Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
105. Malam Acara Kecil-kecilan


__ADS_3

Terhitung selama 10 bulan semenjak Yongchun (Asyura) pergi dari pulau laut timur. Relia dan Nia akhirnya menyusul ke tempatnya namun entah berada di mana lebih tepatnya, mereka pada akhirnya mencari secara manual.


Pulau-pulau kecil mereka lewati, sudah beberapa minggu dan hampir lewat dari bulan ke-11. Mereka pun datang ke pulau yang memanjang.


Di samping itu God Ear, ia tampaknya merasakan kehadiran seseorang. Ia sudah merasakannya bahkan sebelum kedatangan Relia dan Nia ke pulau Nihonkoku.


Melihat gerak-gerik mencurigakan darinya, God Hand yang kebetulan bersama dengannya lantas bertanya.


“Apa yang sebenarnya kau pikirkan?” tanya Romusha.


“Tidak ada. Hanya saja aku merasakan keberadaan God Mouth di pulau ini. Apa kau tidak merasakannya?” God Ear bertanya balik.


“Tidak, tuh. Aku sama sekali tidak merasakannya. Hanya saja, aku masih mencurigai God Eye. Tidakkah dia terlalu mencurigakan untuk seseorang yang memiliki Mata Dewa?”


“Apa maksudmu berkata begitu. Kalau kau berpikir bahwa orang itu g*la. Maka rata-rata dari kita pun tidak jauh berbeda dengannya.”


God Ear melipat kedua lengannya ke depan dada. Menatap api unggun di tengah lapangan, di mana mereka berkumpul untuk bersenang-senang.


Di waktu yang sama, Nia yang pergi berkeliaran di pulau itu sendirian. Pun berada di tempat yang sama dengan God Ear. Ia menggunakan jubah agar tidak terlalu diperhatikan oleh orang sekitar. Terutama para pendekar di sekitar api unggun itu.


“Ah, Nona! Ternyata ada wanita imut di sini. Mari bergabung?” sapa seorang lelaki hidung belang yang tengah bermabukkan hingga wajahnya memerah.


“Aduh, kenapa ada dia di belakangku, sih.” Nia menggerutu kesal, seraya ia menghindar dari lelaki tersebut.


Tak menyangka, niat awal agar tidak diperhatikan justru berbalik seperti memancing perhatian. Nia berupaya untuk kabur namun lelaki itu terus saja menempel dan menarik lengan Nia.


“Kau mau ke mana Nona?”


“Aku ingin pergi! Cepat lepaskan! Aku sudah bersuami tahu!” amuk Nia lantas menginjak kakinya, kemudian ia mengambil ancang-ancang dengan belati di balik jubah.


“Aduh! Kau? Tidak tahu berterima kasih, ya? Dasar wanita—”


Duak!


Sebelum Nia beraksi, seseorang datang menolong. Yakni God Hand, Romusha. Dengan tangan besarnya ia mampu menumbangkan tubuh lelaki itu hanya dengan satu pukulan ke ulu hati.


Reflek, Nia menyembunyikan belatinya lalu menatap Romusha dengan penuh curiga.


“Maaf ya. Orang ini memang suka sekali membuat masalah. Tapi begini pun, dia itu jago berpedang. Yah, meskipun tidak sekuat diriku, sih.” Romusha menyombongkan diri.

__ADS_1


“Oh, iya. Terima kasih.” Nia tidak menyukai basa-basi, sehingga ia pun lekas pergi dari sana. Dan bergegas menuju suatu tempat lagi.


“Kau mau ke mana? Malam-malam begini,” tanya Romusha seraya menarik lengannya.


“Jangan sentuh!” teriak Nia seraya menarik kembali lengannya. Seketika Nia menatap jijik ke arah Romusha.


“Maaf. Habisnya, aku penasaran kau datang dari mana. Aku mengenali semua orang di pulau ini. Atau kau mungkin berasal dari ujung pulau bagian barat? Atau timur?”


Romusha ternyata mengetahui bahwa Nia orang awam di sini.


“Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu. Sekarang, aku akan pergi.”


“Cara bicaramu juga tidak jauh berbeda dengan kami. Ternyata kau dari bagian timur rupanya.”


Nia membalikkan badan lantas pergi meninggalkan Romusha yang tengah tersenyum senang.


“Seandainya dia masih sendiri. Maka mungkin aku akan mempersunting dirinya,” gumam God Hand Romusha.


***


Klak!


Dan juga, mereka merasa kasihan karena Relia yang memiliki bayi.


“Ternyata kamu sudah pulang. Bagaimana jalan-jalannya? Hari ini ada acara kecil-kecilan bagi para pendekar. Jadi banyak orang yang mabuk.” Seorang wanita yang lebih tua darinya datang menyambut. Amiya.


“Kenapa kamu baru memberitahukannya padaku soal itu. Aku jadi kesal karena di luar ada seseorang yang berani menggodaku,” ketus Nia.


“Haha, jangan marah begitu. Sini, aku sudah menyediakan teh hangat untukmu.”


Nia melepas jubahnya, lalu duduk di tatami menghadap meja. Menyeruput teh hangat secara perlahan emosinya mereda seiring waktu.


Relia datang dari ruangan sebelah, ia barusan menidurkan anaknya dan kini ia datang ke ruang makan untuk menyantap makan dan minum di sana.


“Aku pikir kakak juga tertidur?”


“Tertidur sebentar,” jawab Relia.


“Oh, begitu rupanya. Dan lalu, Amiya, aku ingin tahu sebenarnya acara itu diadakan untuk apa?” tanya Nia kepada Amiya.

__ADS_1


“Itu acara biasa. Mereka barusan memenangkan pertarungan dari para perompak laut yang datang mendarat di sini.”


“Ternyata begitu. Beruntungnya kami datang saat pertarungan selesai,” ucap Nia sembari menyeruput kembali tehnya.


“Apa Nia sudah menemukan Asyura?” Relia bertanya.


Nia menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak, kak. Aku belum menemukannya. Besok, aku akan mencarinya ke penjuru daerah yang ada di pulau ini.”


“Jangan terlalu memaksakan diri, Nia. Memang mencarinya adalah prioritas utama, setelah mendengar bahwa akan terjadi sesuatu padanya saat gerhana bulan. Tapi Nia juga penting baginya ataupun bagi Relia.”


“Aku tahu, kak. Jangan mencemaskanku begitu, dong! Aku 'kan sudah dewasa,” gerutunya dengan kalimat ketus.


“Tentang suami kalian. Dia itu God Eye, Mata Dewa benar?” Amiya bertanya untuk memastikan. Karena siapa tahu ia dapat membantu mereka menemukannya.


“Ya, benar!” jawab Nia dengan tegas.


“Semua Pemilik Tubuh Dewa, termasuk God Eye akan berjumpa pada satu tempat yang sama untuk membangkitkan Dewa Hitam. Tapi aku tak pernah mendengar gerhana bulan,” ujarnya.


“Hm, kita menemukan persepsi lain rupanya.”


“Kamu akan mengerti saat bertemu dengan suami kalian kembali nanti. Atau mungkin, coba tanyakan pada para pendekar.” Amiya menyarankan.


“Aku mengerti. Dia juga pendekar, kemungkinan mereka akan tahu siapa yang kumaksud nanti. Pria buta dengan penutup kain dan dua pedang.”


Amiya, seorang wanita yang belum berkeluarga. Ia tinggal seorang diri dalam rumah tanpa ada yang menemani. Dirinya bertahan hidup di masa krisis, juga ia merasa tak sendiri karena banyak orang di pulau yang kerap kali menyapanya.


Semenjak bertemu dengan Relia dan Nia, Amiya tampak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Dan benar saja, mereka mencari seseorang yang bagian dari Pemilik Tubuh Dewa. Seseorang itu pun juga suami mereka.


Akan tetapi Amiya sebagai penduduk biasa, ia tidak begitu mengerti jelasnya tentang Para Pemilik Tubuh Dewa, ataupun Dewa Hitam itu sendiri.


***


Malam sudah larut, God Ear dan Romusha yang masih bersama di dekat api unggun mulai bertukar kata. Romusha juga sempat bercerita tentang keberadaan seorang wanita asing yang menarik perhatian dirinya. Namun God Ear hanya menganggap itu hal biasa, dan tak lama lagi maka mungkin Romusha akan melupakannya.


“Jangan meremehkan perasaan cinta!”


“Aku sudah bilang, hal itu tidak berguna bagi kita. Kau tidak lupa dengan apa yang aku katakan sejak dulu, bukan?” ketus God Ear menatapnya sinis.


“Hihi, aku hanya bercanda saja.”

__ADS_1


__ADS_2