Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
069. Laut Merah


__ADS_3

Kala itu, angin panas menerpanya. Li Bai yang tengah berdiri dan memandang laut


merah yang semerah darah itu pun seketika terjatuh.


Bon terkejut lantas menoleh ke samping, melihat Li Bai terjatuh lalu keberadaannya yang tiba-tiba lenyap seolah hilang setelah tenggelam ke dasar laut.


Li Bai terlanjur masuk ke dalam sana. Laut dengan warna merahnya itu berwarna sangat pekat hingga ia tak bisa melihat apa-apa.


Hanya kesunyian sesaat. Tenang dan terasa seperti di alam surga. Namun, begitu sadar ada sesuatu hal yang aneh, Li Bai terbangun. Membelalakkan kedua matanya dan melihat ke sekelilingnya.


“Untuk sesaat aku terpana. Ada apa dengan Laut Merah ini? Begitu indah namun sangat menyeramkan.”


Li Bai tenggelam cukup dalam, hingga warna merah darah itu makin memudar dan menampakkan dasarnya. Melihat adanya tulang-tulang serta tengkorak manusia yang tersebar di sana. Puluhan atau mungkin ratusan pedang pun tertancap di dasar laut berpasir.


Bagai makam tenggelam. Seolah Laut Merah adalah tempat sakral dan tak seharusnya ia datang kemari. Bahkan saat perjalanan kemari saja, ia menyeberangi laut ini. Begitu sadar ada hal-hal seperti ini di laut yang ia sebrangi, ia merasa bersalah.


“Tak seharusnya aku kemari. Ya, ampun.”


Ibarat kutukan menjalar, bahkan keberadaan Mata Dewa saja sudah cukup menjadi bukti alasan Yongchun memenangkan peperangan saudara. Bukan hanya sekadar menahannya. Lantaran sudah banyak korban berjatuhan.


Entah yang ada di dasar laut merah ini hanya sebagian atau memang seluruh para pejuang. Yang manapun sudah pasti, Li Bai tetap menghormati ratusan jasad tersebut.


Tidak ada tanda-tanda kehadiran hewan laut di dalam sana. Sama sekali tidak ada yang mendekat. Kosong, membiarkan ratusan makam itu berdiri tanpa diusik.


Di sisi lain, Zhao Yun serta Bing He mulai mencari keberadaan Li Bai. Mereka mencarinya ke mana-mana, hingga berada di dekat laut merah sana.


“Li Bai! Kau ke mana?”


Zhao Yun berusaha memanggilnya. Namun tak ada jawaban. Kemudian Bing He menyadari sesuatu, sosok pria yang duduk di pinggiran laut merah itu adalah sosok yang ia kenal.


“Bon!” panggil Bing He dengan suara keras. Terdengar ia sangat marah begitu melihatnya.


Perlahan Bon menoleh ke arah mereka. Melihat siapa yang memanggil, ia pun terkejut.


“Apa kau melihat seorang pria dengan kipas kertas?” tanya Bing He dan menatapnya tajam.

__ADS_1


“Entah? Dia terjatuh ke dalam sana,” ucap Bon sambil melirik dan menunjuk ke laut merah.


“Mungkin dia sudah mati. Untuk apa dipikirkan. Tenang saja dia pasti akan masuk surga karena matinya dengan cara tenggelam,” imbuh Bon yang memang tidak berniat untuk menyelamatkannya.


Zhao Yun tersentak, ia menarik kerah pakaian Bon dengan kasar. Lalu berteriak dan menatap marah padanya, “Apa kau tidak punya hati?!”


Setelahnya Zhao Yun mendorong tubuh Bon, ia lantas terjun masuk ke dalam laut merah. Tak peduli ada apa di sana dan apa yang terjadi jika ia masuk ke sana, ia tak peduli.


Mau bagaimanapun, Zhao Yun harus tetap menyelamatkan Li Bai yang tak kunjung naik ke atas.


“Tak aku sangka ternyata hari ini kau kemari? Bukankah selama ini kau terus mengurung diri dan dalam masa berkabung atas gurumu itu?” pikir Bing He.


Bon lantas bangkit seraya ia membersihkan pakaiannya yang terkena debu. Seringai itu nampak jelas terlukis di wajahnya.


“Aku memang dalam masa berkabung. Masa duka ini jelas takkan sirna begitu saja, namun bagaimana pendapatmu? Maksudku pria itu, aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan,” pikir Bon.


“Kau tahu aku juga bukan asli penduduk ini. Kenapa kau menanyakan hal yang tak berguna padaku. Sedangkan kau sendiri tahu betul apa jawaban dari pertanyaanmu itu,” balas Bing He.


***


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Zhao Yun membawa kembali temannya itu. Li Bai dalam kondisi tak sadarkan diri, ia dipapah oleh Zhao dan membaringkannya ke tepi.


Perlahan Li Bai mulai sadarkan diri, ia terbatuk-batuk mengeluarkan banyak air merah yang menyerupai darah, sehingga Zhao Yun dibuatnya terkejut.


“Kau tak apa?” Zhao Yun bertanya dengan cemas.


“Ahem ...ya, tak apa.”


Sedikit-sedikit ia kembali batuk dan mengeluarkan airnya yang terasa sangat keras. Bagi Li Bai, seolah ia baru saja menelan arak segentong dalam jeda.


Membuat perutnya mengembung, kemudian rasa keras itu membakar seluruh organ tubuhnya yang ada di dalam.


“Tenang saja, Tuan-Tuan. Tuan Kipas Kertas tidak terluka sedikit pun. Dia hanya syok saat melihat dasar dari laut merah, aku benar?” sahut Bon dengan senyum.


“Apa katamu?!” pekik Zhao Yun marah, mendengus kesal.

__ADS_1


“Barusan pria itu menyebutku apa? Kipas Kertas?”


Nyawa Li Bai nyaris terlepas dari tubuhnya sendiri, namun masih sempat ia mendengarkan omongan Bon terutama sebutannya pada Li Bai sendiri.


“Maaf, Li Bai. Mari kuantarkan agar kau bisa beristirahat,” ujar Bing He menawarkan bantuan. Ia mengulurkan tangan tuk membantunya berdiri.


“Tidak, tidak perlu Bing He. Aku harus di sini, airnya juga takkan membuatku sakit.”


“Bukankah kau sudah selesai urusan di sini? Mari kita pergi sebelum orang ini berbuat ulah padamu, Li Bai.”


“Ya, ampun. Kau keras kepala.”


“Kau juga sama. Hah ...”


Perbincangan di antara mereka semua pun kembali mencanggung. Tak terkecuali dengan Bon, ia tetap berada dekat dengan mereka seraya mengawasi gerak-gerik kedua orang asing tersebut.


“Kenapa lihat-lihat?” tanya Zhao Yun dengan emosi. Ia memergoki apa yang barusan Bon lakukan.


Bon pun terkekeh-kekeh lagi. Ia kemudian menatap lurus ke arah pria kekar tersebut. Lantas berkata dengan nada mengejek, “Hei, kau, pria kekar! Kalau akalmu berguna, harusnya kau tahu kenapa aku mewaspadai kalian berdua.”


“Oh, atau mungkin, akalmu pindah ke otot besarmu itu?” imbuh Bon, ejekannya sungguh luar biasa. Membuat Zhao Yun menjadi kesal, padahal sebelumnya tak pernah ia semarah ini.


“Harusnya aku yang bilang begitu. Kau yang membuatku waspada, tahu!” sahut Zhao Yun.


“Hei, Zhao Yun. Jangan sampai kau terpancing amarah hanya karena beberapa patah kata saja,” ucap Li Bai seraya ia melepas lapisan pakaiannya yang luar.


“Kau pasti kedinginan, ayo ikut denganku.” Bing He masih meragukan ketahanan tubuh Li Bai.


“Li Bai, aku tak marah sekalipun. Aku hanya jengkel saja,” kata Zhao Yun mendekat pada Bon dengan kedua tangan yang mengepal.


“Ya, ya terserah kau saja. Asal jangan sampai kau menambah luka lagi,” kata Li Bai yang kemudian memeras pakaiannya yang basah itu.


“Ngomong-ngomong, Bing He. Daripada kau mengkhawatirkan diriku begitu, akan lebih baik kau menceritakan apa yang terjadi pada laut merah,” ucap Li Bai yang benar-benar penasaran akan hal tersebut.


“Laut Merah tak begitu spesial di mataku, tapi di mata para pendekar pasti iya. Karena Laut Merah adalah tempat tinggal terakhir mereka, sehingga membuat ini jadi makamnya,” tutur Bing He menjelaskan.

__ADS_1


“Apa karena bekas peperangan saudara?” tanya Li Bai.


“Bukan lagi, bekas. Tapi itu menjadikan roh-roh tak tenang di alam sana. Mungkin karena itulah laut mengenang mereka dengan darah,” pikir Bing He.


__ADS_2