
Di sisi lain, sosok kedua putri An dan Hai Rong. Mereka berdua melarikan diri—masuk ke dalam istana tuk bersembunyi. Dikarenakan Yu Jie, adik mereka tengah berdiam diri. Mematung dengan pandangan kosong yang menatap ujung belati. Berlama-lama di luar membuat angin dingin ini kembali menyadarkan.
Srek! Saat Yu Jie melangkah, tak sengaja ujung hanfu bagian bawah yang ia kenakan tersangkut lalu robek. Tak peduli dengan hal itu, ia pergi menyusul kedua kakaknya sambil memegang belati itu kuat-kuat.
Kehadiran Yu Jie sungguh membuat mereka gemetar takut. Berpelukan dalam kamar berharap ia tidak datang.
“Kak, apa yang akan kita lakukan?” tanya An dengan gelisah.
“Jangan tanyakan apa pun padaku. Kita tidak akan tahu selama perempuan itu masih hidup. Ck, harusnya dia terbunuh tapi bisa-bisanya Pemimpin Yongchun yang mendukungnya,” gerutu Hai Rong mengigit jari.
Berdecak kesal sembari melirik ke arah jendela kecil, tak ada yang nampak selain langit malam dengan rembulan penuh. Juga tak ada suara langkah kaki mau itu pelan ataupun cepat.
Detak jantung mereka terdengar begitu keras. Mereka saling mendengarkan saat tubuh mereka mendekat dan berpelukan. Perasaan cemas, gelisah dan ketakutan yang luar biasa itu kini bercampur aduk tak karuan.
“Apa aku harus terus diam dan merelakan semuanya? Tapi apa dengan begitu mereka takkan lagi berbuat hal yang sama?”
Sekilas, pikiran Yu Jie merambat ke mana-mana. Berharap bahwa kedua kakaknya berubah namun terlihat jelas dari wajah kakak-kakaknya itu masih sama. Melihatnya sebagai aib dalam keluarga, jijik dan enggan memanggilnya sebagai adik.
Yu Jie menghela napas panjang, langkahnya terhenti saat sampai di kamar salah satu kakaknya. Berbalik ke samping lantas membuka pintu perlahan.
“Kakak ...” panggil Yu Jie dengan lembut. Suaranya sangat lirih. Kedua kakaknya pun tersentak kaget saat melihat pintu kamar tergeser.
“Suara Yu Jie,” lirih An yang menggigil ketakutan.
“Ssst ...kau tetaplah di sini.” Hai Rong menenangkan adiknya An lalu bangkit menghampiri Yu Jie yang sudah masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
“Kak, Yu Jie cuman ingin bilang sesuatu. Tidak bisakah hentikan perbuatan kakak terhadapku? Karena mau bagaimanapun kita tetaplah saudara,” tutur Yu Jie dengan tatapan sendu mengarah ke bawah.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” ketus Hai Rong dengan menekuk alis. Berhati-hati saat melangkah dan berhadapan dengannya.
“Kakaklah yang mengirim pembunuh itu untuk membunuhku, bukan? Aku tahu itu. Juga, kak Yuze bahkan tenggelam dalam pikirannya seperti itu. Yu Jie sampai tidak bisa berpikir jernih, apa yang sebenarnya kakak inginkan?”
“Hei, Yu Jie. Aku akan mengakui kalau itu semua perbuatanku tetapi kalau kak Yuze, aku sama sekali tidak tahu. Dia bergerak sendiri tanpa perintahku,” jelas Hai Rong dengan berani, berkacak pinggang seraya menatapnya tajam.
Perlahan Yu Jie mengangkat wajahnya. Menatap balik pandangan Hai Rong ke arahnya, tidak tersirat sebuah kebencian yang sama melainkan rasa kasihan.
“Yu Jie hanya ingin hidup dengan tenang. Tapi tampaknya tidak bisa. Apakah Yu Jie harus pergi dari tempat ini agar kalian semua dapat hidup tenang?” pikirnya seraya berjalan mendekat pada Hai Rong.
“Pergilah kalau kau mau!” pekik Hai Rong melangkah mundur. Berniat menjauhinya namun tersandung kakinya sendiri lalu jatuh tersungkur.
Namun Yu Jie tidak akan membiarkannya kabur begitu saja. Ia menarik lengan Hai Rong agar lebih mendekat padanya.
Kemudian berbisik, “Tenang kak. Yu Jie hanya butuh pengakuan itu. Lagipula, Yang Mulia Kaisar Ming Guo sudah tidak ada. Untuk apa memperdebatkan hal ini karena sudah tidak ada gunanya menghukum kakak-kakakku.”
“Br*ngs*k! Kau ingin membunuhku, ya!?” cerca Hai Rong dengan lantang. Menepis tangannya lantas mengambil langkah mundur sekali.
“Kakak!” panggil An dengan berlinang air mata. Ia sangat pengecut ketimbang Hai Rong, ia hanya dapat menangis bahkan untuk berdiri saja sudah tidak mampu karena tubuhnya bergemetaran kuat.
“Hah ...Yu Jie sama sekali tidak ingin membunuh kakak-kakakku sendiri. Hanya sekilas saja pikiran itu terbenam dalam pikiranku. Dan sekarang, sepertinya membunuh bukanlah perkara yang bagus,” kata Yu Jie melirik ke arah An.
Yu Jie kemudian berbalik badan, hendak pergi dari ruangan tersebut. Sebelum benar-benar keluar ia kemudian mengatakan sepatah kata lagi, “Tidak seperti Ming Yuze yang punya kelainan. Kalian 'kan masih cukup sadar kalau membunuh sesama anggota keluarga adalah tindakan yang paling hina,” kecamnya dengan sorot mata yang tajam. Manik emas itu terlihat berkilau saat cahaya rembulan sedikit menyorot ke arahnya.
__ADS_1
Hari ini, harinya kebebasan yang dirayakan pada malam hari. Lentera sudah terbang jauh namun masih nampak cahaya-cahaya dari mereka yang seperti bintang berkelip.
Terkadang kabut malam menutupnya. Juga desiran angin malam terasa sangat dingin seolah masih di musim bersalju. Padahal ini hari terakhirnya musim semi.
Keluar dari Istana Wulan dengan raut wajah datar. Kemudian membuang belati itu ke sembarang tempat. Samar-samar ia mendengar jerit tangis dari Ming An lalu disusul oleh beberapa patah kata Ming Hai Rong yang sepertinya sedang mencaci maki Yu Jie saat ini.
Mendengarnya membuat Yu Jie sedikit merasa penat. Beberapa langkah menuju ke sisi timur Istana Wulan, lalu terhenti saat hantaman keras terdengar dari atap Istana.
Sontak semua terkejut. Yu Jie mengalihkan pandangan ke atas, melihat siapa dan kenapa ada di sana.
“Tuan Yongchun ...” gumam Yu Jie dengan tatapan heran.
Kemudian beralih ke sisi sebaliknya. Mendapati Wang Xian yang diselimuti amarah. Yongchun turun dari atap tanpa luka sedikit pun dan tanpa membuang waktu ia melesat cepat ke arah Wang Xian dan menghunuskan pedangnya.
Terpaan angin membuat Yu Jie terkejut sekali lagi. Melihat pertarungan yang ganas bahkan sampai para pendekar tak dapat berkutik layaknya serangga. Lemah tak berdaya dan hanya melihat kedua pendekar itu beradu pedang.
Ibarat medan perang hanyalah untuk mereka. Dikuasi secara menyeluruh, meratakan semua orang yang di sekitar tanpa memberi celah walau hanya sedikit.
Gerakan yang diatur sedemikian rupa, posisi bertarung yang kokoh tak pernah bergeming ketika pedang itu kembali beradu hingga telinga mereka mengeluarkan darah. Seolah lonceng besar telah berdenting tepat di tengah-tengah mereka.
“Peranmu sebagai pemimpin pemberontak akan segera berakhir, Yongchun!”
Tak sekalipun Wang Xian pernah menyebut nama aslinya di depan semua orang. Amarah itu meluap hingga mendidihkan akalnya yang sehat, pedang yang dialiri tenaga dalam itu menyeruak kian membesar.
SYAAATT!! Satu tebasan pedang dalam jarak dekat. Sekalipun ia tak bisa mati, namun luka tetaplah ada. Rasa sakit ketika darah keluar dengan deras membanjiri tubuh mereka. Tak hanya itu, guratan-guratan aneh pun masih bergerak mengikat tubuh Yongchun.
__ADS_1