
Romusha datang secara tergesa-gesa. Ia membawakan berita tak terduga mengenai God Mouth yang berada di pulau Nihonkoku ini. Tentu saja Romusha sudah mengejarnya namun jejaknya seperti tidak ada. God Mouth menghilang, dan setiap kali memiliki kesempatan untuk berbicara, God Mouth hanya bilang, "Tidak peduli"
“Aku akan keluar untuk mencari keberadaannya sekaligus suamiku,” ucap Relia seraya bangkit dari tempat duduknya.
“Nia, aku titipkan anak itu padamu sebentar,” imbuh Relia meminta tolong padanya.
“Baik, kak. Tapi apa kakak tidak masalah jika sendirian?” tanya Nia dengan cemas.
“Aku akan menemani,” sahut Sigar.
“Tidak. Aku sarankan jangankan ikut. Dia akan kabur saat merasakan keberadaan kalian yang sama seperti dirinya.”
Tidak ada satu pun yang menyahut perkataannya, lantas Relia pergi.
Pergi ke tempat para penduduk berada. Di mana mereka semua tengah bekerja keras. Ada beberapa dari mereka yang masih terpikirkan dengan cuaca yang tidak stabil, ada pula mereka yang tidak mengingat apa yang telah terjadi. Seakan-akan, dimanipulasi atau sejenisnya.
Namun hanya dengan itu, Relia sama sekali tidak dapat menemukan keberadaan God Mouth apalagi Yongchun yang masih samar-samar sampai sekarang. Hilangnya Yongchun membuatnya syok namun dirinya tetap tegar, berusaha untuk tetap tenang.
“Anak itu.”
Sekilas ia melihat seorang anak kecil yang memegang patahan pedang. Relia menoleh ke belakang usai anak itu melewatinya, ia kemudian menghampiri dan menepuk pundak seraya memanggil.
“Tunggu sebentar!”
Anak itu bergidik, terkejut sekaligus takut. Langkahnya terhenti saat Relia menepuk pundaknya, yang kemudian menoleh secara perlahan.
“A-ada apa?” tanya anak itu dengan terbata-bata. Tampaknya ia sangat ketakutan, mungkin karena telah mencuri sesuatu yang dipegangnya sekarang.
“Patahan pedang itu, kamu dapat dari mana?” Tanpa basa-basi Relia langsung menanyakannya.
“I-i-i-ni ...”
Anak tersebut selalu tergagap-gagap. Namun tetap memeluk erat patahan pedang serta pegangannya. Yang berwarna hitam kemerahan, tidak ada warna yang unik selain milik Yongchun.
“Aku yakin itu adalah milik seseorang yang aku kenal,” ucap Relia.
“Tidak! Tidak!” teriaknya seraya menjauh dari Relia. Ia gemetaran takut seraya memeluk pedang itu dengan erat.
Tampaknya anak itu enggan memberitahu apalagi menyerahkan patahan pedang tersisa itu pada Relia.
__ADS_1
“Katakan padaku,” pinta Relia padanya seraya mensejajarkan tubuh dengan anak tersebut.
“Tidak akan! Tidak akan!” pekiknya semakin menjauh.
“Katakan saja. Aku tidak akan mengambilnya. Tolong,” ucap Relia sekali lagi. Memohon padanya sekali lagi.
“Tidak akan mengambilnya?” tanya anak itu.
Relia menggangguk.
Awalnya anak lelaki itu hanya berjalan-jalan di sekitar kuil dan hutan. Tetapi lama-kelamaan ia masuk ke dalam hutan dan menemukan sebuah goa. Hal itu ketika, sesaat sebelum pertarungan antara God Soul dan Yongchun.
“Aku melihat ada goa besar tapi aku tidak berani masuk. Jadi aku memutuskan untuk kembali. Tetapi sayangnya, malam datang tiba-tiba. Dan aku terjebak,” ujarnya menceritakan.
“Jadi itu awal mulanya,” gumam Relia dengan menggigit bibir bawahnya.
Anak itu sempat terjebak, tersesat dalam hutan yang tidak ada jalan pastinya. Sampai suatu ketika ia melihat pertarungan di antara mereka.
Yongchun dengan God Soul yang pada saat itu dikendalikan oleh Dewa Hitam. Pertarungan sengit yang membuatnya bergidik merinding.
“Aku menemukan ini di sekitar goa. Aku ingin menjualnya karena terlihat mahal,” ucap anak itu usai menceritakannya.
“Begitu. Tidak masalah.” Relia tersenyum tipis.
“Bukan teman melainkan suamiku. Dia sudah lama pergi, dan begitu keberadaannya ditemukan sekarang hilang lagi.” Tak keberatan Relia menjelaskannya.
“Be-begitu ya ...”
Anak lelaki berambut kecoklatan gelap itu lantas mendekat. Pakaiannya yang lusuh dan bau yang menyengat seketika mengejutkan Relia. Saat itu Relia sama sekali tidak menyadarinya, bahwa anak itu miskin dengan tubuh tak terurus.
“I-ini ...aku kembalikan saja,” ucapnya seraya menyerahkan patahan pedang pada Relia.
“Apa kamu tidak punya orang tua?” tanya Relia tanpa menatap wajah anak itu lagi.
“Tidak punya.”
Relia jadi teringat bahwa dirinya sama persis seperti anak lelaki yang sekarang. Di mana ia sangat miskin, dan kemudian diadopsi oleh kerabatnya. Terkadang secara bergilir mereka menggantikan orang tua Relia yang sudah lama tiada, jadi tidak pernah merasakan bagaimana keluarga yang sebenarnya.
Tetapi Relia merasa cukup beruntung daripada anak yang sama sekali tidak dianggap oleh keadaan sekitar. Anak itu hanya hidup sendiri, mencuri juga adalah kebiasaannya.
__ADS_1
“Nasibmu memang kurang beruntung. Andai aku dapat membantumu selain, kamu juallah itu dan makanlah dari hasilnya,” ucap Relia.
Setelahnya, Relia langsung saja pergi meninggalkan anak itu tanpa membawa patahan pedang milik Yongchun. Kini ia pun bergegas menuju goa kembali. Namun, sebelum hal itu ia lakukan, seseorang menabraknya dari depan dan belakang. Seolah mereka menyengajakan.
“Tunggu! Ada apa ini? Mereka terus mendorong-dorongku,” gerutu Relia.
Semakin lama, mereka semakin bertambah. Mengerumuni jalan sampai Relia terdesak ke sana dan kemari. Ia tak lagi bisa bergerak dengan leluasa karena mereka.
“Tunggu!”
Drap! Drap!
Sembari menabrak Relia dengan perasaan tak bersalah, mereka terus bergerak melewati tubuh Relia. Hingga mereka berhenti bergerak dan mengerumuni sesuatu.
“Ah, itu—”
Ketika Relia menoleh ke arah sebaliknya, dari belakang ia dibekap. Kaget, ia berusaha untuk meronta-ronta.
“Ini aku, God Ear. Maaf karena berlaku tidak sopan,” ucap God Ear seraya melepaskan tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Relia berhati-hati, sedikit ia bergerak menjauh darinya seraya menatap tajam.
“Aku hanya ingin bertanya. Memastikan saja. Apa benar kau adalah istri God Eye?”
Relia terdiam dengan wajah datar. Kewaspadaan semakin meningkat namun disembunyikan baik-baik. Ada beberapa hal yang perlu dibicarakan dan juga ada hal yang tidak, karena itulah Relia diam dan berpikir sebelum berbicara.
“Iya, aku istrinya.”
Meski hanya pertanyaan sepele. Meski sudah tahu orang ini mengetahui jawabannya pun Relia tetap harus berpikir mana jawaban yang lebih tepat.
“Kau tidak berencana untuk menipu kami 'kan?”
“Atas dasar apa aku harus menipu seseorang. Sementara pria bernama Romusha memintaku untuk jangan sampai mengatakan hal itu pada temannya. Apalagi, mendengar bahwa kau akan membunuhku karena larangan.”
Swuuush!
Angin berembus kencang, menerpa kain jubah serta pakaian yang mereka kenakan. Banyak orang berkerumun di belakang mereka karena ada sesuatu yang terjadi diiringi sorakan yang begitu meriah.
Tatkala cuaca terasa dingin seperti ketika mereka saling bertukar pandang dalam jarak dekat, terdapat intimidasi yang sulit diartikan oleh Relia pada saat itu.
__ADS_1
Menatap dengan menyipitkan kedua mata. God Ear yang juga melakukan hal sama, lantas mengerutkan kening seolah-olah ia mencurigai Relia.
“Perasaan Relia tidak enak. Hawa di sekitar orang ini berubah,” batin Relia.