Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
053. Awal Musim Semi Diiringi Tekanan Batin


__ADS_3

Kaisar Ming Guo tampak marah sekali, setelah saat tahu bahwa Yongchun bersekutu dengan Pemimpin Li, Xie, dan Zhao secara diam-diam. Pengkhianatan padanya sudah jelas terlihat, apa lagi yang harus ditunggu?


Kaisar Ming pun menyuruh Pemimpin Yin untuk mencari keberadaan Yongchun. Namun tak bisa ditemukan hingga akhir musim semi.


Musim semi dimana semua bunga mekar berseri. Salju meleleh tanpa sisa, membiarkan angin musim semi berhembus lembut. Melihat dan merasakan kehangatan itu sungguh membuat Yongchun senang, karena di wilayahnya tak pernah ada yang seperti ini.


“Akan kuingat baik-baik musim ini.”


Menerpa kelopak bunga yang digenggamnya, menjulang ke langit, terbang bebas ke mana pun itu pergi.


Terbukalah pintu gerbang istana, seraya ia menyenandungkan sebuah irama, dirinya disambut dengan baik oleh para pengawal istana di sana.


Senyum tipis sehangat terpaan ini terlukis di wajahnya yang penuh dengan bekas luka. Yongchun membawa diri tuk datang menghadap Kaisar Ming secara langsung, setelah ia bersembunyi selama 1½ bulan terakhir.


Setelah diijinkan masuk ke ruang singgasana, Kaisar Ming yang duduk di lantai menghadap meja dan memegang secangkir berisi arak pun tersenyum menunggu.


“Apa kabarmu, Pemimpin Yongchun?”


Kaisar Ming mulai bertanya. Padahal basa-basi seperti itu juga takkan ada gunanya. Setelah lama ia mencari keberadaan Yongchun, hingga akhirnya orang itu muncul sendiri sekarang ini.


Benar-benar membuat orang jengkel saja.


“Terima kasih sudah menyambut diriku yang lemah ini. Yang Mulia ...saya baik-baik saja dan kuharap Anda juga,” ucap Yongchun yang kemudian duduk berhadapan dengannya.


Tanpa bersujud atau semacamnya.


“Melihatmu kemari, sepertinya kau sudah memutuskannya, bukan? Tentang kesepakatan kita berdua,” singgung Kaisar Ming sembari menuangkan arak itu ke salah satu cangkir yang kosong.


“Yang Mulia tidak perlu repot-repot begini. Lalu, mengenai kesepakatan itu sebenarnya aku masih ragu. Bolehkah saya bertanya sesuatu tentang Kaisar Ming yang agung ini?”


Yongchun pun enggan untuk memulai berbasa-basi, ia sedikit sungkan menerima sambutan bahkan menuangkan arak itu secara langsung.


Bukan bertanya "pada" -nya melainkan "tentang" Kaisar Ming sendiri. Jelas, semua pengawal yang ada di dalam sana tahu maksudnya.

__ADS_1


Dengan keberadaan banyaknya pengawal di dalam istana, terlebih seorang penasihat juga ada di sana, Yongchun tahu betul bahwa mereka semua pada akhirnya mengetahui siapa ia sebenarnya.


Merasakan angin musim semi ataukah aura yang begitu mencekam di dalam ruangan? Dua-duanya sungguh membuat ia terkesan, hingga sudut bibirnya semakin melebar.


“Silahkan, Pemimpin Yongchun.”


“Baiklah kalau Yang Mulia sendiri tidak keberatan. Saya mengajukan pertanyaan, apakah Kaisar Ming mempunyai ambisi?”


“Ambisi, 'kah? Semua orang tentu punya hal itu, Pemimpin Yongchun. Aku berdiri di sini sebagai seorang kaisar yang berkuasa, hendak menyatukan negri dalam damai.”


“Bukankah itu keinginan saya?” celetuk Yongchun yang mengerutkan keningnya.


“Hehe, kau benar Pemimpin Yongchun.” Ia tertawa. “Yah, mungkin kau akan mengerti setelah aku ceritakan ini,” kata Kaisar Ming seraya ia meneguk secangkir itu.


“Yang Mulia tidak perlu memanggil saya sebagai pemimpin kultus. Cukup dengan nama saja sudah membuat saya merasa nyaman,” tutur Yongchun.


“Baiklah, Yongchun. Ini cerita lama. Cerita saat aku kehilangan Ayahku, dia mati sebelum mimpinya tercapai. Bisa dibilang, aku menginginkan hal yang sama sepertimu karena dulu itu adalah keinginan mendiang Ayahku,” ungkapnya dengan meratap sendu.


Ucapan yang barusan ia katakan benar-benar nyata. Kecuali saat dirinya mengaku bahwa ia memiliki keinginan yang sama dengan niat baik tentunya.


“Maaf lancang, Yang Mulia. Apakah 'Kaisar Ming' itu sebenarnya sedang memanipulasi para penduduknya sendiri?” Sekali lagi ia bertanya, membuat suasana semakin hening.


Para pengawal pendekar pun segera mengangkat senjatanya, namun Kaisar mengangkat tangan tanda untuk tak bergerak sedikitpun.


Emosi berupa amarah itu melonjak pesat di sekeliling Kaisar Ming, melihatnya bereaksi seperti itu tentu membuat Yongchun merasa puas. Dan lega sebab yang ia perkirakan ternyata benar.


“Apa maksudmu, Yongchun?” tanya Kaisar Ming, merasa ada sesuatu di balik pertanyaan Yongchun itu.


“Saya bodoh. Mohon ampuni saya, Yang Mulia. Berkata bahwa diri Yang Mulia tidak seramah yang banyak orang kira, sepertinya ada kesalahan dengan penafsiran kata-kata saya.” Yongchun sedikit cegukan ketika menjelaskan hal ini.


“Kubilang, apa maksudmu?” Kali ini Kaisar Ming mulai tak sabaran.


“Tidak banyak orang yang berkata bahwa Kaisar Ming sebenarnya punya maksud tertentu di balik tindakan yang terlihat ramah di depan semua penduduk,” tutur Yongchun.

__ADS_1


“Benarkah? Kalau begitu ...”


“Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud memotong kalimat Anda. Satu hal yang saya tahu, ada orang yang mengatakan bahwa Anda menggunakan harta dari pajak besar para pedagang, apakah demikian?”


“Maksudmu adalah penggelapan ...pajak yang berlebihan?”


“Benar sekali. Kadangkala ada beberapa orang yang mengeluh diam-diam, pajak besar itu sungguh menyiksa para penduduk. Lalu, ada hal lain yang mengganggu ...” ucap Yongchun, ia melihat ke arah sekeliling dengan berhati-hati.


Setelah menjeda ucapannya, lantas berkata, “Yang Mulia dengan sengaja menyembunyikan berita tentang seorang pendekar yang sebenarnya bukan mati bunuh diri melainkan dibunuh oleh kekaisaran sendiri.”


“Itu tidak benar, Yongchun! Kau pikir aku terlihat sebengis dirimu yang dirumorkan?” kecamnya.


“Anda tahu bahwa saya tidak sebengis yang dikira banyak orang. Justru saya ingin menyatukan negri dan Yang Mulia sendirilah yang memberi sebuah kesepakatan agar berjalan lancar hingga ke depannya,” ungkap Yongchun dengan tegas seraya menatap lurus pada pandangan Kaisar Ming.


“Kau pun tahu. Aku masih waras, untuk apa menyembunyikan berita seperti itu? Lagipula pajak yang besar itu juga akan kembali keuntungannya pada mereka semua,” tutur Kaisar Ming kembali menegaskan.


“Oh, benarkah?” Yongchun memalingkan wajah. “Tapi, sebelum ini. Putra Yang Mulia berniat melakukan sebuah dosa, nyaris saja Putri Yu Jie dibunuh olehnya.” Ia memelas, lalu melirik untuk melihat wajah apa yang akan muncul saat Kaisar Ming mendengarnya.


Kaisar Ming terdiam, wajah yang ia tunjukkan tak hanya rasa cemas, rasa takut dan amarah bercampur aduk tak karuan.


Berbagai kata indah itu tuk menurunkan derajatnya pun berhasil. Yongchun ingin sekali tertawa tapi ia harus menahannya.


“Putraku memang kurang ajar. Tapi sepertinya berkat Yongchun yang kuat, putri bungsuku kembali dalam keadaan selamat,” ucap Kaisar Ming dengan lirih.


Lalu mulai menenangkan diri dengan helaan napasnya.


“Tapi bagaimana kesepakatannya, Yongchun –tidak, Asyura? Putraku akan mendapatkan balasan yang setimpal, dan sekarang mari kita beralih. Apa kau ingin menikahi putri bungsuku agar wilayah kita berdamai dan menyatu?”


Sepertinya Kaisar Ming memang punya nyali. Bahkan setelah dicaci maki, kini ia masih berusaha keras untuk membuat Yongchun atas kesepakatan yang telah lama dijanjikan.


Dengan wajah yang masih memelas, Yongchun pun berkata, “Saya masih bimbang. Apakah benar Kaisar Ming tidak punya tujuan lain di balik kesepakatan ini?”


Urat kemarahannya pun muncul dan memenuhi wajah yang tak dapat disembunyikan lagi. Tatapannya juga culas, seraya mengepalkan tangan kuat-kuat.

__ADS_1


__ADS_2