Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
029. Seni Iblis Bagian III


__ADS_3

Menemukan sebuah goa, yang mungkin saja tempat itu adalah tempat di mana para pemberontak berkumpul di dalam sana. Para pemimpin kultus pun masuk ke dalam namun terdapat jalan bercabang, sehingga kelompok mereka dibagi menjadi dua.


Beberapa dari mereka ke arah kanan sedangkan sisanya ke arah kiri. Dimana Yongchun berada saat ini bersama dengan Xie Xie dan Yang.


Tak lama mereka menelusuri jalan di arah kiri, mereka mendapati beberapa pendekar yang kekuatannya hampir mencapai tahap nirwana. Beruntung ada mereka yang membantu Yongchun sehingga pertarungan tidak berangsur-angsur lama.


Bruk!


“Hm, mereka cukup kuat untuk seukuran kita. Namun ini cukup menguntungkan untuk kita karena selama ini tak ada lawan yang bisa melawan segigih ini,” ucap Xie Xie, melepas pipa cerutunya. Ia menggunakan kekuatan kabut tuk menyerang.


“Jangan lengah hanya karena mereka hampir sepantaran dengan kita. Di sini aku merasakan ada sesuatu yang lebih besar,” celetuk Yang Jian yang menggunakan pedangnya tuk menebas mereka.


“Benar apa yang dikatakan oleh Pemimpin Yang. Kebencian ini memang terlihat berkumpul menjadi satu namun akan tetapi, ada satu kebencian ini cukup besar sampai terlihat menjulang ke langit,” sahut Yongchun. Ia hanya berdiri dan tak pernah mengangkat pedangnya karena semua sudah dibereskan dengan mudah oleh kedua orang itu.


“Hei, Wang Yongchun. Untuk hari ini, aku meminta dirimu untuk lebih berhati-hati saat melangkah ke depan.” Yang Jian berbicara seolah memberitahukan bahwa sebentar lagi atau setelah ini akan ada sesuatu.


“Ya, hari ini cukup aneh aku hanya dengan bersama kalian berdua. Tapi anehnya aku merasa beruntung karena tak ada Pemimpin Wang itu.”


Yongchun mungkin menggerutu jika ada Wang Xian di sana. Tapi ia masih belum mengerti apa maksud dari perkataan Yang Jian hari itu.


Tap!


Sudah lama mereka menelusuri jalan, dan terkadang mereka mendapati pendekar pemberontak yang kadang lemah dan kuat tak menentu. Bisa dibilang, pola strategi yang tidak mudah terbaca. Seolah mereka asal membuatnya bertarung sesuai keinginan.


Dan kini, begitu Yongchun dan dua pemimpin kultus berbelok ke arah kanan, mereka bertemu dengan sosok pria yang tiba-tiba saja ia mengeluarkan kekuatan berbahaya, begitu besar sehingga mampu dirasakan oleh beberapa pendekar di luar sana.


“Ini seni iblis lagi?!”


“Ya, itu benar! Tak salah lagi!”

__ADS_1


Yang Jian dan Xie Xie seketika itu merinding sesaat. Seni Iblis itu memancarkan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Begitu juga dengan Yongchun, ia merasa lemah dan kedua matanya kembali bereaksi tak wajar.


“Yongchun! Ada apa denganmu?” tanya Xie Xie, memegang pundaknya.


“Uh, iya? Aku tidak apa ...” Kening Yongchun berkerut, ia menarik kedua pedangnya tanda ia siap menyerang sosok itu.


Sosok pria yang berada di depan mereka pun mulai membuka mulut dan berbicara, “Selamat datang di tempat kami, meskipun hanya goa. Haruskah aku menyambut kedatangan kalian?” Ia mengatakannya dengan posisi duduk dengan meremehkan mereka bertiga.


Sosok itu membara, api yang membara di sekeliling tubuh pria itu adalah warna hitam. Yongchun enggan menahan diri dan pupil matanya gemetar, padahal tak seharusnya ia merasakan hal ini, Yongchun menebas pria tersebut dengan kedua ayunan dari pedangnya.


“Kita segera menyelesaikan hal ini.”


“Kupikir dia adalah musuh terakhir, ketua pemberontak dari balik layar, benarkah begitu?” pikir Xie Xie.


Seni Iblis ada dalam sosok pria yang kini duduk dengan angkuh. Serangan dari Yongchun yang bertenaga dalam kuat tak mempan sekalipun terhadapnya. Seolah menyentuh apa yang tak ada.


“Minggir!” teriak Xie Xie. Mengeluarkan asap dari pipa cerutunya, membuat kabut bergumul mengelili ketua pemberontak. Perlahan api yang membara itu kian menyusut.


Drap! Drap!


Kedua orang yang mencapai tahap nirwana datang dengan jubah yang panjang, wajah mereka sama sekali tak dapat dilihat.


Yongchun berdecak kesal, melengos ke arah Xie Xie lalu mengeluarkan aura mencekam ke sekitar, ia melesat ke arah Xie Xie di mana kedua orang itu datang, lalu ia menebas mereka tanpa ragu sedikit pun.


“Kupikir kau ini tipe orang yang takkan membunuh selagi bisa dimanfaatkan,” pikir Xie Xie.


“Dia sudah tidak ada harapan. Jiwa mereka dijual oleh Iblis yang kalian maksud sejak tadi,” jelas Yongchun.


“Kau ternyata benar-benar kejam juga.”

__ADS_1


“Bukankah kalian tak ada bedanya?” sahut Yongchun menatap heran pada Xie Xie.


“Hei! Bantu aku di depan sini, dasar!” amuk Yang Jian.


Yang Jian tampak kewalahan menghindari semburan api itu. Namun masih saja pria itu duduk sambil menyerang Yang Jian dengan santai seolah mereka yang dilawannya dapat dengan mudah dikalahkan.


Lucu kalau berpikir begitu, bukan? Yongchun melesat ke arahnya, mengarahkan kedua pedang kosong itu menusuk mata sampai menembus tengkorak kepalanya.


Wush!


Entah dari mana terpaan angin datang, membuat api itu kini menyambar wajah Yongchun. Sampai penutup matanya lepas, kelopak mata itu terbuka seakan dapat melihat lebih jauh. Yang kemudian aura yang mengalir dari dalam dirinya cukup deras sehingga Yang Jian dan Xie Xie menyadari bahwa kedua sosok itu adalah sama.


Keduanya memikirkan hal sama seperti, "Ternyata benar begitu. Orang ini memang sama berbahayanya dengan pendekar yang mempelajari seni iblis."


Ketua pemberontak selama ini ada di layar belakang, kekuatan berupa api hitam kini menjalar ke sisi belakang menuju tempat Xie Xie berada. Awal mulanya ia hanya duduk kini pun ia bangkit dan tak memperdulikan serangan Yongchun.


“Nona Xie, cepat menghindar dari sana!”


Namun terlambat, seolah kabut malamnya mencekik. Tidak disangka dan ini sungguh tak masuk akal, hanya dengan api yang mendekati dirinya pun membuat Xie Xie ambruk. Seakan-akan tenaga dalamnya terhisap.


“Ini buruk! Ayo Yongchun! Cepat akhiri ini!”


“Tanpa perintahmu, sudah pasti aku akan mengakhirinya! Demi penyatuan negri-ku yang aman! Haaa!!” seru Yongchun, mencabut pedang dan menusuk bagian tubuh depan pria itu.


Kepekatan hitam mengalahkan gelapnya malam, menjalar lebih cepat meski tidak seperti api yang menjalar lebih cepat. Mengelilingi dalam goa di sekitar mereka. Berpikir bahwa ini adalah kekuatan seni iblis yang sulit dikalahkan, tapi mereka takkan mau hanya berdiri diam saja.


Yang Jian memusatkan tenaga dalam itu ke ujung pedang bersama dengan beberapa bayangan berwarna terang terbentuk di udara. Menjadi senjata dalam sekali serang.


Cwak! Cwak!

__ADS_1


Menghujam tubuh pria yang masih menyeringai dengan puas. Sekali lagi Yang Jian menebas lehernya namun api hitam itu menghalangi. Yongchun bertindak lebih cepat, dengan kepekatan aura yang sama ia menyerang.


“Yongchun, perhatikan ke segala arahmu!”


__ADS_2