Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
032. Mata Dewa Bagian II


__ADS_3

Yongchun berusaha untuk bernapas lebih teratur, keadaan di sekitar pun berubah seiring para pemimpin kultus yang tersisa menatapnya.


“Apa yang harus kami lakukan?”


“Tentu saja, melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”


“Yakin? Bukankah dia adalah bagian dari keluargamu?”


“Tidak. Itu hanya sandiwara belaka.”


Wang Xian sudah berterus terang mengenai keberadaan Yongchun yang adalah Asyura Ayah, sosok penguasa wilayah timur tengah ada di hadapan mereka.


Keduanya kaki bergerak namun dengan cepat Wang Xian bertindak, menghentikan kedua tangan yang menggenggam pedang itu. Yongchun berupaya menyerang namun tak kuasa melawan sebab sesuatu yang ada di dalam dirinya mulai bergelojak.


Banyak dari mereka, seolah mengutuk Yongchun.


Mata Dewa yang Terkutuk, tak ada yang bisa diharapkan. Bunuh saja atau lakukanlah sesuatu. Semua perkataan mereka terus terngiang-ngiang di kepalanya. Rasanya bukan sakit, tapi muak.


“Dari awal, bukankah sudah ada perjanjiannya? Apa kau berniat membohongiku setelah aku membantu kalian semua?”


“Tak ada yang bisa kau katakan lagi. Karena dari awal, memangnya ada perjanjian di antara kita? Itu semua 'kan hanya sepatah dua kata,” jelas Wang Xian sembari tersenyum lebar.


Kalau saja ini hanyalah pertengkaran kecil. Jika saja, ia mempunyai kecurigaan. Dari awal pun tahu, kalau di sekeliling Kaisar Ming dan Wang Xian memiliki aura yang begitu hebat. Namun, di balik kegagahan atau kebajikan, terdapat sisi kebohongan gelap.


Secuil apa pun kebohongan itu ada di dalam diri mereka, pastinya akan berkembang menjadi lebih besar. Dan dengan bodohnya Yongchun percaya kalau suatu saat dua orang itu akan berubah.


Begitu juga dengan para pemimpin kultus, selain Wang Xian, mereka menunjukkan sisi kebohongan di balik muka tebal mereka.


Yang Jian juga sama. Perkataannya berbanding terbalik dengan apa yang sebelumnya dikatakan. Seakan-akan ia berkata, "Aku hanya mengikuti Pemimpin Wang. Tunggu dan lihatlah sampai ini selesai."


Akan tetapi tak ada waktu untuknya menunggu lebih lama di sini. Ia harus cepat-cepat memutuskan sesuatu.

__ADS_1


“Kau akan menyesali ini, Wang Xian.” Sembari mengucapkan kalimat tersebut, Yongchun memuntir kedua lengannya dan dalam sekejap posisi mereka berbalik.


Aura menekan berupa intimidasi. Hanya dengan satu kata dari Pemimpin Wang, semuanya bergerak tuk menyerang Yongchun dari segala sisi.


Kontak mata antar pemimpin kultus, menandakan mereka merencanakan sesuatu di balik tindakan mereka hari ini. Satu persatu dari mereka menyayat tubuhnya, lagi dan lagi. Hingga darah itu terus mengalir dengan deras, membasahi tumpukan salju dan batu di sekitar.


Tap!


Wang Xian melepaskan diri dari genggamannya. Lalu menjauh dan melihat langkah Yongchun tertatih-tatih. Tubuhnya tak lagi seimbang, ia mungkin akan jatuh sebentar lagi karena mengalami pendarahan cukup hebat.


Tidak!


Pikiran pria buta itu mulai kacau. Berbagai emosi melonjak naik dan mengacaukan tenaga dalam yang ia punya. Ia tetap berdiri, berusaha mempertahankan posisinya saat ini. Hingga secara tak sadar, sehelai kain yang menutupi penglihatan terkutuk itu jatuh terlepas dengan sendirinya.


Angin membawa sehelai kain itu pergi jauh. Disusul dengan aura menggelegar keluar dari tubuhnya. Bercak-bercak hitam menutupi tubuh, wajah dan jalan di sekitar.


Cemas akan terjadi sesuatu, sebelum semua ini akan berlanjut sampai pagi hari. Wang Xian menarik pedang dan memusatkan tenaga dalam di satu titik penuh, ia menggunakannya berkali-kali, menusuk tubuh Yongchun dan meninggalkan bekas luka.


Xie Xie menggunakan kabut asap, menutup seluruh Yongchun dengan berharap pergerakan sepenuhnya terhenti.


“Kupikir mereka akan bersandiwara untuk menyerang diriku. Tapi sepertinya, mereka juga punya pikiran untuk membunuhku yang mempelajari seni iblis atau apalah itu.” Terbesit olehnya bahwa ini hanya ilusi semata namun apa daya bahwa rasa sakit ini membuatnya tersadar kembali ke kenyataan.


Takdir sangat kejam, mengapa pria buta ini harus menanggung segalanya?


Saat peperangan saudara terjadi, berbagai cara musuh berupaya tuk membunuhnya. Dan kini ia harus berhadapan dengan musuh yang memiliki tenaga dalam yang hebatnya jauh dari orang biasa.


Tapi berkat mereka, ia jadi lebih mengenal dirinya sendiri. Sosok apa dan kenapa dirinya yang buta ini dapat melihat dan membaca emosi manusia di lubuk hatinya yang terdalam. Berbagai pertanyaan itu langsung terjawab.


Mata Dewa yang Terkutuk sialan itu mencoba membuat Yongchun berpikir bahwa dirinya sangat hebat. Jelas tidak setelah ia tahu bahwa ini adalah kutukan yang membawa keberkahan.


Ha?

__ADS_1


Keberkahan?


“Hahaha! Yah, aku sudah terbiasa dikhianati. Jadi ini bukanlah ancaman serius buatku. Kalau mau, aku sudah membunuh Pemimpin Wang ataupun Kaisar Ming semenjak aku datang kemari!” Seruan Yongchun terdengar menggaung di dalam daerah terpelosok ini.


Tak pernah sekalipun ia mendapatkan keberkahan yang layak dari Mata Dewa yang Terkutuk miliknya itu. Hanya berupa kedamaian namun berujung kemiskinan lalu dua istri yang galak?


Mana mungkin ada kutukan yang membawa keberkahan!


Setelah dipikir-pikir kembali, semua sama konyolnya dengan pemberontakan terhadap kekaisaran itu.


Tak kunjung mereda emosi yang bergelojak di dalam hatinya. Li Bai, Xie Xie lalu Yang Jian yang melesat ke arahnya pun terus melancarkan serangan demi serangan.


Mata pedang milik Yang Jian seolah berbayang, pedangnya melengkung dan menembus tulang rusuk Yongchun.


“Sudah cukup kau melampiaskan emosimu dengan teriak seperti itu?” lirih Yang Jian dengan wajah suram.


“Aku bukannya mempelajari seni iblis dan juga bukan orang yang mempercayai sebuah ritual agar hidupku tenang selalu.” Yongchun menepuk pundaknya. “Kau tahu, aku ini benci pengkhianatan meski aku harus memaafkan seseorang,” bisik Yongchun.


Wang Xian, Xie Xie lalu Li Bai mewaspadai sesuatu.


Yang Jian masih membiarkan pedang itu menusuk dadanya. Setelah diajak bicara sebentar, Yongchun membisikkan sesuatu. Selain mereka tak ada yang tahu apa kata-kata yang dilontarkannya.


Seketika membuat tubuh Yang Jian bergidik merinding. Hawa tak enak itu mengalir keluar dari Yongchun. Seringai yang lebar serta taring mencuat keluar membuatnya terlihat mengerikan.


“Alasanku pergi mendaki gunung itu karena ingin bertemu Pemimpin Yin. Dia sedikit mirip denganku, karena itulah aku ingin bertemu dengannya,” imbuh Yongchun.


Mengatakan bahwa ia sedikit mirip dengan Yin Ao Ran. Berupa wujud dari kekuatan yang terkutuk.


“Hah?”


Beberapa bayangan yang berwujud pedang muncul di udara sekitarnya. Sekali ia menepuk pundak Yang Jian, kemudian serangan itu menghujamnya tanpa celah.

__ADS_1


Tak hanya Yang Jian saja yang tertusuk pedang bayangan, Yongchun pun ikut kena getahnya. Lantaran kekuatan itu murni berasal dari tenaga dalam Yongchun, agaknya meniru kekuatan Pemimpin Yin.


__ADS_2