Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
021. Sosok Istri yang Tangguh


__ADS_3

Mencukupkan diri melihat salju di istana, setelah Yu Jie meneguk segelas air hangat, berencana keluar untuk cari suasana.


“Anda ingin pergi ke luar? Untuk apa?”


“Di sini bosan. Aku boleh pergi selama itu denganmu dan ijin dari kakak-kakakku, bukan?”


“Yang Mulia bagaimana?”


“Ah, dia takkan peduli tentang itu. Hanya kakak laki-lakiku yang akan marah jika dia tahu aku akan pergi lagi. Jadi usahakan agar kita pergi, ya?”


Mendengar Putri Yu Jie memohon seperti itu, pelayan pun tak kuasa menolaknya. Mereka lantas pergi keluar dari istana setelah memohon pada kakak laki-laki Yu Jie.


Memang tidak ada bedanya yang di istana tapi setidaknya Yu Jie melihat rumah para penduduk dengan sudut pandang lain.


Beberapa dari mereka sibuk membersihkan jalanan dari tumpukan salju dan beberapa dari mereka telah melakukan sesuatu hal lainnya.


Badai salju sebelumnya telah melanda, sudah pasti area pasar ditutup sekarang. Makanan dan lainnya pasti sudah dihujani oleh salju, jadi tidak hangat lagi.


Ketika ia menyapa para penduduk, kedua matanya tak bisa berhenti beralih pada seorang anak muda yang duduk sembari memeluk kedua kakinya.


Melihat hal itu, Yu Jie menghampiri anak muda tersebut.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yu Jie. Sekilas melihat dan mencium bau anyir dari tubuhnya.


“Tidak apa-apa, Putri.”


Anak muda itu merenungkan sesuatu. Ia adalah pengikut Luo dulu, namun sekarang ia hanyalah anak sebatang kara yang sudah tidak dianggap sebagai keluarga di keluarga kandungnya sendiri. Yun Hei.


“Coba ceritakan apa yang menjadi masalahmu?”


Meski bau anyir darah itu tertutup oleh salju, Yu Jie tahu kalau itu bukan dari lukanya. Ia menemani Yun Hei dengan duduk di dekatnya. Pelayan Yu Jie sempat panik karena tiba-tiba saja ia duduk.


“Jika duduk di situ akan membuat Putri Yu Jie sakit. Jadi tolong ...”


Percuma saja, Yu Jie itu orangnya kukuh. Jika sudah dilakukan maka ya sudah. Itulah salah satu kebiasaan putri buangan, Putri Yu Jie.

__ADS_1


“Sudahlah. Jangan permasalahkan hal itu. Mari kita duduk bersama dengan anak ini.”


“Kenapa Putri masih ada di sini? Aku hanya ingin sendiri,” sahut Yun Hei.


“Ya? Tapi aku lihat kau sedang butuh teman bicara.”


Anak muda bernama Yun Hei pun dibuat luluh. Ia akhirnya bercerita mengenai apa yang terjadi dua hari sebelumnya.


Itu saat pembantaian di kediaman Luo terjadi. Di mana Yun Hei dan para pemberontak Luo melawan dan saling membunuh dengan pihak netral Luo.


“Kami hanya butuh kepercayaan diri dan berharap Pemimpin Luo memandang kami. Tapi inilah yang terjadi, mereka semua asal main hakim sendiri dan pembantaian pun tak terelakkan. Hanya ada beberapa orang yang selamat tapi aku tak tahu mereka ada di mana.”


Baik Putri Yu Jie maupun Yun Hei sendiri juga sudah tahu bahwa Pemimpin Luo diberitakan telah dibunuh beserta para pengikut setianya oleh seseorang yang mencapai tahap nirwana. Namun mereka juga tak tahu bahwa sebenarnya Pemimpin Luo bunuh diri di hari yang sama.


Hanya Kaisar, Pemimpin Wang dan Yongchun saja yang tahu. Kemungkinan besar bahwa itu adalah ulah Wang Xian, entah memakai cara apa sehingga Pemimpin Luo bunuh diri ataukah mungkin dia sendirilah yang membunuhnya lalu persoalan bunuh diri itu tidaklah nyata.


Yang mana saja, sudah pasti tidak akan membuat Yongchun tenang karena selalu didesak seolah semua itu adalah kesalahannya. Yun Hei pun merasa bahwa awal mula ini semua terjadi karena seseorang pria buta waktu itu. Tapi setelah dipikirkan kembali, tak sepatah kata pria itu dengan jelas mengatakan untuk membunuh siapa saja yang menghalangi.


Jelas bukan begitu.


“Yun Hei, kau orangnya terbuka sekali. Dengan begini aku tak perlu cemas, tapi ada beberapa hal yang harus kucemaskan padamu. Karena tak semua orang bisa mempercayai dirimu, jadi alangkah baiknya tak menceritakan semua yang kau tahu,” tutur Yu Jie melembut.


“Apa maksudmu? Bukankah Putri sendiri yang membuatku bicara? Kok sepertinya aku merasa tertuduh sesuatu,” pikir Yun Hei dengan cemberut.


“Ya, aku juga tidak mempermasalahkan hal itu. Karena kau sudah terlanjur melakukan semua itu, maka apa boleh buat. Tetapi melihat Yang Mulia tak bertindak sekalipun, aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun aku adalah seorang putri dari kaisar.”


Putri Yu Jie memiliki tatapan sendu di wajahnya. Hendak menangis namun tak bisa ia lakukan sembarangan apalagi di hadapan seorang anak muda yang baru saja melakukan perbuatan dosa.


Tak berselang lama, dengan butiran salju yang masih turun. Seseorang melesat cepat ke arah mereka. Sosok dari orang itu sangat misterius dengan pakaian berbalut hitam, bermasker dengan caping di kepalanya.


Tak hanya itu bahkan sosok berbalut hitam ini menggenggam sebuah pisau kecil yang kemudian ia ayunkan tepat ke wajah Yu Jie.


Srak!


Terseret kakinya oleh tumpukan salju yang licin, Yu Jie berhasil menghindar dari serangannya. Segera ia melarikan diri bersama dengan pelayan namun Yun Hei tetap berdiam di sana, ia berniat untuk menghentikannya selagi bisa.

__ADS_1


Kedua tenaga dalam itu secara tak sengaja menyatu, membuat mereka saling tarik menarik, membuatnya kelelahan kemudian.


Tak!


Yun Hei menepis tangannya, yang kemudian ia merebut pisau disaat tangan dari sosok pria itu kejang-kejang. Entah karena apa.


“Siapa kau?!” tanya Yun Hei selagi mengarahkan mata pisau itu padanya.


Sosok pria berbalut hitam yang adalah pembunuh itu melengos. Lalu berlari menghampiri Putri Yu Jie sekali lagi.


Bats!


Dengan tenaga dalam yang mumpuni, ia mendorong tubuhnya sendiri secepat angin. Melesat lebih jauh dan berhasil mengejar Putri Yu Jie yang tengah berlari.


“Putri Yu Jie!”


Tanpa angin, atau sesuatu hal lain yang bisa terjadi. Dalam keheningan di antara butiran salju yang turun dengan lebat, sebuah pedang melayangkan kepala pembunuh itu.


Darahnya menyebar dan menyatu ke tumpukan salju. Menyebabkan warna salju yang putih itu ternoda menjadi warna merah karena darah dari pembunuh itu.


“Hi!! Pembunuh!” teriak Putri Yu Jie, sekali lagi ia berlari menghindari kontak mata dari sosok yang lain.


“Putri Yu Jie!” panggil pelayan itu. Rupanya ia hendak melakukan sesuatu agar kejadian ini dapat diatasi oleh pengawal di istana ataupun para pendekar di sekitar sana.


“Itu pembunuh yang sama!” pekik Yu Jie, ketakutannya tak bisa ia hindari. Dan sayang, Yu Jie berlari di saat menggunakan pakaian serba panjang sehingga ia terjatuh menginjak gaunnya sendiri.


Ia pun terjatuh di atas jalanan yang baru saja tumpukan salju itu disapu.


“Apa baik-baik saja?” tanya seorang wanita berambut coklat. Pedang di tangannya adalah tanda ia adalah seorang pendekar, wanita inilah yang memenggal kepala pembunuh itu.


“Aaaa!!!!” jerit Putri Yu Jie, sekali lagi ia bangkit melawan ketakutannya lalu berlari.


Bahkan sudah mengulurkan tangan untuk membantu Yu Jie berdiri namun sepertinya sudah tidak dibutuhkan. Wanita dengan rambut coklat yang dikuncir ini adalah pendekar dari wilayah timur tengah. Sosok istri Yongchun yang tangguh bernama, Relia Tan.


“Apa dia takut padaku?” gumam Relia dengan penuh kekecewaan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2