
“Raja Pendekar!”
Rahmana kembali memanggil namun tepat sebelum itu, Yongchun berhenti melangkah lebih dulu. Mendapati banyak orang di hadapannya dengan sorot mata kebencian yang sama.
Rahmana terkejut dan seketika membungkam mulutnya. Membisu kala suasana itu terasa begitu canggung.
“Siapa yang kau sebut Raja? Aku tidak cocok dengan sebutan itu,” sahut Yongchun sembari menoleh ke belakang. Menyunggingkan senyum lebar nampak gigi.
Rahmana enggan menjawab. Kemudian Yongchun menatap mereka semua yang ada di hadapannya sekarang. Senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya yang penuh luka, entah apa yang dipikirkan.
“Kau ...selama ini telah menipu kami!” seru mereka bersamaan.
Mereka yang tidak lain adalah para pemberontak. Membenci kekaisaran yang dipimpin oleh Ming Guo selama beberapa tahun terakhir. Kematiannya adalah hadiah terbesar bagi mereka yang menunggu hari kebebasan itu.
Tetapi, mereka mulai melontarkan kata-kata kasar kepada Yongchun. Ia rasa tahu penyebab mereka marah saat ini. Yakni, membuat mereka secara tak sadar melawan para penduduk yang enggan mereka lawan.
Tentu saja sebagai pemberontak, mereka hanya membenci Kaisar Ming Guo tapi tidak dengan penduduknya yang seakan terpengaruh oleh kekuasaan itu. Dan karena itulah mereka marah saat tahu penduduk ternyata ikut bertarung sehingga sulit dibedakan dengan pendekar.
“Ya, 'kan? Kau sudah tahu kalau ini akan terjadi! Tapi kenapa tidak memperingatkan kami. Padahal sebelum ini kau jelas-jelas bilang bahwa penduduk takkan kami serang tapi nyatanya berbeda!”
“Itu benar sekali! Ternyata kau ini penipu!”
Berbagai caci makian terdengar menusuk di hati. Namun Yongchun sudah terbiasa akan hal itu. Baginya, perkataan tidak lebih penting dari pedang yang benar-benar menusuk.
Ia kemudian menjawabnya dengan senyum lebar, “Bukan aku yang menyerang mereka di malam itu. Tapi kalian sendiri, 'kan? Kalian lah yang telah menyerang mereka. Lalu siapa suruh kalian percaya begitu saja padaku?” tuturnya seolah mengejek mereka.
Para pemberontak lantas tersentak akan perkataan Yongchun barusan. Mereka memang sangat mudah percaya dengan rencana yang takkan melibatkan penduduk namun masih dapat disangkal sebab awal mulanya dari Yongchun.
Tap ...tap! Beberapa langkah ia melewati jalan di sisi kanan mereka. Sembari membisikkan sesuatu yang semakin membuat mereka terkejut dan tak dapat bicara selama beberapa waktu.
__ADS_1
“Karena tak semua rencana bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Tapi setidaknya kalian harus merasa beruntung karena penduduk yang kalian sayangi tidak ada yang mati,” katanya membuat semua tercengang.
Bergidik sesaat tak mampu membalas perkataannya. Seolah-olah Yongchun membuat mereka diam dan mendengarkan semua perkataannya. Termasuk Rahmana, tak percaya kalau ternyata sosok yang disebut sebagai sahabat Gupta adalah orang yang sebegini kejamnya.
“Seumur-umur baru pertama kali ini aku ikut perang tanpa adanya korban jiwa. Aku sedikit merinding karena ternyata kekuatan kultus 7 Surgawi benar-benar sangat hebat,” ucap Yongchun membanggakan mereka.
Setelah ia berjalan melewati mereka. Tampak semua berkedip-kedip lalu berbalik badan dan melihat punggung lebar Yongchun yang kian menjauh.
Salah satu dari mereka berbicara begitu lantang. “Apakah memang hanya itu satu-satunya cara? Makanya kau tak mau membuat kami semakin menciut?”
“Hm, tidak.” Yongchun berdeham agaknya ia menjawab dengan sedikit tajam. “Sebenarnya ada berbagai cara tapi sudah terlambat untuk dilakukan. Tapi dengan begini kalian bisa bebas dari Kaisar Ming, 'kan?” ujarnya.
“Semua yang kau katakan memang seperti kenyataan!” teriak Rou Ai dengan mata berkaca-kaca.
Yongchun terkejut, ia kemudian berhenti melangkah lagi. Sekali lagi berbalik badan ke belakang, menatap Rou Ai yang dengan hati membara namun lemah.
“Tidak, tidak. Itu semua karena Kultus 7 Surgawi. Aku hanya memberikan rencana itu jadi ...” Yongchun merasa sungkan.
“Aku Rou Ai! Berjanji akan setia padamu, Tuan Yongchun!” ucap Rou Ai dengan lantang.
“Eh?” Tiba-tiba situasi ini menjadi sedikit rumit. Setelah Rou Ai mengikat janji padanya sendiri tuk selalu setia pada Yongchun, kemudian pemberontak yang lain ikut menyusul seperti yang dilakukan oleh Rou Ai.
Tentu saja Yongchun jadi sulit untuk menerima ini. Padahal ia hanya berniat membantu mereka dari balik layar, tapi tampaknya, perannya sebagai ketua pemberontak bohongan menjadikan mereka menjadi bawahan betulan.
Bahkan Rahmana dibuat terbelalak tak percaya dengan semua ini. Mereka semua bertekuk lutut pada orang yang nyaris membuat para penduduk mati karena tangan mereka sendiri. Lalu, lihatlah sekarang! Mereka berjanji untuk selalu setia?
“Apa ini yang dinamakan kharisma seorang Raja Pendekar?” pikir Rahmana dalam diam.
“Ke mana Tuan akan pergi?” Rou Ai bertanya.
__ADS_1
Semula ia diam selama beberapa waktu seraya melirik ke arah Rahmana yang berwajah serius menantikan jawaban itu. Namun Yongchun pada akhirnya tak mau menjawab ke mana ia akan pergi.
“Tidak bisa aku katakan,” kata Yongchun sambil membuang muka.
“Kalau begitu, biarkan kami—”
“Tidak. Kalaupun kalian benar-benar menaruh kepercayaan dan setia padaku, maka kalian harus tetap di sini dan menjaga Wang Xian selama ia menjadi Kaisar,” sela Yongchun memotong kalimatnya.
“Ternyata dia gemar menyembunyikan suatu hal, ya.” Rahmana membatin sekali lagi. Wajahnya terlihat menyesal karena sebelum ini ia dibuat kagum oleh Yongchun.
Sontak, para pemberontak serta Rou Ai jadi sedih mendengarnya. Mungkin mereka berniat akan pergi bersama dengan Yongchun namun Yongchun tak bisa melakukan hal itu karena memang berniat untuk pergi sendiri.
Bahkan Yongchun masih tak menyangka bahwa Rou Ai punya wajah seperti itu untuk ditunjukkan. Seberapa setia orang ini sampai-sampai enggan berpisah dengan Yongchun. Padahal sebelum ini, terlihat Rou Ai sangat membencinya.
“Kenapa kau yang sebelumnya membenciku jadi begini?” tanya Yongchun yang penasaran.
“Sepertinya tidak ada alasan khusus. Hanya saja aku merasa sangat terbantu dan firasatku mengatakan bahwa Tuan adalah pria yang harus aku ikuti,” jawab Rou Ai.
“Seperti Zhao Yun, ya. Tapi mereka tidak dalam satu kubu yang sama secara tidak langsung. Apa karena Rou Ai adalah pengguna Seni Iblis, jadi aku merasakan bahwa kami sedikit terhubung?” pikir Yongchun dalam benaknya.
Kini, ia mulai merasakan sedikit kekuatan yang sama seperti Mata Dewa-nya. Samar-samar merasakannya dalam jiwa Rou Ai yang adalah pengguna Seni Iblis. Secercah harapan yang membuatnya berpikir bahwa mungkin Rou Ai bisa diselamatkan dari kekuatan itu.
“Hei, namamu Rou Ai, 'kan?” Yongchun lantas mendekati Rou Ai. “Setiap pengguna Seni Iblis pasti akan mati cepat atau lambat, itulah yang dikatakan para Pemimpin Kultus 7 Surgawi. Tapi melihat kita sedikit terhubung, aku rasa kau punya takdirnya sendiri untuk terus hidup,” tutur Yongchun sembari menepuk pundak Rou Ai.
“Aku tahu kau berniat menyerahkan nyawamu setelah aku mendapatkan kepercayaanmu. Tapi Rou Ai, tugasmu hanya di sini dan menemani Wang Xian. Lalu, aku jamin, semua pengguna Seni Iblis yang berjanji setia seperti dirimu maka kemungkinan besar mereka akan terus hidup,” imbuh Yongchun.
“Benarkah demikian?” Agaknya Rou Ai masih tak percaya.
Yongchun menganggukkan kepala, tanda bahwa itu benar. Karena jiwa dan raga tak pernah berbohong, maka Yongchun menjamin keselamatan mereka.
__ADS_1