Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
096. God Hand Romusha


__ADS_3

Pikiran Dewa bahkan Telinga serta Tangan Dewa pun memperhatikan Yongchun dengan waspada. Satu-satunya tamu yang baru saja diundang ini. Mereka amat penasaran, siapa dan apa yang bisa dilakukan oleh Mata Dewa.


“Nah, giliranmu. Yongchun, Mata Dewa.”


“Dosaku yang paling berat adalah mengintip seorang wanita yang sedang membasuh diri,” ungkap Yongchun seraya menenggak minuman yang baru saja disajikan.


Sontak, semua Pemilik Tubuh Dewa yang hadir lantas terkejut. Mereka semua membelalakkan kedua mata, tak percaya dengan apa yang barusan ia katakan.


“Kau tidak pernah membunuh? Satu orang? Atau dirimu sendiri?” tanya Romusha.


“Membunuh, ya ...”


Yongchun berdeham seraya memalingkan wajah tuk mengingat semua kenangan buruknya. Setelah beberapa saat, ia kemudian menatap mereka satu persatu.


“Aku pernah membunuh seseorang. Ini sudah yang ke-3 kalinya semasa hidup. Aku akui, aku sangat menyesal karena telah melakukan itu. Tapi jika tidak kulakukan, aku akan mati,” jawab Yongchun sembari tersenyum.


“Apa-apaan? Kurang lebih aku mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi, hah? Jangan bercanda!”


Gebrak! Setelah berteriak, Telinga Dewa menggebrak meja dengan keras. Dirinya merasa seperti dipermainkan oleh Yongchun, begitu juga dengan dua lainnya.


Mereka merasa bahwa Yongchun hanya bermain-main saja di tempat seperti ini.


“Hei, kau! Katakan siapa kau sebenarnya!? Apa kau itu palsu!?” teriak Telinga Dewa.


“Aku 'kan sudah bilang. Karena yang lainnya sudah mengatakan bagaimana awal mula sebelum mendapatkan kekuatan. Maka aku juga mengatakan yang sejujurnya,” ucap Yongchun.


“Oh! Jadi maksudmu kau memiliki Mata Dewa karena mengintip wanita, begitu!?”


“Ya, itu benar!” jawab Yongchun sambil mengangguk-anggukkan kepala.


“Sungguh tak dapat dipercaya. Bisakah kau katakan lebih detail-nya lagi? Aku merasa harus memeriksa keadaanmu dengan benar,” tutur si Pikiran Dewa yang mendekat kepadanya.


“Silahkan mendekat,” kata Yongchun seraya menarik salah satu pedangnya.


“Jika bisa,” sambung Yongchun lantas menyeringai.


Slasshh!!


Sekali ayun, tebasan Yongchun pada pedangnya mampu membelah setengah dinding. Mereka sangat terkejut dengan tindakan Yongchun saat itu.


Begitu juga dengan si Pikiran Dewa. Ia pun menarik pedangnya dan melesat tuk menyerang diri Yongchun.

__ADS_1


Kedua bilah itu saling beradu dalam udara. Kilat-kilat dari percikan api nampak begitu menyilaukan mata. Tangan yang gemetar namun kuda-kuda yang kokoh membuat Yongchun kesulitan.


Menghadapi pria ini, entah kenapa emosinya seperti dikendalikan. Sesaat Yongchun terdiam sejenak lantas melompat mundur begitu pedangnya kembali diayunkan secara vertikal.


Mengalir warna kehitaman, terlihat seperti pedang itu mengalami kerusakan namun sebenarnya tidak juga. Ia menggunakan pedang dengan goresan hitam yang terus merambat ke tubuh.


Syat! Syat! Syat!


Beberapa tebasan melukai Yongchun dari segala sisi. Tiada celah untuk kembali menyerang lantaran Yongchun harus bertahan terus-menerus.


“Hei, kudengar kau Mata Dewa? Harusnya kau bisa menandingiku. Aku ini hanya memiliki Pikiran-Nya. Tapi kenapa kau kalah begitu?” tutur si Pikiran Dewa dengan mata melotot tajam.


Ia mengetuk-ngetuk bagian kepalanya sendiri. Berpikir bahwa Yongchun sangatlah bodoh, bahkan menghindar saja kesusahan. Dan itu benar. Bahkan Tangan serta Telinga Dewa saja menyetujui perkataan si Pikiran Dewa.


Mereka berdua tetap duduk di posisi seolah pertarungan mereka hanyalah angin yang lewat. Bagai nyamuk menganggu, sekali tepuk pun mereka akan mari.


Dap!


Yongchun berlari menuju ke dinding yang terbuka. Menuju luar dengan sengaja agar ia mengikutinya.


“Apa kau berusaha untuk memancingku?”


“Baiklah kalau itu maumu!” pekiknya langsung menerjang Yongchun.


Orang yang mudah terpancing. Tanpa tahu apa maksud dari gerakan Yongchun saat ini. Ia dengan mudahnya mengayunkan pedang dengan pola serangan yang sama.


“Dia tidak pernah belajar bagaimana cara bermain pedang?” gumam Yongchun.


Tak! Yongchun menahan bilah pedangnya dengan bilah milik Yongchun. Posisi Yongchun yang terlihat santai, justru membuat ia semakin kesal sampai menggertakkan gigi.


“Lihat itu, bukankah dia sangat menjengkelkan,” gerutu Telinga Dewa.


“Huh, inilah mengapa aku enggan bertemu kalian semua. Yang satu sangat pemarah yang satu terlihat licik,” tutur Romusha seraya ia bangkit dari tempat duduknya.


Lantas berjalan menuju ke arah mereka yang tengah bertarung dengan satu pihak yang terlalu bersemangat.


“Jangan bilang kau ingin masuk ke pusaran mereka?” tanya Telinga Dewa.


“Ya, begitulah. Si Yongchun itu tidak bisa kutebak, jadi seharusnya dilawan oleh orang yang membara saja,” kata Romusha menatap pria Rusia itu sambil mengacungkan jempol ke dirinya sendiri.


“Hei kau!” Romusha lantas berteriak kepada Yongchun.

__ADS_1


“Wah lihat siapa yang datang. Sepertinya hanya denganmu saja tidak cukup, atau kau lemah?” ujar Yongchun mengejek si Pikiran Dewa.


Syat! Serangannya kembali dilayangkan. Namun Yongchun dapat menghindar dengan menundukkan tubuhnya.


“Omong kosong!”


“Hei, sudah!” sahut Romusha berniat menghentikan gerakan Pikiran Dewa.


Romusha jelas tahu bahwa pria itu sudah hilang akal. Padahal dirinya lah yang memiliki kekuatan mengendalikan pikiran namun entah mengapa ia sendiri yang seperti sedang dikendalikan.


Romusha menarik tubuh Pikiran Dewa mundur. Ia lantas menarik pedang yang ukurannya jauh lebih besar dari milik Yongchun.


“Kau pasti sudah bertemu dengan seseorang yang mirip denganku. Sini maju,” kata Romusha menekuk jari telunjuk ke atas menghadap Yongchun.


“Orang lemah itu, ya?” sahut Yongchun seraya menjaga jarak dan menarik salah satu pedangnya lagi.


Berbeda dengan Shira, karena Romusha menggunakan senjata. Tangannya yang sudah seperti iblis itu dapat mengangkat beban yang lebih berat dari tubuhnya.


Sekali ayunan pun, hempasan angin saja dapat menerbangkan dedaunan yang gugur. Luka yang ditorehkan juga cukup dalam dan besar. Begitu dalamnya, darah Yongchun tak kunjung berhenti.


“Kenapa kaget?” Romusha mengejek balik.


“Haha, ya. Begitulah. Sudah lama aku tidak bertemu dengan lawan yang kuat,” kata Yongchun dengan tertawa.


Tekanan aura dari keduanya sama-sama besar. Serangan demi serangan yang mereka pusatkan pada senjata mereka pun tak ada yang kalah saing, justru nyaris seimbang. Lebih dari yang mereka duga sendiri.


Detik demi detik terlewati, angin semilir berubah menjadi hembusan angin yang kencang. Saat itu, kedua bilah yang beradu menjadi tak seimbang.


Krak!!


Kobaran api menjalar ke bilah pedang Romusha dan sempat membakar bagian lengannya. Hingga senjata itu patah lalu hangus seketika.


“Matamu menyala begitu, apa tidak sakit?”


Romusha menyinggung Yongchun lantaran kedua mata buatan Yongchun menjadi abu. Kobaran api pun keluar dari sana. Semakin panjang kobarannya maka semakin besar pula kekuatannya.


Itulah yang dirasakan Romusha. Terkadang ia melirik ke senjatanya yang rusak lalu kembali menatap Yongchun lantas menyerang dengan tangan besarnya.


Cruakkk!!!


Tubuh Yongchun tercabik dengan mudah sampai kedua pedang Yongchun pun tak kuat menahan kekuatan Romusha.

__ADS_1


__ADS_2