
Tidak lama setelah Yongchun jatuh ke dasar neraka, ia juga melewati beberapa rintangan sampai bertemu dengan seekor siluman dengan dua sayap yang besar. Perawakannya mirip dengan seekor burung tetapi siluman itu jauh lebih besar ukurannya.
Selain dua sayap, siluman itu juga memiliki taring serta cakar yang kuat. Niao.
“Apakah kita hanya perlu berjalan lurus saja?” tanya Yongchun seraya ia mengikuti langkahnya.
“Iya. Goa ini memudahkan kita untuk berjalan. Karena di luar sana tanah yang kita pijaki sangat panas. Namun di goa sebenarnya tak cukup aman juga,” ujar Niao.
Setelah beberapa saat melewati jembatan dalam goa yang dikelilingi oleh lautan api, seekor mahluk besar muncul dari sana.
Membelah lautan api, kepala yang sungguh besar itu membuat Yongchun bergidik sesaat. Sudah begitu ukuran matanya tak sebesar tubuh Yongchun sendiri.
“Jangan takut. Di sini memang ada hal-hal yang aneh, namanya juga kumpulan pendosa.”
Bagaimana Yongchun tidak takut kalau begitu? Baru pertama kalinya ia menghadapi yang bukan sosok manusia. Tapi Niao menyuruhnya untuk melangkah mundur sebentar, sementara ia akan melawannya.
“Tidak bisakah kita melewatinya saja? Aku pikir dengan tubuh seperti itu dia tidak akan bisa mengejar kita,” pikir Yongchun.
“Tidak bisa. Apa pun itu harus dilawan meski ukurannya sekecil kutu. Karena jika tidak begitu, pasti kita akan dimakan dari belakang. Memangnya kau mau?”
Niao mengepakkan sayap dan terbang rendah menuju mahluk berekor panjang itu. Yang disebut-sebut sebagai naga ular, terus berenang dari satu sisi ke sisi yang lain dan menghindari serangan dari Niao.
Wujud dari Niao pun sedikit demi sedikit berubah. Dari dengan wujud setengah manusia lalu berubah menjadi seekor mahluk unggas sungguhan. Niao menggunakan cakar untuk menggores kulit naga yang keras namun berhasil dilukai paling tidak terluka walau hanya sedikit.
“Siluman ini melawannya tapi entah mengapa aku merasa kalau dia tak bersungguh-sungguh? Karena kalau dipikir-pikir lagi, dia seharusnya cukup kuat tapi dia sedang menahannya?”
Dari emosi yang terpancar serta perbedaan kekuatan melalui pancaran aura, jelas Niao lebih unggul dari segi manapun.
“Aku memang sudah menahannya. Karena mahluk ini juga tak bisa mati. Aku berniat untuk membuatnya tak sadarkan diri,” sahut Niao yang mendengar gumaman Yongchun.
Kepakan sayap memunculkan angin, dan naga itu pun sekali lagi dilukai di bagian tubuhnya. Mungkin Niao kuat tetapi tubuhnya juga tak terlalu besar dibandingkan dengan mahluk itu.
__ADS_1
“Niao, apa kau sanggup? Aku mungkin bisa membantu!”
“Pikirkan apa yang paling kau butuhkan saat ini, nak! Mengontrol kekuatanmu saja tidak bisa, jika saja tidak ada racun di tubuhmu, pasti daerah ini kau hanguskan setengahnya,” sindir Niao dengan kalimat pedas.
“Hah? Memangnya aku tahu caranya bagaimana? Itu sungguh sulit, selama ini aku juga telah mencobanya tapi selalu saja gagal di akhir.”
“Hm, begitu.”
Pancaran aura Niao kian menguat seiring waktu, nampaknya ia terburu-buru dan taring itu mencuat, menggigitnya di bagian tengkuk leher. Naga pun memberontak lalu mulai berenang masuk ke dalam dengan membawa Niao di punggungnya.
Masuk ke dalam lautan api yang tak lama kemudian goncangan dapat mereka rasakan. Serta lautan yang terombang-ambing layaknya bencana telah terjadi.
“Tunggu, apa yang terjadi? Di mana Niao?” Aku tak bisa melihat apa-apa. Keberadaan mereka juga tidak bisa dirasakan.”
Yongchun panik dan tak tahu ia harus melakukan apa pada situasi saat ini. Ia bersikap waspada sembari menggenggam erat kedua pedangnya dan melihat ke sekeliling tuk mencari keberadaan Niao.
Tetapi, sudah lama ia menunggu, Yongchun justru teringat dengan perkataan Niao yang terakhir kali. Menyuruhnya untuk berpikir apa yang bisa Yongchun lakukan saat ini. Karena buntu pikiran, Yongchun hanya bisa berpikir bahwa keluar dari goa akan lebih aman.
Sambil menutup telinganya rapat-rapat ia memanggil-manggil siluman yang ia kenal.
“Niao!”
Kemudian Niao muncul dari ekor naga. Ia berpegangan di sana dengan tubuh kehitaman. Sosoknya jauh lebih dari apa yang sebelumnya Yongchun lihat.
Siluman itu terlihat mengerikan.
“Bukankah sudah aku bilang sebelumnya? Pikirkan apa yang bisa kau lakukan! Kontrol auramu di sini dengan begitu kau tak perlu repot-repot mengurusi hidup banyak orang di duniamu nanti!” kata Niao bersuara keras.
“Apa hubungannya itu dengan aura milikku?!”
“Karena aura itu, kau jadi banyak diincar bukan? Jadi setidaknya cobalah untuk mengontrolnya!” ucapnya dengan tegas seraya ia kembali menyerang naga itu dengan cakar di kaki.
__ADS_1
Dibilang begitu pun pasti terdengar sangat mudah namun bagi Yongchun, mengontrol sebagian besar kekuatannya sendiri itu cukup sulit. Sudah sejak lama ia tak memikirkan hal itu, dan begitu sampai ke wilayah timur laut ia pun akhirnya mengerti.
Tentang betapa pentingnya mengontrol kekuatan sehingga aura dan tenaga dalam itu tak berangsur-angsur keluar terus-menerus.
Kemudian suara nyaring itu kembali, nampaknya naga ular kewalahan dengan Niao yang jauh lebih kecil darinya. Terus saja, Niao mengepakkan sayap dan membuat hempasan angin menyayat tubuh si naga itu.
Rintihan terdengar seiring waktu, dan naga pun kembali berenang masuk. Niatnya bukan untuk menghindari melainkan agar ia dapat menyergap secara dadakan.
Lautan api itu sekali lagi terbelah, goncangan kuat juga semakin terasa lebih kuat. Detik demi detik, tubuh Niao terkena hamburan dan percikan dari lautan api tersebut.
Naga merasa senang dan sekali lagi melakukannya namun Niao takkan diam mematung, ia segera terbang menuju kepala si naga dan menyerang dengan kepakan sayap yang jauh lebih kuat.
Hamparan abu menghalangi pandangan Yongchun sesaat, terpaan angin pun membuat ia terdiam seraya memperhatikan.
Bekas luka dari gigi taring Niao akhirnya mulai menimbulkan reaksi. Sebab taring milik Niao adalah racun bagi mahluk neraka. Si naga ambruk di antara jembatan.
“Tak kusangka akan selama ini efeknya. Tak seperti biasanya,” gumam Niao, ia turun dan merapatkan sayapnya.
“Apa maksudmu?” tanya Yongchun tak mengerti.
“Tidak ada. Hanya saja efek dari racun yang kupunya berjalan lebih lambat.” Niao melirik Yongchun dengan sinis dan penuh curiga. “Jangan-jangan karena keberadaanmu?” pikirnya.
“Apa? Hei, lagipula bukankah kau tidak berniat untuk membunuhnya?”
“Ah, itu. Aku terburu-buru jadi mau tidak mau ya harus kulakukan. Cepat naik ke punggungku, kita akan pergi,” ujar Niao yang enggan memberitahukan ada apa sebenarnya.
Niao memberikan punggung untuk Yongchun agar menungganginya. Yongchun yang sedikit tidak mengerti serta juga menaruh rasa curiga pun hanya terdiam.
“Apa yang kau lakukan? Cepatlah, katanya kau ingin keluar dari sini?” tanya Niao yang tak sabaran.
Yongchun terdiam dengan mencuri-curi pandang terhadap apa yang terjadi pada si naga ular.
__ADS_1