Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
065. Di Balik Laut Merah


__ADS_3

Perguruan Tinggi, bagian di balik laut merah.


Sosok pria yang merupakan pemimpin sementara di wilayah timur tengah, Diola. Sepertinya sudah lama ia kesal bahkan sejak sebelum kedatangan Li dan Zhao.


Dua orang itu kini bertekuk lutut lantaran tak tahu harus berkata apa lagi selain menyampaikan pesan yang diminta Yongchun.


“Dasar, pria itu! Membuat kami berada di kandang hewan buas rupanya. Bisa-bisanya, apa yang dikatakan melebihi apa yang sekarang kami hadapi.” Li dalam benaknya sedang menggerutu kesal.


Sedangkan Zhao hanya diam dengan tersenyum lebar. Seolah tak masalah dengan hal itu. Bahkan menerimanya begitu saja.


Brak!


Diola menggrebak meja dengan keras lalu menghampiri kedua orang itu.


“Hei, coba katakan lagi apa yang dia sampaikan kepadaku?” Diola tak terlihat seperti bertanya melainkan mengancam.


“A-ah ...itu ...” Li Bai tergagap dan melirik Zhao Yun untuk menggantikannya berbicara.


“Pemimpin Yongchun menyampaikan pesan untuk Anda, "Tolong bawakan kapal dan beberapa orang untuk menjemput," begitu katanya.” Zhao Yun pun menjawabnya tanpa terbata-bata.


“Hah? Pemimpin? Ah, dasar anak itu!” Diola mengacak-acak rambutnya. “Katakan yang sebenarnya, apa yang dia rencanakan di sana?” tanya Diola.


Dengan tegas Zhao Yun berkata, “Kalau soal itu, kami tidak bisa mengatakannya!”


“Oh, tidak bisa rupanya?” Raut wajah Diola semakin jengkel, ia duduk bersandar di atas meja lalu menatap mereka layaknya penguasa yang keji.


“Tuan! Raja sudah bilang begitu. Maka apa yang harus ditunggu lagi?” Salah seorang di sana menyerobot pembicaraan.


“Apa?! Tanpa mengetahui alasannya apa, kita harus menurutinya? Jangan bercanda!” amuk Diola sambil melempar gumpalan kertas itu ke arahnya.


“Sepertinya ini tidak boleh dikatakan. Tapi ini akan membuatmu tenang. Dia bilang, pesan yang disampaikan itu sungguh penting demi menyatukan wilayah,” tutur Li Bai menatap lurus.


“Lalu, kami memiliki beberapa yang mungkin bisa membantu wilayah ini. Anggap saja sebagai tanda terima kasih kami karena Pemimpin Yong membantu mengurusi masalah di sana,” imbuh Li Bai dan berharap membuat Diola tenang sejenak.


Namun bukannya tenang, Diola justru semakin mengamuk begitu mendengar sebaris kalimat terakhirnya. Sebaris kalimat yang mengatakan bahwa Yongchun mengurusi masalah di sana.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanya Diola dengan menatap tajam ke arah Li Bai.


“Ah, gawat. Bisa-bisanya aku kelepasan di saat-saat seperti ini. Payah,” batin Li Bai yang sepertinya ia ingin sekali segera pergi dari sini.


“Tuan! Jangan marah lagi atau—”


“Sudahlah! Kini aku tahu apa maksudnya sekarang.”


Diola marah, ia mengalihkan pandangan dan menutup mulutnya serta memejamkan mata sebentar. Mengingat bahwa pedang lusuh mempunyai suatu makna, jika dibuka dan dilihat di punggung pedang maka terdapat sebuah tulisan "Raja Pendekar" dengan aksara kuno.


Pedang peninggalan guru pertama Yongchun (Asyura) yang kini disebut sebagai benda pusaka. Ialah sebuah tanda bahwa mungkin sebentar lagi akan terjadi perang.


Itulah mengapa Diola akhirnya mengerti setelah mendengar pesan darinya untuk membawakan kapal dan beberapa orang untuk menjemput sebagai dalih, nyatanya untuk membersihkan sisa perang jika itu benar terjadi.


Serta dikuatkan dengan kalimat yang diutarakan oleh Li Bai. Pernyataan tentang Yongchun yang dengan sudi mengurusi masalah di sana.


Hanya demi perdamaian di antara kedua wilayah. Dan dapat saling membantu satu sama lain.


“Sudah kuduga, aku harusnya ikut ke sana. Mana lagi dua istrinya juga pergi. Huh, benar-benar menyusahkan saja.”


Li Bai dan Zhao Yun pun hendak keluar dari sana namun akan tetapi tatapan Diola yang tajam sekali itu sungguh menusuk dan membuat mereka terdiam sekali lagi.


“Kalian harus tetap di sini sampai dia pulang kemari!” Entah cuacanya yang panas atau mungkin aura yang dimiliki orang itu sungguh menusuk di hati.


Pandangan mereka seolah mengelak dari kenyataan. Enggan bertatapan kembali dengan perasaan cemas terhadap wilayah mereka di sana.


“Tuan! Kumohon jangan pergi! Dan tolong beri perintah pada kami!”


“Tidak akan! Biarkan aku pergi sekarang!”


Jendela yang masih terbuka lebar itu kini seolah tertutup. Sosok pria lainnya dengan pakaian serba hitam menutupi cahaya yang masuk. Bing He, atau Crow panggilan orang-orang di sini.


“Hah? Apa yang kau lakukan di sini?” Li Bai tersentak kaget.


Bing He berjalan masuk ke dalam menghampiri Diola yang tengah mengamuk seperti macan lepas, akhirnya ditenangkan dengan satu pukulan lantas membuat Diola jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Tuan Crow!”


“Bawa dia ke kamarnya. Kalau perlu kunci pintunya,” ucap Bing He.


Setelah mereka membawa kembali Diola menuju ke kamarnya. Bing He membuka tudung penutup kepala lalu menyapa teman lamanya.


“Sepertinya kita jarang sekali bertemu. Yah, meskipun aku tak yakin kalian masih mengingatku,” ucap Bing He.


“Tentu saja aku ingat. Kau lah yang pertama kali membuat kita bangkit semua atas penderitaan. Kau bahkan membantu penguasa di sini.” Li Bai terharu dan memeluk temannya itu.


“Oh, benarkah? Aku sungguh senang.” Bing He membalas pelukannya.


“Sudah cukup lama. Bukankah kau harusnya pensiun? Kau sudah cukup tua,” kata Li Bai menepuk punggung lebarnya. “Sudah gitu masih sendiri. Memangnya kau tak kesepian?” sindirnya.


“Sudahlah. Kita sama-sama ada di posisi yang tidak menguntungkan. Untuk apa mengungkit soal pekerjaan?”


“Bing He, kau sama kekarnya seperti diriku. Aku bangga memiliki teman sepertimu. Lalu, bagaimana masa penjelajahanmu?” tanya Zhao seraya melipat kedua lengan ke depan dada.


“Kalian tahu, pertama kali aku pergi dari timur laut, aku menuju ke arah barat. Di sana aku menjumpai banyak orang, hidup mereka bebas sekali, tak ada aturan yang terdengar tegas,” ujar Bing He.


Li Bai dan Bing He pun melepas pelukannya. Mereka sudah berteman sejak kecil, tetapi karena suatu pekerjaan yang mengharuskannya menjelajah dunia, ia harus merelakan dirinya pergi.


Sebab pekerjaan itu ada karena Kaisar Ming Fu, yang pertama. Beliau lah yang menyuruh Bing He untuk menjelajah dan mempelajari sesuatu yang menurutnya penting dan kemudian ia wariskan pada wilayah timur laut sana.


Selama 30 tahun, mereka tak bersua. Mereka bertiga juga sama-sama membujang.


“Hei, Li Bai! Kau juga masih baik-baik saja? Kudengar kau dan pemimpin kultus lainnya juga masih sendiri, tuh?” Bing He menyindir balik.


“Haha, tahu saja kau ini. Ngomong-ngomong kau kemari kenapa? Bukankah atasanmu sekarang menyuruhmu untuk berada di istana Wulan? tanya Li Bai.


“Aku disuruh oleh istri keduanya. Katanya sih untuk mencari keberadaan dia. Tapi sampai sekarang aku tak menemukannya. Kira-kira ke mana dia, ya.”


“Aku tidak tahu ke mana dia akan pergi.”


“Kaisar Ming Guo hendak menyerbu tanah ini. Jadi sebaiknya dia segera melakukan sesuatu atau hal buruk akan terjadi,” tutur Bing He cemas.

__ADS_1


Zhao Yun menurunkan sudut bibirnya. Tak lagi ia tersenyum, bahkan Li Bai yang biasa memainkan kipasnya pun kini hanya terdiam menatap Bing He. Seolah-olah, tahu bahwa Kaisar mereka akan melakukan hal ini cepat atau lambat.


__ADS_2