat berdekatan dengannya? Ini bukanlah cinta melainkan ...penderitaan yang sama. Mata Dewa yang terkutuk, ini semua salahmu.”


Pemimpin Wang yang mengerti segalanya lalu Yongchun kini diambang sekarat.


Krek...


Setengah kayu sudah terbakar, begitu pula dengan darah berhenti mengalir.


***


Bagian ujung utara pun telah diselesaikan oleh para Pemimpin Kultus.

__ADS_1


“Kita dapat kabar dari Pemimpin Wang, salah satu pemberontak yang memiliki seni iblis sudah tertangkap dan saat ini mereka berada di kediaman Wang. Mari kita bergegas!” ungkap Yang Jian.


__ADS_2