Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
048. Pembunuh Bercaping Bagian I


__ADS_3

Kehadiran mereka yang tiba-tiba tentu membuat semua orang terkejut. Mereka semua terdiam dan segera mengangkat senjatanya. Namun, sekelompok ini tidaklah mengincar para pengikut Wang melainkan Yongchun seorang.


Tap!


Satu persatu dari mereka melangkah cepat menuju ke arahnya. Yongchun seketika mundur beberapa langkah yang kemudian menarik salah satu pedangnya.


Belum sempat ia menangkis justru pangkal pedang dengan mata pisau itu saling berbenturan. Kedua senjata itu sesaat bergetar, sesaat menyengat jari jemari Yongchun.


“Pembunuh, ya!?”


Yongchun juga pasti tahu apa alasan mereka menyerang Yongchun tiba-tiba. Tapi Wang Xian selama ini tidak kelihatan, entah di mana dia tapi yang jelas sekelompok orang seperti mereka bukanlah suruhannya.


Tabiat pengecut seperti ini, jelas bukan cara bertarung Wang Xian yang kolot. Pemimpin Wang mempunyai keadilan tersendiri, meski sebelum ini ia memanfaatkan pemimpin lainnya tuk membunuh Yongchun tapi pada akhirnya ia turun tangan sendiri.


Trang!


Antara sebilah pedang yang kecil dan pedang yang cukup panjang itu sekali lagi beradu dan sedikit demi sedikit nampak percikan api karenanya. Pertarungan tak terelakkan, para pengikut Wang pun terdiam mematung dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Siapakah dalang ini sebenarnya?


Yongchun terdesak mundur dibuatnya, perlahan-lahan serangan demi serangan ditepis begitu mudah oleh sekelompok pembunuh itu. Mereka bergerak secara bergantian lalu menyerangnya tanpa suatu pola.


Serangan yang membabi buta takkan membuat Yongchun lengah sedikit pun, karena ia sudah terbiasa dengan pergerakan acak seperti ini. Tetapi yang membuat ia kewalahan sampai terdesak mundur tak lain adalah karena jumlah mereka.


Terhitung ada sekitar 5-6 orang.


Sekilas, cahaya setengah rembulan menyinari jalan. Yongchun membuat langkah menyamping, dan melintangkan pedang yang ia genggam ke depan. Menangkis serangan dari sebilah pisau itu.


Semakin lama ia semakin membuang energinya. Ditambah lagi ia tak bisa mengeluarkan tenaga dalam setelah tubuhnya mengalami kelelahan luar biasa semenjak kehadiran pengguna Seni Iblis datang seminggu yang lalu.


Datang dari arah belakang, sosok pria yang memiliki ciri sama menyayat punggung Yongchun. Langkahnya pun terhenti, ia menggigit bibir bawahnya lalu sekali lagi ia bergerak mundur.


Tap! Tap!


Melompat lebih jauh ke belakang lalu berlari menuju halaman belakang secepatnya. Menghindari pertarungan juga pasti sangat mustahil untuk dilakukan apalagi mereka ada banyak.


Tak seorang pun yang membantu. Yongchun hanya berusaha sendirian tuk menghadapi sekelompok pembunuh bercaping itu.

__ADS_1


“Nam!”


Terdengar suara jeritan yang berasal dari halaman belakang. Seluruh pergerakan Wang Jiayi sepenuhnya terkunci karena seorang yang sama.


“Lagi?! Kenapa mereka ada banyak sekali? Hish, kenapa setiap malam selalu harus begini? Aku bahkan tak pernah tidur dengan pulas!” keluh Yongchun dengan suara yang keras, ia mengayunkan pedang ke arah mereka dan membuat orang itu mundur.


“Hei, sepupu yang satunya lagi di mana?” tanya Yongchun seraya ia membantunya berdiri.


“Dia ada di dalam kediaman utama. Nam! Nam bisa celaka nanti!”


“Lalu, Pemimpin Wang?”


“Mana aku tahu!” amuknya.


Sepertinya benar, bukan Wang Xian yang menyuruh mereka. Dan sekarang katanya Wang Nam yang ada di dalam bisa celaka karena sesuatu.


Yongchun juga berniat menolongnya namun tak bisa untuk sekarang. Sebab sekelompok pembunuh ini masih saja terus-menerus mengayunkan pisau mereka.


Karena terlalu gelap dan penerangan yang ada di halaman belakang pun dirusak, Yongchun jadi tak bisa fokus dan melihatnya dengan benar. Sehingga beberapa pisau dari mereka menyayat wajahnya. Seolah mengincar apa yang ada di balik kain yang menutupi penglihatan Yongchun.


Yang kemudian, pisau-pisau itu dilemparkan oleh mereka secara bersamaan. Nyaris saja ia celaka lagi, Yongchun beruntung setidaknya ada sinar rembulan saat itu. Salju yang turun pun masih dapat ia lihat, jejak-jejak mereka tak lagi diam dan mulai menimbulkan suara.


Srak ...srak!


Mengambil langkah mundur lalu berhenti, ia merubah posisi dengan sedikit menundukkan tubuhnya. Yongchun menggenggam pedang seperti saat ia akan menikam sesuatu, menjulurkan mata pedang itu di antara pinggang mereka yang kemudian ia ubah kembali cara menggenggamnya dan menebas tubuh mereka dalam sekali ayunan menyamping.


Melakukan itu dalam sekali jarak pandang. Yongchun menumbangkan mereka semua dalam waktu singkat.


“Huh, aku beruntung. Salju yang menumpuk di halaman belakang sangat tebal, jadinya aku dapat melihat posisi mereka dengan akurat.”


Yongchun menghela napas lega, ia kemudian masuk ke dalam kediaman utama Wang. Tersentak, melihat tubuh Wang Nam terkulai lemas dengan penuh darah.


“Apa yang terjadi padanya?” tanya Yongchun, menghampiri mereka lalu memeriksa denyut nadi Nam.


“Aku tidak tahu jelasnya. Tapi mereka tiba-tiba datang. Sekelompok pembunuh yang seharusnya tak ada di wilayah ini,” lirih Wang Jiayi.


Wang Jiayi gemetaran, ketakutannya terus menjalar ke seluruh tubuh karena melihat sepupunya terluka cukup parah. Tapi setidaknya sepupu laki-lakinya ini masih hidup.

__ADS_1


Awalnya saja terasa menegangkan karena bertarung di malam hari tanpa penerangan. Meski beberapa tadi sudah ia urus dengan baik, dan ternyata teror ini masih belum berakhir.


“Paman Yong! Awas!” pekik Wang Jiayi.


Seorang pembunuh bercaping melesat masuk dari pintu yang lain, menyerang Yongchun dengan kedua kakinya.


Bruak!!


Tubuh Yongchun terdorong mundur dalam sekali tendangan olehnya. Menabrak meja dan membuat dinding itu rusak.


“Ugh!”


Kepala Yongchun terbentur lebih dulu. Sesaat pandangannya memburam. Terlebih pembunuh itu tak mau lepas tangan, ia mencekik leher Yongchun sekuat tenaga.


Akibat serangan barusan, pedangnya terlepas dari genggaman. Dengan menahan rasa sakit yang sudah biasa ia rasakan, jari jemari yang gemetaran itu berusaha hendak menarik satu pedang yang masih terselip di pinggang.


“Kau ini, siapa sih?!”


Srang!


Sekali ayunan masih tak mempan pada orang ini. Ia melompat mundur dan berdiri di hadapan Yongchun. Tatapan tajam dengan sinar keemasan, nampak familiar bagi Yongchun.


“Kaisar Ming? Tidak, postur ini jelas seorang pria yang lebih kurus darinya. Pria yang seumuran dengan Pemimpin Wang. Tapi siapa?”


Tidak ada yang seorang pria lain yang bisa dipikirkan selain Kaisar Ming. Sebab sinar mata yang keemasan dan aura yang membara berwarna jingga itu benar-benar sama. Namun Kaisar Ming tidak memiliki postur tubuh yang pendek dan kurus seperti pembunuh yang ada di hadapannya saat ini.


Lalu siapa?


“Entah kenapa aku jadi teringat kisah yang pernah dialami oleh keluarga Wang. Apa mungkin?”


Jika bukan Kaisar Ming, ada kemungkinan seseorang yang merupakan keturunan darinya.


Terlintas sebuah kisah yang pernah dialami oleh adiknya Wang Xian.


Sebelum bertanya ataupun menangkapnya, sebuah belati yang barusan dilempar menembus kelopak mata Yongchun. Pembunuh bercaping pun pergi tak lama setelah itu.


“Agh ...sakit ..sekali ...”

__ADS_1


__ADS_2