Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
090. PENUTUP-MUSIM PERTAMA KEPERGIAN YONGCHUN


__ADS_3

Para Pemimpin Kultus 7 Surgawi yang di antaranya Wang, Luo, Zhao, Li, Yang, Xie, dan Yin. Ibarat lapisan awan surgawi, mereka berada di bawah kepemimpinan langsung Kaisar Ming Guo.


Akan tetapi, semenjak kedatangan Asyura Ayah sebagai penguasa wilayah timur tengah, mereka menjadi kacau. Mulai dari Luo, yang entah kenapa masalah di antaranya dengan pendukungnya yang kemudian berakhir dalam kematian Luo karena mereka sendiri.


Iri hati, hanya karena itu mereka sudah tidak bisa mempertahkan Sekte-nya. Yongchun (Asyura) menjadi kecewa karena pernah berharap Luo akan membantunya kelak.


Lalu ketiga pemimpin teratas Zhao, Li dan Xie tertunduk di bawah Yongchun dan berjanji akan mengikutinya selama Kaisar Ming Guo masih hidup. Lalu, perseturuan antar Wang Xian dengan Yang Jian, masa lalu mereka yang melibatkan Wang Chán dan Ming Yuze karena beberapa masalah yang sedikit rumit untuk diceritakan.


Inti dari masalah mereka, adalah Wang Chán menikahi Yuze yang merupakan putra tertua Ming Guo. Pria itu sudah gila dan Ming Guo yang tahu pun tak peduli akan hal itu. Seolah memang merencanakannya. Wang Xian memberanikan diri tuk membalas dendam sampai mempertaruhkan nyawa dengan menggunakan Seni Iblis namun di sisi lain Yang Jian setia pada Kaisar Ming Guo karena telah merencanakan sesuatu yang lebih.


Ibarat musuh dalam selimut, dan Yang Jian pun memanfaatkan kedatangan Yongchun. Meskipun pada akhirnya Yang Jian dibuat sekarat oleh Wang Xian dan mengecap sahabatnya itu pengkhianat.


Meski mereka memiliki tujuan yang sama namun jalan mereka untuk sampai ke akhir itu berbeda. Saling bersimpangan dan tarik-menarik.


Terakhir, adik Yang Jian yang berbeda marga. Yin Ao Ran, ialah salah seorang pemimpin kultus 7 Surgawi yang seutuhnya pengguna Seni Iblis namun kebenaran ini disembunyikan dan hanya Kaisar Ming Guo dan Yang Jian saja yang tahu. Inilah mengapa Yang Jian memilih jalan yang berbeda dari Wang Xian.


Tak ada manusia yang sempurna. Meski panggilan mereka terdiri dari lapisan surgawi namun bukan berarti mereka adalah kesempurnaan di atas para pendekar biasa. Kuat? Tentu mereka kuat, sangat kuat bahkan Yongchun sendiri sangat mempertimbangkan mereka untuk tetap hidup dan dijadikan rekan seumur hidup.


Namun selalu saja tidak sesuai rencana Yongchun, ia pun harus merelakan beberapa dari mereka. Dan kini hanya tersisa Wang, Li, Zhao dan Xie.


***


Keadaan di wilayah timur tengah sudah cukup baik diatasi dengan penyergapan dari para pendekar Kaisar Ming Guo, mampu diatasi terutama mereka tiba di saat malam hari yang sama. Ironis sekali, mereka terjebak dan tenggalam di laut merah dan tak ada yang tersisa kecuali tulang-belulangnya.


Diola yang membuat mereka terjatuh dengan sendirinya. Bahkan tanpa mengangkat senjata, itu bisa diatasi. Terlalu lemah sehingga Diola dan lainnya berpikir ini hanyalah gertakan.


Li dan Zhao bersiap untuk berangkat esok hari. Kembali ke tanah air mereka dan berharap semua sudah selesai seperti yang telah dibicarakan oleh Yongchun.


Di sisi lain, setelah esok hari itu tiba. Kepergian Yongchun ke suatu tempat pun menjadi hal yang paling diresahkan oleh para pengikutnya.


“Kakak tidak masalah jika dia pergi begitu saja?” tanya Nia.

__ADS_1


“Ya, tidak masalah. Nanti Relia akan menyusul,” jawab Relia sambil menyentuh perutnya dengan perasaan gelisah.


***


Semenjak kematian Ming Guo, entah kenapa setiap kali ia melangkahkan kaki pasti ada beberapa penduduk yang menunduk hormat padanya. Padahal sebelumnya mereka sangat membenci keberadaan Yongchun yang adalah sang penguasa bengis itu.


Tetapi, terlihat jelas dari jiwa dan hati mereka. Meski nampak sedikit gelisah saat berada di dekatnya, namun terasa lega sebab Ming Guo sudah tiada tanpa meninggalkan jejak sedikitpun di hati mereka.


Ternyata benar perkiraan Yongchun selama ini, bahwa Ming Guo memanfaatkan para penduduk dengan mempengaruhinya bahkan sampai tidak sadar kalau mereka diperalat tuk menghasilkan uang padanya. Bahkan kematian seseorang yang karena dirinya pun dapat dengan mudah disembunyikan.


Tapi Yongchun sangat senang melihat timur laut tak lagi memusuhinya lagi.


“Ini karena Wang Xian atau karena aku keren, ya?” pikir Yongchun dengan langkah dan senyum girangnya.


Sepertinya ia sangat bahagia karena ternyata perlakuannya pada mereka dengan baik-baik pun dibalas juga dengan seperti ini. Bahkan para pemberontak juga sama, mereka percaya dengannya bahkan berniat akan terus mengikuti dan rela menyerahkan nyawa mereka.


Ia pun terus bersenandung irama dengan pakaian lusuh seperti itu. Rambut yang terurai pun jadi berantakan tak karuan. Yongchun terlihat seperti gelandangan namun kehadirannya sudah menjadi pusat perhatian. Atau bisa saja disebut sebagai pahlawan kegelapan. Yang bersedia memerankan seorang penjahat demi membinasakan penjahat lainnya.


“Anda akan pergi dari sini?” Salah seorang pendekar yang masih muda, Yun Hei bertanya. Dulu ia adalah pengikut Pemimpin Luo.


“Kau masih hidup rupanya, ya bocah? Syukurlah. Karena aku akan pergi dari sini,” jawab Yongchun.


“Begitu ...selamat jalan,” ucap Yun Hei sambil menunduk dan memberikan jalan.


Sekilas hati Yun Hei tidak rela ditinggal oleh Yongchun. Padahal mereka juga hanya sebatas kenalan saja. Yun Hei tidak ada bedanya dengan penduduk lain yang dulu pernah membenci.


“Jangan pernah mengikuti orang sepertiku ini,” pinta Yongchun sembari mengusap kepala Yun Hei lalu berjalan melangkahinya.


“Kenapa?” Yun Hei bertanya.


Sesaat Yongchun berdeham seraya terus berjalan pergi. Lalu berkata, “Mungkin karena kau bisa mati?” pikirnya.

__ADS_1


“Karena aku adalah Mata Dewa yang terkutuk. Tak seharusnya orang biasa membuntutiku terus-menerus,” imbuh Yongchun lantas melambaikan tangan.


Pergi dan kemudian menemui rekan-rekannya di perbatasan wilayah. Di laut dan gunung.


“Bon, kau masih di sini?” tanya Yongchun padanya.


“Memangnya kenapa?” ujarnya dengan ketus.


Yongchun tersenyum lalu berkata, “Aku heran kenapa kau masih hidup tanpa luka sedikitpun setelah bertarung dengan Yin.”


“Heh, itu karena dia lemah,” ketus Bon meremehkan.


Tidak lama setelah itu, Rahmana telah sampai ke perbatasan. Mereka pun berpisah sebelum Rahmana sempat melihat kepergian Yongchun.


Awan yang bergerak mundur, langit biru yang luas nampak sangat indah bagai lukisan. Setiap orang bekerja keras demi hidup mereka masing-masing. Selamanya sampai akhir riwayatnya.


Dengan memacu kuda, Li dan Zhao akhirnya telah sampai. Masuk ke wilayah timur laut dan melihat ke sekeliling yang ramai akan penduduk.


Beberapa dari mereka menyambut kepulangannya dengan wajah bahagia. Termasuk para pengikut Li Bai dan Zhao Yun. Mereka berdua saling bertukar pandangan lalu menganggukkan kepala.


Tak lama setelah itu, mereka turun dari kuda lantas tubuhnya ambruk jatuh ke tanah. Para pengikut itu tertegun dan panik karena tiba-tiba mereka berdua jatuh bersamaan seperti ini.


Tubuhnya lemas, gemetar dan sesaat merinding. Itu adalah karena Laut Merah, meskipun gejalanya ringan namun lambat laun pasti akan membuat mereka kesakitan.


Tidak hanya itu, rupanya Yongchun tak hanya sekadar meninggalkan para pemberontak di sini tuk menjaga Wang Xian. Lantaran Wang Xian mendapat luka sayatan yang cukup dalam di bagian tubuh atasnya sampai sulit untuk disembuhkan.


Ternyata inilah yang Yongchun berikan pada mereka. Menyisakan luka kepada mereka yang setia tuk selalu mengingat dirinya.


Beruntung saja, ada Relia yang akan merawat mereka.


Tapi apa alasan Yongchun sengaja melukai Wang Xian sampai tak disadari dengan cepat?

__ADS_1


“Wang Xian sepertinya melemah hingga lengah begitu, ya? Memang belum ada yang bisa menandingiku ternyata,” guman Yongchun.


__ADS_2