Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
146. Evolusi II


__ADS_3

Tangan hitam, cakar yang panjang menyayat daging ke segala arah tertuju pada Bon. Sementara Bon, tak bisa mengelak sama sekali, ia hanya bisa bertahan dengan membuat api hitam menyelebungi tubuhnya.


Yongchun kemudian mengubah tangan itu menjadi pedang kembali. Keahliannya adalah berpedang, dalam waktu singkat Yongchun memanfaatkan kelengahan Bon, lalu melayangkan serangan dari atas ke bawah.


DRAKK!


Mata pedang sampai membelah jalanan di bawahnya, lurus ke belakang. Bon terkejut, namun serangannya sudah terlanjur menebas tubuhnya.


“Terlalu dangkal, ya.”


Segera Yongchun menyadari serangannya barusan terlihat dan terasa terlalu dangkal. Yongchun melompat mundur ke belakang, sedangkan Bon yang diliputi oleh api hitam mengejar. Keduanya saling berdekatan, bertukar tatap sinis dalam jarak dekat.


“Bon, sepertinya kau benar-benar tidak ada alasan lain selain membunuhku? Tapi, aku di sini hanya untuk memusnahkan kekuatan ini saja. Setelah itu, terserah kau saja.”


Trang!


Entah dari mana bilah pedang itu berasal, Bon melayangkannya dan ditahan dengan bilah pedang Yongchun dalam mengudara. Sepersekian detik, kedua tapak kaki mereka menyentuh tanah serta dorongan di antara keduanya yang saling melawan pun membuat genggaman mereka pada pedang ikut bergetar.


“Terserah aku saja? Kau bicara apa sih?”


“Ya, lakukan itu. Bunuhlah aku setelah aku membunuh sosok dewa hitam,” jelas Yongchun seraya mengangkat salah satu kakinya ke depan.


Yongchun menggunakan tendangan kaki sekaligus membentuk beberapa pedang bayangan di sekeliling mereka. Juga menggunakan percepatan pikiran, membuatnya mampu mematahkan tulang kaki Bon.


Kretek!


“Ergh! S*alan!” Bon mencerca, ia merasa dicurangi karena semua kekuatan milik Yongchun tidak lebih dari miliknya.


“Terjatuhlah!” Kemudian Bon kembali berteriak, kali ini ia menuturkan satu kata dengan kekuatan miliknya.


Tentu saja Yongchun takkan mampu menangkisnya, sementara setengah kekuatan yang ambil dari Bon tidak ia kuasai sama sekali. Ia pun beralih menggunakan cakar.


Syat!


Sayatan dari cakar panjang itu memang tak mampu menggores bagian manapun dari tubuh Bon. Alih-alih gagal, nyatanya Yongchun melangkah dan semakin mendekat kepadanya.

__ADS_1


“Bon, kau tahu apa kekuatan dari God Ear?” Yongchun menutup kedua telinga Bon.


Suara dengingan kecil namun nyaring membuatnya pekak. Bon menyipitkan mata dengan merasakan bunyi yang membuatnya sakit. Seperti ada sesuatu yang menerobos masuk ke dalamnya, sakit dan berisiknya sungguh luar biasa.


“Le-lepaskan!” pekik Bon dalam kebisingannya.


Kabut malam seakan mendengar suara itu, membumbung tinggi hingga menunjukkan satu punggung serta satu wajah yang nampak di pandangan mata bocah itu.


“Hebat, aku bisa merasakan kengerian di sana.”


Drap! Drap!


Ryo berlari menghindari mereka, namun tampaknya kedua orang itu tiba-tiba melesat jauh hingga mendahului langkah Ryo. Sekilas Ryo melihatnya sebagai bintang yang jatuh, atau mungkin sekilat cahaya yang berwarna kebiruan.


“Kenapa?”


DUAAKK!


Benturan keras disertai kepulan asap mengepung keberadaan mereka. Punggung Bon menyentuh tanah dengan seluruh gerakan yang tertahan karena Yongchun.


Syatt!


Tanpa ragu Yongchun menyayat bagian mulut Bon. Hanya sekali saja pun masih bisa digunakan untuk berbicara, ragu dan khawatir membuat Yongchun menggoresnya kembali.


Syat! Syat! Syat!


Sebanyak tiga kali merobek kulit luar pada mulut Bon. Yongchun berniat untuk menyayatnya lagi namun Bon menepisnya. Sebilah belati itu pun terpelanting jauh dan kemudian lenyap.


“Kau pikir itu bisa kau lakukan?” Bon mengerutkan kening dengan kesal seraya mencekik leher Yongchun hingga ke tulang-tulangnya.


Yongchun sama sekali tidak bisa bernapas, ia meras sesak hingga sulit untuk bergerak. Jadi jemari dan kepalanya bergemetar kuat tak karuan. Hendak mengucapkan beberapa patah kata pun sepertinya mustahil ia lakukan seiring Bon mencekiknya dengan kuat.


Bon kembali bangkit dari tanah, ia juga tetap menyakiti Yongchun dengan seperti itu. Selang beberapa saat, api muncul dan menyambar dari lengan Bon menuju ke leher Yongchun.


“Kau mendengarku Asyura? Yah, meski kau dengar pun kau mungkin tidak ada waktu untuk mendengarnya. Karena yang kau katakan tentang membiarkan ku membunuhmu terdengar mustahil.”

__ADS_1


Api yang sebelumnya menyambar tiba-tiba berhenti berkorbar, semakin lama api itu semakin menyusut tipis. Api hitam pun berubah menjadi warna kebiruan terang.


Setiap percikan yang jatuh ke bawah atau mengenai diri Bon, warna kebiruan itu mampu menghanguskan setiap yang disentuhnya atau menjatuhinya dari atas.


Bon reflek menjatuhkan Yongchun, sehingga Yongchun dapat melepaskan diri darinya. Ia segera melangkah mundur menjauhi Bon dalam keadaan yang sulit dijelaskan.


Sebagian dari tubuh yang sempat terbakar itu lenyap, atau bisa dikatakan pulih kembali.


“Panas!” Bon mengibas-ngibaskan tangan serta pakaiannya yang sempat terbakar.


“Bon, tadi aku sudah bilang padamu bahwa kau boleh membunuhku asalkan aku sudah membunuh dewa hitam ini. Apa kau tidak mengerti?”


Bon masih sibuk dengan pakaiannya yang masih terbakar. Entah ia dengar atau tidak, sepertinya Bon benar-benar mengabaikan pria buta di hadapannya.


“Ya sudahlah. Kalaupun aku sudah membunuh dewa hitam, belum tentu juga kau bisa membunuhku nantinya!” imbuh Yongchun seraya memunculkan pedangnya lagi.


Kali ini pedang itu tidak dilumuri banyak api berwarna hitam atau merah melainkan warna kebiruan sedikit pekat.


Bon menyadari hal itu cukup berbahaya jika menerima serangan dari Yongchun langsung mengenai tubuhnya sendiri. Selang beberapa detik setelah itu, Yongchun tersenyum sinis.


“Lihat saja, kau bisa membunuhku atau tidak?” Yongchun berbicara.


Namun apa yang dipikirkan oleh Bon, Yongchun seolah berkata, “Kau lemah, pecundang.”


Sontak saja itu membuat Bon sangat geram padanya. Ia pun melesat usai pakaiannya tak lagi terbakar. Kalimat yang berbeda namun tetap menyulut amarah Bon dengan mudah. Aneh tapi itu justru membuat Yongchun menjadi mudah untuk menyerang ataupun membalas setiap serangan dari Bon.


“Ah iya, aku lupa kau tuli karena kekuatanku sebelumnya.”


Semakin tersulutlah emosi Bon. Meski saat itu Yongchun terlihat unggul namun kenyataannya Yongchun lah yang kian melemah lantaran setiap kali Yongchun menyebut nama asli Bon membuat sosok Dewa Hitam berkurang dari tubuhnya dan akan berpindah seiring waktu ke tubuh Bon sendiri.


Mengapa Yongchun melakukan hal itu? Tentu saja karena Bon tidak bisa diajak bicara. Bahkan juga mustahil jika mengambil kekuatan God Mouth karena pemilihannya yang tidak masuk akal.


“Ha ...semua orang yang berubah karena dewa hitam justru terhasut olehnya dengan sebuah ambisi mengekor atau mengakar hingga ke jiwa miliknya sendiri.” Yongchun menghela napas, seketika dua tanduk menyusut lalu hilang.


Kedua Mata Dewa pun telah berpindah pada Bon yang saat ini tengah diselimuti oleh amarah yang meluap-luap. Bon bisa melihat, mendengar, meraba, merasa dengan indra penuh. Sosok Dewa Hitam pun mulai terlihat jelas dari belakang Bon.

__ADS_1


__ADS_2