
Diola datang dan kini bilah pedangnya siap memenggal kepala Bon. Namun perhatiannya terfokus pada seorang pria kekar yang barusan keluar dari laut merah.
Li Bai dan Bing He pun menyusul tak lama setelah pertarungan Zhao dengan Bon dan kedatangan Diola saat itu.
“Kau takkan membunuhku, 'kan?” tanya Bon pada Diola. Sekalipun ia tak melirik ke arahnya namun merasakan punggungnya dingin lantaran Diola mengeluarkan aura yang sangat menusuk.
“Iya, tidak untuk sekarang,” jawab Diola seraya ia kembali menyarungkan pedangnya.
“Apa yang terjadi selama aku pergi?” Diola bertanya dan beralih pada Bing He.
“Aku membawa dua tamu kita untuk berkeliling sambil memberikan beberapa makanan dan lainnya,” jelas Bing He sambil menutup kembali tudung kepalanya.
“Baiklah, aku mengerti. Tapi apa-apaan, salah satu tamuku terluka karena kecerobohanmu, Crow. Aku tak pernah berharap para tamuku mendapatkan sambutan yang kurang baik karena bocah ini,” sahut Diola, ia kembali melirik sinis pada Bon.
“Kau memintaku tuk meminta maaf padamu? Biar kujelaskan, siapa yang menyuruh pengkhianat ini berkeliaran?” sindir Bing He.
“Hm, ya, baiklah. Aku memang membebaskannya tapi itu juga karena Raja.”
Semuanya terdiam. Saling memandang satu sama lain. Bon pun juga begitu, ia lantas bangkit dan membersihkan debu-debu yang menempel juga memeras pakaiannya yang bahas kuyup.
Zhao Yun sama seperti mereka, ia terdiam sambil duduk dan menatap laut merah yang tembus pandang, dirinya dapat melihat apa yang ada di bawah laut itu.
“Tuan-tuan utusan, kalian berdua akan lebih baik ikut denganku sekarang. Laut merah bukanlah pemandangan yang biasa dilihat, kalian bisa mati karena itu,” tutur Diola memberi nasihat.
“Aku tahu kalian sangat benci pada pria ini. Tapi melawannya lagi juga akan percuma, dan tenang saja kalian takkan dilukai lagi selama kalian bersama denganku,” imbuhnya.
“Tidak. Maaf, Tuan Diola, kamilah yang sepertinya amat menganggu pria itu. Maaf dan terima kasih.”
Jelas saja, luka dalam Bon memang tidak terlihat tapi Li tahu kalau Bon sedang terluka sama seperti Zhao Yun meski tak seberapa.
“Kau tidak akan ikut denganku?” tanya Diola.
“Kami akan datang lagi kalau memang harus. Tapi saat ini aku perlu bicara dengan temanku,” sahut Li Bai lantas mendekat pada Zhao Yun.
Zhao Yun berwajah murung, tetap ia menatap laut merah seolah tersihir. Saat Li Bai menepuk pundaknya, ia terkejut lantas menoleh ke arah Li Bai.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?” tanya Li Bai.
“Tidak ada. Hanya saja aku masih penasaran. Laut merah dan laut biru tidak menyatu, benar?”
“Ngelantur apa kau hari ini, Zhao Yun? Ingat tujuan kita kemari bukan untuk membuat rusuh dan kalian justru bertarung habis-habisan di laut. Aku benar-benar tak habis pikir,” keluh Li Bai.
“Aku tidak terluka parah. Jadi tenanglah,” ucapnya dengan wajah yang masih murung. Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju ke pemukiman.
Li Bai jadi bingung mengenai sikapnya semenjak Zhao Yun bertarung dengan Bon.
“Yang aku maksud bukan kau. Tapi pria itu, kau telah melukainya. Dia bisa mati,” sahut Li Bai dengan berbisik.
“Aku tahu. Tapi tenanglah, lagipula pria itu juga bukanlah orang yang dianggap sebagai penduduk di sini, 'kan? Lalu ...aku akui dia kuat, dia bisa melawanku dalam keadaan terluka parah, terutama di laut ...aku benar-benar merasa jengkel,” ketus Zhao Yun.
“Apa?! Jadi karena itu kau merajuk seperti ini?”
Entah mengapa ini menjadi masalah konyol. Zhao Yun ternyata merajuk karena Bon yang menjadi lawannya ternyata bisa menghadapinya dengan sekuat tenaga. Kalau hanya dengan pedang kosong, tentu harusnya Bon takkan bisa melawan Zhao yang bertenaga dalam.
Tapi ini berbeda. Bon bisa membalas serangan Zhao Yun yang bertenaga dalam itu, bahkan melukainya.
“Tapi Zhao Yun, lukamu ini ibarat luka gores bagiku, tahu. Seharusnya kau senang, kau baik-baik saja.”
“Hah? Kau pernah melawannya?” tanya Li Bai.
Zhao Yun hanya menggelengkan kepala lalu menjawab, “Sebelum berniat begitu, aku tahu dia bukan tandinganku. Tapi aku masih tak terima kalau pria itu, musuh Tuanku bisa membalas seranganku, heh ...dia kuat tapi hanya dengan pedang kosong? Sungguh tak bisa dipercaya.”
“Ingat Zhao Yun, dunia ini luas. Kau bertemu orang kuat itu wajar,” sahut Li Bai dengan wajah kesal.
***
Pertarungan antar Zhao Yun dengan Bon sempat menggemparkan orang sekitar. Terutama usai mereka bertarung, Zhao Yun yang berjalan dengan air merah yang membasahi seluruh tubuhnya pun terlihat seolah ia banjir darah.
Tetapi, ada satu hal yang membuat mereka terpaku pada sesuatu. Mereka semua tak terkecuali dengan para pemimpin kultus 7 Surgawi serta Kaisar Ming sendiri merasakan yang ada di langit.
Segumpalan aura pekat hitam memancar ke tengah-tengah timur. Mereka menengadah dan sesaat tubuh mereka bergidik merinding.
__ADS_1
Aura ini hanya dimiliki oleh satu orang. Pekat menyeramkan dan sungguh menyakitkan jika terus dirasakan.
“Asyura?!”
Langkah mereka terhenti. Terdiam dalam lamunan. Hanyut karena pancaran aura di langit.
Sebab Yongchun, ia kini jatuh dari langit. Padahal sudah jelas ia berada di dasar neraka tapi kenapa ia justru jatuh dari langit? Pertanyaan ini terbesit dalam benaknya, namun percuma saja karena jawabannya takkan muncul dengan mudah.
Ia membiarkan tubuhnya jatuh dengan kecepatan tinggi, merasakan angin dan menembus awan putih bagai kabut. Langit cerah yang biru dapat ia lihat ke sekeliling. Sesaat Yongchun merasa sejuk, tetapi lama-kelamaan ia merasa panas menyengat ke seluruh tubuh.
“Eh, ini bukannya laut timur tengah!?”
Terkejut, ia dijatuhkan ke wilayah sendiri. Tapi setidaknya Yongchun beruntung karena dijatuhkan tepat di tengah-tengah laut. Hantaman kuat menghancurkan aliran laut yang cukup tenang, dua gelombang laut itu menjulang dan berbalik arah. Seolah membelah lautnya.
“Huh, apa ini? Musim semi telah berakhir tapi kau baru muncul?” gumam Kaisar Ming.
Nelayan yang kebetulan sedang berada di laut lepas, melihat jelas bahwa ada seseorang yang barusan terjatuh, ia segera menghampirinya dengan kapal kecil.
Aura yang menekan kuat itu tiba-tiba saja lenyap. Beberapa orang termasuk Kaisar Ming terkejut karena hawa keberadaan Yongchun yang menghilang bak ditelan bumi hidup-hidup.
“Hei, kau tak apa?!”
Yongchun nyaris menyentuh dasar laut. Kesadarannya pun hampir memudar, kini tubuhnya terasa diangkat oleh sesuatu.
Saat ia menyadari apa dan siapa, ia lantas terkejut dan kemudian berdiri.
“Hei, apa kau baik-baik saja?” tanya Nelayan itu.
“Ah, iya. Aku sempat merasakan ada guncangan di kepalaku. Apa kau yang menyelamatkan diriku?” tanya Yongchun yang agak linglung.
“Iya, kau barusan jatuh ke langit. Oh tunggu—”
Tampak Nelayan itu melihat Yongchun dari ujung kaki hingga kepala. Merasa familiar dan kemudian ia menganga setelah tahu siapa pria yang ada di depannya.
“Raja!?”
__ADS_1
Nelayan itu menyadarinya. Sontak terkejut, Yongchun menghindari tatapan muka. Ia masih berdiri di dalam kapal kecil, sesaat terdiam lalu mulai mengatakan sesuatu.
“Aku bukan dia!” elaknya berbohong.