Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
075. Peran Pahlawan Ditentukan


__ADS_3

Pagi yang diiringi desiran angin. Hangat dan terasa sejuk, sesaat menikmatinya dan tetap terlelap. Namun setelah beberapa saat, ketika kelopak bunga terjatuh di atas wajahnya lewat celah jendela, ia terbangun.


Silau saat cahaya mentari menyorotnya langsung, ia pun mengerjap-ngerjapkan kedua mata. Melirik ke samping dan mendapati seorang pria yang tengah duduk bersandar dengan menundukkan kepala.


Kemudian menghela napas dan meraba lehernya yang dibalut dengan perban putih, ia kemudian mengingat suatu kejadian.


“Ini karena aku tidak bisa melawan Pemimpin Wang,” gumam Yang Jian lirih.


Tak bisa ia mengambil posisi duduk sebab tubuhnya masih terasa lemas. Yang Jian pada akhirnya hanya terus berbaring di lantai yang hangat.


Di dalam pondok Wang ini, Yang Jian kemudian menoleh sekali lagi—melihat pria yang ada di dekatnya. Berusaha memastikan orang ini adalah musuh atau bukan.


Namun, saat Yang Jian hendak meraihnya, tiba-tiba saja pria itu terbangun. Lalu menengadah dan menoleh ke arahnya langsung.


“Pemimpin Yang, kau sudah bangun?” tanya pria itu. Yang tidak lain adalah Yongchun.


“Ternyata hanya kau. Aku pikir siapa. Ngomong-ngomong apa kau yang telah membawaku kemari?” tanya Yang Jian.


“Iya, benar. Aku yang membawamu kemari. Tapi sepertinya melihat kau masih ada di sini, itu artinya Pemimpin Wang tidak mengusirmu selama aku pergi.”


“Memangnya kau pergi ke mana?”


“Hm, tidak. Bukan urusanmu, Pemimpin Yang. Lalu apakah aku boleh membicarakan tentang Pemimpin Yin denganmu sebentar?” ujar Yongchun mengubah topik pembicaraan.


“Silahkan saja. Kau pasti ingin bertanya tentang siapa dia sebenarnya, 'kan?” Yang Jian dengan mudah menebaknya.


“Ya, begitulah. Pemimpin Yin itu masih remaja labil, ya?” pikir Yongchun dengan suara rendah.


Yang Jian tersentak, tak pernah ia sangka kalau Yongchun akan menanyakan hal itu. Ia sedikit meragu untuk mengatakannya tapi kalau tidak dijawab juga pasti Yongchun tahu sesuatu, itulah yang terbesit dalam pikiran Yang Jian.


“Bicaramu juga sudah lancar dan kau tidak bingung sedang ada di mana. Melihatmu bereaksi begitu, seolah kau sudah bangun lebih dulu sebelum aku kembali ke sini lagi, apa aku benar?” duga Yongchun, ia lagi-lagi mengubah topik pembicaraannya.


“Baiklah ...baik. Aku akan jawab satu persatu, Pemimpin Yongchun. Aku memang sudah bangun semenjak kau menghilang entah ke mana. Lalu, Pemimpin Yin memang masih anak-anak. Dia berusia 17 tahun,” jawab Yang Jian dengan setengah hati.

__ADS_1


“Sudah kuduga. Ya sudah aku akan pergi, jaga diri baik-baik ya!”


Raut wajah Yongchun seketika berubah semula gelap menjadi terang, ia sumringah karena tahu ternyata Yin masih bocah.


“Tunggu, apa maksudmu!?” tanya Yang Jian yang memiliki firasat buruk terhadapnya.


“Apa maksudku?” Yongchun berbalik tanya lalu menoleh. “Tidak. Bukan apa-apa,” ucapnya sambil tersenyum.


“Dia adikku! Kau apakan dia?!” Keluar sudah perangai aslinya, kini Yongchun jadi tahu hubungan antara Yin dan Yang.


Yin dan Yang, dari nama mereka jelas berbanding terbalik. Marga keluarga yang tak sama memang menjadi pembeda, tapi tidak dengan wajah mereka yang sekilas mirip.


“Adikmu? Oh, dia adikmu rupanya. Yah, karena kau adalah kakaknya maka aku sarankan untuk memberitahukan ini pada adikmu,” ucap Yongchun dengan suara rendah. “Jangan mudah percaya dengan apa yang dia lihat,” sambung Yongchun dengan niat memperingatkan.


“Hei—!”


Yongchun membuang muka ketika sekali lagi Yang Jian memanggilnya. Tepat di hadapannya langsung, kini ia melihat Wang Xian tengah berdiri di depan pondoknya sendiri.


Yongchun kemudian menghampirinya dan meninggalkan Yang Jian di sana.


Tapi seperti biasa, si alis tebal ini berwajah datar dan rasa bencinya kepada Yongchun juga masih tersisa hingga saat ini.


Ia melirik Yongchun dengan sinis lalu kemudian berkata, “Ternyata kau bisa keluar dari dasar neraka. Sungguh ...tak mengherankan.”


Terdengar tak bersahabat sama sekali, bahkan kalimat yang terdengar memuji pun serasa disindir dengan sarkas.


“Kau juga pernah ke sana?” tanya Yongchun dengan wajah bingung.


“Pernah. Semua orang yang bersinggungan dengan Kaisar Ming tentu pernah ke neraka namun yang selamat hanyalah aku,” ucapnya bernada sombong.


“Dan aku! Hehe ...” sambung Yongchun dengan tersenyum lebar.


Bruk! Yang Jian terjatuh setelah ia berupaya untuk kembali berdiri. Kedua kakinya masih lemas tak bertenaga, sehingga Wang dan Yongchun pun seketika menoleh ke belakang.

__ADS_1


“Kau tak apa?” tanya Yongchun yang kemudian menghampirinya.


“Kau apakan Yin Ao Ran?” tanya Yang Jian dengan keringat bercucuran. Napasnya juga masih terengah-engah.


“Adikmu tidak ada masalah. Hanya saja dia tertipu. Tak masalah bukan? Selama dia masih hidup?” sahutnya dengan menganggap semua yang ia katakan barusan sangat mudah.


“Omong kosong!” pekik Yang Jian penuh amarah.


“Ya, tapi dia tidak sepenuhnya tertipu.”


“Daripada membahas hal yang tak berguna. Akan lebih baik jika aku mengatakan hal ini padamu,” sela Wang Xian, ia menengahi mereka. Tampak raut wajah Yang Jian sedikit berubah saat tahu Wang Xian ada di sini.


“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Yongchun padanya.


“Biar aku jelaskan. Aku sudah memberitahukan rencana yang akan kau mulai pada Wang Xian. Dia akhirnya menyetujui apa yang kau rencanakan meski sedikit kesal,” jelas Yang Jian.


“Aku mengerti. Pemimpin Wang, aku ingin kau jadi pahlawan yang bertikai denganku. Tentu saja kau akan muncul setelah aku membunuh Kaisar Ming,” ungkap Yongchun berwajah serius sembari menunjuk ke lehernya yang berisyarat ia akan memenggal kepala Kaisar.


Kedua pemimpin itu pun langsung terkejut. Tak mengira bahwa Yongchun benar-benar akan melakukannya sendirian. Membunuh Kaisar dengan tangannya sendiri, jelas jika dipikir kembali itu takkan mungkin semudah yang dibicarakan.


“Adikku sudah tahu ...rencanamu, Yongchun.” Yang Jian kembali berbicara dengan suara yang amat lirih seolah enggan mengatakannya.


“Ya! Aku sudah tahu itu. Makanya aku ingin segera melaksanakan rencanaku itu. Kita semua akan bergerak saat festival lentera dimulai!” ungkap Yongchun yang justru semakin bersemangat.


Dia sudah tahu, tapi dia takkan gentar karena itu.


“Hei, kau tahu apa maksud Pemimpin Yang, bukan?” sahut Wang Xian.


“Tentu saja. Karena Pemimpin Yin tahu rencanaku karena itu adalah bagian dari rencanaku.” Yongchun mengatakannya dengan senyum lebar, layaknya menantikan festival tiba demi bersenang-senang.


Terbesit suatu pikiran dalam benak mereka berdua, “Orang gila!”


Bagi para pembelot yang sudah jelas menginginkan kematian Kaisar Ming namun tahu mereka tidak bisa mendekat begitu saja. Karena disebabkan oleh beberapa hal termasuk kekuatan Kaisar Ming sendiri. Namu begitu mereka mendengar Yongchun yang bergerak sendiri itu sungguh ...tidak dapat dipercaya.

__ADS_1


“Kau sudah tahu kekuatan Kaisar Ming yang tak masuk akal, 'kan!?” tanya Wang Xian dengan tegas.


“Aku sudah tahu,” balasnya dengan santai.


__ADS_2