
Dewa Hitam tidak seutuhnya lenyap karena kegagalan kebangkitan. Karena itulah God Ear merasa angin terlalu berisik sekarang ini. Sementara itu sesosok pria yang memiliki kekuatan God Mouth. Sebutan saja itu sudah cukup untuknya yang telah datang ke pulau Nihonkoku.
Karena itulah, Dewa Hitam bangkit karena kekuatan mereka yang saling beresonansi di antaranya dengan langit dan bumi. Tubuh mereka juga terasa seperti pecah berkeping-keping. Mirip ketika mereka melakukan rekonstruksi tubuh, memperkuat kekuatan serta menstabilkan keberadaan Dewa Hitam yang sekarang.
“Gawat. Tanpa malam pun, Dewa Hitam akan bangkit.”
“Aku tahu. Itu artinya God Mouth telah berada di sini.”
“Iya. Tapi masih jauh dari daerah ini. Mungkin dia berada di ujung pulau sana.” God Ear mengerutkan kening lantas merasa resah.
Langit kebiruan sama sekali tidak berubah menjadi malam lagi. Namun akan tetapi Dewa Hitam kembali muncul dengan wujud transparannya. Semula ia memperlihatkan diri di hadapan Yongchun dan God Ear lalu, ia kemudian mengubah wujud transparan itu menjadi wujud seorang pria berambut panjang yang serba hitam dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
“Dia benar-benar datang!” pekik Yongchun seketika tertegun akan keberadaannya.
Tombak petir hitam kembali muncul dengan ukuran yang berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Dewa Hitam hanya mengendalikan itu dengan tangan kecilnya. Sungguh luar biasa.
“Bagaimana ini?”
“Percuma banyak bicara kalau dia sudah berniat membunuh kita. Walaupun kita semua berkumpul pun pasti itu akan membuatnya semakin kuat,” tutur God Ear.
Situasi ini benar-benar tidak menguntungkan diri mereka. Termasuk God Ear yang sudah kehilangan dua lengan, itu artinya secara permanen ia buntung. Lalu, Yongchun saat ini hanya bisa bertengkar dengan sedikit kekuatan yang tersisa, dan juga tanpa pedang juga akan menyusahkannya.
Swuuuussshh!
Pusaran angin membentur spiral di belakang punggung tombak. Yang kemudian arah dari mata tombak itu berubah, tertuju pada Yongchun dan God Ear.
BRUAKKK!
Dewa Hitam melemparnya, tak peduli apakah itu akan mengenainya. Hantaman besar, kepulan tanah yang mengudara tidak dapat membuat mereka sepenuhnya menghindar. Setelah beberapa saat Dewa Hitam melancarkan serangan yang amat besar itu, Yongchun melesat dari belakang punggung Dewa Hitam.
Zrak!
Alih-alih melawan dengan serangan sergapan tapi justru tenaga dalamnya mudah terpotong dengan bayangan pedang oleh Dewa Hitam.
__ADS_1
“Kh! Ini terlalu sulit!”
Yongchun bergerak mundur dan kembali memperkuat tubuhnya dengan tenaga dalam. Energi yang meluap-luap berkumpul pada satu titik.
Tepat sebelum Dewa Hitam menyerang Yongchun dengan wajah sumringah itu, God Ear datang dari arah depan sebelumnya. Menyerang dengan tendangan kaki, membuat jejak menghantam tanah.
Dewa Hitam menyibak pakaian serba hitamnya, angin dihempaskan ke sisi lain. Seakan membuka jalan antara God Ear dengan Dewa Hitam. Setelah beberapa detik, Yongchun kembali menyerang dengan seluruh kekuatan yang ia punya.
Mengatupkan kedua tangan dan mengincar kepala. Namun sayangnya tubuh Dewa Hitam berubah menjadi pasir. Sungguh tidak masuk akal, karena keberadaannya saja sudah mengancam bahkan ketika diserang tubuh Dewa Hitam seolah tak memiliki wujud fisik.
“Jangan serang seperti itu! Incar bagian jantungnya!” teriak God Ear melayangkan tendangan mengarah ke gumpalan tanah.
DUUUUUNNGGG!
Jalanan bergetar kuat. Guncangan yang seolah mendatangkan raksasa terdengar begitu sakit di telinga mereka. Seperti serangga yang berusaha merayap dan menggoroti dari dalam.
“Apa-apaan dia?!”
“Jangan dengarkan!”
Tanah berkumpul, memadat dan membentuk wujud Dewa Hitam. Tubuhnya telah bersimbah darah, dan seringai yang tersungging di wajahnya pun masih terlihat begitu jelas.
“Ha, kalian ini. Padahal sudah mengambil yang bukan milik kalian sendiri. Tapi berani-beraninya!”
Dewa Hitam mengangkat tangan kanan ke depan. Ia memejamkan mata selama beberapa waktu, lalu saat ia membuka mata, sebuah pedang hitam yang menyerupai pedang milik Yongchun itu muncul dari bawah telapak tangannya.
“Yang benar saja?!” pekik Yongchun tidak percaya dengan pedang yang digenggam oleh Dewa Hitam.
Langkah Dewa Hitam, sekali hentak membuat seluruh daerah ini berguncang. Ia kemudian kembali melesat, berniat menyerang God Ear yang lebih lemah.
Tang!
Dengan tenaga dalam, ia mengatasi bilah pedang itu. God Ear bergidik sehingga kedua kakinya melemah dan hendak ia bertekuk lutut di atas tanah.
__ADS_1
“Ternyata tubuhmu sudah dikarunia oleh yang "di atas", rupanya. Tidak aku sangka, mataku yang berharga akan direnggut oleh manusia yang paling kubenci.” Dewa Hitam meraih wajah Yongchun.
Seketika Yongchun merasa bergidik. Tangan yang membelai wajah Yongchun itu terasa sangat dingin dan kasar, dan sesuatu berusaha untuk merangsak masuk ke tubuhnya.
Cras!
Yongchun memotong tangan yang mengerikan itu, terasa kedua mata Yongchun yang membara kini seperti dihisap oleh kekuatan Dewa Hitam.
“Tidak akan kubiarkan!”
Yongchun melangkah maju, tetap ia berpasang badan melindungi God Ear dari depan langsung. Yongchun menggunakan tenaga dalam, terdapat selaput kebiruan berubah menjadi kehitaman pekat menembus rubuh Dewa Hitam dari dekat.
Tes, tes!
Dan dalam waktu bersamaan. Tubuh God Ear berlubang. Kedua telinganya juga berdarah, menghilang tanpa sisa. Setelah itu God Ear tumbang tanpa kesadaran tersisa.
“Kalau begitu aku menggunakan tubuhmu, Asyura Ayah.”
Drap! Drap! Drap!
Yongchun bergegas lari dari hadapan Dewa Hitam. Amarah semakin tersulut saat Dewa Hitam mengetahui nama aslinya. Sekarang, sudah tidak berguna lagi untuk melindungi God Ear lantaran God Ear telah terbaring tak bernyawa karena jari Dewa Hitam yang menunjuk ketika itu.
Berlari menyusuri hutan secepat mungkin. Dan tanpa sadar ia telah berada di ujung hutan, yang di mana hanya ada laut terbentang di sana. Tidak ada jalan kabur lagi.
“Aku ...tidak tahu harus bagaimana. Minimnya pengetahuan tentang Dewa Hitam, yang tidak masuk akal membuat diriku nyaris hilang akal.”
BYUR!
Melihat Dewa Hitam berada di belakangnya, tak habis pikir Yongchun langsung menceburkan diri ke lautan. Walaupun ia berenang menuju ke pulau lain dengan cara itu, tapi pastinya itu akan membuatnya cepat lelah sehingga ia membiarkan tubuhnya terus tenggelam sampai menyentuh dasar lautan.
“Tidak akan kubiarkan tubuh itu mati lebih dulu. Aku lah yang berhak menggunakannya!”
Dewa Hitam ikut menceburkan diri ke dalam lautan luas dan dalam. Ia mampu berinteraksi dengan lingkungan dalam waktu singkat, jadi mudah baginya untuk mengarungi kedalaman laut lalu ia meraih tubuh Yongchun.
__ADS_1
Yongchun yang sedang tak sadarkan diri itu berhasil diraih oleh Dewa Hitam yang kemudian melepaskan wujud serba hitamnya.
Ia merangsak masuk dan menyatu dengan tubuh Yongchun. Dalam kegelapan pada lautan yang begitu luas dan dalam, sekilas arus air menyapu jejak api pada kedua mata Yongchun.