Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
097. God Hand Romusha Bagian II


__ADS_3

Cabikan Romusha meninggalkan jejak tiga cakar di tubuh Yongchun. Darah mengalir cukup deras sehingga ia pun terpaksa mundur ke belakang.


Dua pedangnya telah patah. Romusha juga begitu namun dirinya masih memiliki senjata yakni di tangannya. Tangan Dewa.


Api berkobar-kobar disertai goresan yang seolah mengikat tubuh Romusha sendiri. Tidak berhenti ia setelah mencabik, kini ia melesat dan kembali menyerang dengan tangannya.


Cruakk!


Cakarannya cukup tajam sampai daging Yongchun nyaris terkoyak habis. Dua orang selain mereka pun puas terhadap serangan Romusha yang mempan.


Dalam hati mereka berharap pada Romusha untuk menghancurkan tubuh Yongchun hingga tak bersisa.


“Hah, dasar. Memang beda dengan anak yang ada di atas bukit.”


“Tentu saja. Kau pikir dia bisa menyamakan diriku?”


Romusha memperbesar kekuatannya seiring waktu. Hitam pekat terus melekat ke tubuhnya.


“Coba tunjukkan apa yang kau bisa!” teriak Romusha seraya melayangkan tinju.


Duak! Pak!


Satu pukulan berhasil mendarat dan begitu Romusha hendak memukulnya kembali, Yongchun menangkis dan di membuat pukulannya meleset.


Yongchun merundukkan tubuhnya ke bawah, menyandung kaki Romusha sampai merasa tidak seimbang. Romusha nyaris terjatuh.


“Heh! Mau mencoba untuk menjatuhkan diriku? Mana mungkin!”


Ibarat auman seekor hewan buas. Romusha benar-benar tidak mau kalah. Bahkan sekali ucap saja sudah seperti geraman yang seolah berkata, "Jangan sakiti aku!".


Sehingga membuat Yongchun terkikik sesaat. Lantas ia menghindar dari cabikan mautnya. Berlari menghampiri si Pikiran Dewa.


“Kau mau ke mana?”


Set! Yongchun mengambil pedang milik si Pikiran Dewa. Lalu menggunakannya untuk membalas serangan Romusha.


“Ah, kau! Kenapa kau mengambil pedangku! Kemarikan!” teriak si Pikiran Dewa.


Ia lantas bangkit dan berusaha untuk melakukan sesuatu dengan kekuatan andalannya.


Yongchun mengangkat pedang itu lebih tinggi. Api hitam yang menyelubungi setiap jengkal pedang kian menyempit. Ia mengayunkannya dengan cepat dan tenang seperti aliran air, mengarah Romusha yang tengah berlari ke arahnya.


Sraaakkk!

__ADS_1


Tebasan pedang itu sekali lagi membelah bagian dalam ruangan. Bilah pedang pun menjadi serpihan debu karena tidak kuat menahan kekuatannya. Romusha tertegun dan tak dapat berkutik sepenuhnya.


“Ah, maaf. Karena aku, pedangnya jadi hancur menjadi serpihan debu. Maafkan aku, ya. Pikiran Dewa!”


Yongchun menoleh ke belakang. Ia mendapat tatapan tajam dari Pikiran Dewa dan tatapan kaget dari Romusha dan Telinga Dewa.


Seraya Telinga Dewa bangkit dari tempat duduknya ia bicara pada Yongchun, “Tidak diragukan lagi kau itu Mata Dewa.”


Mengacu pada serangan ketangkasan dan ketajaman serta kedua mata Yongchun yang mengeluarkan kobaran api berwarna hitam pekat. Telinga Dewa memujinya sembari bertepuk tangan dengan senyum tersungging.


“Ugh! Hei! Kau bertarunglah denganku sekali lagi! Aku tidak akan mengakui ini sebagai kekalahanku hanya karena kau sengaja melesetkan seranganmu!” pekik Romusha sembari menunjuk Yongchun.


“Benar! Teganya kau menghancurkan pedangku!” sahut si Pikiran Dewa yang mengamuk.


“Hei, hei! Sudah sudah. Kalian jangan lagi begitu. Karena ada pembahasan yang lebih penting dari ini. Karena kita sesama Pemilik tubuh Dewa.”


Pria berbahasa Rusia itu kemudian berbicara dengan bahasa yang sering digunakan di wilayah ini.


“Maksudmu ada lainnya lagi?” tanya Yongchun.


Telinga Dewa menganggukkan kepala lantas berkata, “Masih ada dua yang belum kami temukan. Tapi tenang saja, kami sudah mengundangnya.”


Yongchun berpikir, “Apakah yang kau maksud mengundang adalah dengan mengeluarkan aura pembunuh?” Sekaligus menyindir.


“Oh ya?”


“Ya. Karena, semakin besar sesuatu yang dikeluarkan maka semakin sedikit atau ringanlah yang dia rasakan.”


“Hm, begitu. Ya, terserah saja.”


Orion lantas membuang pangkal pedang tanpa bilahnya itu. Ia kemudian berjalan menuju keluar dengan melompati dinding.


“Pintu keluar tidak di sana.”


“Terserah aku ingin keluar lewat mana. Lagi pula aku juga benar-benar tidak ada niatan tinggal di rumah itu,” sahut Yongchun lantas melompat keluar.


Tap!


“Hei!”


Romusha dan dua lainnya pun lantas mengikuti Yongchun. Mereka memutuskan untuk ikut sebab rumahnya sudah hancur begitu, bagaimana mungkin bisa ditinggali kalau sudah seperti itu.


“Kenapa kalian mengikutiku?” tanya Yongchun dengan ketus.

__ADS_1


“Pembicaraan kita belum selesai, Mata Dewa. Karena hal yang tadi kita lakukan pun akan terjadi ulang jika salah satu dari Pemilik Tubuh Dewa akan datang,” ucap Telinga Dewa.


“Yang kau katakan benar. Tapi apakah tak ada jaminan kalau pemegangnya bukan orang g*la?” ketus Pikiran Dewa.


“Hei!!! Yongchun!!!!”


Buak!! Yongchun meninju wajah Romusha sampai ia terjatuh menggelinding ke tanah. Ia melakukannya sebab Romusha selalu berteriak ke telinganya secara langsung.


“Apa itu yang kau maksud dengan orang g*la?” celetuk Yongchun sembari menunjuk Romusha yang kini masih menggelinding di tanah.


“Tangan Dewa memang sangat tidak sopan tapi dia bukan orang yang seperti itu. Karena secara fisik dan mental dia benar-benar sehat,” ujar Telinga Dewa.


“Kalau begitu, katakan apa pun yang perlu kau katakan padaku. Termasuk kenapa Pemilik Tubuh Dewa harus berkumpul,” ucap Yongchun mempercepat larinya.


***


Kuraki mendapatkan tamu banyak hari ini. Tentu ia merasa senang sekaligus merasa tak percaya bahwa ada Pemilik Tubuh Dewa lebih dari satu sedang berhadapan dengannya.


“Apakah ini mimpi?” pikirnya dalam khayalan dengan mulut terbuka dan menatap mereka satu-persatu.


“Maafkan aku Kuraki, sepertinya akan ada banyak tamu karena rumah mereka hancur karena diriku,” kata Yongchun menjelaskan.


“Ah, iya! Saya tidak masalah, justru saya merasa sangat senang dengan kehadiran Anda semua dan ...”


Kuraki kemudian menatap Yongchun yang menutup matanya, ia menyadari bahwa mata buatan miliknya telah hancur.


“Saya lebih sedih karena mata buatan saya jadi tidak berguna,” kata Kuraki menatap sendu ke bawah.


“Justru ini salahku.”


Yongchun dan mereka pun akhirnya berendam bersama dengan air hangat. Membersihkan tubuh serta luka mereka masing-masing.


Kecuali si Telinga Dewa, dirinya yang belum pernah bertarung dengan Yongchun pun hanya menikmati air panas ini.


“Huh, menyegarkan.”


Mereka sama-sama menikmatinya meskipun mereka juga mewaspada Yongchun.


“Bolehkah kau mengatakannya sekarang juga? Tentang alasan kita dikumpulkan. Aku tidak yakin bahwa kau mengumpulkan orang seperti ini hanya karena ingin saja,” celetuk Yongchun.


“Ada sebuah alasan. Karena mungkin dewa yang menjadi sebutan kita akan kembali menyatu jika kita saling berkumpul.”


Sesaat situasi di sana sangat hening. Tiada suara selain air berkecipak. Mata mereka mengarah ke arah lain, tidak memandang salah seorang di sekitar mereka.

__ADS_1


“Aku berharap ini bukan berita buruk. Era pendekar akan musnah jika kita bersatu. Tapi jika tidak kita lakukan maka mungkin, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.”


__ADS_2