Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
022. Rencana Buruk Pada Yu Jie Telah Gagal


__ADS_3

Yun Hei kembali mengejarnya dengan berteriak dan mengarahkan pedang itu. Relia dengan sigap mengambil tindakan lebih cepat dari Yun Hei, ia mengepit tubuhnya dengan kuat sehingga tak dapat bergerak.


“A-Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” amuk Yun Hei meronta-ronta.


Tatapan Relia sangat datar. Tak sedikit pun ia bereaksi terhadap amarah anak muda itu. Tetap berdiri dengan mengepit tubuh Yun Hei sampai akhirnya kelelahan sendiri.


“Relia tidak bermaksud untuk melukaimu atau wanita itu. Tapi, kenapa Relia disebut pembunuh?”


Yun Hei masih sadarkan diri, enggan meronta kembali lantaran tenaga fisik dan mentalnya dihancurkan oleh Relia dalam sekejap.


Perlahan Relia menurunkan tubuh Yun Hei, membuatnya berdiri namun sudah tak bisa. Relia sempat panik saat tahu Yun Hei sangat lemas.


“Hei?”


“Tak apa, kak. Aku mungkin ...ada satu kesalahpahaman di sini. Kupikir kakak mengincar Putri Yu Jie.” Yun Hei membuka mulut dengan posisi duduk di tanah.


“Tidak. Relia bukan orang seperti itu,” singkatnya.


“Tapi barusan kau membunuh pembunuh itu,” sahut Yun Hei.


“Iya. Tapi dia pembunuh yang mengincar wanita itu bukan? Jika iya, maka yang Relia lakukan tidak salah,” pikir Relia.


Tak ada salahnya Relia berpikir seperti itu. Tapi tidak dengan pandangan orang yang melihat kejadian barusan. Memang benar Relia bermaksud menolong Putri Yu Jie dari seorang pembunuh, namun Relia melakukannya dengan membunuh pembunuh itu secara langsung.


Tentu saja Yun Hei dan Yu Jie kaget. Kecuali orang bodoh yang bersikap biasa saja setelah semua ini terjadi.


“Kau mengatakannya seolah itu baik-baik saja untukmu. Memangnya tidak masalah dengan mentalmu? Membunuh 'kan ...” Yun Hei menutup mulutnya, tak lagi melanjutkan kalimat yang akan ia katakan.


“Relia sudah biasa dengan hal itu. Oh ...apa di sini ada aturan?” tanya Relia. Ia menyadari bahwa ada yang berbeda dengan wilayah timur laut ini.


“Yah, tidak bisa dibilang aturan juga. Para pemimpin kultus dan para pendekar lainnya memutuskan untuk menyelesaikan segala urusan di atas Arena Batu Kuasa. Arena bertarung. Jadi kehadiran pembunuh itu jarang,” jelas Yun Hei. Mendesah lelah.


“Jika benar apa yang dikatakan anak ini, maka apa maksud dari perkataan Asyura, suamiku tempo hari? Katanya ada perseteruan tapi dilakukan dengan memanfaatkan suamiku. Apa mungkin mereka yang disebut pemimpin kultus sedang perang dingin?” pikir Relia dalam benak.


Memikirkan kembali apa yang sebelumnya Yongchun dan Xie Xie bicarakan, lalu mendengar suatu hal dari Yun Hei itu jelas bertabrakan satu sama lain. Dan mungkin saja, apa yang dipikirkan oleh Relia yang di mana saat ini timur laut terdapat adanya perang dingin, maka rencana Yongchun untuk menyatukan negri timur terdapat kendala.

__ADS_1


“Hei, kak! Apa yang kakak lakukan di sini? Pasti kakak ini mata-mata ya?” tanya Yun Hei sembarangan.


“Tidak. Relia mampir kemari karena ingin bertemu dengan suami. Tapi sekarang sudah tidak.”


“Oh, begitu. Lalu ...”


Beberapa pengawal pendekar datang berbondong-bondong mengikuti pelayan itu berlari ke arah mereka. Tampaknya mereka dipanggil sebab Putri Yu Jie sebelumnya terdapat masalah lagi. Nyawa Yu Jie dalam bahaya.


Melihat mereka, keberadaan Relia mendadak menghilang. Hal itu membuat Yun Hei terkejut, berusaha mencarinya pun mustahil. Karena tidak ada waktu, Yun Hei juga bergegas menghampiri Yu Jie yang berlari tadi.


“Putri Yu Jie!”


Yu Jie ditemukan terduduk di atas tumpukan salju. Napasnya terengah-engah, kelelahan yang ia rasakan pun tak mampu membuat kedua kakinya bergerak lagi. Namun bersyukur karena pelayan beserta beberapa pengawalnya datang.


“Anda tidak apa, Putri? Apakah ada yang terluka?”


Pelayan itu tampak panik sekali, melihat Putri Yu Jie yang kelelahan dan bersyukur saat tahu ia tak terluka sedikit pun. Hanya kelelahan saja, sehingga Putri Yu Jie meminta beristirahat.


“Putri Yu Jie, tidak terluka sedikit pun. Lalu bagaimana dengan pembunuh itu, Putri? Kita harus menemukannya lalu diadili secepat mungkin!”


“Tidak, Putri Yu Jie!” teriak Yun Hei dari kejauhan. “Putri, itu tidak benar. Pembunuh wanita yang Putri maksud bukanlah seorang pembunuh. Dia pernah mengatakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Putri Yu Jie yang saat itu juga sedang dikejar oleh pembunuh. Maka dari itu, wanita itu melindungi Putri!” ungkap Yun Hei. Membuat semua orang tersentak.


Melindungi? Kata-kata yang sulit diucapkan di sekitar Yu Jie saja sudah tidak mungkin. Karena banyak yang tidak suka padanya terutama kakak-kakaknya.


Mendengar pernyataan Yun Hei, Putri Yu Jie menyangkal semua itu.


“Putri, apakah bersedia mempercayai saya? Sama seperti Anda yang tak bisa melakukan banyak hal lalu menyembunyikan apa yang harus disembunyikan. Aku juga sama, dan aku tahu wanita itu adalah orang baik. Tolong percayalah!” tegas Yun Hei sekali lagi, ia bersujud memohon pada Putri Yu Jie agar mempercayai dirinya.


“Baiklah, aku akan percaya padamu. Tapi di mana dia saat ini?” tanya Yu Jie. Ia meragu namun perkataan Yun Hei membuatnya berpikir kembali.


“Ah, itu ...”


Saat ini Relia berada di atas atap rumah seseorang. Melihat keberadaan mereka dari atas yang nampaknya tidak membahayakan Putri Yu Jie, setidaknya untuk saat ini.


Salju yang turun bukan berarti tak ada angin sedikit pun. Desiran angin di tengah salju tidaklah buruk baginya, bahkan ia menikmati suasana seperti ini. Seraya memandang ke arah pegunungan, tempat di mana ia pernah tersesat.

__ADS_1


“Dingin,” lirih Relia.


Di saat yang sama di Istana Wulan.


Para kakak perempuan Yu Jie berkumpul di satu ruangan. Mereka menggigit jari setelah apa yang dilaporkan bawahan mereka tak sesuai dengan harapan.


Mereka lah yang menyuruh pembunuh itu untuk menghabisi Yu Jie, selama beberapa kali mencoba namun selalu berakhir kegagalan.


Kakak perempuan yang terlihat tegas itu menggertakkan gigi. Ia berdecak kesal sejadi-jadinya. Rasa kesal itu juga menumpuk pada kakak yang satunya lagi.


An dan Hao Ran.


“Kenapa dia tidak mati saja?! Tidak bisa ya, dia diasingkan dari tempat ini? Lagipula dia bukan Putri yang seharusnya dihormati, Ibunya itu cuman seorang wanita penghibur. Berbeda dengan Ibu kita yang adalah seorang ratu!” tukas An.


“Ck, tak kusangka akan sesulit ini. Ngomong-ngomong siapa tadi yang membunuh pembunuh yang kita kirimkan?” tanya Hai Rong.


“Katanya pendekar wanita. Aku juga tak mengenal pendekar wanita selain Pemimpin Xie yang beringas seperti macan itu! Benar, 'kan?” tutur An kembali menegas.


“Iya, benar juga. Selain dia, siapa lagi yang bisa membunuh seorang pembunuh handal di kekaisaran ini.” Hai Rong setuju dengan perkataannya.


Keduanya menyeringai bersamaan. Mungkin mereka akan merencanakan sesuatu terhadap Pemimpin Xie.


***


Setelah kesalahpahaman agar Relia tak dijadikan buron pun terselesaikan berkat Yun Hei. Kemudian Putri Yu Jie kembali bersama dengan pelayan dan para pengawalnya.


Relia menghela napas lega. Ia kemudian melompat turun dari atap tanpa rasa khawatir sama sekali jika dirinya dilihat oleh seseorang.


Srag!


Begitu Relia mendarat dengan sempurna. Seorang pria yang hendak melewati jalan itu pun tersentak kaget. Mula-mula ia terdiam mematung, lalu membuka kipas kertasnya tuk menutupi wajah.


“Wanita ini ...cara dia melompat turun itu indah sekali.” Pria ini pun berdecak kagum melihatnya.


Ialah Pemimpin Li Bai.

__ADS_1


__ADS_2