
Nia menghentikan langkah Yongchun yang kemudian ia menarik lengan Nia lalu mendekapnya pelan.
“Ah, kak Asyura?”
“Jangan menanggung beban di pundak kalian lagi. Sudah cukup. Kalian tidak perlu melakukan apa-apa,” ucap Yongchun.
“Tetapi bagaimana dengan kakak? Kita akan pergi dari tempat ini bukan?” tanya Nia.
“Sayangnya tidak.” Yongchun menggelengkan kepala. “Aku datang kemari untuk menghentikan peperangan ini. Terutama Jiwa Dewa Hitam yang ada pada tubuhku. Bisa dikatakan—”
“Tanggung jawab?! Begitu?” sahut Nia berteriak keras. Ia seolah tidak mau meninggalkannya saat memeluk Yongchun dengan erat.
“Tidak akan aku biarkan kau pergi meninggalkan kami. Kak Relia sudah pergi karena menyelamatkan aku dan bayinya. Tapi kau tetap akan pergi begitu saja?” celoteh Nia menundukkan kepala, enggan terlihat oleh Yongchun yang berada dekat dengannya.
“Aku tidak mau! Kau bukannya menguburkannya lebih dulu tapi kau malah pergi?! Apa kau tidak waras! Kak!” imbuhnya kembali berteriak keras.
Semua ocehan Nia selalu berujung menyalahkan Yongchun namun akan tetapi ada sesuatu di balik semua perkataan kasarnya yang juga sampai membuat Nia menangis.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan kami.”
“Tenang saja Nia. Aku sudah membisikkan kalimat pada Relia untuk yang terakhir kali. Dia akan tenang meskipun aku tidak ikut dalam pemakaman. Aku tahu ini tidak sopan, tapi jika aku tak pergi sekarang maka dunia tanpa perang itu takkan berwujud.”
Deg!
Perkataan Yongchun sudah mengarah ke jalan maut. Sekalipun Yongchun pernah bercerita pada Nia tentang dirinya yang dibawa ke alam neraka atau sejenisnya, tetapi ini jauh berbeda. Ia akan dibawa ke alam neraka karena sosok yang di dalamnya.
Jantung Nia berdebar kencang dalam beberapa waktu ketika mendengar hal tersebut.
“Apa kakak ingin bunuh diri! Karena Dewa Hitam atau apalah itu ada di tubuh kakak!?” teriak Nia seraya menarik pakaian Yongchun dan menatapnya tajam.
“Kakak merasa bersalah, 'kan? Iya, aku tahu! Aku juga begitu. Tapi kakak tidak perlu melakukan hal itu karena kakak sudah mengorbankan segala hal termasuk sahabat kakak sendiri!” teriak Nia sekali lagi.
“Daripada bunuh diri, aku tidak bisa melakukan itu. Karena dia tidak akan membiarkannya,” ucap Yongchun seraya menatap kedua telapak tangannya.
“Apa?!” Romusha bahkan terkejut.
__ADS_1
“Aku harus melakukan sesuatu pada dia. Karena itulah aku harus menjauh dari banyak orang,” tutur Yongchun.
Menurut pengamatan Romusha, tak banyak orang akan tetap hidup bila bertemu dengan Dewa Hitam, seperti apa yang telah terjadi pada Relia sekarang. Namun, kali ini ada sebuah fenomena tak biasa telah terjadi di sekitarnya. Lantaran Yongchun tetap hidup meskipun jiwa Dewa Hitam ada di dalam tubuhnya saat ini.
Bagi Romusha, Yongchun haruslah tetap dibunuh. Namun jika Yongchun dalam kondisi tak sadarkan diri seperti God Soul dan God Ear sebelum ini. Akan tetapi kasus ini sedikit berbeda dengan Yongchun yang tetap pada kesadarannya sendiri.
Romusha telah meyakini bahwa Yongchun bisa melakukan sesuatu terhadap Dewa Hitam. Semula ia hendak menyerang Yongchun pun menjadi ditiadakan. Romusha kembali menyarungkan pedang miliknya.
“Setidaknya aku tidak perlu bertarung untuk saat ini. Karena pedangku tidak berjumlah banyak,” lirih Romusha.
Yongchun melirik ke sisi kanannya, ia kemudian memanggil nama seseorang tertuju pada semak belukar di sana.
“Crow!”
Srek, srek!
Semak belukar pun bergeser, muncul seorang pria berjubah hitam. Ia membuka tudung jubahnya, menunjukkan wajah seorang pria tua dengan rambut memutih.
“Kenapa kau tahu aku berada di sana?” Bing He bertanya.
Sebagian Bing He tahu mengenai keadaan rumit yang telah terjadi beberapa waktu sebelumnya. Hanya saja ia masih tidak mengerti dengan pembicaraan Dewa Hitam tadi.
“Tolong bawalah Relia ke negeri kita. Lalu maafkan aku yang tidak bisa ikut membawanya pulang, Crow.”
Crow tentu akan menuruti perintah Yongchun. Tapi ada beberapa hal yang hendak ditanyakan olehnya pada Yongchun.
“Asyura.”
“Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan,” kata Yongchun mengerutkan kening.
Bing He menunjukkan ekspresi yang tidak biasa ketika mendapati sang raja-nya melemah dalam kondisi seperti ini. Mungkin ia tidak tahu banyak hal buruk menimpa sang raja namun tetap ia mengerti akan keadaan saat ini.
“Dewa Hitam yang kau bicarakan pasti itu berhubungan dengan peperangan yang selama ini kita lakukan. Istri pertamamu menjadi korban karena itu, yang sasarannya juga anakmu.”
“Ya. Sepertinya kau tidak perlu bertanya lagi.”
__ADS_1
“Tidak. Ada hal yang ingin aku tanyakan dan sekaligus berharap sesuatu padamu. Karena aku berharap kau dapat pulang dalam keadaan sehat, apakah kau akan kembali ke tempat asalmu? ” tutur Bing He.
Yongchun membalikkan badan dari mereka lantas berkata, “Aku tidak bisa mengatakannya karena aku sendiri belum yakin.”
Semilir angin, setetes darah bau anyir, tubuh yang gemetar lalu air mata yang mengalir pelan membasahi wajah yang kasar akan luka. Bagai garam ditabur di atas luka, pedih rasanya ketika ia mengingat kematian sang istri. Belum lagi ia harus menanggung beban yang secara tak langsung ditujukan kepadanya.
Dewa Hitam, benar-benar merepotkan. Kadang dirinya ingin memaki namun hal itu percuma dilakukan. Bahkan membunuh dirinya sendiri saja tidak bisa ia lakukan karena Dewa Hitam dengan sengaja melakukan mempertahankan tubuh Yongchun yang tidak bisa dikendalikan.
Sebab, jikalau tubuh Yongchun dalam keadaan sekarat bukannya Dewa Hitam dapat mengendalikan tubuh itu justru ia juga mendapatkan ganjaran setimpal. Karena itu juga lah Dewa Hitam menggunakan segala cara tuk mempertahankan tubuh Yongchun, atau merayunya agar mudah dikendalikan melalui kata-kata.
“Tunggu saja, aku akan mengambil alih kendali tubuhmu ini. Tenang saja. Aku ini handal,” tutur Dewa Hitam dengan sombongnya.
***
Datangnya Bing He membuat kecanggungan di antara mereka. Pria tua itu kemudian beralih pandang pada Nia dengan tundukkan kepala ia mengucapkan beberapa patah kata.
“Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kalian berdua. Terlebih kedatanganku sedikit terlambat,” kata Bing He.
“Bukan salahmu. Tugasmu itu menjaga Bon ...dan melihatmu di sini apakah itu berarti Bon ada di sini?”
“Ya. Sepertinya ada yang berubah.”
Dalam beberapa waktu Bing He menatap Romusha yang juga menatapnya. Sekilas mereka berdua merasakan kecanggungan serta merasa curiga karena beberapa hal.
“Tak perlu menatapku. Aku tahu apa yang kau pikirkan.”
“Jelas, ini semua karena "undangan",” balas Bing He lantas pergi.
Bing He pergi tuk menemui Yongchun yang saat itu tidak memiliki senjata di pinggang atau punggung sama sekali. Beruntung Yongchun belum pergi menjauh.
“Asyura! Kau mau ke mana dengan tanpa senjata begitu?”
Langkah Yongchun kembali terhenti. Ia melirik ke belakang tanpa menghadapnya. Ia mengeluarkan api kemerahan dengan sedikit warna kebiruan pada tangannya, yang kemudian memunculkan sebuah pedang.
Hanya dengan menunjukkan hal seperti itu. Tentu Bing He merasa takjub. Ia pun tak lagi bertanya apa pun padanya.
__ADS_1