
“Sigar, kau sudah tahu aku siapa semenjak hari itu. Kedewaan ini perlu seseorang untuk menanggungnya, namun hanya satu orang saja, dan itu aku.”
Tap!
Sosok pria yang sebelumnya berdiri membelakangi bayangan dinding yang gelap pun akhirnya melangkah maju dan menunjukkan batang hidungnya secara langsung kepada Sigar. Bahkan pria itu juga menyebut nama asli Pikiran Dewa.
“Kau, jangan-jangan sudah membunuh God Ear?”
“Bukan, dia merelakan kedua telinganya untukku. Lagi pula mengetahui nama bukan berarti karena aku menguping yang kau katakan dalam benak, melainkan karena aku dapat melihat namamu di atas kepala.”
Sraaa!
Kobaran api hitam menyelimuti sosok pria buta, kain putih yang menutupi penglihatannya pun lenyap terbakar oleh api, lalu menunjukkan kedua mata yang bahkan tidak bisa disebut sebagai mata itu sendiri.
“Biarkan aku menjelaskan terlebih dahulu. Jika kita tetap hidup maka Dewa Hitam akan kembali ke tahap seperti saat sebelum dirinya terjatuh dari langit yang adalah tempatnya.”
Perlahan rintik hujan mulai turun dari atas sana. Membasahi mereka yang berada di luar ruangan, walau secara perlahan-lahan. Yongchun, pria buta itu menengadah ke langit.
Lalu berkata, “Jadi aku mencuri semua kekuatan itu ke dalam diriku, membiarkan Dewa Hitam menyerapnya hingga menuju ke tahap akhir seperti itu.”
“Lalu apa rencanamu? Bukankah akhirnya akan sama saja?” Sigar menarik langkah kirinya sembari mengambil posisi menyerang.
“God Ear yang dulu pernah mengatakannya kepada kita tentang larangan, pemindah posisi kedewaan terhadap keturunan kita. Itulah yang sedang aku lakukan, namun ada harga yang harus kubayar,” ungkap Yongchun.
Yongchun menarik bilah pedangnya, lalu Sigar pun melakukan hal yang sama. Dalam hitungan detik, hujan rintik berubah menjadi hujan deras sederasnya. Membuat langkah mereka mencipratkan genangan air yang terbuat dalam waktu singkat.
Splash!
Pijakan mereka ke genangan air pun berubah menjadi genangan darah oleh kedua pedang yang terhunus ke lawannya. Mereka sama-sama terluka, mereka berdua terhunus satu sama lain dengan membiarkan ujung pedang menembus tubuh mereka. Rasa sakit menjalar hingga ke ubun-ubun.
“Kau kenapa malah mengincar pundakku?” Sigar bertanya lantaran ia menghunuskan pedang ke bagian dada kiri Yongchun, artinya jantung.
“Aku tidak perlu melukaimu lebih jauh.”
__ADS_1
“Oh ya? Aku ini bagian dari pikiran. Kepalaku akan menjadi taruhannya, kau tahu.”
Sigar menyeringai tipis, sesaat kemudian semilir angin datang darinya. Poni panjang itu tersibak dan melayang ke atas, pancaran kedua matanya yang biasa itu membuat Yongchun merasakan hawa membunuh hingga tubuh Yongchun bergetar seolah takut.
“Ternyata ini tidak berjalan sesuai rencana.”
“Kau benar. Tapi, di mana God Ear?”
“Kau tak perlu tahu itu.”
Sigar mencabut pedang itu, ia kemudian melayangkan serangan bertubi-tubi ke arah Yongchun hingga Yongchun tak sempat membalas namun hanya sekadar bertahan saja.
Percikan-percikan api jatuh ke bawah dengan menetes lalu menggenangi di atas darah yang sedikit demi sedikit pun bertambah karena luka Yongchun akibat serangan dari Sigar.
Angin menyebar ke sekeliling mereka, tanah pun bergetar kuat, hujan yang kian deras seolah menjawab panggilannya. Sigar menggunakan kekuatan itu untuk mempercepat langkah serta memperkuat serangan demi serangan yang ia layangkan pada Yongchun seorang.
Malam semakin larut, namun tak seorang pun menanggapi serangan berdentang dari waktu ke waktu. Suara yang begitu nyaring juga sedikit tersamarkan oleh guntur dari langit. Ia turun dan menyambar ke jalanan kosong.
Ctar!
Api menyambar tubuh Sigar ketika pedang mereka beradu dalam udara, sontak Sigar melangkah menjauh dari sana. Ia keluar dari gang pun sekaligus untuk memancing Yongchun ke suatu tempat.
“Sepertinya benar-benar tidak akan berjalan dengan baik, ya?”
Syak! Syak! Syak!
Yongchun menyabet udara, seketika beberapa bilah tajam pada serangannya terpisah pada pedang dan melesat di antara kabut malam lalu menyerang Sigar secara tak beraturan.
Akan tetapi, Sigar dapat mempertahankan dirinya. Ia menyelimuti dirinya sendiri dengan angin, hal itu mengingatkannya akan seseorang yang pernah ia lawan dulu. Wang Xian, yang kini telah menjadi kaisar berkat Yongchun.
“Aku tak berpikir akan jadi seperti ini. Yah, mau bagaimanapun dia adalah lawan terberat setelah Bon, tentunya.”
Tak ada kata ampun bagi mereka yang telah saling melawan semenjak waktu malam telah tiba.
__ADS_1
Trang!
Kedua pedang berbalut kekuatan itu kembali beradu dan sempat bergetar sesaat. Sigar memanfaatkan waktu dan kesempatan ini untuk menggunakan kekuatannya dari dalam pikiran.
“Melampaui batasan pikiran dan waktu,” sebut Sigar seraya menyentuh pelipisnya.
Ketika Sigar mengucapkan kalimat tersebut, sontak Yongchun dibuat terkejut. Lantaran Sigar sudah berada di belakangnya dan menghunuskan pedang ke bagian yang sama.
Yongchun tak berkutik sama sekali, sesuatu membuat kepalanya berdenyut sakit ketika pedang menembus tubuhnya. Ia mengeluarkan darah, mengotori jalanan serta air tergenang di sekitar mereka.
“Kau tahu, aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Selain mendengarkan apa yang akan dilakukan oleh lawan, tentu aku bisa menggunakannya untuk diriku sendiri.”
Clak!
Sigar mengibas pedang yang berlumur darah itu, cipratan darah yang tak sengaja dibuat berbentuk lingkaran, perlahan warnanya menggelap saat tetesan hujan jatuh di atasnya.
Kemudian Sigar mengarahkan mata pedang dari belakang punggung Yongchun, mengarahkannya langsung tepat ke urat nadi pada leher yang bergetar itu.
“Katakanlah, kau pasti tahu cara lain selain membunuh semuanya. God Eye.”
“Tidak. Tidak ada cara lain, selain itu. Atau ...kau ingin pulau Nihonkoku lenyap?”
Sigar terdiam sejenak seraya berpikir sesuatu mengenai yang barusan Yongchun katakan kepadanya. Ia enggan mempercayainya jika hanya diucapkan oleh Yongchun saja, akan tetapi tidak ada orang lain selain Yongchun yang jelas mengetahui keadaan apa yang menanti di depan sana.
“Tunggu, apa maksudmu! Kau akan bilang bahwa membiarkan kami hidup maka akan memperburuk keadaan sehingga pulau ini lenyap?”
“Tentu saja. Aku mengatakan yang sebenar-benarnya namun tak banyak dari kita yang mempercayai. Tidak, maksudku adalah kalian kecuali God Ear yang dulu ataupun sekarang,” ungkap Yongchun seraya menggenggam erat pedangnya.
Trang!
Yongchun memutar badannya seraya melayangkan serangan berputar setengah lingkaran mendatar ke arah Sigar, namun Sigar bertahan dengan mudah karena telah membaca pikiran Yongchun.
“Oh, jadi itulah mengapa kau membunuh mereka?”
__ADS_1
“Karena mereka tidak percaya, maka terpaksa aku lakukan agar tidak menganggu. Toh, tidak ada yang rugi kecuali pulau ini hancur.”
Mungkin Sigar berpikir bahwa pikiran Yongchun terlalu menganggap enteng hal itu, akan tetapi itu fakta dengan bukti sejarah lalu God Ear yang telah mengungkapkan hal-hal lain yang telah banyak diketahui oleh God Ear yang dulu.