Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
012. Sisi Lain Wang Xian


__ADS_3

Pemimpin Luo merangkak keluar, ia merintih kesakitan dengan tubuh yang berlumuran darah. Ketika itu semua orang tidak ada yang bisa membantunya, hanya ada Yongchun seorang.


“Kau rupanya!?” pekik Pemimpin Luo.


Tampak ia marah, namun entah karena apa. Yongchun hanya terdiam tanpa memikirkan apa pun.


“Pemimpin Luo, ini semua karena dirimu sendiri. Tidak pernah memperhatikan pengikutmu adalah suatu kesalahan besar. Tapi apa pun yang telah terjadi di sini benar-benar bukan kesalahkanku jadi jangan ada dendam di antara kita,” tutur Yongchun seraya duduk berjongkok menghadapnya.


“Omong kosong! Kau membuat mereka melakukan hal ini semua karena mata dewa terkutukmu itu, bukan? Mana mungkin mereka melakukan hal ini hanya karena hal sepele itu. Bahkan tangan kananku saja sudah mengkhianati diriku. Sungguh tak dapat dipercaya!” amuknya.


“Hei, dengar. Aku hanya bercerita mengenai keadaanku dulu saat di masa perang saudara. Tak ada habisnya serangan dari mereka terutama dari temanku sendiri. Apakah kau mengerti apa yang kumaksud?”


Sontak Pemimpin Luo terdiam nampak memikirkan sesuatu mengenai perkataannya.


“Perang saudara? Siapa sebenarnya dirimu?”


Mendengar Pemimpin Luo menanyakan siapa dirinya, Yongchun lantas tersenyum. Ia pun mengatakan sejujurnya. Bahwa Yongchun sendiri adalah sang penguasa wilayah timur tengah, Asyura.


Awalnya Pemimpin Luo juga sudah menduganya namun akhirnya ia lebih mengerti kenapa penglihatan Yongchun tertutup. Lalu aura yang menyembur keluar itu juga, ia sudah yakin bahwa Yongchun lah ulahnya.


Pemimpin Luo terbatuk-batuk. Luka yang ia derita benar-benar parah sampai darahnya mengalir ikut keluar dan menggenangi jalan.


***


Pada keesokan harinya, di kediaman Wang. Pagi-pagi buta sekali, seseorang mengetuk pintu gerbang miliknya. Langkah dari satu pendekar itu tertatih-tatih dan suara yang ia keluarkan perlahan menjadi sangat lirih.


Wang Xian keluar begitu mendengar ada seseorang di luar. Ia menatap orang yang sekarat itu dengan sinis.

__ADS_1


“Dia ...dia adalah penguasa wilayah timur laut, Asyura! Kumohon, habisi dia Pemimpin Wang!” pintanya dengan memelas. Pendekar itu adalah pengikut Luo, ia datang dengan penuh luka dan berharap Pemimpin Wang melakukan sesuatu terhadap Yongchun (Asyura).


Lantas, Wang Xian hanya tersenyum tipis. Sembari ia membuat pria itu bersandar ke dinding.


Lalu berkata, “Aku tahu.”


Crak!


Tanpa ampun Wang Xian bukan untuk membantu melainkan membunuhnya. Sosok yang kejam seperti ini barulah awal mulanya. Seolah-olah ia memang merencanakan hal ini.


“Dasar, si pendekar itu. Melakukan hal yang terlalu berlebihan. Tapi tak masalah buatku, karena Pemimpin Luo juga pasti sudah mati di tangannya? Dengan begini aku tak perlu mengotori tanganku lagi,” tukas Wang Xian.


Fajar telah menyingsing, semua orang kembali bekerja dengan semangat. Akan tetapi Yongchun tidak pulang sejak kemarin, setelah apa yang terjadi di kediaman Luo mungkin saat ini ia sedang menghindari para pemimpin kultus terutama Wang Xian.


Desiran angin dalam hutan terdengar seperti amukan dari seseorang. Pepohonan dan dedaunan yang menari-nari menandakan angin kencang terus melandanya.


Pada saat itu Yongchun tengah sendirian menuju hutan, berharap ia bertemu dengan Pemimpin Yin. Ada banyak hal yang ia ingin katakan dan tanyakan namun sangat sulit untuk menemui Pemimpin Yin.


Air sungai yang jernih itu sangat tenang. Burung-burung berterbangan bebas mengelilingi hutan. Beberapa jam yang ia menunggu sampai matahari semakin meninggi pun Pemimpin Yin tidak kunjung datang dan menyerangnya.


“Hah, benar-benar tidak ada yang bisa dipercaya di sini.” Yongchun menghela napasnya.


Tak lama setelah itu, seseorang datang. Ialah sepupu Wang, Wang Nam yang pernah mengajarinya cara mengalirkan tenaga dalam dengan benar.


“Paman Yongchun, sedang apa di sini?” tanya Wang Nam.


“Aku hanya menunggu seseorang tapi tak kunjung datang. Jadi aku tidur di sini,” jawab Yongchun setengah sadar.

__ADS_1


“Oh, begitu rupanya.”


Wang Nam datang di hari yang hampir siang ini untuk berlatih sebentar. Mengayunkan pedang kosong, berlari mengelilingi hutan dan lain-lain agar stamina yang ia miliki semakin bertambah dan kuat.


“Wang Nam, kau tak lelah melakukan itu?” tanya Yongchun. Rupanya ia sudah tak lagi mengantuk.


“Ya? Aku hanya berlatih ini saja sudah termasuk ringan bagi pendekar lainnya. Paman sendiri hanya datang kemari untuk menunggu seseorang yang mungkin takkan datang, bukankah itu membuang-buang waktu? Bagaimana kalau ikut aku melatih diri?” Wang Nam menyarankan.


Yongchun menggelengkan kepala. Ia sama sekali tak tertarik untuk melatih dirinya sekarang. Wang Nam yang juga sudah sangat lelah karena latihan yang ia mulai sendiri pun akhirnya duduk di sebelah Yongchun, beristirahat sejenak.


“Paman, sepertinya banyak sekali yang sedang kau pikirkan, ya? Meskipun matamu tertutup, ekspresi itu jelas masih nampak,” sindir Wang Nam.


“Mungkin iya, tapi aku terlalu kepikiran tentang hal itu. Lagipula bukankah wajar memiliki pikiran rumit di saat sudah dewasa?” ujar Yongchun.


“Paman benar juga. Terkadang Paman Xian juga memiliki wajah yang sama seperti dirimu saat ini. Wajah kusut yang sedang banyak pikiran. Berbeda sekali dengan Ayahku yang tukang minum,” celetuknya.


“Bahkan Wang Xian juga pernah begini rupanya. Yah, semua orang pasti juga. Hei, Wang Nam. Ada hal yang ingin kubicarakan padamu. Ini tentang 7 Surgawi, apakah kau mengetahui hal ini?” tanya Yongchun.


“7 Surgawi? Tentu saja semua orang tahu itu. Para pemimpin kultus yang berada di sekte yang berbeda-beda. Mulai dari Wang, Luo, Zhao, Yang, Li, Xie, lalu Yin yang paling terakhir. Kenapa bertanya hal seperti itu?”


Wang Nam bahkan tahu tentang urutannya. Urutan yang berdasarkan kekuatan mereka. Pemimpin Wang adalah orang yang berada di posisi pertama, jadi tak heran kalau ia dekat dengan Kaisar Ming. Namun Luo? Luo adalah yang kedua, Yongchun merasa aneh namun tak bisa menyangkal kalau ternyata Pemimpin Luo semudah itu dimanipulasi.


Walau Yongchun sendiri tak sengaja melakukan hal seperti itu.


“Hah ...benar-benar bikin kecewa. Padahal aku ingin tahu kekuatan apa yang dimiliki Pemimpin Luo. Tapi tak kusangka akan semudah itu dia dilukai,” gumam Yongchun dengan lirih seraya ia kembali menghela napas panjangnya.


“Ada apa paman? Terlihat lelah begitu ...” Wang Nam menunjukkan wajah kebingungan.

__ADS_1


“Tidak ada apa-apa. Oh ya, Wang Nam. Apa kau mengerti sesuatu tentang, "Mata Dewa yang terkutuk", pernah mendengar cerita atau sesuatu hal ini?” tanya Yongchun.


Wang Nam menunjukkan wajah kebingungan itu lagi. Rupanya ia benar-benar tak mengerti dengan yang ia bicarakan tadi. Tapi hal inilah yang membuatnya terus kepikiran suatu hal, banyak dari pemimpin kultus yang selalu menyinggung kedua matanya yang buta. Yongchun jadi khawatir.


__ADS_2