Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
130. Hujan Deras


__ADS_3

Hujan semakin deras setelah beberapa jam telah berlalu. Yongchun terbangun dan mendapati sang istri yang tergeletak di sampingnya. Lalu, patahan pedang berserakan di sekitar mereka.


“Aku ...tidak mati.” Meskipun ia sendiri sudah tahu bahwa ia tidak mudah mati lantaran karena jiwa Dewa Hitam itu.


Ia kemudian menggendong Relia yang sudah tidak bernyawa. Membawanya masuk ke pemukiman warga melewati jalan kecil agar tak seorang pun melihat mereka.


Brak!


Seorang wanita berpas-pasan dengannya, terkejut lantas menjatuhkan barangnya.


“Relia!”


Ialah Amiya, wanita itu pun segera menghampirinya dengan raut wajah cemas tak karuan. Berkali-kali bertanya ada apa dengan Relia namun Yongchun sama sekali tidak menjawabnya. Yongchun hanya berjalan melewati Amiya begitu saja.


“Tunggu! Tunggu!” Amiya berusaha menghentikan langkah Yongchun bahkan menarik ujung pakaiannya dengan erat.


“Wanita, apakah kau yang bernama Amiya?”


Lekas Amiya menjawab, “Ya.”


Amiya membawa mereka ke rumahnya atas permintaan Yongchun saat itu. Kediaman Amiya yang sepi sedikit membuat Yongchun merasa aman sesaat.


“Aku tidak berharap apa-apa. Jadi katakan saja ada apa?” Amiya kembali bertanya usai mereka berada dalam kediaman Amiya.


Dok! Dok!


Seseorang mengetuk pintu kediaman Amiya. Sesaat sebelum Amiya membukanya, Yongchun meminta untuk dipertemukan dengan anak Relia. Maka Amiya pun menuruti permintaan Yongchun.


Ketika dihadapkan dengan seorang bayi yang baru berusia beberapa bulan, tanpa sadar Yongchun mengeluarkan air mata pedih berwarna merah darah.


“Maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan Ibumu,” ucap Yongchun yang hanya menatap bayi itu di lantai tanpa menyentuhnya sama sekali.


Saat itulah Amiya baru mengerti bahwa Relia sudah tiada. Relia yang dilihatnya sekarang sudah menjadi mayat dengan tubuh dingin dan wajah pucat.


“Nia, ternyata kamu.”


Kedatangan Nia bukanlah suatu kebetulan. Nia datang karena sebelumnya saat ia tak sadarkan diri, Relia memberi pesan singkat pada Kuraki untuk disampaikan kepadanya. Mengenai ke mana Relia pergi saat itu.

__ADS_1


Karena itulah Nia berada di depan rumah Amiya. Namun yang menyambut bukanlah Relia sendiri melainkan hanya jasadnya saja. Nia tergesa-gesa memeriksa keadaan Relia saat itu dan benar saja bahwa Relia sudah tidak bernyawa. Benar-benar sudah mati, meninggalkan dunia ini.


“Ada apa ini kak?” tanya Nia yang meninggikan suaranya pada Yongchun.


“Kenapa?!” pekiknya sekali lagi seraya mengguncangkan tubuh Yongchun.


Tak dapat menjawab apa-apa. Yongchun tetap terdiam tanpa menatap Nia yang marah. Ia berpikir bahwa Nia tak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi karena ini terlalu tragis untuknya didengar.


“Kakak!” panggil Nia sekali lagi pada Yongchun yang kemudian Nia menangis.


Saat itu Nia tak datang sendiri, ia datang ditemani oleh Romusha yang sejak tadi hanya berdiri di dalam ruangan saja. Tampaknya ia tidak mau mengganggu mereka sehingga hanya terdiam tanpa memikirkan apa-apa.


Buk! Buk!


“Ini salahku! Karena aku lemah, aku jadi tidak bisa melindunginya,” ucap Nia menyalahkan diri sendiri sembari memukul-mukul tubuh Yongchun.


Nia merasa menyesal karena semua yang telah terjadi adalah karena dirinya tidak mampu melakukan sesuatu dengan benar. Terutama saat Nia terjatuh ke laut lepas, bahkan menjaga anak Relia saja sudah tidak becus, apalagi menjaga Relia sendiri.


Apa yang Nia rasakan pun turut dirasakan oleh Yongchun. Hanya bisa menerima kenyataan bahwa karena dirinya juga, Relia terbunuh. Sudah begitu, Yongchun membunuhnya dengan tangan sendiri.


“Sudah ...cukup. Sudah cukup peperangannya.” Nia memeluk tubuh Relia dan terus menangis sepanjang waktu.


“Apa yang ingin kau bicarakan padaku?”


“Singkat saja, apa yang sebenarnya terjadi pada istrimu sendiri? Dia terbunuh karena tusukan pedang, bukan?”


Pandangan God Hand Romusha benar-benar sangat jeli. Hanya sekali lihat bahkan tidak terlalu dekat pun, ia mengerti akan situasi telah terjadi. Pedang lah yang telah membunuh Relia.


“Ya. Kau benar.” Yongchun hanya mengatakan itu saja. Ketika ia hendak membalikkan badan tuk kembali masuk, Romusha kembali menahannya.


“Tunggu,” pinta Romusha pada Yongchun agar berhenti melangkah. Romusha menarik pedangnya dan menatap tajam pada Yongchun seorang.


“Bagaimana bisa kau menipuku? Tidak. Lebih tepatnya sejak kapan Dewa Hitam masuk ke dalam tubuhmu?”


Romusha mengeluarkan hawa membunuh yang dapat dirasakan oleh orang-orang dalam rumah Amiya. Kini, Romusha menarik pedang guna menyerang Yongchun yang ia pikir telah dikendalikan oleh Dewa Hitam.


Karena itulah mengapa Romusha takkan segan-segan menarik pedang di hadapan Yongchun.

__ADS_1


“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Romusha. Pada akhirnya ini semua terjadi. Aku lah yang membunuh istri pertamaku sendiri.”


Tiba-tiba Yongchun melantur sendiri. Tatkala pada saat itu ia tanpa senjata apalagi perisai. Bahkan setidaknya untuk berjaga-jaga dari serangan Romusha saja tidak. Ia seperti pasrah begitu saja. Tak ada orang yang bisa ia ajak cerita, maka dari itu Yongchun bercerita pada Romusha yang sama sekali tidak akrab dengannya.


“Kau? Membunuh istrimu sendiri? Dewa Hitam 'kah? Jawab!” Romusha kembali menarik pedangnya, setengah bilahnya mencuat dari sarung pedang.


“Tidak. Aku, Yongchun yang membunuhnya. Ah, tetapi sebetulnya itu bukan nama asliku. Tapi tak apa. Lagipula nama tidak penting,” ucap Yongchun melantur kembali.


“Hei kau!”


Srang!


Utuh, pedang Romusha keluar dari sarungnya. Romusha dengan berani mengarahkan pedang ke leher Yongchun tanpa ada keraguan sama sekali.


Namun pada saat itu, Yongchun tetap bersikap biasa saja. Dirinya kemudian menatap Romusha dengan sedih, meski mata itu tidak ada tapi tetaplah jelas bagaimana raut wajahnya saat ini.


“Dewa Hitam berada dalam tubuhku. Lalu, aku sendirilah yang membunuh Relia karena Relia sudah tidak tertolong lagi. Romusha,” ungkap Yongchun.


“Mungkin, lebih baik aku pergi,” imbuh Yongchun ia kemudian membalikkan badan dari arah pintu.


“Tunggu! Aku bilang tunggu, Yongchun! Aku bertanya padamu, kenapa Dewa Hitam ada di tubuhmu sekarang?! Katakan, apa kau dikendalikan?”


“Tidak. Dia tidak bisa mengendalikan tubuhku.”


“Lalu bagaimana bisa dia masuk ke dalam tubuhmu sedangkan namamu itu palsu!”


“Mungkin karena istri pertamaku pernah menyebutnya di depan Dewa Hitam saat mereka bertarung.”


Grep!


Romusha menarik lengan Yongchun dan membuatnya berhadapan dengannya. Lantas berkata, “Kalau begitu kenapa kau membunuh istri pertamamu itu?” Ia kembali bertanya.


“Karena dia dikutuk oleh kekuatan God Ear. Maksudku yang berhubungan dengan telinga. Dia dibuat tuli dan kalau aku tidak membunuhnya maka dia akan menjadi arwah neraka yang takkan bisa kembali ke tempat di mana seharusnya dia berada.”


Tap, tap!


“Kalau begitu aku akan pergi.”

__ADS_1


Yongchun melangkah pergi entah ke mana. Tampaknya, ia akan melakukan sesuatu atau mungkin teringat suatu hal yang harus ia kerjakan.


“Kak Asyura!” panggil Nia, ia keluar dari balik pintu dan menarik lengan Yongchun.


__ADS_2