
Dewa Hitam kini bangkit dengan menggunakan tubuh God Soul.
“Bukankah seharusnya kau bangkit saat kami semua berkumpul!” teriak Yongchun seraya menaruh telapak tangannya ke depan dada.
Yongchun kemudian melompat mundur seraya mengerutkan kening dan menggenggam satu pedang dengan kedua tangannya. Ia menggenggamnya dengan kuat sampai tangan yang kapalan itu terasa sakit.
“Hm, ya. Itu benar. Kalau kalian berkumpul, barulah aku bangkit. Tetapi karena jiwa milikku tidak dapat ditampung lebih lama di tubuh manusia. Makanya aku melakukan hal ini,” tuturnya seraya mengangkat bahu.
Tubuh God Soul sudah dipenuhi oleh goresan-goresan hitam mengerikan. Hal itu membuatnya teringat akan goresan yang berasal dari serangan Kaisar Ming Guo terdahulu.
Yongchun berdecak kesal.
Dewa Hitam mengeluarkan tombak yang berwarna kehitaman pekat. Aura yang menyelimuti seluruh senjata itu pun sama pekatnya, hingga langit malam pun terkalahkan.
Dirinya melesat begitu cepat. Pergerakan yang sulit dihindari. Begitu mata tombak tertuju ke arah mata Yongchun, Yongchun lantas hanya dapat mengelakkan kepala.
Slash!
Lalu kesempatan dalam celah yang sempit, Yongchun menebas tubuhnya tanpa ragu. Terdapat kobaran api yang membakar di atas luka itu. Api yang hitam, yang juga adalah milik Dewa Hitam.
“Kau pikir ini bisa membuatku terluka? Wahai Mata-ku!”
Cruak!
Tombak berputar dengan sendirinya. Lantas menyerang Yongchun dengan membabi buta. Sampai Yongchun dibuat terdesak mundur seperti tikus kecil.
“Berikanlah mata itu padaku!” Dewa Hitam kembali berbicara dan menatap Yongchun dengan bola mata kehitaman legam.
“Kenapa aku harus memberikannya. Karena aku tahu itu akan membuatmu semakin kuat!” pekik Yongchun seraya menghentikan mata tombak yang berputar dengan pedangnya.
Akan tetapi, tombak itu jauh lebih kuat. Bahkan tubuh pedang milik Yongchun sampai patah terpelanting ke belakang. Secara tidak sengaja, ujung patahan pedang menggores wajah Yongchun.
“Heh, itu benar juga. Tapi ternyata ada orang yang lancang terhadapku, ya? Menolak perintah begitu.”
CTAR!
Petir menggelegar dari langit. Awan keabuan bergumul-gumul dan kembali menunjukkan kilat petir sekali lagi. Menyambar tombak yang dipegangnya, seketika arus petir itu mengalir dalam tombak.
Untuk sesaat, aura yang dikeluarkan Dewa Hitam semakin kuat. Membuat keberadaan Yongchun hanya seperti seekor serangga. Dan hanya mampu menundukkan kepala dalam-dalam seolah takut dan merasa hormat pada sang keagungan.
Saat itu Yongchun berpikir,
“Lawanku ini ...dewa atau iblis?” Sembari tersenyum tipis dengan kerutan di dahi. Bukan bahagia melainkan Yongchun sudah dibuat gila olehnya.
__ADS_1
“Mata-ku. Aku harap kau mau memberikan mata itu sekarang. Dan tenang saja, soal cerita jika aku bangkit kalian akan mati itu tidak akan terjadi.” Sekali lagi Dewa Hitam meminta mata itu kembali seraya mengulurkan tangan.
“Sebelum itu. Apa yang sebenarnya kau rencanakan di dunia ini?” tanya Yongchun seraya mengusap wajah lalu melambaikan tangan ke depan matanya untuk tetap fokus melihat ke depan.
“Rencana, ya. Selain kembali ke dunia atas, tidak ada lagi. Memangnya kenapa?” Kemudian Dewa Hitam berjalan menghampirinya.
“Hanya itu?” tanya Yongchun tidak percaya.
“Ah, satu lagi. Aku ingin membalas dendam pada semua mahluk yang ada di atas sana.”
Ketika ia membicarakan tujuannya itu, ia membelalakkan kedua mata. Terasa seram hingga membuat Yongchun bergidik merinding.
“Bagaimana jawabanmu?”
Yongchun membuka mulut, tetapi setelah beberapa saat ia kemudian bungkam. Dewa Hitam berhenti berjalan dengan tubuh God Soul, dan tiba-tiba saja ia melesat hingga pijakannya hancur berantakan.
“Sudah kuduga, kau tidak berniat untuk itu.”
SLASH! SLASH! SLASH!
Kilat-kilat petir pada setiap ayunan tombak menerjang tubuh Yongchun bagai ombak. Yongchun tentu saja akan kalah secara kekuatan di hadapannya sudah jauh dari jangakauannya.
Jauh lebih kuat!
Kedua senjata terus beradu dalam arus pertarungan yang meledak-ledak. Detik demi detik dihabiskan sampai cucuran keringat dan darah bercampur jadi satu dengan tanah.
Dewa Hitam selalu mengayunkan tombak dengan sasaran menuju mata Yongchun. Dewa Hitam benar-benar mengincar mata-nya. Mata yang ada di balik mata buatan Yongchun itu.
“Aku tidak akan membiarkanmu bangkit! Itulah keputusanku!”
Satu tebasan melingkar, satu-satunya pedang yang ia miliki hanyalah tersisa satu saja sekarang. Ia akan menggunakannya dengan kehati-hatian.
Cara menambah kekuatan Yongchun sendiri, tak lain dengan menggunakan tenaga dalam serta kekuatan hitam itu. Kobaran api melingkar membentuk pusaran cetek dan menghembuskan angin ke arahnya.
“Bodoh!”
Tapi itu semua tak berguna. Dewa Hitam kembali melesat dan sudah berada di hadapan Yongchun saat ini. Yongchun terpaku, ia tersandung batu lalu terjatuh begitu saja.
Gedubrak!
Ketika Yongchun terjatuh tanpa sadar. Mata tombak sudah berada dekat dengan salah satu matanya.
“Hm, matanya terhalang karena benda jelek ini, ya.”
__ADS_1
Krak!
“Urgh! Kau!”
Yongchun merasa nyeri lantaran kedua mata buatannya dicabut dengan ringannya. Seperti hanya mencabut benang dari jarum.
Yongchun lekas bangkit dan kemudian kembali mundur seraya menggenggam erat satu-satunya pedang miliknya. Tubuh Yongchun gemetaran kuat, ia sudah tak sanggup melawan Dewa Hitam.
“Hah, hah ...seumur-umur baru kali ini aku melawan sesosok yang tidak masuk akal.”
Yongchun kemudian berlari menghindarinya. Sengaja masuk ke area perhutanan yang bisa saja Yongchun tersesat kemudian. Namun ia tak peduli, karena Dewa Hitam tetap mengejarnya dan terus mengejar hingga nanti ia mendapatkan mata Yongchun.
“Kau mau ke mana?!” pekikan sang Dewa Hitam menggaung keras hingga pepohonan dan segala macam seolah terhempas oleh angin kuat.
“Ugh! Tangkap saja kalau kau bisa. Lagipula kenapa sesosok tak masuk akal itu harus bangkit!? Persetan dengan sejarah atau apa lah itu! Aku bukan aliran sesat!”
Yongchun berlari tanpa arah. Sampai-sampai dirinya berada di suatu tempat yang tidak asing lagi baginya. Dekat dengan kuil bukit.
“Tempat ini ...oh, tempat Shira tinggal. Aku juga baru mengingat bahwa tempatnya memiliki aura terang. Aku harus mencoba untuk memancing dia ke sana.”
Menaiki setiap anak tangga dengan berlari, tentu saja itu sangat lelah untuknya. Namun terasa berbeda ketika ia berlari menggunakan tenaga dalam. Jadi energinya tidak sia-sia untuk itu.
“Kemari kau!”
Dewa Hitam berlari secara zig-zag menuju ke atas. Menghampiri Yongchun yang sudah berada dekatnya. Yongchun lantas menoleh ke belakang setelah menaiki posisi anak tangga paling tengah.
Swush!
Angin lagi-lagi berembus tak wajar. Yongchun pun tak menemukan siapa pun yang mengejar termasuk Dewa Hitam yang merasuki tubuh God Soul.
“Ke mana—ah?”
Salah satu kakinya terseret ke bawah anak tangga. Yongchun tidak tergelincir atau apa namun karena ini ulah Dewa Hitam.
Brak! Bruk!
Ia kehilangan keseimbangan sehingga berguling ke bawah dari sana. Yongchun sama sekali tidak mengira bahwa Dewa Hitam akan sengaja mendorong tubuhnya.
“Padahal dia bisa membunuhku begitu saja. Lantas kenapa?” gumam Yongchun.
Srkkkk!!!
Pada akhirnya Yongchun menghentikan gerakan tubuh yang terus berguling dengan menancapkan pedangnya ke salah satu anak tangga. Dan mendapati sosok Dewa Hitam yang menyeringai sinis dari atas sana.
__ADS_1