
Mendengar pernyataan Yongchun, mengenai Kuraki yang tidak bisa dirasuki hanya karena bukan pemilik tubuh dewa, itu mungkin saja. Mereka pada awalnya sependapat tapi bagaimana jika hal mustahil itu akan menjadi kenyataan.
Set!
Sigar menarik tubuh Yongchun menjauh dari Kuraki. Ia kemudian mengirim telepati dalam jarak dekat, dan berdalih dengan mengajak Kuraki mengobrol.
“Kuraki, maafkan kami. Kami hanya membicarakan hal yang tidak masuk akal. Dan tenang saja, bahwa Dewa Hitam akan segera kami lenyapkan.”
'God Eye, jika terjadi sesuatu pada Kuraki. Apa kau mau bertanggung jawab?'
“Eh begitu? Kupikir kalian memintanya untuk sesuatu. Karena setahuku, Dewa Hitam cukup sakral. Antara kalian atau ...yah, seperti yang kalian bicarakan tentang tulisan itu beberapa bulan yang lalu,” sahut Kuraki.
“Ya, maafkan kami. Tenang saja, era ini takkan cepat berakhir sebelum waktunya,” ujar Sigar.
'Mana mungkin aku mau. Lagi pula kalau Dewa Hitam akan keluar hanya dengan menyebut nama Kuraki sekali lagi, maka aku akan membunuhnya.' Tanpa segan Yongchun menjawab telepati Sigar seperti itu.
Tatapan Yongchun yang tak terlihat karena tertutup oleh kain putih, namun tetap dapat Sigar rasakan bahwa Yongchun tengah menatap tajam ke arah Kuraki secara langsung.
'Terserah dirimu saja. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal itu. Lain cerita jika Dewa Hitam tetap berada di tubuhmu.' Sigar menyahut.
“Kuraki, tenang saja. Dewa Hitam tidak lebih dari yang di atas. Kami yakin kami bisa memusnahkan dia yang sebagai "ego manusia" itu,” ucap Sigar pada Kuraki.
'Kau ingin membunuhku rupanya.' Sekilas Yongchun menyeringai, padahal niat Sigar jelas tidak baik.
Tapi itu kenyataan. Jika Dewa Hitam tetap berada di tubuh Yongchun, maka mereka akan membunuhnya tanpa ragu. Begitu juga dengan sebaliknya, jika itu terjadi pada Kuraki yang sebagai orang biasa.
“Betapa kacaunya hari ini.”
Srak!
“Hei kau!” teriak Romusha. Sontak Sigar dan Yongchun berbalik badan.
Yongchun terkejut karena Bon telah menghilang dari sana. Ia pun segera keluar dengan tergesa-gesa. Mengejar Bon, entah mengapa Bon melarikan diri sekarang.
“Apakah terjadi sesuatu padanya? Kalau begitu ...ini ga–argh!”
Gedubrak!
__ADS_1
Ketika ia semakin mempercepat larinya tuk mengejar Bon, secara tiba-tiba Yongchun memuntahkan darah segar kembali sehingga ia tersandung karena langkahnya sendiri sampai terjatuh.
“Aneh, seharusnya luka milik Dewa Hitam tak lagi mempengaruhi diriku. Tapi kenapa?”
Kekuatan berlimpah-limpah. Menyeruak keluar dan membakar tubuhnya dengan api hitam pekat. Angin kencang berembus tak membuat api itu goyah, Yongchun merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Perlahan garis-garis hitam muncul dari jari jemarinya. Hal itu mengingatkan Yongchun pada luka yang diderita oleh Relia yang di mana di belakang telinga hingga ke leher Relia pun memiliki goresan atau garis-garis hitam yang sama.
“Jangan-jangan!” Terlihat dari kejauhan, Sigar yang menghampiri itu tengah melambatkan langkahnya dengan sengaja.
Sigar menatap lurus ke depan dengan tajamnya, hanya tertuju pada Yongchun yang saat ini tengah duduk berlutut dan mengerang kesakitan ketika api menggerus tubuhnya dari segala sisi.
“Hei! Apa yang kau lakukan?! Cepat bantu dia!” pekik Romusha yang hendak berlari menghampiri Yongchun.
“Tunggu!” Namun Sigar dengan tegas memintanya untuk menunggu. Ia merentangkan tangan kiri tuk menahan langkah Romusha yang terburu-buru.
“Apa? Ada apa?” tanya Romusha dengan jengkel. Ia tak mau dibuat menunggu.
“Ini aneh. Mengapa dia menggeliat kesakitan? Dia ikut terluka ketika Dewa Hitam terluka. Padahal seharusnya hanya Dewa Hitam saja, tapi lihatlah!”
Sigar menunjuk tubuh Yongchun yang berjarak sangat jauh dari posisi mereka. Berpikir bahwa yang terjadi pada Yongchun saat ini terlalu aneh.
“Ya. Dia mungkin telah menyatu dengan Dewa Hitam. God Soul yang berada jauh dari kita pasti bisa merasakannya,” ungkap Sigar yang memikirkan hal yang sama seperti Romusha.
“Eh! Mana mungkin.” Romusha masih menyangkal.
“Jangan mengatakan hal tidak jelas padahal yang kau lihat sudah begitu jelas, God Hand. Inilah saatnya, untuk membunuh Dewa Hitam yang sudah lama kita membencinya.”
Sigar kali ini menahan langkah Romusha dengan mencengkram pundaknya kuat-kuat. Menanamkan pemandangan yang Romusha lihat saat ini adalah kenyataan.
“Bagaimana dengan God Ear? Pria itu sudah mati lalu terlahir God Ear dengan ingatan lampau saat ini, dan God Ear yang sekarang adalah wanita itu 'kan?”
“Kau ragu karena God Ear menolak pendapat kita. Karena dia memiliki kepercayaan jadinya begitu. Tapi ingat, God Ear sekarang mudah dihalau. Kalau perlu bunuh saja,” tukas Sigar.
Tap, tap!
Dari arah belakang, Arashiyama berlari-lompat menuju Yongchun. Sigar menatapnya sinis ketika Arashiyama melintas tepat di sampingnya.
__ADS_1
“Hei wanita!”
Percuma Romusha memanggil lantaran Arashiyama sudah berada di sisi Yongchun.
“Ada apa God Eye? Kesakitan? Tidak ...kamu siapa?” Tak butuh waktu lama Arashiyama menyadari bahwa Yongchun berada di ambang batas kesadaran serta nyawanya, ia dikendalikan oleh sosok asing.
Dewa Hitam! Dewa Hitam kembali bangkit dengan tahap akhirnya. Entah mengapa melukainya justru membuat Dewa Hitam semakin berkembang.
Arashiyama bergegas menarik bilah pedang yang digenggamnya namun terlambat, karena pedang itu telah patah hanya karena Yongchun menepisnya.
BRAK!
Dalam waktu singkat, tubuh wanita itu terdorong mundur hingga membentur batang pohon di antara hutan yang berdekatan dengan penginapan Kuraki.
“Baiklah! Aku akan melakukannya. Dengan tangan ini!”
Syak! Syak!
Langkah cepat dalam hitungan detik saja Romusha sudah berada di belakangnya persis seraya melayangkan serangan dari cakar pada tangannya itu. Meski sedikit dangkal, namun tampaknya cukup berpengaruh karena luka tidak menutup.
“Ternyata benar, dia lemah pada kekuatannya sendiri. Tapi kenapa God Eye bisa dikendalikan seperti ini?”
Dak!
Romusha reflek menyilangkan kedua lengannya ke depan begitu Yongchun mengambil posisi tuk menyerang dengan tendangan kakinya.
“Tidak bisa dibiarkan!” Sigar mengerutkan kening, ia pun menarik pedangnya seraya mengirim telepati pada Yongchun.
Tas!
Namun entah mengapa telepati itu terblokir, Sigar jadi tidak bisa berbuat apa-apa kala Dewa Hitam tidak membiarkan Sigar tuk menggunakan kekuatannya pada Yongchun secara tak langsung.
Sigar pun berlari ke arah Yongchun, ia menarik bilah pedang hingga keluar dari sarung pedangnya. Memusatkan kekuatan pada mata pedang yang kini teracungkan.
Tidak menebas melainkan menusuknya langsung sampai menembus tempurung belakang kepala Yongchun. Untuk sesaat Yongchun terdiam, semua gerakannya terhenti. Lemas seketika.
“Kau benar-benar membunuhnya ya?”
__ADS_1
Romusha menyimpan cakarnya kembali. Sementara Sigar merasa belum ini berakhir, ia pun tetap membiarkan pedangnya menusuk.
“Berakhir? Dewa Hitam tak semudah itu dikalahkan. Tapi ...mungkin aku sudah membunuh God Eye,” tuturnya seraya melepas tusukan pedangnya secara perlahan.