Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
035. 3 Pemimpin Kultus Ditundukkan!


__ADS_3

Saat itu, para pemimpin kultus selain Wang, Luo dan Yin yang entah ke mana, dipanggil oleh Kaisar Ming.


Setelah melaporkan semua yang ada. Kaisar Ming itu menyeringai dan menatap Yongchun. Terbesit olehnya bahwa Kaisar Ming merencanakan sesuatu.


Setelah ia menyatakan ...


“Adakah yang dari kalian keberatan, Wang Yongchun menjadi salah satu Pemimpin kultus 7 Surgawi?”


Semuanya terdiam. Suasana hening di dalam membuat hati Yongchun gelisah tak karuan. Tidak lama setelah Kaisar mengatakan hal yang sembarangan seperti itu, semua para pemimpin di sana menunjukkan emosi di lubuk hatinya yang terdalam, sebuah perasaan senang, bersahaja, dan menerima.


“Sangat senang mendengarnya!” seru mereka bersamaan.


“Hah? Mereka 'kan sudah tahu aku siapa. Tapi kenapa mengiyakan keputusannya begitu sih?”


Dalam hati, Yongchun bertanya-tanya ada apa ini sebenarnya. Lantaran tak seorang pun yang membicarakan tentang identitas Yongchun yang asli. Bahkan mereka sepakat menyetujui keputusan Kaisar Ming.


“Yang Mulia, tunggu! Mohon tunggu sebentar ...”


“Tidak, tidak. Wang Yongchun, ini kesempatan dariku. Dan aku berniatmu memberi emas sebagai imbalan yang juga mereka dapatkan. Kau paham maksudku?” ujar Kaisar Ming memotong kalimat Yongchun hendak protes.


“Apa maksudmu adalah membiarkanku menjadi salah satu pemimpin kultus agar aku mudah dimanipulasi olehmu?” batin Yongchun dengan jengkel. Tanpa sadar ia berdecih, semua orang mendengarnya.


“Kalau begitu, kita sudah putuskan hal ini.”


Pernyataan sepihak itu benar-benar tidak membuat Yongchun tenang. Hanya sebentar saja ia ingin beristirahat tapi ada-ada saja yang menjadi hambatan sekaligus kesempatan yang lebih mumpuni.


Di luar gerbang istana, Yongchun yang keluar terakhir tiba-tiba saja disambut oleh ketiga pemimpin kultus bersujud di hadapannya.

__ADS_1


“Pemimpin Yongchun! Kami akan mengikutimu!” seru mereka.


Tidak lain adalah Pemimpin Li, Xie lalu Zhao yang sebelumnya menyetujui kerja samanya. Sesaat bulu kuduknya merinding, ada yang salah di sini. Ia pun pergi seolah tak melihat mereka bertiga di hadapannya.


“Jahat sekali, kita diabaikan oleh atasan,” sindir Li.


“Apa? Apa yang kalian maksud? Jika ingin bicara lebih baik jangan di sini. Tiba-tiba bersujud dan mengatakan hal seperti itu. Bukankah kalian tahu siapa diriku sebenarnya?!” ketus Yongchun bernada tinggi.


Ia kemudian pergi menuju ke arah pondok kecil milik Wang Xian. Tetapi, mereka bertiga masih saja mengikutinya. Berniat menghindar namun selalu tak bisa, Yongchun jadi kesal.


“Kenapa kalian mengikutiku?! Benar-benar ingin membicarakan sesuatu, ya?” tanya Yongchun, ia berhenti lantas menoleh ke belakang.


“Tentu saja. Kami, setelah tahu siapa dirimu sebenarnya. Justru itu membuat kami merasa senang. Yongchun, kau ingin membuat wilayahmu tak lagi miskin, bukan? Karena itulah kau datang kemari tuk menyatukan negri dan berbagi harta yang Kaisar Ming punya. Tapi kami mempunyai usulan lain,” tutur Li Bai.


“Pemimpin Xie, kau mengatakan sesuatu ini pada mereka?” tanya Yongchun sebelum ia membalas perkataan Li Bai.


“Sebelumnya tidak. Tapi setelah Pemimpin Wang mengatakan hal itu pada kami, termasuk tujuanmu datang kemari, aku memutuskan apa yang kau rencanakan jika suatu saat ada kendala. Salah satunya adalah para pemberontak semalam,” jawab Xie Xie.


Li Bai tersenyum puas. “Senang kalau kau tahu maksudku dengan baik. Emas yang diberikan pada kami dan kau, itu sebenarnya adalah penghasilan para penduduk yang bertani, berdagang dan lainnya. Dia mengambil hampir seluruh bayaran mereka yang seharusnya itu milik mereka.”


“Berupa pajak. Pajak yang berlebihan. Karena itulah aku pernah mengatakan bahwa aku ingin mencapai kedamaian di wilayah ini, bukan?” sahut Xie Xie.


Zhao Yun tertawa keras mendengar kalimat Xie.


“Hei Nona Xie Xie, aku harap itu betulan kedamaian yang hendak kau capai. Pajaknya memang terlalu berlebih, Kaisar Ming juga keterlaluan, seenaknya makan harta para penduduk dengan itu. Tetapi, apakah dengan menggulingkannya itu cukup?” balas Zhao Yun. Tindakan dan cara bicaranya selalu saja bersifat impulsif, tapi ternyata akalnya encer juga untuk seorang pria besar.


“Lantas bagaimana? Hanya itu caranya. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian.”

__ADS_1


Zhao Yun menghela napas, ia kemudian berbisik langsung di telinga Xie Xie, “Ada aku, 'kan?” Dia berkata begitu dengan sok percaya diri.


Yongchun melihat ke sekeliling tuk memastikan tak ada yang mendengar ataupun yang sedang mendekat kemari.


“Ya, baiklah aku mengerti. Tapi membuatku sebagai perisai dan pisau? Aku yakin kalian tahu apa pun bisa kulakukan di sini dengan caraku sendiri, termasuk membunuh kalian. Aku tak ragu melakukan hal itu, meski sekarang aku sedang berada di wilayah lain yang bukan wilayahku,” jelas Yongchun.


Seketika itu suasana kembali hening. Mereka memiliki tujuan yang sama dengannya memutuskan untuk kerja sama dengan Yongchun.


Alasan Xie Xie cukup jelas, sejak dulu ia ingin melakukan sesuatu agar para penduduk dibayar dengan biaya yang seharusnya mereka dapatkan. Walau penduduk di wilayah timur laut tidak mengeluh, dan merasa bercukupan seperti itu. Tapi tetap saja, Kaisar Ming itu tega memalak penduduknya sendiri.


Ini jelas salah!


Lalu Li Bai juga sama, ia merasa adanya ketidakadilan di sini. Kurang lebih sama dengan apa yang dipikirkan Xie Xie.


Lalu Zhao? Entah apa yang sebenarnya menjadi alasan dia untuk ikut kerja sama dengan Yongchun.


Di bawah rembulan malam dan salju yang turun, semua kalimat yang dilontarkan Zhao Yun saat itu benar-benar nyata adanya. Tak sedikitpun tercium aroma kebohongan atau kelicikan.


Ia akan mengikuti seseorang yang dipikirnya jauh lebih baik. Pikiran Zhao Yun termasuk simpel. Mudah dibaca.


“Pemimpin Zhao, apakah alasanmu yang saat itu meminta kerja sama denganku sama dengan mereka?” tanya Yongchun.


Zhao Yun menjawab dengan suara tegas, “Tidak! Aku hanya mengikuti orang yang lebih layak untuk diikuti! Apakah kau keberatan karena aku tak seperti mereka yang mementingkan para penduduk?” tanya Zhao.


“Kau bukanlah seorang penguasa yang memikul beban para penduduk di sini. Tapi setidaknya, aku merasa kau cukup aman untuk berada di sisiku kelak. Meski kau mengatakan bahwa dirimu tak peduli dengan mereka, namun rasa keinginan untuk menyelamatkan orang yang lebih lemah itu ada, 'kan?”


Yongchun tersenyum dengan puas mendengar alasan simpel itu lebih menarik baginya. Suatu saat ia mungkin akan benar-benar mempercayai Zhao Yun.

__ADS_1


Tetapi dibalik itu. Mereka punya alasan pribadi masing-masing. Itu jelas terlihat dari emosi, berupa hati yang sedang berbunga-bunga. Terdapat hubungan rumit di antara ketiga orang itu.


“Aku berpikir mungkin keputusan kalian terlalu gegabah dan terburu-buru. Tapi akan kupastikan kalian tidak akan mati selama kalian mengikutiku.”


__ADS_2