
Semua terasa hampa apabila seseorang yang berharga telah menumpahkan darah mereka, membiarkan mayat itu terbaring tanpa jiwa. Tak tahu-menahu berada di mana dirinya sekarang.
Sosok yang ditinggalkan, merasa ingin meninggalkan dunia ini juga. Namun begitu ia menoleh ke belakang, ia pun mengerti bahwa itu tidak bisa dilakukan. Sebab, perjuangan mereka yang sudah meninggalkan dirinya akan sia-sia.
Pria buta dengan tanpa senjata di punggung atau bahkan terselip di pinggangnya, mengikat kedua matanya agar tertutup dengan kain, kobaran api hitam itu pun padam begitu ditutup oleh sehelai kain tipis.
Semilir angin yang dingin, entah kenapa terasa hangat. Yongchun menengadahkan kepala serta telapak tangannya ke langit, berharap hujan yang memenuhi kenangan buruk itu takkan ikut melupakan dirinya juga.
Seseorang datang. Pakaian khas dari pulau Nihonkoku, yukata dengan pola bunga sakura. Tusuk rambut yang menggelung rambutnya hitam dengan rapi ke atas tampak seperti lonceng kecil yang berdenting lirih.
Wanita itu kemudian menunjuk Yongchun sambil berkata dengan raut datarnya, “Apa kau tersiksa? Semua kenangan baik dan buruknya selalu terjadi secara bersamaan.”
Seolah bertanya padahal ia sok menasehati. Lantas Yongchun membalikkan badannya, menoleh ke belakang dan mendapati wanita itu.
“Perkenalkanku, God Ear. Atau Arashiyama.” Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai God Ear itu kemudian membuka tangannya dengan jari jemari yang rapat, meminta berjabat tangan.
Beberapa menit telah berlalu, mereka hanya bertukar tatap dengan tidak ramah, bisa saja mereka kembali saling sapa tapi tidak. Bahkan mereka berdiam diri selayaknya orang asing yang baru pertama kali bertemu.
“Kau siapa?” Barulah Yongchun membuka pembicaraan.
“Sudah saya katakan saya adalah Arashiyama, God Ear.” Wanita itu kembali memperkenalkan diri seraya menggoyangkan telapak tangan itu tuk meminta jabat tangan padanya.
“Kau ...meminta apa dariku?” Justru Yongchun berpikiran hal lain.
Arashiyama menghela napas panjang, ia lantas menurunkan tangannya dan berbalik badan membelakangi Yongchun. Dengan cuek, ia mengangkat kaki kanannya untuk segera pergi.
Berharap ditahan oleh Yongchun, tapi ternyata Yongchun juga berbalik badan untuk pergi ke arah sebaliknya. Pada saat itu juga, Arashiyama mendengar semua keluhan Yongchun meski mulut Yongchun tertutup rapat dan tidak bicara.
Sekali lagi wanita bersanggul itu berbalik badan, melihat punggung Yongchun yang semakin menjauh, Arashiyama mengejarnya dengan perlahan. Langkah kaki kecil, dan sedikit berlari.
__ADS_1
“Aku ingin mati, sudah cukup. Aku lelah. Kenapa aku hidup? Kenapa istriku dan sahabatku yang mati? Hei ...kenapa?” Arashiyama terus mengatakan apa yang ia dengar dari isi hati Yongchun.
Tap, tap.
Langkah dari kedua orang itu melambat ketika Arashiyama kembali mengulangi perkataan yang sama. Seiring berjalannya waktu, Yongchun berhenti dan sekali lagi menoleh ke belakang.
“Hei ...apa kau tersiksa? Apa kau kesepian? Hei,” ucap Arashiyama dengan wajah datarnya itu.
Awalnya Yongchun berpikir bahwa wanita yang membuntuti dirinya ini sama sekali tidak punya pekerjaan, namun ia akhirnya mengerti jika menganggap semua perkataannya itu serius. God Ear, Arashiyama.
“Hei ...apa kau ingin mati?” tanya Arashiyama, sekilas alisnya berkedut.
“Kau benar-benar mendengarkan semua yang bahkan tidak aku katakan langsung dengan mulutku sendiri, ya.” Yongchun tak menjawab, ia justru mengutarakan isi hatinya yang merupakan pendapat Yongchun tentang wanita itu.
“Benar.” Arashiyama menganggukkan kepala.
Arashiya memperkenalkan diri tanpa ragu. Sedangkan nama itu begitu penting, seharusnya ia tahu bahwa saat ini Dewa Hitam berada di tempat mana sekarang. Kalaupun merasakannya, itu artinya ia percaya bahwa dirinya takkan dirasuki oleh Dewa Hitam.
“Kau God Ear yang baru saja lahir itu?” ujarnya bertanya seraya mengacungkan pedang pada wanita itu.
“Benar,” singkat Arashiyama merasa tak peduli dengan pedang yang tengah diacungkan sekarang. Bahkan dengan percaya dirinya ia takkan terluka, menghadap Sigar secara langsung.
“Saya Arashiyama, God Ear yang baru. Semua ingatan yang God Ear dulu miliki sekarang ada pada saya.” Sejenak ia berhenti, mengacungkan jari telunjuk lalu berkata, “Kau pasti Pikiran Dewa.”
“Kau sama sekali tak berwaspada terhadapku?”
“Tentu saja tidak. Karena kalau dipikir secara logika, saya tidak mengancam dirimu ataupun pria yang berkata ingin mati di sini,” ujar Arashiyama seraya menunjuk ke arah Yongchun di belakangnya.
Entah kenapa mendadak situasinya menjadi canggung. Terkadang aura nya berat sebelah namun sekarang, tak hanya Yongchun bahkan Sigar juga merasa heran pada God Ear saat ini.
__ADS_1
Sigar merasa bahwa Arashiyama takkan membuat situasi yang telah terjadi akan semakin runyam. Melihat kepolosannya, Sigar berpikir bahwa Arashiyama terlalu bodoh. Sebisa mungkin ia harus menekan perbuatan sembrononya itu.
Sigar menurunkan pedangnya lantas berkata, “Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau pikirkan. Persis seperti God Ear yang dulu, meskipun dia jauh lebih pintar darimu.” Ia mengatakannya dengan sedikit menyindir.
“Perlu saya jelaskan?” tanya Arashiyama seraya menurunkan kedua telunjuk pada mereka.
“Tidak perlu.” Sigar menolak. Ia menghela napas begitu tahu ternyata Arashiyama begitu polos dan bodohnya. Sampai membuatnya menepuk jidat serta menggelengkan kepala.
“Kau tampak sangat resah,” sindir Yongchun berbalik badan.
“Kenapa berkata begitu. Hei, aku tahu apa yang terjadi pada istrimu. Aku turut berduka,” ucap Sigar.
“Ya.” Yongchun menjawabnya dengan sedikit pedih. Tampaknya ia enggan mengingat kenangan buruk sekalipun hujan rintik tak turun lagi.
“Jangan berkata sok judes, saya tahu kalau God Eye terlihat patah hati. Akan lebih baik jika Anda berdua minum bersama,” ujar Arashiyama menyarankan.
“Kau menyarankan kami untuk minum bersama? Ha! Jangan bercanda, kami bahkan tidak akrab sama sekali.” Dengan tegas Sigar menolak saran dari Arashiyama. Terang-terangan berkata takkan melakukan hal itu karena alasan tak pernah akrab sama sekali.
“Kalau God Ear terlahir kembali. Lalu bagaimana dengan God Soul? Apa yang terjadi padanya?” tanya Yongchun tiba-tiba. Sontak Sigar terhenti langkahnya karena juga penasaran tentang hal yang terjadi pada God Soul.
“Saya merasa tegang berada di antara kalian berdua. Entah mengapa wajah saya terasa panas.” Alis Arashiyama berkedut lagi. Ia kemudian menutup wajah dengan kedua telapak tangannya selama beberapa detik.
Terhitung 3 detik, Arashiyama kembali membuka telapak tangannya.
“Ternyata kalian berdua masih berada di sini?”
Tak ada jawaban dari mereka berdua yang saling membelakangi dengan Arashiyama di tengah mereka.
“Baiklah ...kurang lebih saya mengerti keadaan God Soul. Dia masih hidup dengan damai, sepertinya dia pulang ke asalnya untuk menemui seseorang,” ujar Arashiyama.
__ADS_1
Mereka berdua menunjukkan ekspresi yang sama, yakni terkejut lantaran God Soul masih hidup. Ini adalah keajaiban. Sesaat mereka berdua merasa lega akan berita baik itu.