
Bon melompat mundur seraya mengibaskan kedua pedangnya yang berlumur darah. Tatapan matanya tidak berubah hanya saja auranya terasa berbeda dari sebelum-sebelum ini.
“Berlututlah!” Ketika Bon mengucapkan kata ini, seketika Yongchun melakukannya atas dasar paksaan.
DAK!
Sigar, Romusha lalu Arashiyama yang baru saja mendatangi kamar Yongchun pun terkejut. Mendapati Yongchun yang tengah bertekuk lutut begitu mendengar perintah God Mouth, adalah hal konyol yang pernah mereka lihat.
“Seorang pendekar yang mampu membelah langit melalui dalam ruangan pun bertekuk lutut? Jangan bercanda, ini pasti karena Kekuatan Dewa-nya.”
Sigar nampak marah, ia berpikir bahwa hal ini akan mengancam maka segeralah Sigar keluar melewati jendela tuk membantu Yongchun.
Tetapi Yongchun melintangkan tangannya, memberi isyarat pada Sigar dan yang lainnya untuk tidak ikut campur.
“Kau bodoh ya?! Dia tidak pantas untuk mendapatkan kekuatan itu!” amuk Sigar yang tahu betul jika God Mouth yang tidak bisa diajak kerja sama itu pantas dibunuh.
“Dia adalah benih ...yang aku tanam dan siram dengan baik. Kelak, ia akan membunuhku tapi sebelum itu, dia harus bekerja sama dengan kita.”
Getaran kuat tertuju pada tubuh Yongchun yang ambruk. Getaran itu semakin menguat hanya dengan satu kata perintahnya yang menyuruh Yongchun untuk berlutut sekarang. Akan tetapi Yongchun memaksakan diri, ia kembali bangkit dengan getaran yang kian menguat.
“Aku melihatnya. Aku melihat titik lemah Bon,” ucap Yongchun.
Bersamaan dengan itu, api berkobar dari kedua lengan, kaki dan kedua matanya. Membara hitam namun pedangnya memancarkan aura yang lebih terang. Berwarna jingga dengan sedikit garis biru.
Slash!
Dalam waktu singkat, mata mereka semua terbelalak terkejut. Melihat Yongchun menebas tubuh Bon yang juga tidak bisa melihat pergerakannya.
“Hei Bon, apa kau tak pernah belajar soal ini dari musuh terakhirmu?”
“Argh ...k-kau ...aku, tidak akan menggunakan itu karena ...itu tidak dibutuhkan!”
Crat!
Sebilah pedang pendek menusuk pundak Yongchun, seketika Yongchun kembali ambruk dengan tubuh yang lunglai.
“Jangan bergerak!” Kata perintah, dari mulut Bon sang Pemilik Tubuh Dewa yakni mulut. Sekali pembicaraan itu adalah hal mutlak tuk ditepis.
__ADS_1
Bahkan jika lawannya sama seperti dirinya pun, percuma saja. Mutlak adalah mutlak.
“Ha!” Bon tersenyum lebar, tampak ia sangat puas dengan Yongchun yang tidak bisa bergerak.
“Kau sendiri ...memiliki kekuatan yang berkaitan dengan yang tidak ingin kau gunakan.”
“Huh? Jangan bercanda! Ini adalah anugerah!”
“Omong kosong. Kalau anugerah, kenapa kau gunakan pada temanmu sendiri?”
“Teman? Heh, kau bukan temanku. Kau sudah berubah, Asyura. Kau sudah menjelma jadi iblis dan tugasku adalah untuk menghabisi raja cacat sepertimu! Yang bahkan tak layak mendapat gelar pendekar tertinggi sekalipun!”
Srak!
Yongchun kesal, ia secara tak sadar mencabut rerumputan yang berada di bawah telapak tangannya. Kerutan di dahinya semakin mengerut, terlihat jelas bahwa Yongchun saat ini sangat marah.
“Iblis ya ...” Dihina pun sudah biasa namun, rasa kesal maupun amarah tetaplah berada di puncak seluruh emosi manusia.
Setelah beberapa saat getaran itu berhenti. Tampaknya Bon sengaja melepas kekuatan itu dari Yongchun. Yongchun pun bangkit dengan menatapnya seolah tanpa ekspresi.
“Kau benar-benar tidak takut mati ya?” Bon mengacungkan senjata ke leher Yongchun. Ujung bilah itu menyentuh urat nadinya.
“Aku tidak takut karena kematian adalah hal yang wajar. Biarkan aku memberitahumu sesuatu, Bon. Kau yang memiliki kekuatan itu, ada beberapa orang lainnya yang sama dan itu berasal dari sosok yang berada di tubuhku.”
Bon mengerutkan kening, ia mengayunkan senjata itu secara mendatar. Berniat memenggal leher Yongchun namun Yongchun memiliki insting yang lebih sehingga ia menghindar dan hanya memotong beberapa helai rambu hitamnya.
Yongchun mengubah gerak tubuhnya, ia memegang pangkal pedang dengan bilah pedang ke belakang. Lalu mengangkatnya tinggi, sesaat Bon tersentak.
Bon reflek melangkah mundur ke belakang dengan sikap berwaspada. Yongchun tetap mengayunkan pedang itu dari atas, dan kemudian menancap ke tanah.
“Perasaan ini ...sulit aku terka. Mau apa dia?” batin Bon.
Sraaaa! Sraaaaak!
Api menyebar ke segala arah, menjalar bagai akar di permukaan tanah. Yongchun membuat kobaran api itu menjadi warna kebiruan, lalu menjerat kaki Bon hingga ke setengah tubuhnya.
“Tak bisa bergerak?!” Bon terkejut. Ia tak bisa bergerak sama sekali. Ia terjebak.
__ADS_1
“Lepas!” ucapnya sekali lagi. Bon membuat api yang menjeratnya padam. Sekilas terdapat kilat asing yang melintas dari pangkal ke ujung pedangnya.
Yongchun bergegas melompat mundur ke belakang. Sigar dan Romusha pun mewaspadai akan serangan Bon yang mungkin akan dilakukan. Namun lagi-lagi Yongchun meminta mereka untuk tidak ikut campur.
Ini bukan masalah harga diri ataupun hanya sekadar duel belaka melainkan pertarungan dengan Bon itu cukup banyak memakan waktu dan tenaga yang dibutuhkan.
“God Eye bilang jangan ikut campur. Kalian tahu sebesar apa kekuatannya bahkan tanpa mata itu. Apalagi jika bersama dengan Dewa Hitam,” ucap Arashiyama.
Yongchun membuat goresan api yang belum padam itu kian meninggi seolah membentuk pembatas dinding, Bon reflek menghindar dari posisi ke posisi lainnya begitu pembatas nyaris menggores tubuhnya.
“Asyura, kau benar-benar ...ck!” Bon berdecak kesal. Ia lantas melesat ke arahnya seraya mengarahkan dua bilah pedang pendeknya pada Yongchun.
Secepat kilat Yongchun menebas kedua bilah pendek milik Bon. Sama sekali tidak menyentuh tubuh Yongchun, bahkan semua luka yang berhasil ditorehkan Bon pun seakan lenyap tak pernah terluka.
“Bon, sebelum aku mati di tanganmu, kau harus melenyapkan ideologi kuno dari Dewa Hitam. Dan kau adalah salah satu kunci yang akan membantu —”
DAK!
Yongchun menangkis pukulan yang dilayangkan ke arahnya. Dan itu membuat kalimat Yongchun terputus.
“Aku tidak mau bekerja sama dengan iblis!”
Sosok Bon yang aneh. Bukan sedikit lagi, ini sangat atau terlalu aneh untuk disebut sebagai Bon yang biasanya. Sedikit demi sedikit Yongchun merasakan firasat buruk pada Bon. Ia melihat gejolak hitam tak beraturan dalam rahang bawahnya, yang entah apa itu.
Bon mengayunkan bilah pendeknya, tanpa sesuatu yang mengalir seperti api atau air, Bon hanya mengayunkan senjatanya saja.
Cruaakk!
Ia mampu menggores leher Yongchun hingga ke setengahnya nyaris terpenggal. Namun regenerasi Yongchun lebih cepat, hal itu berkat Dewa Hitam sendiri. Saat ini pun Dewa Hitam terkikik geli, nampak ia hendak melakukan sesuatu dalam beberapa saat lagi.
“Ha ...padahal kita semua tidak ada manusia yang sempurna. Padahal juga aku berusaha untuk tidak menyerangmu lebih dalam atau lebih lama. Tapi sepertinya tidak bisa.”
Yongchun mengambil posisi dengan bagian ujung pedang ke depan secara mendatar. Sesaat ia menghela napas, ia mulai lebih tenang.
DAAR!
Gelombang angin kuat hingga menembus langit. Berapa kali pun Bon mencoba menggunakan kekuatan Dewa Hitam, ia tak bisa. Lebih tepatnya tidak berpengaruh sama sekali.
__ADS_1