Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
046. Menjalin Kerja Sama Dengan Para Pemberontak Bagian I


__ADS_3

Daerah ini sudah tak dijamah oleh mereka. Seharusnya begitu namun saat ini beberapa orang yang benci pada kekaisaran menempati daerah tersebut. Terutama para pemberontak.


Yongchun jadi heran, mengapa Pemimpin Zhao tidak menemukannya? Padahal daerah ini ada di belakang wilayah kekaisaran, harusnya jelas ketebak.


“Pemimpin Zhao dan lainnya takkan bisa kemari karena perintah beliau.”


Tapi saat boneka Yin berbicara, ia akhirnya mengerti. Ternyata karena perintah Kaisar Ming.


“Hei kalian! Apa yang sedang kalian lakukan kemari?” Salah seorang pria dengan pedang di tangan kanannya itu berbicara pada mereka.


“Maaf, aku hanya ingin berbicara pada para pemberontak. Aku yakin mereka ada di sini, dan apakah kau juga sama?”


“Untuk apa pemimpin kultus kemari? Di sini tidak ada pemberontak atau apa pun itu. Karena tempat ini sudah rusak terkena suatu wabah,” jelasnya dengan tegas.


Untuk sesaat Yongchun berpikir yang tidak-tidak pada mereka, yang mungkin saja para pemberontak adalah bawahan Kaisar Ming sendiri. Tetapi saat mendengar jawaban itu, Yongchun pun menghela napas lega.


“Karena terlalu banyak hal yang mencurigakan, aku jadi sensitif.”


“Hei, kalian dengar tidak?!”


“Kenapa kalian tidak mengaku saja? Lagipula para pemberontak selalu bergerak setiap saat tapi jumlah mereka terlalu sedikit. Jika yang aku pikir benar, maka kalian selalu mengirimkan mereka lalu mati begitu saja? Sampai di musim ini?” pikir Yongchun.


“Hah, apa sih maksudmu? Sudah kubilang para pemberontak tidak ada di sini!” Sekali lagi pria itu menegaskan seraya ia mengeratkan genggaman pada pedangnya.


“Baiklah. Kalau aku mengatakan bahwa keberadaanku di sini karena ingin kerja sama dengan kalian?”


Pria itu tersentak. Beberapa saat ia diam mematung. Kemudian menelan ludah lalu berkata, ”Kalian ini pemimpin kultus?” tanya pria itu.


Yongchun mengangguk. “Ya, bisa dibilang begitu.”


“Apa rencana kalian?”

__ADS_1


“Menggulingkan kekaisaran.”


Sekali lagi pria itu tersentak. Decihannya dapat didengar lantas ia pun menyuruh mereka tuk ikut dengannya ke suatu tempat.


Pria yang bernama Rou membawa mereka masuk ke lebih dalam daerah tersebut. Sangat terpencil hingga mendapati sebuah bangunan yang kumuh.


“Jadi tempat kalian ada di sini? Jujur saja aku sangat mengagumi kalian yang bisa menyembunyikan emosi dari dalam dan luar,” tutur Yongchun.


Emosi yang ia lihat saat ini, sangat kosong. Tidak ada perasaan apa pun saat mereka melihat Yongchun dan Yin. Seolah keduanya bukanlah apa-apa, kalau memang berniat menumpas mereka juga pasti akan kewalahan, itulah yang mereka pikirkan.


Yongchun jadi mengetahui satu hal. Bahwa di wilayah ini sama sekali tidak ada rasa kepercayaan di antara semua penduduk. Bahkan pemimpin kultus saja sudah berniat untuk berkhianat, bagaimana mungkin kekaisaran ini akan bertahan lebih lama?


Bertahan selama 10 tahun saja sudah hebat.


“Kau bilang ingin menggulingkan kekaisaran? Bukankah para pemimpin kultus sangat setia padanya?” tanya Rou.


“Sejak kapan aku setia? Tapi kalau orang ini lain lagi,” ujar Yongchun menunjuk ke arah Yin.


“Ya, aku tahu. Aku pernah mendengar tempat ini dulunya Distrik Hiburan atau semacamnya, bukan? Dan aku menemukan kalian di daerah ini sungguh hanya sebuah keberuntungan saja. Mari kita singkat saja, aku ke sini untuk membantu kalian untuk balas dendam pada kekaisaran.”


Terdengar sangat kasar bagi orang biasa namun tidak dengan mereka. Ragu-ragu akan membuatnya jatuh terlebih dulu, karena itulah setiap kata harus diperhitungkan dan apakah itu cukup diterima oleh mereka atau tidaknya itu juga bergantung pada kepercayaannya.


“Oh, jadi kalian adalah pemimpin kultus 7 Surgawi. Kedatangan kalian kemari hanya karena ingin menjalin kerja sama pada kami. Apakah kalian berencana untuk memanfaatkan kami untuk rencanamu?”


Datang seorang pria yang terlihat lebih kurus, namun sinar matanya tak pernah padam. Tatapannya setajam pisau, tak ada yang mengelak ketika ia berbicara.


“Syukurlah kalau kalian mengerti maksudku. Kalian cukup membantuku untuk melakukan suatu hal lalu aku yang akan membunuh dia seorang, bagaimana?” Yongchun masih dapat bersikap tenang.


“Tunggu dulu! Tiba-tiba datang dan menjalin kerja sama hanya karena tujuan kita sama, apa ini tidak keterlaluan? Lagipula apa alasan mereka untuk menggulingkan kekaisaran?” tanya Rou dengan suara meninggi, ia kemudian menunjuk Pemimpin Yin yang tak jelas apa maksud kedatangannya.


“Pemimpin Yin mungkin ada suatu masalah dengan dia. Tapi aku tak tahu apa itu. Tapi yang pasti, asal dia tak mengganggu percakapan kita maka tak ada masalah.”

__ADS_1


“Lalu bagaimana kalau dia atau kau sengaja datang dan membuat rencana seperti ini? Bilang ingin bekerja sama tapi ternyata kalian masih setia pada kekaisaran?” sahutnya lagi.


“Aku tidak akan begitu. Lalu, Pemimpin Yin, aku juga percaya padanya,” ucap Yongchun dengan penuh keyakinan.


“Atas dasar apa ka–”


“Cukup, Rou!” Pria yang kurus itu menghentikan kalimat Rou. “Aku tahu betul kau siapa. Pendatang baru, Wang Yongchun. Sekarang kau dijadikan salah satu Pemimpin kultus, benar?” tanya pria itu.


“Iya.”


Setidaknya Yongchun merasa bersyukur saat para pemberontak tidak mengetahui siapa ia sebenarnya.


“Lalu, apa yang harus kami lakukan?”


“Hei! Apa kau berniat bekerja sama dengannya?”


“Kau tidak lihat, dia ini mempunyai hal yang sama dengan kita. Di balik kain yang menutup penglihatannya. Lalu, Pemimpin Yin juga sama.” Pria itu tersenyum culas, pikirannya terdengar licik, seolah dirinya yang sedang memegang kendali.


“Kalau yang kau maksud adalah Seni Iblis atau semacamnya, maka aku akui kalau kau benar. Tetapi, tolong dengarkan aku? Kalian ingin mengakhiri masa kekaisaran tirani secepatnya, 'kan?” kata Yongchun dengan tersenyum.


“Jadi ...apa yang akan kami lakukan dan kapan lebih tepatnya? Tapi sebelumnya biar aku peringatkan, jika waktu yang kalian perlukan lebih dari satu tahun maka aku menolak!”


“Tenang saja. Hanya 2 bulan, sisa waktu saat ini yang kumiliki. Aku juga sudah menyiapkan beberapa hal, hanya tersisa bantuan besar seperti kalian saja. Singkatnya, aku ingin kalian mengacaukan festival yang akan datang,” tutur Yongchun.


Tanpa adanya unsur paksaan, justru hal ini adalah buah manis untuk mereka yang dendam terhadap kekaisaran. Yongchun telah memperhitungkan semuanya bahkan sampai resiko apa saja yang akan menanti.


“Mengacaukan festival? Hanya itu?” tanya Rou tidak percaya.


Semua orang yang ada di sana pun terbelalak tak percaya. Mengatakan bahwa tugas mereka sebagai para pemberontak hanyalah mengacaukan festival, hal remeh seperti ini sungguh tak dapat dipercaya.


“Kau tidak ada niatan membunuh para penduduk, bukan? Kami hanya mengincar keluarga kekaisaran.”

__ADS_1


“Tentu tidak. Penduduk itu juga sama seperti kalian, yang nantinya mungkin akan menjadi pendudukku juga. Bagaimana? Kalian tetap tidak mau?” tanya Yongchun.


__ADS_2