
Setelah apa yang terjadi pada hari itu. Putri Yu Jie kembali ke istana dan seperti biasa ia diganggu oleh kedua kakak perempuannya.
Dengan sengaja membuat Yu Jie jatuh tersandung karena kakinya, mereka pun tertawa bahak-bahak.
“Kau masih hidup rupanya, ya. Yu Jie? Yah, aku tak heran kalau semua orang naif mendukungmu.”
Caci makian dari mereka sudah biasa untuknya didengar. Menyengat panas hingga mengalahkan dinginnya musim salju. Ia hanya menghela napas dan terdiam lalu kembali ke kamar.
“Lama-lama jadi tidak asik.”
***
Malam yang dingin pun tiba. Beruntung salju tidak turun untuk saat ini. Kembali pada perbincangan antara Yongchun dengan Xie Xie, yang di mana mereka saling berkutat satu sama lain mengenai permasalahan di wilayah masing-masing.
Hari itu Xie Xie ingin percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yongchun. Di mana perdamaian akan tercapai di wilayah ini.
Harusnya Yongchun tak peduli akan hal itu, namun akan tetapi jika wilayah ini tak damai maka akan mengancam wilayahnya apalagi setelah penyatuan negri itu terjadi.
Kabar terburuk sepanjang sejarah.
Karena itulah Yongchun meminta bantuan pada beberapa pemimpin kultus selain Wang Xian, yang ia curigai. Karena suatu saat Yongchun akan menggulingkan kekaisaran di timur laut.
“Kudengar dia ada di pegunungan. Apakah maksudnya dia tinggal di sini? Apalagi dengan musim salju begini, sudah pasti dia akan mati beku. Aku jadi tidak yakin mengenai hal ini.”
Malam yang panjang akan Yongchun lalui. Ia kini mendaki gunung tuk bertemu dengan Pemimpin Yin.
Tetapi setelah beberapa lama ia mendaki hanya dengan pakaian tebal, tiba-tiba saja ada sosok bayangan mengarah padanya. Melesat cepat dan menggores wajah Yongchun.
“Siapa?!” Yongchun berhenti mendaki dan melihat ke sekeliling di mana seseorang yang barusan menyerang.
Kemudian disusul beberapa bayangan yang menyerupai pisau. Terbang dan berusaha menusuk tubuh Yongchun, sayangnya itu takkan terjadi lantaran ia termasuk gesit dan peka pada keadaan sekitar.
Ia heran mengapa ada beberapa serangan terlempar ke arahnya. Padahal salju saja bukan, lalu apa? Dan pikiran itu sampai ke salah satu orang yang ia pernah temui. Tak lain adalah Pemimpin Yin.
__ADS_1
Tak seperti namanya, "Yin", yang berarti kebaikan dan identik dengan tenaga dalam yang bercahaya. Pemimpin Yin ini justru berkebalikan dengan itu semua.
“Siapa di sana?!” Sekali lagi Yongchun berteriak dan bertanya siapakah orang yang menyerang.
Tak lucu kalau yang menyerang itu bukan manusia melainkan mahluk astral. Tak lama, seringai Yongchun tersungging tanda ia melihat bahwa mahluk bukan manusia lah yang benar-benar menyerang dirinya.
“Apa lagi ini?”
Sebuah boneka kecil berwarna putih itu melayang-layang di udara. Unjuk diri mendatangkan kembali beberapa bayangan tuk menyerang Yongchun. Kali ini tidak hanya sebatas satu atau dua saja, sekarang boneka itu mewujudkan puluhan bayangan berupa pedang panjang.
Srak!!
Yongchun menyeret langkahnya pergi. Menghindari semua bayangan yang mustahil tuk diserang. Apalagi dengan jumlah sebanyak itu. Upaya berlari semakin mendaki ke atas gunung pun berhasil, beberapa bayangan dengan wujud pedang itu kini menancap ke tubuh gunung.
Tak lagi bergerak begitu juga dengan boneka kecil tersebut. Yongchun justru merasakan firasat buruk setelah aura pekat kehitaman legam bak tinta lukis yang digores ke kertas lukis itu muncul di depan.
“Seharusnya Mata Dewa itu tak ada! Jadi biar aku rebut itu!”
Disusul oleh seorang pria berambut hitam. Aura yang ia miliki sama sekali tak sama dengan aura kehitaman, melainkan sesosok cahaya. Walau tidak terlalu terlihat, namun Yongchun dapat merasakannya sekilas.
“Pemimpin Yang? Itukah kau?” panggil Yongchun menoleh ke belakang.
Mendapati pria buta itu, Pemimpin Yang menatapnya sinis. Tak sekalipun ia bergerak, ia hanya memandang lurus ke depan seolah-olah ada hal yang harus ia lakukan selain berhadapan dengan Yongchun.
“Kau itu ...siapa? Maaf aku tak bisa melihatmu saat ini. Tapi dari suaramu, mungkin kau pria buta itu? Apa aku benar?” tanya Yang.
“Itu benar. Lalu, untuk apa Pemimpin Yang datang kemari?”
Pemimpin Yang sudah jelas tidak akan mengatakan apa yang ditanyakan oleh Yongchun. Ia bergegas lari melewatinya dan menghadapi sosok yang lain. Pria dengan aura berbalut hitam adalah Pemimpin Yin.
Ternyata boneka yang tadi menyerangnya itu milik Pemimpin Yin Ao Ran. Ia bertarung di tengah pegunungan dengan Pemimpin Yang Jian. Yongchun tak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Namun setelah mereka beradu pedang dengan tenaga dalam yang sangat kuat, keduanya kemudian menoleh ke belakang. Menatap ke arah Yongchun seorang.
__ADS_1
“Aku tidak mengerti akan situasi ini ...”
Pancaran aura dari kedua pemimpin terlampau kuat. Yongchun bukanlah apa-apa untuk mereka, ia pun hanya bisa menghindari serangan demi serangan yang mereka arahkan padanya saat ini.
“Awalnya aku tak yakin dengan datang kemari. Tapi setelah dilihat, rupanya Pemimpin Wang benar!”
Klak!
Yang Jian menyarungkan kembali pedangnya lalu mengambil sebilah pedang yang lebih pendek. Yin Ao Ran pun bertindak agresif, beberapa rangkaian serangan dari depan, belakang, samping serta atas dan bawahnya dipenuhi dengan beberapa pedang bayangan yang siap menghujam Yongchun dari segala sisi.
“Awalnya mereka bertarung tapi sekarang jadi mengincarku? Apa pula ini? Yang benar saja, apakah Relia yang saat itu pernah kesasar di gunung juga berhadapan dengan orang macam mereka?”
Baik Yang maupun Yin, mereka berdua adalah pemimpin kultus 7 Surgawi yang berada di posisi bawah. Yang Yongchun pernah pikir bahwa kekuatan mereka tergolong biasa saja namun ternyata selama ini ia salah.
Tentu saja, hal itu semua tergantung apa yang telah mereka lalui selain di Arena Batu Kuasa. Banyak kesempatan yang mereka ambil tuk saling berebut posisi teratas dengan bertarung.
Cwak! Cwak! Cwak!
Asal merasakan, melihat dan memperhitungkan, Yongchun yang tampaknya kewalahan pun akhirnya selamat dari hujaman pedang bayangan.
Semua pedang itu hanya menghujam tanah lalu menghilang dalam sekejap. Tetapi tidak dengan sebilah pedang pendek yang menusuk perut bagian bawahnya.
Lututnya merasa lemas seketika, Yongchun ambruk saat sesuatu yang ada di sebilah pedang itu mengalir masuk ke dalam raganya.
“Bukankah begini caramu menjatuhkan banyak orang? Memakai trik murahan agar menang. Asyura Ayah!”
Ternyata yang ia khawatirkan telah terjadi saat ini. Entah apa maksud mereka yang tiba-tiba karena sebelum ini tak pernah sekalipun ada pemimpin kultus mengetahui identitas aslinya.
Kecuali mereka tahu saat pancaran aura yang dimiliki Yongchun itu kuat sampai membuat mereka merinding. Tapi aneh jika pemimpin kultus baru bergerak saat ini.
Sudah begitu di malam hari.
Tak seorang pun yang bisa dicurigai selain Wang Xian.
__ADS_1